Home / Tokoh / Shinta, Sang ”Malaikat” Digital

Shinta, Sang ”Malaikat” Digital

Ketika Shinta Witoyo Dhanuwardoyo memutuskan menjadi pengusaha di ranah industri digital 18 tahun lalu, Indonesia terbilang masih awam dengan internet. Namun, naluri membimbingnya dengan jitu. Setelah jatuh bangun belasan tahun, Shinta kini berupaya mengerek Indonesia sebagai pemain dalam peta global industri digital.

Selepas tengah hari di kantor Bubu.com di kawasan Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Shinta muncul di ruang tamu dengan perbawanya yang anggun. Rangkapan atasan longgar yang dikenakannya berayun mengikuti gerak tubuhnya.

Sinar wajah Shinta yang sedikit melankolik tertangkap di awal pertemuan. Namun, rona melankolik itu sontak berubah jauh lebih bersemangat ketika dirinya mulai menerangkan soal industri digital. Cara bicaranya teratur, dengan tempo sedang, dan sarat kepercayaan diri.

Selepas lulus sebagai sarjana arsitektur, Shinta mengajukan diri kepada ayahnya, Edi Witoyo Kaswadi, untuk melanjutkan studinya, tetapi mengambil jurusan bisnis. Sang ayah sempat keberatan karena sebenarnya menginginkan anak sulungnya itu menjadi seorang arsitek. Akhirnya, Shinta diizinkan mengambil studi bisnis, tetapi harus membiayai sendiri sekolahnya.

Dengan usahanya sendiri, Shinta mendapat semacam beasiswa, tetapi harus bekerja 10 jam per minggu sebagai supervisor di computer lab di Portland State University sejak tahun 1993. Shinta mendapat bantuan biaya kuliah sekaligus gaji. Di computer lab itulah persinggungan awalnya dengan dunia digital.

”Saya sehari-hari dengan orang- orang IT (information technology) yang jago-jago. Saya belajar banyak. Mulai dari cara membersihkan virus juga belajar membuat website,” kenang Shinta.

Itulah yang membuka pikirannya. Shinta ketika itu meyakini, internet berikut dunia digital adalah media baru yang akan sangat berpengaruh di dunia. ”Televisi ditonton banyak orang tapi tidak seluruh orang di dunia. Jangkauan internet bisa jauh lebih luas, this is going to be big,” ujar Shinta.

Sekembalinya ke Indonesia, tahun 1996 Shinta mendirikan Bubu.com. Setelah menembus waktu 18 tahun, kini Bubu.com terus bertumbuh. Perusahaan ini tergolong pionir sebagai digital/interactive agency di Indonesia yang memfokuskan peran, di antaranya dalam mendesain web, intranet solution, e-commerce, multimedia, dan internet marketing. Sederet penghargaan dan pengakuan di arena global sempat diraih Shinta, yang membuat curriculum vitae kolektor batik ini terus membengkak.
Investor ”malaikat”

Kini, Shinta tak hanya mengembangkan bisnisnya. Dia juga berambisi mengerek Indonesia dalam peta global industri digital. Shinta tak ingin Indonesia hanya dijadikan pasar saja. ”Indonesia disebut sebagai pengguna Facebook terbesar kedua di dunia. So what? Saya ingin kita tidak dijadikan market saja, tapi juga player (pemain),” ujar Shinta bersemangat.

Demi ambisinya itu, Shinta kini berkontribusi sebagai angel investor bagi perusahaan-perusahaan digital pemula atau diistilahkan sebagai startup company. Dalam dunia keuangan, angel investor merupakan istilah yang disematkan kepada seorang investor yang bersedia memberikan dana kepada suatu perusahaan pemula sebagai modal awal dengan imbalan saham perusahaan tersebut.

Dalam industri digital, peran angel investor cukup krusial mengingat jenis bisnis yang dijalankan intangible dan sistem permodalan perbankan di Indonesia belum mendukung. Kepada perusahaan-perusahaan pemula yang ditanganinya, Shinta membantu membukakan jejaring internasional serta membimbing menjadi perusahaan yang lebih mapan. Catfiz, Dread Out, dan Karamel adalah sebagian dari perusahaan pemula Indonesia yang kini dibimbingnya.

Nama Shinta memang telah dikenali di jejaring industri digital dunia. Shinta sudah membangun jejaring yang baik dengan Sillicon Valley di San Fransisco, Amerika Serikat. Ketika Bubu.com menggelar pameran dan konferensi digital IDByte dan Bubu Awards tahun 2013, Dan Neary, Vice President Asia Pasific of Facebook, hadir sebagai salah satu pembicara. Semula yang diundang adalah Sheryl Sandberg, COO Facebook. Namun, karena berhalangan hadir, Sheryl membuat video khusus untuk IDByte dan Bubu Awards. Shinta kian optimistis Indonesia bisa menjadi pemain di peta global.

”Indonesia punya banyak sekali talent (orang-orang berbakat di industri digital), tapi sejauh ini masih sebatas sebagai buruh digital saja di peta global industri ini. Saya harap tidak sampai lima tahun lagi, kita bisa menyusul,” kata Shinta.

Menurut Shinta, hal-hal mendasar yang dibutuhkan untuk membangun ekosistem yang baik bagi industri digital di Indonesia adalah infrastruktur digital yang baik, kebijakan pemerintah yang kondusif, pengembangan sumber daya manusia di level mentor, dan pengelolaan bakat-bakat secara berkesinambungan.

Indonesia masih butuh banyak ”malaikat digital” seperti Shinta. Perempuan dengan ketangguhan yang nyata, bukan virtual.

Oleh: Sarie Febriane & Andreas Maryoto

foto-foto: Kompas/Yuniadhi Agung

Sumber: Kompas, 18 Mei 2014

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*

code

x

Check Also

Sudirman; Membebaskan Dusun dari Kegelapan

Pada Maret 2003, Sudirman (41) sudah siap membangun rumah permanen. Sebanyak 50 zak semen sudah ...

%d blogger menyukai ini: