Home / Berita / Saatnya untuk Energi Matahari

Saatnya untuk Energi Matahari

Matahari begitu murah hati menyinari republik ini. Namun, terlalu lama bergantung pada energi fosil, potensi energi tenaga surya belum terasa sepenuhnya.

Suhu di Cirata Green Energy (C-GEn) Research Center, salah satu fasilitas dalam unit di Pembangkit Listrik Tenaga Surya Cirata, Kabupaten Purwakarta, Jawa Barat, mencapai 30 derajat celsius, Selasa (16/2) siang. Terik sinar matahari menyilaukan mata. Sinarnya menyengat kulit.

Akan tetapi, Manajer Pengelolaan Energi Baru dan Terbarukan C-GEn Research Center Dimas Kaharudin Indra (31) justru semakin semangat bekerja meskipun keringat menetes di balik helm proyeknya. Terhampar di depan ruang kerjanya, panel surya berbahan thin film itu bekerja maksimal. Suhu di atas 25 derajat celsius pada pukul 10.30-13.30 adalah saat terbaik panel surya untuk menyerap sinar matahari (foton) sebelum diubah menjadi listrik.

Setelah sinar matahari terserap, lewat dua jenis inverter ukuran besar dan kecil, energi listrik dialirkan menuju jaringan Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) Cirata dan tegangan menengah lokal PT PLN. Tujuannya mengamati karakteristik pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) di dua inverter dan jaringan yang berbeda.

“Inverter kecil lebih cocok di rumah karena ukurannya lebih dinamis dan tidak berisik. Inverter besar lebih bising, tetapi ideal untuk kebutuhan perusahaan besar,” kata Dimas.

Ia lantas memperlihatkan panel lain di belakang gedung C-GEn Research Center, yang baru datang sekitar tiga hari sebelumnya. Perusahaan produsennya asal Austria meminta C-GEn Research Center melakukan pengujian sebelum dilepaskan ke pasar Indonesia.

Bentuknya tidak biasa. Panel dari bahan crystalline berbentuk kelopak bunga. Diletakkan di atas aspal, panel surya ditopang fondasi khusus. Kekuatannya 2,3 kW dan biasanya efektif bekerja saat suhu kawasan di bawah 25 derajat celsius.

Punya kekuatan lebih kecil ketimbang panel surya milik C-GEn Research Center, panel itu punya beberapa ciri khas. Panel bisa dilipat saat diancam angin kencang. Saat proses pelipatan, sikat antarpanel membersihkan debu yang menempel.

“Karakteristik setiap panel berbeda. Kami harus mencari karakter tepat untuk diterapkan di Indonesia,” kata Dimas.

Hemat
Diresmikan Oktober 2015, C-GEn Research Center ini dibuat PT Pembangkit Jawa-Bali, salah satu anak perusahaan PT PLN, untuk mengembangkan energi surya Indonesia. Dari tempat itu, diharapkan permasalahan pemenuhan energi, khususnya di daerah terpencil, dapat diatasi.

bc247bb8b3e54b81ba0001b5bde8fcb4KOMPAS/TOTOK WIJAYANTO–Petugas merawat panel tenaga surya Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) Cirata, Purwakarta, Jawa Barat, Oktober lalu. PLTS berkapasitas 1 megawatt milik PT Pembangkit Jawa Bali tersebut merupakan yang terbesar di Pulau Jawa.

Ambisi itu jelas bukan pekerjaan mudah. Indonesia kalah cepat ketimbang negeri miskin matahari, tapi lebih maju memanfaatkan teknologi. Di Belanda, misalnya, panel surya digunakan menopang industri pertanian bersama energi panas bumi. Di Jerman, sekitar 40.000 panel surya diandalkan mengaliri listrik warganya sejak lama.

General Manager Unit Pembangkit Cirata Wisrawan Wahyu mengatakan, pemanfaatan energi surya pertama kali dikembangkan di lingkungan PLTA Cirata sejak 1987. Saat itu, PLTS skala kecil digunakan di pos pemantau cuaca yang terletak di daerah yang sulit dijangkau. Sekitar 24 tahun kemudian, giliran dua panel surya berkekuatan 3 kilowatt dan 5 kilowatt peak digunakan memenuhi kebutuhan listrik kantor Unit Pembangkit Cirata.

“Hal itu juga yang melatarbelakangi pemilihan kawasan PLTA Cirata menjadi rumah penelitian panel surya di Indonesia. Harapannya, bisa mengurangi ketergantungan berbagai daerah pada energi fosil. Selain lebih hemat daripada menggunakan solar, energi surya juga jauh lebih murah,” katanya.

Menurut Dimas, kemampuan panel surya 1 megawatt (MW) itu bisa menghasilkan listrik hingga 120 megawatt per hour (MWh) dalam sebulan. Jumlah itu mampu menerangi 1.000 rumah dengan kebutuhan listrik 120 kilowatt per hour (kWh) per bulan di setiap rumah.

Menurut Dimas, kemampuan serupa juga bisa dihasilkan solar. Namun, butuh biaya besar untuk mewujudkan. Dengan perhitungan 1 liter solar mampu membangkitkan listrik 3 kWh, dibutuhkan 40.000 liter solar untuk memproduksi listrik 120 MWh. Dengan harga solar industri Rp 10.000 per liter, butuh Rp 400 juta per bulan untuk menerangi sedikitnya 1.000 rumah warga.

“Apabila terus digunakan selama 5-6 tahun, uang yang dihabiskan membeli solar setara dengan investasi Rp 28 miliar untuk solar panel berkekuatan 1 MW yang bisa terus digunakan hingga 25 tahun. Nilai investasinya bisa ditekan apabila Indonesia punya pabrik pembuatan panel surya dengan ahlinya sendiri,” katanya.

Penelitian
Matahari masih garang saat bola mata Nabela Doris (20), mahasiswa jurusan teknik energi terbarukan di Politeknik Negeri Jember, Jawa Timur, berbinar memperlihatkan rasa ingin tahu. Ia tak pernah jauh dari Kirjono Murdianto (24), engineer C-GEn Research Center. Siang itu, mereka tengah menyetel inverter panel berbentuk bunga asal Austria.

“Ini dimatikan dulu?” tanya Doris, saat diminta mematikan daya panel, ragu.

“Iya. Sampai bunyi ctak,” jawab Kirjono

Yakin dengan panduan Kirjono, Doris tidak ragu melakukan yang diminta.

Saat itu baru beberapa hari Doris dan empat rekannya datang ke Cirata pertengahan Februari 2016. Guna menyelesaikan magang kerja industrinya, Nabela akan berada di Cirata hingga tiga bulan ke depan.

“Tempat ini paling tepat untuk belajar energi terbarukan. Banyak hal baru yang bisa saya pelajari di sini,” kata Nabela. Ia saat ini tengah menyusun skripsi tentang pemanfaatan energi matahari untuk pemanas air.

Dimas mengatakan, sejak dibuka Oktober 2015, fasilitas C-GEn Research Center itu ramai dikunjungi mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi di Indonesia. Satu kali penelitian biasanya berlangsung tiga minggu hingga tiga bulan.

Meskipun usia pusat penelitian itu masih belia, lembaga penelitian pemerintah, seperti Badan Pengkajian dan Penelitian Teknologi (BPPT), sudah mengajaknya berkolaborasi. Perusahaan swasta berskala internasional juga percaya panel suryanya diuji di Cirata.

“Kesempatan itu kami gunakan untuk belajar banyak hal baru demi masa depan yang lebih baik bagi pemanfaatan energi terbarukan di Indonesia. Negara ini punya potensi besar untuk mengembangkannya,” ujar Dimas.

CORNELIUS HELMY
——–
Versi cetak artikel ini terbit di harian Kompas edisi 24 Maret 2016, di halaman 24 dengan judul “Saatnya untuk Energi Matahari”.
————–
Keandalan Listrik untuk Industri Jawa-Bali Ditingkatkan

PT Perusahaan Listrik Negara (Persero), Rabu (23/3), meresmikan pengoperasian dua gardu induk baru dan penambahan kapasitas gardu induk lama di wilayah Jawa Timur. Penambahan infrastruktur ini untuk memperkuat sistem kelistrikan dan memenuhi tuntutan dunia usaha terhadap kecukupan dan keandalan pasokan listrik.

