Home / Berita / Semua Perempuan Berhak Cantik

Semua Perempuan Berhak Cantik

Tampil cantik jadi kebutuhan perempuan, Kecantikan tak hanya berguna untuk menarik lawan jenis, tapi juga bernilai ekonomi. Namun, kecantikan menyimpan risiko yang sering tak disadari.

Perempuan selalu diidentikkan dengan kecantikan. Semua perempuan berhak cantik, tanpa kenal batasan fisik dan umur. Setua apapun perempuan, termasuk salah satu pegiat politik yang tersandung kasus hoaks, mereka tetap ingin terlihat cantik. Bagian tubuh utama yang sering dijadikan standar kecantikan adalah wajah.

“Wajah jadi representasi diri. Kesan pertama seseorang dilihat dari wajahnya,” kata antropolog jender, seksualitas dan kesehatan di Departemen Antropologi Universitas Indonesia Irwan Martua Hidayana di Jakarta, Kamis (4/10/2018). Penilaian bagian tubuh lain, kepribadian, otak dan karakter, menyusul.

KOMPAS/RADITYA HELABUMI–Pelaku usaha industri kosmetik dan kecantikan mengikuti ajang Beauty Professional Indonesia di Jakarta Convention Center, Jakarta, Kamis (13/9/2018). Indonesia berpeluang menjadi kiblat produk kosmetik karena meningkatnya jumlah pelaku industri kosmetik yang sebagian besar merupakan industri kecil menengah dan didukung kekayaan bahan baku alami.

Ketertarikan manusia terhadap kecantikan wajah adalah insting manusia yang cenderung menyukai keindahan. Namun, usaha perempuan mengejar kecantikan adalah buah dari proses evolusi manusia, bukan genetik atau diturunkan.

“Keinginan untuk cantik diperoleh dari proses belajar dari lingkungannya,” kata Kepala Pusat Studi Otak dan Perilaku Sosial Universitas Sam Ratulangi (Unsrat) Manado, Taufiq Pasiak.

Di awal evolusi manusia, perempuan lebih banyak berperan di sektor domestik dengan interaksi yang terbatas. Situasi itu membuat perempuan banyak melihat keluar hingga suka membuat perbandingan. Di sisi lain, perempuan yang kerap dipandang sebagai obyek, membuat mereka yang lebih cantik berpeluang lebih dihargai lawan jenis dan masyarakat.

“Karena itu, perempuan di masa lalu selalu berusaha tampil cantik demi menarik laki-laki di luar,” ujarnya.

Selain itu, lanjut Taufiq yang juga dosen di Fakultas Kedokteran Unsrat, tubuh perempuan lebih cepat menua dibanding laki-laki. Situasi itu menjengkelkan bagi perempuan jika bersanding dengan pasangannya meski berumur sama. Karena itu, perempuan selalu berusaha menjaga tubuhnya agar tetap menarik bagi pasangannya.

“Meski kini peran perempuan di sektor publik makin banyak, hasrat untuk cantik tetap terbawa,” katanya.

Kecantikan tak hanya berguna menarik lawan jenis. Studi Daniel Hamermesh dan Jeff Biddle yang dikutip The New York Times, 28 Agustus 2003, menunjukkan kecantikan bernilai ekonomi. Pekerja berparas cantik atau tampan dapat gaji lebih tinggi di atas rata-rata. Sementara perusahaan dengan pekerja berwajah menawan juga lebih untung dibanding perusahaan sejenis.

Kesukaan manusia dengan keindahan juga membuat kita cenderung memilih membeli barang dari penjaja cantik. Sebagian juga cenderung mendengarkan pengacara menawan atau memilih politisi tampan. Bahkan, profesor yang menarik bisa membuat hasil pembelajaran mahasiswa meningkat.

Risiko
Kecantikan memang membuat perbedaan. Perempuan cantik biasanya mendapat lebih banyak senyuman atau perlakuan lebih hangat dari orang lain.

Namun tidak semua yang cantik dan gemerlap itu indah. Psikiater Dale Archer dalam “The Psychology of Beauty” di psychologytoday.com, 29 Juni 2012 mengatakan, kecantikan juga punya sisi gelap. Perempuan cantik cenderung obsesif, amat menghargai kecantikannya dan akan amat panik saat kecantikannya berkurang sedikit.

Kepercayaan diri orang cantik cenderung rendah. Mereka juga tidak mudah percaya sanjungan orang. Bahkan mereka kurang bisa melihat kelebihannya selain kecantikannya. Mereka juga cenderung egois, hingga disadari atau tidak, memanfaatkan kecantikannya untuk keuntungan pribadi.

Namun hal tersulit bagi perempuan cantik adalah penolakan sosial dari perempuan lain. “Hal pertama yang dianggap jadi ancaman bagi perempuan dari perempuan lain adalah kecantikan karena dianggap bisa mencuri pasangan mereka,” tulisnya.

KOMPAS/AYU PRATIWI–Acara peluncuran aplikasi Real Matters ID pada Jumat (7/9/2018), di Jakarta. Aplikasi itu membantu memastikan pasien klinik kecantikan menerima perawatan ultherapy yang autentik dan ditangani oleh dokter estetika terlatih dan bersertifikat.

Menjadi cantik juga tidak mudah dan murah. Perempuan rela diet ketat, menjalani perawatan, dan menghabiskan banyak uangnya untuk membeli aneka produk kecantikan, mendatangi klinik kecantikan, hingga operasi plastik. Hanya dengan itu, kepercayaan diri mereka bisa bertambah.

Karena itu, Archer menilai kecantikan adalah aset, sama dengan kecakapan fisik, karisma, serta kecerdasan otak dan emosional. Sama seperti aset materi, kecantikan harus dijaga dan dikelola secara bijaksana agar menjadi berkah, bukan kutukan.

Irwan menambahkan kecantikan sudah jadi komoditas ekonomi. Industri hiburan telah memberi imaji dan standar cantik hingga mendorong perempuan membelinya. Produk dan layanan kecantikan juga menciptakan ketergantungan karena harus digunakan berulang kali.

Namun hanya demi mengejar cantik, banyak perempuan abai dengan risiko kesehatannya. Penggunaan produk kosmetik yang mengandung bahan berbahaya atau layanan kecantikan yang tak terstandar bisa mengancam nyawa mereka. “Tidak ada yang salah jika ingin cantik. Namun jika upaya itu justru menimbulkan risiko yang tidak dikehendaki, perempuan harus waspada,” katanya.–M ZAID WAHYUDI

Sumber: Kompas, 5 Oktober 2018

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published.

%d blogger menyukai ini: