Home / Berita / Satelit Telkom 3S Kurangi Ketergantungan Asing

Satelit Telkom 3S Kurangi Ketergantungan Asing

Peluncuran satelit Telkom 3S pada pertengahan Februari 2017 ini diharapkan menjadi momentum bagi Indonesia untuk mengurangi ketergantungan dari satelit asing.

Demikian disampaikan oleh Direktur Network, IT & Solution Telkom, Abdus Somad Arief, ketika ditemui detikINET di Stasiun Pengendali Utama Satelit Telkom, Cibinong, Jawa Barat.

“Indonesia perlu 300 transponder, sementara kita cuma punya 140 transponder. Masih lebih banyak sewa satelit asing, 160 transponder. Itu sebabnya, dengan satelit Telkom 3S ini, kita bisa mengurangi ketergantungan terhadap satelit asing,” papar Abdus Somad.

Satelit Telkom 3S Kurangi Ketergantungan AsingFoto: Rachman Haryanto
Telkom sendiri dijadwalkan akan meluncurkan satelit Telkom 3S pada 14 Februari di Kourou, French Guieana, atau 15 Februari waktu Indonesia. Satelit Telkom 3S ini dipersiapkan untuk menggantikan satelit Telkom 2.

Untuk memproduksi satelit Telkom 3S, perusahaan menggaet vendor asal Prancis, yakni Thales Alenia Space untuk membuat bodi satelit, dan Ariane Space untuk membuat peluncur satelit (launcher). Keduanya dipilih dengan melalui proses tender.

Nantinya, satelit itu akan diluncurkan untuk menembus slot orbit 118 derajat Bujur Timur (BT) dan membawa 49 transponder, yang terdiri dari 10 transponder Ku-Band, 24 transponder C-Band, dan 8 transponder Extended Band.

Achmad Rouzni Noor II –

detikInet: Kamis, 02 Feb 2017
————–
Menanti Satelit ‘Made In Indonesia’ 5-10 Tahun Lagi

Telkom yang akan meluncurkan satelit Telkom 3S pada pertengahan Februari 2017, berharap Indonesia dalam waktu dekat sudah bisa memproduksi satelit karya anak bangsa.

Demikian disampaikan oleh Direktur Network, IT & Solution Telkom, Abdus Somad Arief, ketika ditemui detikINET di Stasiun Pengendali Utama Satelit Telkom, Cibinong, Jawa Barat.

“Indonesia menjadi negara kedua di dunia yang meluncurkan satelit pada 1976 lalu. Sejak itu, sampai sekarang, kita selalu beli satelit. Kami harap dalam 5-10 tahun lagi, Indonesia bisa membuat satelit sendiri,” ujar pria yang akrab disapa ASA ini.

Ia mencontohkan, Indonesia sejatinya sudah mampu memproduksi satelit sendiri tanpa bantuan vendor asing. Misalnya, Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN) telah membuat dan meluncurkan satelit sendiri di luar angkasa.

Menanti Satelit ‘Made In Indonesia’ 5-10 Tahun LagiFoto: Rachman Haryanto

“Ini tantangan buat researcher dan manufacturer lokal. Kami pernah ketemu LAPAN dan mereka sudah buat. Telkom akan mendukung, dan kami punya pasarnya. Kebutuhan kita terhadap satelit masih sangat banyak. Itu sebabnya, sambil jalan, kita pakai dulu yang sudah ada untuk Telkom 3S,” kata dia.

Untuk memproduksi satelit Telkom 3S, Telkom menggaet vendor asal Prancis, yakni Thales Alenia Space untuk membuat bodi satelit, dan Ariane Space untuk membuat peluncur satelit (launcher). Keduanya dipilih dengan melalui proses tender.

Menanti Satelit ‘Made In Indonesia’ 5-10 Tahun LagiFoto: Rachman Haryanto

ASA menilai Indonesia masih akan terus membutuhkan satelit, mengingat Indonesia merupakan negara kepulauan terbesar dengan lebih dari 17.000 pulau di seluruh Indonesia. Pembangunan jaringan seluler dan serat optik masih dirasa sulit untuk menjangkau daerah terpencil.

Meski tidak digunakan langsung ke end-user, satelit merupakan jaringan backbone atau pendukung jaringan seluler dan serat optik. Cakupan satelit yang sangat luas dan memperkuat pengiriman jaringan telekomunikasi kepada masyarakat.

“Indonesia butuh satelit jangka panjang karena banyak sekali daerah di Indonesia yang harus di-cover. Makanya, kita harus menantang diri sendiri untuk membuat (satelit) dengan tangan sendiri. Tentu butuh waktu,” paparnya

Menanti Satelit ‘Made In Indonesia’ 5-10 Tahun LagiFoto: Rachman Haryanto

“Lagipula, karena kami cuma sebagai user, ini bukan hanya pekerjaan rumah Telkom saja, tetapi juga researcher dan manufacturer. Kalau memang kita belum mampu, sewa saja dulu, tetapi risetnya tetap kita jalani. Kalau tidak cepat-cepat, kita bisa keduluan asing,” tegasnya.

“Indonesia perlu 300 transponder, sementara kita cuma punya 140 transponder. Masih lebih banyak sewa satelit asing, 160 transponder. Itu sebabnya, dengan satelit Telkom 3S ini, kita bisa mengurangi ketergantungan terhadap satelit asing,” papar ASA lebih lanjut.

Satelit Telkom 3S sendiri akan diluncurkan pada 14 Februari waktu setempat di Kuorou, French Gueiana. Satelit yang akan menempati slot orbit 118 derajat Bujur Timur (BT) ini akan membawa 49 transponder, yang terdiri dari 10 transponder Ku-Band, 24 transponder C-Band, dan 8 transponder Extended Band.

Achmad Rouzni Noor II –

Sumber: detikInet, Jumat, 03 Feb 2017
——————
Alasan Telkom Pilih Prancis Garap Satelit Telkom 3S

Telkom punya alasan khusus ketika memilih dua perusahaan asal Prancis untuk menggarap pembuatan satelit Telkom 3S yang memakan biaya hingga USD 250 juta.

Untuk memproduksi satelit Telkom 3S, BUMN telekomunikasi ini menggaet vendor asal Prancis, yakni Thales Alenia Space untuk membuat bodi satelit, dan Ariane Space untuk membuat peluncur satelit (launcher).

Menurut Direktur Network IT & Solution Telkom, Abdus Somad Arief, ketika ditemui detikINET di Stasiun Pengendali Utama Satelit Telkom, Cibinong, Jawa Barat, kedua perusahaan itu dipilih melalui proses tender.

Dijelaskan olehnya, Thales terpilih sebagai kontraktor utama dengan sejumlah pertimbangan. Salah satunya untuk pengadaan In-Orbit Delivery (IOD). “Kontraknya untuk Telkom 3S sampai ke orbit,” kata ASA, demikian Abdus Somad akrab disapa.

Lebih lanjut diungkapkan, Thales yang kemudian merekomendasikan Ariane. “Peluncurnya dia pilih, kita approve, yang terbaik. Ada kriteria tertentu pasti, success rate, dan syarat-syarat lainnya, akhirnya dipilihlah Ariane,” jelas ASA.

Telkom pun tak ragu memilih kedua perusahaan asal Prancis itu karena reputasinya sudah terbukti. “Ada proses compliance yang ujungnya the best benefit untuk kita. Dua-duanya terkenal di satelit, masuk top 5 dunia untuk pembuat satelit dan peluncur saat itu.”

Untuk pembuatan satelit dan roket peluncur ini, dana yang dikeluarkan Telkom lumayan besar. Hingga Rp 3,3 triliun jika menggunakan kurs saat ini. “Untuk investasinya, harga normal satelit sekitar USD 200 juta hingga USD 250 juta untuk seukuran satelit Telkom 3S,” jelas ASA.

Alasan Telkom Pilih Prancis Garap Satelit Telkom 3SFoto: Rachman Haryanto

Satelit Telkom 3S nantinya akan ditempatkan pada slot orbit 118 derajat bujur timur (BT) yang sebelumnya ditempati oleh satelit Telkom 2. Kemudian, satelit Telkom 2 yang masih aktif hingga 2022 akan dialihkan ke slot orbit 157 BT.

“Telkom 3S rencananya akan diluncurkan pada 15 Februari pukul 4.39 WIB. Sampai di titik orbit diperkirakan antara 10 hari hingga 15 hari. Mudah-mudahan saja semuanya lancar,” pungkas ASA.

Sebagai informasi, satelit Telkom 3S akan membawa 49 transponder, lebih banyak dibanding satelit Telkom 1 yang membawa 36 transponder dan satelit Telkom 2 dengan 24 transponder. (rou/rou)

Foto: Rachman Haryanto
Achmad Rouzni Noor II –

Sumber: detikInet, Senin, 06 Feb 2017

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*

code

x

Check Also

Peran dan Kontribusi Akademisi Lokal Perlu Ditingkatkan

Hasil riset akademisi memerlukan dukungan akses pasar. Kolaborasi perguruan tinggi dan industri perlu dibangun sedini ...

%d blogger menyukai ini: