Home / Berita / Gempa di Darat Picu Kerusakan Masif

Gempa di Darat Picu Kerusakan Masif

Gempa bumi darat berkekuatan M 6,5 di Leyte, Filipina, Kamis (6/7) siang, menjadi peringatan bagi Indonesia. Gempa dengan sumber yang dangkal itu menyebabkan kerusakan banyak bangunan dan memicu longsor di Leyte. Akibatnya, paling tidak 2 orang tewas, 4 orang hilang, dan lebih dari 100 orang terluka.

Masifnya kerusakan akibat gempa tersebut menjadi pelajaran penting bagi Indonesia yang juga memiliki banyak sumber patahan di darat. “Secara tektonik dan kerawanan gempa, wilayah Indonesia memiliki banyak kesamaan dengan Filipina,” kata Kepala Bidang Informasi Gempa Bumi dan Peringatan Dini Tsunami Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Daryono, di Jakarta, Kamis.

Lembaga Survei Geologi Amerika Serikat (USGS) menyebutkan, kedalaman sumber gempa di Leyte 6,5 kilometer (km). Adapun Philippine Institute of Volcanology and Seismology menyebutkan, kedalaman sumber gempa hanya 2 km. Sumber gempa berada sekitar 15,5 km timur laut kota Ormoc, Leyte.

Gempa ini diduga berasal dari segmen Sesar Leyte Tengah (Central Leyte Fault) yang merupakan bagian dari sistem Zona Sesar Besar Filipina (The Philippine Fault Zone/PFZ). Sistem sesar PFZ ini memiliki jalur sangat panjang dan membentang sejauh 1.200 km membelah Kepulauan Filipina. Segmen Sesar Leyte Tengah yang aktif saat ini tercatat memiliki laju pergeseran 25 milimeter per tahun.

Dua orang dilaporkan tewas dan empat orang hilang di kota Kananga, Leyte. Menurut Wali Kota Kananga, Rowena Codilla, sebagaimana dilaporkan The Associated Press, bangunan pertokoan dan bisnis di pusat kota roboh, menewaskan satu orang, dan melukai lebih dari 20 orang.

Gempa ini juga memicu longsor yang menimbun permukiman dan menewaskan satu orang di kota Ormoc, sekitar 30 km dari Kananga. Lebih dari 100 orang di kawasan ini terluka.

Juru Bicara Badan Nasional Pengurangan Risiko Bencana Filipina, Romina Marasigan, mengatakan, kawasan timur Filipina bagian tengah kini tanpa listrik karena pembangkit listrik panas bumi di kota Jaro rusak akibat gempa.

Sesar baru
Daryono mengatakan, Indonesia juga memiliki banyak jalur patahan aktif yang melalui sejumlah kota besar. Kajian terakhir dari Tim Pusat Studi Gempa Nasional (Pusgen) menemukan jalur sesar aktif baru. Jika pada peta gempa nasional tahun 2010 jumlah sesar di Pulau Jawa hanya 4, kini menjadi 34. Jalur sesar ini melalui Kota Surabaya, Semarang, hingga Cirebon.

Secara nasional, jumlah sesar baru yang ditemukan kini 295 zona, sementara pada peta gempa bumi nasional 2010 hanya 81 zona. Salah satu kota yang juga dilalui sesar aktif adalah Kota Palu, Sulawesi Tengah.

Menurut Daryono, sebagai langkah kesiapsiagaan, keberadaan sesar aktif dan sebarannya di wilayah Indonesia yang kini sudah dipetakan hendaknya menjadi acuan bagi instansi terkait dan masyarakat.

Sejarah gempa bumi merusak yang pernah melanda suatu daerah juga penting untuk diketahui. Catatan ini menjadi bukti otentik potensi gempa yang kemungkinan terjadi kembali di tempat yang sama.

Untuk instansi terkait, terutama pemerintah daerah, katanya, perlu menjadikan peta sumber gempa sebagai acuan perencanaan tata ruang wilayah. Untuk daerah yang baru saja dilanda gempa bumi, seperti Poso (Sulteng) dan Pidie Jaya (Aceh), area yang dilalui retakan permukaan yang mengindikasikan jalur sesar sebaiknya dikosongkan dari hunian minimal 25 meter. (AP/AIK)
—————–
Versi cetak artikel ini terbit di harian Kompas edisi 8 Juli 2017, di halaman 14 dengan judul “Gempa di Darat Picu Kerusakan Masif”.

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*

code

x

Check Also

Indonesia Dinilai Tidak Memerlukan Pertanian Monokultur

Pertanian monokultur skala besar dinilai ketinggalan zaman dan tidak berkelanjutan. Sistem pangan berbasis usaha tani ...

%d blogger menyukai ini: