Putuskan Pilihan Kuliah dengan Matang

- Editor

Selasa, 11 Juni 2019

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Seleksi Bersama Masuk Perguruan Tinggi Negeri resmi dimulai hari ini, Senin (10/6/2019), tepat pukul 13.00. Lama pendaftaran dua pekan, yang berakhir pada 24 Juni. Calon mahasiswa memiliki waktu untuk berpikir masak-masak mengenai program studi yang dipilih.

”Kelebihan SBMPTN (Seleksi Bersama Masuk Perguruan Tinggi Negeri) sejak tahun ini adalah dilakukan setelah pelaksanaan UTBK (Ujian Tulis Berbasis Komputer). Ada waktu dua pekan bagi peserta untuk mengambil keputusan. Pastikan prodi (program studi) yang dipilih sesuai minat dan bakat, bukan karena diminta orangtua atau ikut teman,” kata Ketua Lembaga Tes Masuk Perguruan Tinggi Ravik Karsidi ketika dihubungi di Solo, Jawa Tengah, Minggu (9/6).

KOMPAS/YUNIADHI AGUNG (MYE)–Calon mahasiswa Universitas Sam Ratulangi, Manado, Sulawesi Utara, yang diterima melalui Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SNMPTN) jalur undangan, antre untuk melakukan daftar ulang di kampus tersebut, 9 Juni 2015.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Pada tahun-tahun lalu, SBMPTN dilakukan serentak pada satu hari yang sama. Peserta mengerjakan ujian tertulis yang hasilnya dikirim kepada panitia pusat. Dalam pengerjaan ujian, peserta sudah harus menentukan dua program studi.

Sejak 2019, sistem UTBK diberlakukan. Selama April dan Mei, lulusan SMA sederajat maupun individu dengan batas umur 21 tahun mengikuti ujian tertulis di 73 perguruan tinggi negeri (PTN). Ujian terdiri dari dua paket yang dapat dipilih, sosio-humaniora dan sains-teknologi.

Setiap peserta boleh mengikuti UTBK dua kali. Nilai UTBK diumumkan sepuluh hari sesudah tes. Peserta yang tidak puas dengan nilai itu boleh mengambil UTBK lagi. Mereka diperkenankan mengambil paket soal yang sama ataupun menggantinya, misalnya mengambil paket sosio-humaniora pada tes pertama dan sains-teknologi di tes kedua.

Ravik menjelaskan, sistem UTBK kali ini diadakan guna mencegah calon mahasiswa salah mengambil jurusan kuliah. Masalah berikutnya, mahasiswa salah jurusan berisiko tidak menyelesaikan studi atau lulus dengan nilai pas-pasan. UTBK bertujuan peserta bisa mengukur kemampuan sebelum menentukan prodi dan PTN.

Otomatis
Sistem pendaftaran SBMPTN bersifat otomatis. Peserta memasukkan nama dan nomor kode identitas ketika mengikuti UTBK. Sistem akan langsung mengenali data dan nilai perolehan UTBK.

”Bagi peserta yang mendaftar di dua prodi rumpun yang sama, misalnya sains dan teknologi, komputer otomatis memilih hasil UTBK yang tertinggi untuk dimasukkan ke dalam kolom seleksi prodi tersebut,” tutur Ravik.

Demikian pula dengan peserta yang mengambil UTBK sains-teknologi sekaligus sosio-humaniora. Mereka diperbolehkan memilih prodi dari rumpun eksakta dan sosial. Sistem memasukkan nilai hasil UTBK ke kolom tiap prodi.

Tak ada nilai minimal
Dalam SBMPTN tahun ini, perguruan tinggi tak menetapkan nilai minimal untuk tiap prodi. ”Sama sekali tidak ada. Untuk SBMPTN tahun 2020 pun belum diketahui apakah akan diberlakukan nilai minimal atau tidak,” kata Kepala Humas Institut Pertanian Bogor Yatri Indah Kusumastuti.

Ia menerangkan, peserta dipersilakan mendaftar ke prodi yang diinginkan. Sistem akan mengurutkan nama-nama peserta dari nilai yang tertinggi ke terendah. IPB juga memperhatikan prestasi akademis dan nonakademis peserta yang dibuktikan melalui unggahan piagam penghargaan ketika mendaftar UTBK pada awal April.

”Apabila dua peserta memiliki nilai sama, sistem memilih peserta dengan bukti unggahan piagam prestasi karena mereka gigih mengembangkan potensi selain akademis,” ujar Yatri.

Kepala Kantor Humas dan Komunikasi Universitas Indonesia Rifelly Dewi Astuti mengatakan, sistem mengambil nama peserta sesuai urutan nilai UTBK. Peserta dipilih berdasarkan kuota mahasiswa baru di setiap prodi. Kuota SBMPTN adalah 40 persen dari total mahasiswa baru.–LARASWATI ARIADNE ANWAR

Editor A TOMY TRINUGROHO

Sumber: Kompas, 10 Juni 2019

Yuk kasih komentar pakai facebook mu yang keren

Informasi terkait

Drama Jutaan Tahun di Balik Tangki BBM Anda: Saat Lempeng Bumi Menulis Peta Kekayaan Indonesia
Memilih Masa Depan: Informatika, Elektro, atau Mesin?
Menulis Ulang Kode Kehidupan: Mengapa Biologi Adalah “The New Coding” di Masa Depan
Takhta Debu dan Ruh: Menelusuri Jejak Adam di Antara Belantara Evolusi
Klip Kertas dan Dunia yang Terjepit Rapi
Dari Molekul hingga Krisis Ekologis
Galodo dan Ingatan Air
Ketika Kereta Menghasilkan Listriknya Sendiri
Berita ini 7 kali dibaca

Informasi terkait

Senin, 9 Maret 2026 - 10:34 WIB

Drama Jutaan Tahun di Balik Tangki BBM Anda: Saat Lempeng Bumi Menulis Peta Kekayaan Indonesia

Senin, 9 Maret 2026 - 09:50 WIB

Memilih Masa Depan: Informatika, Elektro, atau Mesin?

Kamis, 5 Maret 2026 - 15:19 WIB

Menulis Ulang Kode Kehidupan: Mengapa Biologi Adalah “The New Coding” di Masa Depan

Jumat, 20 Februari 2026 - 17:12 WIB

Takhta Debu dan Ruh: Menelusuri Jejak Adam di Antara Belantara Evolusi

Jumat, 23 Januari 2026 - 20:18 WIB

Klip Kertas dan Dunia yang Terjepit Rapi

Berita Terbaru

Artikel

Memilih Masa Depan: Informatika, Elektro, atau Mesin?

Senin, 9 Mar 2026 - 09:50 WIB