Direktur Bisnis Regional Jawa Bagian Timur dan Bali PT PLN (Persero) Amin Subekti mengatakan, dua gardu induk baru adalah Gardu Induk (GI) Sambikerep di Surabaya dengan kapasitas 120 mega volt ampere (MVA) dan GI Sidoarjo dengan kapasitas 60 MVA.

“Kami juga melakukan peningkatan kapasitas Gardu Induk Bulu Kandang di Pasuruan dari kapasitas 30 MVA menjadi 60 MVA,” ujar Amin, di sela-sela acara peresmian infrastruktur kelistrikan di Sidoarjo.

Ketiga GI ini masuk dalam sistem kelistrikan Jawa-Bali. Pasokan listrik pada sistem Jawa- Bali saat ini mencapai 8.600 megawatt (MW) atau surplus sebesar 2.000 MW karena kebutuhan listrik rata-rata pada saat beban puncak hanya 6.000 MW.

Penambahan infrastruktur ini lebih dimaksudkan untuk meningkatkan keandalan sistem kelistrikan supaya pasokannya lebih stabil. Ini sangat penting bagi dunia usaha, terutama industri besar yang mengoperasikan mesin-mesin produksi besar, seperti industri baja.

“Industri besar tidak hanya memerlukan pasokan listrik yang cukup, tetapi mereka juga menuntut supaya andal agar kegiatan produksinya tidak terganggu,” kata Amin.

Ia menambahkan, dengan kondisi pasokan listrik yang semakin andal, diharapkan mampu merangsang minat investor berinvestasi di Jatim. Masuknya investor praktis akan berdampak pada pembangunan ekonomi di Jatim, terutama di daerah strategis, seperti Kabupaten Sidoarjo, Kota Surabaya, dan Kabupaten Pasuruan.

Peningkatan keandalan kelistrikan sistem Jawa-Bali juga dilakukan untuk mengantisipasi pengembangan kawasan industri di Kabupaten Tuban, Lamongan, Malang, Jombang, dan lainnya.

Untuk meningkatkan kapasitas daya listrik, PLN sedang menyelesaikan pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Uap Tanjung Awar-awar Unit II berkapasitas 350 MW. Suplai listrik dari pembangkit ini ditargetkan masuk dalam sistem pada Juni 2016. PLN juga tengah menyelesaikan pembangunan PTLU di Grati, Kabupaten Probolinggo. Pembangkit berkapasitas 450 MW ini ditargetkan masuk sistem kelistrikan Jawa-Bali akhir 2017.

Untuk membangun infrastruktur kelistrikan, diperlukan dukungan Pemprov Jatim, pemerintah kabupaten, atau kota dan masyarakat.

Kepala Dinas ESDM Jatim Dewi J Putriatni mengatakan, pemerintah berkomitmen membantu sebab infrastruktur kelistrikan berperan penting bagi pembangunan dan pada akhirnya meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

Dewi menambahkan, persoalan kelistrikan di Jatim bukan pada pasokan, melainkan pemerataan akses kepada masyarakat. Rasio elektrifikasi masih rendah, yakni 83 persen. Di Kabupaten Sampang, misalnya, rasio elektrifikasinya baru 40 persen dan di Pacitan baru 75 persen. (NIK)
—————
Versi cetak artikel ini terbit di harian Kompas edisi 24 Maret 2016, di halaman 24 dengan judul “Keandalan Listrik untuk Industri Jawa-Bali Ditingkatkan”.

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*

code

x

Check Also

Peran dan Kontribusi Akademisi Lokal Perlu Ditingkatkan

Hasil riset akademisi memerlukan dukungan akses pasar. Kolaborasi perguruan tinggi dan industri perlu dibangun sedini ...

%d blogger menyukai ini: