Rehabilitasi agar Perhatikan Jalur Sesar

- Editor

Kamis, 18 Mei 2017

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Jalur sesar di daratan kebanyakan memiliki karakteristik gempa yang merusak karena sumbernya yang dangkal dan dekat permukiman. Pembangunan kembali daerah setelah gempa, seperti di Kabupaten Poso, Sulawesi Tengah, baru-baru ini, seharusnya mempertimbangkan faktor tersebut.

Rekahan tanah permukaan (surface rupture) yang terjadi setelah gempa merupakan salah satu penanda keberadaan jalur sesar aktif tersebut. “Kerusakan bangunan terutama akan terjadi di sepanjang rekahan ini dan biasanya akan berulang di lokasi yang sama jika terjadi gempa lagi,” kata Kepala Bidang Gempa Bumi dan Tsunami Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) Sri Hidayati, Selasa (6/6).

Karena itu, Sri meminta agar bangunan yang di sepanjang rekahan ini dipindahkan. Upaya relokasi bangunan dari jalur sesar permukaan ini merupakan salah satu upaya untuk menghindarkan dari kerusakan gempa, selain meningkatkan kualitas konstruksi bangunannya agar sesuai standar. “Bangunan yang dilalui garis sesar sebaiknya dijadikan area terbuka,” katanya.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Dalam survei oleh tim PVMBG, jalur rekahan permukaan ini banyak ditemukan setelah gempa Poso, Senin (29/5). Sebagian besar bangunan yang rusak di Poso yang mencapai 348 unit ini ada di sepanjang jalur ini, sebagaimana ditemukan di Dusun 3, Desa Wuasa, Kecamatan Lore Utara. Fenomena yang sama ditemukan setelah gempa yang melanda Pidie Jaya, Aceh, Desember 2016.

Menurut Sri, Peraturan Pemerintah Nomor 26 Tahun 2008 Pasal 61 Ayat 4 telah mengatur tentang jarak aman bangunan dari rekahan permukaan ini, yaitu minimal 250 meter. “Jarak ini agak kejauhan. Kalau sesuai acuan dari New Zealand, sekitar 20 meter. Tetapi, bangunan di sana tahan gempa,” katanya.

Dalam praktiknya, upaya untuk menyadarkan masyarakat tentang bahaya lintasan sesar permukaan ini tidak mudah. “Di Pidie Jaya, kami menemukan banyak bangunan, salah satunya masjid yang roboh karena dilewati rekahan. Kami telah merekomendasikan untuk digeser. Namun, ketika saya datang lagi ke tempat yang sama, masjid tersebut mulai dibangun di tempat yang sama. Idealnya, memang ada perubahan tata ruang yang diinisiasi pemerintah daerah,” kata Sri.

Bahaya sesar
Kepala Bidang Informasi Gempa Bumi dan Peringatan Dini Tsunami Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Daryono mengatakan, sekalipun gempa berulang kali memicu bencana dan kerugian, tingkat kesadaran publik untuk memitigasinya masih rendah. “Upaya mitigasi bencana gempa bumi memang belum optimal. Harus diakui juga bahwa sosialisasi waspada sesar aktif belum banyak dilakukan,” katanya.

Penduduk di daerah rawan gempa, ujar Daryono, banyak yang belum mengetahui karakteristik sesar aktif dan bahayanya. Padahal, gempa akibat aktivitas sesar aktif umumnya memiliki karakteristik merusak karena pusat gempa dangkal.

Pusat gempa yang dangkal ini membuat percepatan getaran tanah permukaan sangat besar dan berpotensi memicu kerusakan masif. Dalam catatan BMKG, banyak sekali aktivitas gempa merusak akibat sesar aktif. Misalnya, gempa Sumatera 1892 (M 7,7), gempa Kerinci 1909 (M 7,6), gempa Palu 1909 (M 7,0), gempa Liwa 1933 (M 7,5), gempa Karo 1936 (M 7,2), gempa Gadang 1942 (M 7,3), gempa Singkarak 1943 (M 7,3), gempa Samalanga 1967 (M 6,8), gempa Seririt 1976 (M 6,2), gempa Kurima 1976 (M 6,8), gempa Liwa 1994 (M 6,5), gempa Alor 2004 (M 6,0), gempa Yogyakarta 2006 (M 6,3), gempa Pidie Jaya 2016 (M 6,5), dan gempa Poso 2017 (M 6,6).

Selain hiposenter gempa yang dangkal, keberadaan lapisan tanah lunak dekat sesar aktif dapat memperparah efek gempa. Banyak warga kita belum mengetahui bahwa tanah lunak dapat memicu terjadi amplifikasi gelombang gempa bumi. Fenomena ini terjadi saat gempa Yogyakarta 2006, yang sekalipun kekuatannya relatif kecil, kerusakan bangunan dan korban jiwa mencapai ribuan. (AIK)
——————-
Versi cetak artikel ini terbit di harian Kompas edisi 7 Juni 2017, di halaman 14 dengan judul “Rehabilitasi agar Perhatikan Jalur Sesar”.

Yuk kasih komentar pakai facebook mu yang keren

Informasi terkait

Membaca “Buku Harian” Bumi. Rahasia Lingkaran Tahun dan Masa Depan Dendrokronologi
Zirah Berduri di Dasar Ciliwung. Mengapa Jakarta “Memerangi” Ikan Sapu-Sapu?
Bilangan Imajiner, “Angka Khayalan” yang Menggerakkan Dunia Modern
Sains atau Siasat: Menakar Marwah Jajak Pendapat di Indonesia
Harta Karun Tersembunyi di Balik Hangatnya Perairan Tawar Nusantara
Menjadi Ilmuwan Politik di Era Digital. Lebih dari Sekadar Hafalan Tata Negara
Saksi Bisu di Balik Lensa. Otopsi Bioteknologi Purba dalam Perburuan Minyak Bumi
Drama Jutaan Tahun di Balik Tangki BBM Anda: Saat Lempeng Bumi Menulis Peta Kekayaan Indonesia
Berita ini 151 kali dibaca

Informasi terkait

Senin, 20 April 2026 - 07:37 WIB

Membaca “Buku Harian” Bumi. Rahasia Lingkaran Tahun dan Masa Depan Dendrokronologi

Minggu, 19 April 2026 - 08:06 WIB

Zirah Berduri di Dasar Ciliwung. Mengapa Jakarta “Memerangi” Ikan Sapu-Sapu?

Sabtu, 18 April 2026 - 20:45 WIB

Bilangan Imajiner, “Angka Khayalan” yang Menggerakkan Dunia Modern

Sabtu, 11 April 2026 - 18:47 WIB

Sains atau Siasat: Menakar Marwah Jajak Pendapat di Indonesia

Sabtu, 11 April 2026 - 17:49 WIB

Harta Karun Tersembunyi di Balik Hangatnya Perairan Tawar Nusantara

Berita Terbaru