Home / Tokoh / Robiyanto Hendro Susanto; Menerabas Batas Menara Gading di Rawa-rawa

Robiyanto Hendro Susanto; Menerabas Batas Menara Gading di Rawa-rawa

ROBIYANTO Hendro Susanto (52) mengukir karyanya di tengah para petani rawa di berbagai pelosok Nusantara. Di tengah kesibukannya kini, ahli rawa untuk pertanian pangan itu masih terus menyempatkan menyapa mereka. Keakrabannya dengan rawa membuatnya dijuluki manusia rawa.

Betapa sulit mengajak Prof Robi, panggilan akrabnya, dalam sebuah kegiatan. Dengan keahliannya, ia begitu sibuk dengan berbagai pertemuan, mulai dari rapat dengan pejabat, melanglang buana ke berbagai negara, memberikan bimbingan penelitian, hingga blusukan ke daerah-daerah rawa di ujung belantara.

”Untuk memesan saya, butuh janji enam bulan sebelumnya agar saya bisa memastikan jadwal saya kosong saat itu,” katanya pada suatu siang di kantornya, Pusat Data-Informasi Rawa dan Pesisir yang bersahaja di Universitas Tridinanti, Palembang, Sumatera Selatan.

Guru Besar Ilmu Tanah dari Universitas Sriwijaya itu merupakan pendiri sekaligus koordinator lembaga penelitian dan kajian rawa-rawa Pusat Data-Informasi Rawa dan Pesisir.

Saat ini, lembaga yang mulai ia rintis pada 1995 itu telah bekerja sama dengan 2.000 institusi pemerintah dan lembaga, termasuk Kementerian Tenaga Kerja dan Transmigrasi, dinas pekerjaan umum sejumlah daerah, pemerintah-pemerintah kabupaten, dan lembaga-lembaga donor luar negeri.

Selama 25 tahun, Robi bergelut dengan permasalahan lahan rawa. ”Setahu saya tak ada orang lain yang khusus menggeluti bidang pertanian rawa ini di Indonesia dan sangat sedikit di dunia,” katanya.

Keahliannya di bidang akademis tak perlu diragukan lagi. Setidaknya sudah 38 hasil penelitiannya di bidang rawa diterbitkan dan dipresentasikan, baik di Indonesia maupun luar negeri.

Laboratorium lapangan terpadu pasang surut dan lebak didirikan atas nama Pusat Data-Informasi Rawa dan Pesisir di berbagai pelosok provinsi di Indonesia. Seluruhnya merupakan fasilitas penelitian sekaligus pengembangan kawasan rawa, terutama untuk pertanian pangan.
Bertemu langsung

Tak hanya di bidang akademis. Robi juga masih rajin mengembara ke berbagai pelosok Nusantara untuk bertemu langsung dengan petani lahan rawa. Di sana, ia bertukar pengetahuan dengan petani dan memberikan pengetahuan untuk pengembangan kawasan yang butuh perlakuan khusus tersebut.

Lewat Pusat Data-Informasi Rawa dan Pesisir, Robi membantu pendampingan masyarakat dalam program kawasan sawah di Telang I, Banyuasin, yang difasilitasi Bulog Sumsel. Pengembangan sawah di daerah pasang surut juga ia lakukan di Tanjung Lago, Air Sugihan Kanan, dan Pulau Rimau di Kabupaten Banyuasin.

Dalam program tersebut, lahan pertanian rawa-rawa yang sebelumnya tak produktif diubah menjadi sawah produktif yang menghasilkan padi dan palawija. Ia mengajak petani untuk ikut dalam program tersebut. ”Jangan jadikan petani sebagai obyek saja, tetapi jadikan sebagai pelaku juga. Mereka mampu, bahkan mau berkorban tenaga dan patungan jika memang diajak bekerja sama,” katanya.

Dengan biaya dari institusi pemerintah, infrastruktur air untuk mengatasi pasang surut daerah rawa dibangun di kawasan itu. Petani turut diajak membuat saluran air dan pemasangan pintu air.

Saat ini, sawah-sawah di kawasan tersebut dapat ditanami tiga kali dalam setahun dengan urutan padi, padi, serta palawija seperti jagung dan kedelai. Hasilnya pun melimpah. ”Sebanyak 7 ton gabah per hektar pada musim tanam pertama, 4 ton per hektar pada musim tanam kedua, dan 4 ton jagung per hektar pada masa tanam ketiga,” ucap Robi.

Sebelumnya, kawasan rawa dianggap tak produktif karena hasil panen rendah. Tingginya serangan hama dan siklus air merupakan kendala utama. Akibatnya, rata-rata panen di sawah pasang surut kurang dari 4 ton gabah kering giling per hektar. Tanpa saluran air khusus, lahan di kawasan rawa hanya dapat ditanami sekali setahun. Selebihnya terendam menjadi rawa.

Robi berulang kali melobi sejumlah bupati di berbagai daerah untuk mendorong pembangunan kawasan rawa di daerahnya. ”Banyak pemerintah daerah yang sebenarnya mempunyai kepedulian. Namun, mereka tak paham dari mana harus memulai pengembangan kawasan rawa,” ujarnya. Padahal, dengan sumber daya dana dan kebijakan, pemerintah daerah inilah yang mempunyai wewenang paling besar untuk pengembangan daerah rawa.

Begitu besar kawasan rawa di Indonesia. Lebih dari 33 juta hektar merupakan lahan pertanian rawa. Namun, begitu sedikit orang yang mempelajarinya. Selain salah pengembangan, banyak lahan rawa dibiarkan tak produktif karena kurangnya pemahaman dan infrastruktur. Baru sekitar 10 persen dapat ditanami lebih dari satu kali dalam setahun. Padahal, lahan rawa dapat menjadi lahan pertanian produktif seperti telah ia buktikan di beberapa lokasi.

Manusia rawa

Robi mulai tertarik dengan rawa-rawa sejak meraih gelar PhD dari Universitas Negeri Carolina Utara (North Carolina State University) di Amerika Serikat tahun 1993. Dia juga mempelajari kawasan rawa di pesisir pantai AS.

Sepulang dari negeri itu tahun 1993, ia turun ke sawah-sawah di pesisir Sungai Musi di Kabupaten Banyuasin. Saat itu ia menjadi tenaga ahli on-farm proyek Integrated Irrigation Swamp Project yang didanai dengan pinjaman lunak dari Bank Pembangunan Asia. Proyek itu dilanjutkan dengan South Sumatera Swamp Improvement Project yang didanai sebuah lembaga Jepang pada 1996.

Dari sana ia mulai merintis Pusat Data-Informasi Rawa dan Pesisir. Pemikiran awal sederhana. Robi merasa sayang membuang data dan bahan hasil penelitian selama dua proyek tersebut.

”Saya kumpulkan peta-peta dan buku-buku selama proyek itu, lalu saya letakkan di pusat data ini. Dari situ, terus berkembang,” katanya.

Saat ini Pusat Data-Informasi Rawa dan Pesisir merupakan satu-satunya lembaga rujukan yang khusus menyediakan data kawasan rawa dan pesisir di Indonesia.

Julukan manusia rawa untuk Robi rasanya tepat. Bisa dibilang, Robi lahir di tengah kawasan rawa. Bapak dua anak itu lahir di Baturaja, Kabupaten Ogan Komering Ulu, Sumsel—provinsi dengan kawasan rawa sangat luas.

Ia pun mengembangkan berbagai pemikiran mengenai pengembangan rawa. Baginya, prinsip pengembangan rawa sebenarnya sederhana, yaitu tak melawan kodrat alami rawa.
—————————————————————————
Robiyanto Heru SusantoProf Dr Ir Robiyanto Hendro Susanto, M Agr Sc

? Lahir: Baturaja, Sumsel, 5 April 1961
? Istri: Dr Ir Kiki Yulianti
? Anak:
– Rosinsko Hiro Susanto (Mahasiswa Komunikasi UGM)
– Klanita Sabira (SMA Negeri Plus 17)
? Jabatan: Ketua Program Studi S-2 dan S-3 Lingkungan, Koordinator Program Double Degree Integrated Lowlands Development and Management Planning Universitas Sriwijaya-UNESCO-IHE Delft, Belanda

Oleh: Irene Sarwindaningrum

Sumber: Kompas, 6 Januari 2014

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*

code

x

Check Also

Sudirman; Membebaskan Dusun dari Kegelapan

Pada Maret 2003, Sudirman (41) sudah siap membangun rumah permanen. Sebanyak 50 zak semen sudah ...

%d blogger menyukai ini: