Home / Profil Ilmuwan / Retno Purwanti Menjadi Garis Depan Sriwijaya

Retno Purwanti Menjadi Garis Depan Sriwijaya

Ketika Kedatuan Sriwijaya dianggap fiktif, perempuan asal Sleman, DI Yogyakarta, Retno Purwanti ini berada di garis depan.

KOMPAS/ADRIAN FAJRIANSYAH–Arekolog Balai Arkeologi Sumatera Selatan Retno Purwanti difoto di Palembang, Sumatera Selatan, Minggu (27/10/2019). Retno adalah arkeolog yang getol menjaga memori kolektif mengenai Kerajaan Sriwijaya di tengah masyarakat yang mulai abai ataupun melupakan sejarah kerajaan maritim tersebut.

Ia menjelaskan fakta-fakta keberadaan kerajaan maritim terbesar di Asia Tenggara itu. Eksistensi Sriwijaya sangat penting dalam mata rantai peradaban yang membentuk Indonesia.

Sosok bernama Retno Purwanti ini, berupaya menjaga memori kolektif mengenai Sriwijaya di tengah masyarakat yang mulai abai, meragukan, bahkan melupakan sejarah emperium yang pernah eksis selama abad ke-7 hingga ke-14 tersebut. Apalagi akhir-akhir ini, ada sejumlah pihak meragukan kebenaran sejarah kerajaan yang beribukota di Palembang, Sumatera Selatan.

Mulanya, Retno tidak mau menanggapi anggapan yang tidak mendasar itu. Akhirnya, karena niat ingin meluruskan informasi, Retno tergerak untuk berbicara di sejumlah forum, termasuk media cetak, daring, hingga televisi guna menjelaskan bahwa hasil penelitian menunjukkan Sriwijaya itu memang pernah ada dan nyata.

Bukti kuat keberadaan Sriwijaya adalah ditemukan puluhan prasasti, arca, dan candi yang menerangkan keberadaannya. Bukti terpenting antara lain tentang pembangunan wanua/kota Sriwijaya dalam Prasasti Kedukan Bukit (16 Juni 682); struktur pemerintahan dalam Prasasti Telaga Batu (683); pendudukan atas wilayah Melayu/Jambi dalam Prasasti Karang Brahi (sekitar abad ke-7); dan ekspansi ke Bangka; serta penyerangan Bumi Jawa dalam Prasasti Kota Kapur (686).

Dari sekian banyak temuan, cukup monumental adalah Prasasti Kedukan Bukit. Sampai kini, prasasti yang dikenali oleh pejabat Belanda M Batenburg tak jauh dari kaki bukit suci Seguntang Mahameru, Palembang, pada 29 November 1920 tersebut menjadi prasasti tertua yang menerangkan mengenai Sriwijaya.

Semua bukti Sriwijaya itu telah dikaji oleh para peneliti asing maupun lokal sejak awal abad ke 20. Penelitian medetail pertama mengenai Sriwijaya hingga mengangkat lagi nama Sriwijaya dilakukan oleh arkeolog Perancis George Coedes dalam tulisan berjudul “Le royaume de Sriwijaya” atau Kerajaan Sriwijaya pada 1918. ”Semua penelitian itu membuktikan bahwa Sriwijaya itu tidak fiktif,” kata Retno ditemui di Palembang, Minggu (27/10/2019).

Minat
Retno sejatinya tidak berasal dari keluarga peneliti sejarah ataupun arkeolog. Ia tertarik arkeologi karena kebiasaan kedua orangtuanya yang gemar mengajak jalan-jalan ke sejumlah situs bersejarah di kawasan Yogyakarta.

Dengan ketertarikan tersebut, Retno memantapkan diri melanjutkan pendidikan di Jurusan Arkeologi, Fakultas Sastra, Universitas Gadjah Mada, 1984-1990. ”Saya pilih arkeologi karena pencarian jejak arkeologi itu harus dilakukan lewat ekspedisi atau jalan-jalan,” katanya.

Setelah lulus kuliah, Retno sempat ditempatkan menjadi CPNS di kawasan Batusangkar, Sumatera Barat pada 1992-1993. Ketika diangkat menjadi PNS, ia ditempatkan di Palembang sejak 1994.

Saat melakukan ekspedisi tak jarang Retno mengalami cerita-cerita tak mengenakkan. Salah satunya, ketika ia dan tim melakukan penelitian Sriwijaya di kawasan Ulu Musi, Empat Lawang, Sumsel pada 1999. Saat itu, mereka sudah meminta izin kepada kepala desa untuk melakukan penelitian.

Beberapa hari kemudian, warga datang beramai-ramai dengan senjata tajam mengepung mereka yang sedang di dalam bak penelitian. ”Saat itu, ada provokator yang bilang ke warga bahwa kami sedang berburu harta karun. Padahal, kami sedang penelitian. Akhirnya, penelitian itu kami hentikan dan tidak dilanjutkan hingga sekarang,” tutur Retno.

Sejumlah peristiwa tak mengenakkan itu ternyata tidak membuat Retno kapok. Retno menjelaskan, penolakan warga terhadap penelitian arkelogi sesungguhnya bukti bahwa kesadaran masyarakat terhadap dunia sejarah masih rendah. Untuk itu, selain kurang kooperatif terhadap suatu penelitian, warga kadang tidak punya kesadaran untuk memberi informasi ketika menemukan benda-benda bersejarah.

Sering kali, justru terjadi perburuan liar di situs-situs arkeologis, antara lain di Sungai Musi, Palembang dan pesisir timur Sumsel, seperti di Cengal, Ogan Komering Ilir. Praktik ilegal itu sangat merugikan peneliti. Tidak menutup kemungkinan, benda-benda yang ditemukan warga itu bernilai sejarah tinggi tetapi justru dilebur atau dijual utuh ke kolektor luar negeri.

Oleh karena itu, dalam forum formal maupun non formal, Retno berupaya mensosialisasi warga agar lebih peduli dengan situs maupun benda bersejarah yang ada di sekitarnya.

Retno banyak berperan langsung dalam mempertahankan situs bersejarah di wilayah Palembang serta Sumsel. Pada 2005, Pemprov Sumsel berencana membangun Jembatan Musi 3 yang melintasi Kampung Arab Al Munawar di Seberang Ulu, Palembang. Proyek itu akan menghancurkan perkampungan tua tersebut.

Retno bergrilya untuk mendukung warga setempat mempertahankan kampungnya. Ia menjalin kerjasama dengan sejumlah LSM dan media untuk sama-sama mendukung warga mempertahankan kampung.

Bahkan, dia bergabung dengan warga ketika melakukan ujuk rasa. Dengan sejumlah perjuangan itu, pada 2006/2007, Kampung Al Munawar akhirnya urung dihancurkan. Saat ini, kampung itu justru menjelma jadi kampung wisata unggul di Palembang.

”Kampung Al Munawar adalah satu-satunya kampung kuno di Palembang yang secara tata letak dan nilai sejarah masih terjaga. Keberadaannya sangat penting untuk mempelajari perkembangan peradaban ataupun sejarah di Palembang dari zaman Sriwijaya hingga sekarang,” katanya.

Upaya Retno dan rekan arkeolog lain melakukan sosialisasi itu turut menyadarkan sejumlah pemburu harta kartun Sriwijaya di Sungai Musi. Paling tidak, para pemburu itu membentuk organisasi Komunitas Pencinta Antik Kebudayaan Sriwijaya sejak 2004.

”Dulu, kami selalu menjual benda-benda yang ditemukan. Tapi, setelah dengar kata Ibu Retno bahwa sejarah Sriwijaya itu sangat penting dan tidak semua benda bersejarah itu adalah cagar budaya, kami sekarang lebih rajin berkomunikasi dengan peneliti setiap menemukan benda kuno” ujar Ketua Kompak Sriwijaya Hirmeyudi.

Retno Purwanti

Lahir: Sleman, DI Yogyakarta, 31 Oktober 1965

Pendidikan:
– Strata satu Arkeologi, Fakultas Sastra, Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta (lulus 1990)
– Megister Museologi, Fakultas Sastra, Universitas Padjadjaran, Bandung, Jawa Barat (lulus 2008)
-Doktoral Konsentrasi Islam Melayu Nusantara, Program Studi Peradaban Islam, Universitas Islam Negeri Raden Fatah, Palembang, Sumatera Selatan (lulus 2019)

Karier:
– Peneliti di Balai Arkeologi Sumatera Selatan sejak 1994 hingga sekarang

Oleh ADRIAN FAJRIANSYAH

Editor: PUTU FAJAR ARCANA

Sumber: Kompas, 8 Januari 2020

Share
x

Check Also

Retno Wahyuningsih dan Mimpi Besar Peneliti Penyakit Jamur

Riset yang dilakukan Retno bersama ahli lainnya akan mengubah manajemen penanganan TBC dalam jangka panjang, ...