Home / Berita / Hanya Menyandang Nama, Unsri Tak Punya Pusat Studi Sriwijaya

Hanya Menyandang Nama, Unsri Tak Punya Pusat Studi Sriwijaya

Universitas Sriwijaya di Palembang, Sumatera Selatan, menyandang nama salah satu kemaharajaan bahari yang pernah berdiri di Pulau Sumatera dan banyak memberi pengaruh di Nusantara. Walau demikian, Unsri tidak memiliki pusat studi tentang Kerajaan Sriwijaya itu.

Direktur Jenderal Kebudayaan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Hilmar Farid, Senin (6/8/2018) malam di Palembang, menantang Unsri untuk memiliki pusat studi tentang kerajaan yang hidup dari tahun 600-an hingga 1100-an dan banyak memberi pengaruh di Nusantara itu.

Tidak hanya berpengaruh di Nusantara, kekuasaan Kerajaan Sriwijaya membentang dari Kamboja, Thailand selatan, Semenanjung Malaya, Sumatera, dan sebagian Jawa. Pusat studi ini diharapkan dapat menghasilkan kajian-kajian penting terkait jejak-jejak kekuasaan kerajaan tersebut.

KOMPAS/RHAMA PURNA JATI–Dirjen Kebudayaan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Hilmar Farid (tengah) membuka seminar kesejarahan tentang Kerajaan Sriwijaya, Senin (6/8/2018) malam di Palembang. Seminar ini diharapkan dapat mengembalikan memori kolektif tentang Kerajaan Sriwijaya.

Hilmar menantang Unsri ketika membuka seminar kesejarahan bertajuk ”Sriwijaya dan Poros Maritim Dunia”, Senin (6/8/2018) malam di Palembang. Menurut Hilmar, Sriwijaya memiliki peran penting dalam membangun peradaban di Nusantara, terutama di bidang bahari (kemaritiman).

KOMPAS/RHAMA PURNA JATI–Batu bata bercorak Bungo Cino yang ditemukan di kompleks pemakaman Ki Rangga Wirasantika yang terletak di Jalan Talang Kerangga, Kelurahan 30 Ilir, Kecamatan Ilir Barat II, Palembang, Jumat (3/11/2017). Susunan batu bata ini disinyalir merupakan bagian dari candi peninggalan Kerajaan Sriwijaya. Susunan batu bata tersebut mirip dengan karakteristik candi di Jawa Tengah. Dugaan awal, candi ini merupakan tempat ibadah atau tempat suci bagi masyarakat yang hidup di zaman itu.

Namun, saat ini kehidupan kemaritiman warisan Sriwijaya sudah merosot. Kedatangan persekutuan dagang penjajah Belanda, yakni Vereenigde Oostindische Compagnie (VOC), pada abad ke-17 telah mengubah budaya masyarakat Nusantara dari maritim menuju ke bidang pertanian.

Keduluan Singapura
Palembang yang merupakan pusat Kerajaan Sriwijaya memiliki peran penting untuk mengembalikan kejayaan itu. ”Jangan kalah dengan Singapura yang telah memiliki Pusat Studi Sriwijaya yang cukup baik,” kata Hilmar.

Untuk itu, akademisi terutama di Unsri yang notabene memiliki nama Sriwijaya perlu membuat pusat studi untuk mengembalikan kembali memori kolektif terkait kejayaan Kerajaan Sriwijaya. Termasuk, misalnya, jejak kerajaan ini ketika berada dalam peta jalur perdagangan rempah-rempah dunia.

Nantinya, Unsri dapat bekerja sama dengan pihak terkait, seperti Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Jambi dan BPCB Sumatera Barat, untuk mewujudkan hal tersebut. ”Saya hanya berpikir praktis, mudah-mudahan di tahun ini, rencana tersebut dapat diwujudkan,” ucap Hilmar.

Rektor Unsri Anis Sagaff menerangkan, sejak tiga tahun lalu Unsri telah membuat pusat kajian Sriwijaya. Namun, keberadaannya jalan di tempat karena kurang dukungan. ”Namun, dengan dukungan dari Kemendikbud, Pusat Studi Sriwijaya dapat kembali di jalannya,” ucapnya.

Menurut Anis, keberadaan pusat studi terkait Kerajaan Sriwijaya dinilai penting untuk menguatkan keberadaan Palembang sebagai Pusat Kerajaan Sriwijaya. Hal ini mengacu pada banyaknya daerah atau bahkan negara lain yang mengaku bahwa Sriwijaya berpusat di daerahnya.

KOMPAS/IRENE SARWINDANINGRUM–Situs Karanganyar, salah satu situs Kerajaan Sriwijaya yang saat ini dikelola sebagai Taman Purbakala Kerajaan Sriwijaya, Palembang, Sumatera Selatan. Kanal-kanal air yang terlihat diduga merupakan kanal kuno yang dibuat sebagai jalur transportasi di masa Kerajaan Sriwijaya.

Ambil contoh, saat dirinya ke Bangkok pada 2010, ada seorang pejabat Thailand yang bertanya mengapa Unsri menggunakan nama Sriwijaya. Mereka menilai Sriwijaya berpusat di Bangkok, Thailand.

Bahkan, ujar Anis, ada sebuah lembaga pendidikan di Bangkok yang menggunakan nama Srivijaya (Sriwijaya). Karena itu, mengembalikan memori tentang Sriwijaya adalah hal yang perlu diterapkan segera.

Ketua Masyarakat Sejarawan Indonesia Sumsel Farida Wargadalem menerangkan, yang terpenting saat ini bukan hanya mengembalikan memori terkait kejayaan Sriwijaya, melainkan bagaimana menjaga bukti-bukti sejarah melalui artefak agar tidak hancur karena dampak pembangunan.

”Kalau bukti sejarah hancur, bagaimana kita dapat mencari fakta sejarah,” katanya.

KOMPAS/IRENE SARWINDANINGRUM–Tim ekskavasi Sriwijaya Balai Arkeologi Palembang menimbun situs ekskavasi di kompleks pemakaman Gede Ing Suro di Kota Palembang, Sumatera Selatan, Senin (1/12/2014), karena waktu penelitian sudah usai. Penimbunan kembali dimaksudkan untuk perlindungan terhadap temuan yang masih ditinggal di bawah. Timbunan ini juga ditandai agar dapat dilanjutkan di masa mendatang. Penelitian yang berlangsung sekitar 10 hari tersebut baru dapat menembus lapisan peradaban yang diduga lebih muda dari masa Kerajaan Sriwijaya sekitar abad VII-XIII.

Farida memberi contoh terkait perombakan Bukit Seguntang yang merupakan tempat penting di mana para biksu mampir ke bukit tersebut untuk memperdalam ajaran agama Buddha. Perombakan tersebut merusak artefak yang belum digali (diekskavasi).

Direktorat Sejarah Direktorat Kebudayaan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan menggelar seminar kesejarahan bertajuk ”Sriwijaya dan Poros Maritim Dunia” pada 6-9 Agustus.

Seminar ini dihadiri oleh 250 peserta yang terdiri dari 12 pemakalah undangan, 50 pemakalah seleksi, dan 188 peserta yang berasal dari akademisi, mahasiswa, guru, instansi pemerintah, komunitas, dan pemerhati sejarah dari seluruh Indonesia.–RHAMA PURNA JATI

Sumber: Kompas, 7 Agustus 2018

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*

code

%d blogger menyukai ini: