Program Studi Favorit Belum Banyak Berubah

- Editor

Rabu, 13 Juni 2018

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Program studi di perguruan tinggi yang diminati para talenta muda belum bergeser. Padahal, sejumlah pekerjaan baru bermunculan seiring kemajuan teknologi dan pandemi Covid-19.

Sebanyak 184.942 mahasiswa baru diterima lewat jalur masuk Seleksi Bersama Masuk Perguruan Tinggi Negeri atau SBMPTN tahun 2021, Senin (14/6/2021). Dari pemeringkatan 10 nilai tertinggi hasil Ujian Tulis Berbasis Komputer, talenta muda yang masuk ke perguruan tinggi dengan potensi akademik terbaik terkonsentrasi di program studi yang selama ini diminati lulusan SMA/SMK.

Berdasarkan data peserta yang diterima dengan nilai tertinggi di bidang sosial humaniora (soshum) pada jalur SBMPTN 2021, peserta masih tersebar di program studi (prodi) favorit seperti hukum, manajemen, psikologi, komunikasi, akuntansi, dan hubungan internasional. Adapun prodi bidang sains teknologi (saintek) yang paling diminati ialah teknik kimia, pendidikan dokter, teknik elektro, dan aktuaria.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Dari jumlah 777.858 peserta UTBK yang mengikuti tes, pilihan prodi calon mahasiswa lebih dominan pada soshum (murni lewat kelompok UTBK soshum maupun campuran), dibandingkan calon mahasiswa yang memilih saintek. Padahal, ada lebih banyak siswa SMA bidang IPA dibandingkan IPS atau Bahasa.

Statistik Pendidikan Tinggi 2020 juga memperlihatkan kecenderungan memilih pendidikan di bidang soshum. Pilihan mahasiswa baru disebutkan terkonsentrasi di prodi pendidikan, ekonomi, sosial, agama, dan humaniora. Setelah itu, barulah saintek terbanyak di teknik, kesehatan, dan pertanian.

Ina Liem, Pakar Jurusan dan Peta Karir dari Jurusanku.Com, menuturkan, pilihan prodi anak-anak Indonesia masih konvensional, mencari rasa aman. Dicontohkannya, jumlah mahasiswa terbanyak di bidang pendidikan karena dinilai peluang untuk menjadi Pegawai Negeri Sipil (PNS) besar.

“ Karena tahun ini tidak ada perekrutan guru PNS, yang ada model Pegawa Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (PPPK), ada yang mulai komentar menyesal memilih prodi pendidikan,” ungkapnya.

Dari survei pada para siswa sekolah, mereka umumnya merasa penting mendapat pekerjaan yang aman. Padahal, dengan perkembangan ekonomi berbasis inovasi, perubahan terus terjadi. “Akibat pandemi Covid-19, pekerjaan misalnya pilot yang bergaji tinggi beralih jadi petani organik. Kesiapan berubah harus ditanamkan agar anak bisa merencanakan masa depan,” kata Ina.

Permintaan bidang Sains, Teknologi, Engineering, dan Matematika (STEM) sebenarnya tinggi, tetapi persediaannya rendah karena banyak siswa nyaman dengan bidang soshum atau STEM umum. Padahal, permintaan data sains hingga analis data tinggi. Demikian pula di bidang kesehatan, tak hanya dokter yang dibutuhkan.

“Kebutuhan industri di sektor STEM tinggi, tapi belum turun ke level akademis. Sebab, orangtua belum tahu perubahan itu, kesenjangan guru dengan perkembangan dunia kerja tinggi, dan anak-anak tak punya informasi serta pengaruh lingkungan keluarga kuat. Akhirnya tak terjadi perubahan kolektif signifikan dalam pemilihan prodi di PT,” papar Rizky.

Kekurangan tenaga kerja seperti kebutuhan talenta digital bidang kecerdasan buatan, mahadata, dan keamanan siber mencapai 600.000 orang per tahun. Kebutuhan tenaga kerja bidang logistik hingga aktuaria, juga tinggi karena industrinya tumbuh pesat.

Menurut pendiri dan CEO Rencamu.id Rizky Muhammad, dari 2,5 juta siswa SMA/SMK sederajat dan mahasiswa yang mengakses platform perencanaan kuliah dan karir, pemilihan jurusan kuliah anak-anak Indonesia statis, terutama berdasarkan apa yang diketahui guru dan orangtua. Akibatnya, aspirasi karir anak muda lewat pilihan prodi di PT tak banyak berubah, seperti tergambar di seleksi masuk PTN.

Pemilihan minat mahasiswa di prodi, nyatanya dikeluhkan dunia kerja yang kesulitan mencari tenaga kerja yang dibutuhkan. Dari laporan Asian Development Bank (2015), 52 persen populasi pekerja Indonesia memiliki keterampilan di bawah standar untuk posisinya.

Perkembangan teknologi
Wakil Rektor Bidang Pengembangan Akademik Bina Nusantara University Engkos Achmad Kuncoro menuturkan, peta ketenagakerjaan berubah. Sejumlah pekerjaan baru berbasis teknologi muncul seperti manajer media sosial dan analis mahadata. Hal itu dipicu perkembangan teknologi dan pandemi Covid-19.

Dampaknya, menurut dia, terjadi perubahan pilihan prodi. Binus mencatat prodi favorit sekarang yakni Manajemen dan Ilmu Komputer.

Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan Universitas Brawijaya (UB), Malang, Aulanni’iam mengatakan, peminat terbanyak prodi saintek yakni kedokteran, sedangkan di soshum ilmu hukum. “Kampus UB jadi kampus dengan peminat tertinggi pada SBMPTN 2021 yang dipilih calon mahasiswa dari berbagai wilayah,” tuturnya.

Sementara Rektor Universitas Padjadjaran (Unpad) Bandung Rina Indiastuti di Bandung, menuturkan bidang kesehatan di Unpad masih menjadi prodi favorit calon mahasiswa dan mengalami kenaikan signifikan. Dibandingkan tahun sebelumnya, kenaikan pendaftar Ilmu Keperawatan tahun 2021 mencapai 51 persen, lalu disusul psikologi 21,7 persen.

Sementara tren program studi favorit di Universitas Swadaya Gunung Jati (UGJ) Cirebon, Jawa Barat, bergeser lima tahun terakhir. Mayoritas mahasiswa kini memilih bidang ekonomi dan teknik, bukan ilmu pendidikan lagi. UGJ beradaptasi dengan membenahi kurikulum.

Wakil Dekan I Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan UGJ Mira Nuryanti mengakui, minat mahasiswa baru terhadap FKIP menurun sejak 2016. ”Dulu, setiap prodi bisa menerima hingga 8 kelas. Setiap kelas berisi 30an mahasiswa. Sekarang, satu prodi hanya dua atau tiga kelas,” ungkapnya.

Ketua Lembaga Tes Masuk Perguruan Tinggi (LTMPT) Mohammad Nasih dalam jumpa pers Pengumuman Hasil SBMPTN 2021 secara daring, Senin (14/6/2021), di Jakarta, mengatakan panitia LTMPT akan mengolah data lebih rinci demi melihat tren pemilihan prodi calon mahasiswa. Sebab, pemilihan prodi biasanya sesuai minat tiap orang yang sesuai rencana masa depan.

Nasih mengatakan di bidang Saintek, prodi kedokteran masih paling diminati. Namun calon mahasiswa mulai melirik prodi yang dibutuhkan industri, misalnya, aktuaria, yang peluang karirnya terbuka.

Direktur Pendidikan Tinggi dan Iptek Bappenas, Tatang Muttaqin, mengatakan dari sisi kebijakan dan arah pengembangan, prodi yang disediakan PT didekatkan dengan kebutuhan warga agar lulusan segera terserap di dunia kerja. Kebutuhan tenaga kerja bidang STEM yang meningkat diantisipasi sehingga prodi naik tetapi jumlah mahasiswa belum memadai.

Di Indonesia, ada lebih banyak kebutuhan tenaga kerja untuk level teknis di tingkat SMK dan diploma melalui pendidikan vokasi. Namun, lebih banyak siswa memilih pendidikan akademis level sarjana. Akibatnya, banyak lulusan bekerja di bawah levelnya karena tak sesuai kebutuhan dunia kerja.

Merujuk pada Arah kebijakan, Strategi, dan Indikator Pembangunan Bidang Pendidikan Tinggi Rencana Pembangunan Jangka Menengah (RPJM) 2020-2024 Bappenas, sejak 2010 tren prodi saintek meningkat. Pada 2021, komposisi prodi saintek 43 persen dan soshum 57 persen dari total 29.618 prodi.

Dari kebutuhan tenga kerja Indonesia, lebih banyak untuk level teknis di SMK dan diploma lewat pendidikan vokasi. Namun, minat anak-anak Indonesia memilih pendidikan akademis level sarjana. Akibatnya, banyak lulusan bekerja di bawah levelnya karena tidak sesuai kebutuhan dunia kerja di Indonesia.

Tatang mengatakan dari data Survei Angkatan Kerja Nasional terlihat dari jenjang pendidikan tinggi yang seharusnya masuk ke pekerjaan white colar jadi turun mengambil kerja di level blue colar. Sebab, belum ada peta kebekerjaan ke depan, yang bisa dipakai sebagai panduan bagi masyarakat untuk merencanakan peluang karir yang terbuka. (SEKAR GANDHAWANGI/DAHLIA IRAWATI/HARIS FIRDAUS/ABDULLAHI FIKRI ASHRI/MACHRADIN WAHYUDI RITONGA)

Oleh ESTER LINCE NAPITUPULU

Editor: EVY RACHMAWATI

Sumber: Kompas, 15 Juni 2021


Mengejar Mimpi ke Perguruan Tinggi

Memilih jurusan dan menjalani ujian agar diterima di kampus idaman menghadirkan lika-liku tersendiri. Ada yang memilih jurusan sesuai keinginan hati, sekadar memenuhi pilihan orangtua, ada juga yang salah pilih.

Girang bukan main rasa hati Edis Nabila Ramadhani (17), pelajar SMAN 2 Samarinda, saat mengetahui dirinya lolos Seleksi Bersama Masuk Perguruan Tinggi Negeri, Senin (14/6/2021). Edis diterima di Program Studi Teknik Informatika Institut Teknologi Kalimantan di Balikpapan, kampus idamannya sejak lama.

Kampus tersebut diproyeksikan sebagai ITS-nya Kalimantan. Pengajarnya rata-rata dosen Institut Teknologi Sepuluh November, Surabaya.

Bagi Edis dan keluarga, perguruan tinggi ini sangat menolong siswa sepertinya. Mereka bisa mendapatkan pendidikan yang kredibel tanpa harus merantau ke Jawa dan mengeluarkan biaya besar yang tentu saja menyedot penghasilan orangtuanya.

Tidak mudah untuk bisa masuk ke perguruan tinggi negeri itu. Agar bisa diterima, Edis harus rajin belajar hingga larut malam. Proses itu ia jalani hingga menjelang hari H. “Saya ikut ujian tertulis berbasis komputer (UTBK) gelombang kedua di Samarinda bulan April. Sehari sebelum tes, saya belajar dari buku-buku sampai jam 12 malam biar lebih mantap menghadapi ujian,” kata Edis.

Hal serupa juga dirasakan Yosephina Agitya Intan Dewi Utari (17), pelajar asal Banjarmasin, Kalimantan Selatan. Setelah lulus dari SMA Negeri 7 Banjarmasin tahun ini, Agitya memutuskan melanjutkan kuliah ke Universitas Brawijaya (UB), Malang, Jawa Timur mengambil jurusan Sastra China.

Intan sempat mempertimbangkan beberapa program studi pilihan, antara lain, hukum, hubungan internasional, psikologi, dan sastra. Setelah setahun mempertimbangkan, akhirnya ia memantapkan hati memilih jurusan Sastra China.

”Saya memilih Sastra China karena di era global sekarang kita dituntut untuk bisa berbahasa asing. Secara khusus, saya mau memperdalam bahasa Mandarin. Dengan belajar kesusastraan, saya juga bisa mempelajari politik, sosial budaya, bisnis, dan pemerintahan suatu negara,” tuturnya.

Sementara itu, bagi sebagian generasi milenial, kuliah bidang pertanian dianggap kurang keren dan ketinggalan zaman. Namun, Shakilla Ananda Dwi Rahma (17) mematahkan stigma itu. Alumni SMA Negeri 6 Palembang, Sumatera Selatan, itu diterima di Jurusan Teknologi Hasil Pertanian Universitas Sriwijaya.

Ananda beranggapan kuliah jurusan pertanian punya prospek cerah. “Indonesia negara agraris. Jadi, lapangan pekerjaan untuk jurusan ini pasti selalu ada. Peluang untuk mengembangkan hasil-hasil pertanian juga pasti besar,” ujarnya.

Pilihan orangtua
Memilih kuliah yang pas dengan hasrat hati jadi titik awal untuk membuka pintu kesuksesan dalam dunia kerja. Tak harus ikut-ikutan karena takut dicap memilih program studi yang tidak popular maupun dengan alasan demi membahagiakan orangtua. Namun, realitanya, menentukan pilihan kuliah yang sesuai potensi, bakat, dan minat tak selalu mulus, seringkali menimbukan rasa galau di hati dan pikiran serta mengubah strategi.

Naja (21), mahasiswa semester VI Ilmu Ekonomi di Universitas Diponegoro, mengatakan, ia kuliah di jurusan yang ditentukan orangtuanya. Ia mengaku tidak senang kuliah ekonomi karena minatnya ada di bidang sosial.

Naja berkali-kali berpikir untuk berhenti atau pindah jurusan. Saat kuliah semester II, ia mengikuti ujian SBMPTN lagi, namun gagal. Di sisi lain, orangtuanya berusaha meyakinkan Naja untuk melanjutkan studi.

“Sebenarnya aku bisa mengikuti materi kuliah. Tapi, ada titik ketika aku ingin menyerah, apalagi saat indkes prestasi-ku tidak sesuai keinginan. Itu bikin aku capek banget,” kata Naja.

Salah memilih jurusan juga dialami Zahra (24), alumni jurusan komunikasi Universitas Negeri Sebelas Maret yang lulus pada Maret 2021. Padahal, ia punya minat di bidang seni, seperti arsitektur dan desain interior.

“Sebelumnya aku kuliah D3 di Universitas Indonesia jurusan komunikasi penyiaran. Aku pilih jurusan ini karena sepertinya seru dan merasa bukan jurusan yang berat. Itu tanpa pertimbangan panjang alias asal pilih,” ucap Zahra.

Ia menyesal tidak mempertimbangkan masak-masak pilihannya. Setelah lulus, ia baru merasa salah jurusan. Ia sadar kemampuannya bukan di bidang komunikasi. Dulu ia memilih komunikasi periklanan karena ada materi tentang desain, hal yang dia minati.

“Waktu itu aku kurang edukasi dan tidak memperdalam lagi (apa yang ditawarkan) jurusan-jurusan kuliah,” kata Zahra.

Pendiri & CEO Rencanamu.id, Rizky Muhammad, yang sudah mendampingi sekitar 2,5 juta anak-anak SMA sederajat dan mahasiswa Indonesia untuk memahami aspirasi karir lewat pilihan prodi kuliah dan transisi menuju dunia kerja, mengatakan, sebagian besar pilihan anak-anak muda masih kovensional. Padahal, banyak peluang kerja baru yang potensial yang belum terpikirkan akibat ketidaktahuan mereka.

Faktor kunci yang menginspirasi anak-anak muda ini, utamanya keluarga dan sekolah, juga masih belum memahami perkembangan dan perubahan yang terjadi. Selain itu, ada tabrakan pola pikir antara anak dan orangtua.

Bekerja tidak seperti di masa lalu, sekarang bisa bekerja di mana saja, bahkan lintas negara. Profesi software engineer, misalnya, bisa tetap tinggal di Indonesia, namun bekerja untuk perusahaan luar negeri dengan bayaran dollar.

“Masa depan dunia kerja, banyak muncul pekerjaan baru. Sepertinya anak-anak lebih tertarik jadi profesional yang independen, freelance. Bisa di bidang fesyen, desain, kuliner, dan banyak lagi. Keluarga dan sekolah harus membantu anak-anak memahami aspirasi karir yang sesuai diri mereka,” ujar Rizky.

Direktur Jenderal Pendidikan Tinggi, Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi Nizam, mengatakan, di Indonesia pilihan pekerjaan terbuka. Orang yang bekerja tidak sesuai program studinya bukan berarti salah pilihan. Sebab, ada kompetensi yang sesuai dengan bidang pekerjaan. Sarjana ilmu fisika, misalnya, bisa saja bekerja di perbankan, karena ada kemampuan analitisnya sehingga bisa menyesuaikan diri.(JUM/CIP/DIA/SKA/TAM)

Oleh ESTER LINCE NAPITUPULU

Editor: ADHITYA RAMADHAN

Sumber: Kompas, 15 Juni 2021

Yuk kasih komentar pakai facebook mu yang keren

Informasi terkait

Tak Wajib Publikasi di Jurnal Scopus, Berapa Jurnal Ilmiah yang Harus Dicapai Dosen untuk Angka Kredit?
Empat Bidang Ilmu FEB UGM Masuk Peringkat 178-250 Dunia
Siap Diuji Coba, Begini Cara Kerja Internet Starlink di IKN
Riset Kulit Jeruk untuk Kanker & Tumor, Alumnus Sarjana Terapan Undip Dapat 3 Paten
Ramai soal Lulusan S2 Disebut Susah Dapat Kerja, Ini Kata Kemenaker
Lulus Predikat Cumlaude, Petrus Kasihiw Resmi Sandang Gelar Doktor Tercepat
Kemendikbudristek Kirim 17 Rektor PTN untuk Ikut Pelatihan di Korsel
Ini Beda Kereta Cepat Jakarta-Surabaya Versi Jepang dan Cina
Berita ini 8 kali dibaca

Informasi terkait

Rabu, 24 April 2024 - 16:17 WIB

Tak Wajib Publikasi di Jurnal Scopus, Berapa Jurnal Ilmiah yang Harus Dicapai Dosen untuk Angka Kredit?

Rabu, 24 April 2024 - 16:13 WIB

Empat Bidang Ilmu FEB UGM Masuk Peringkat 178-250 Dunia

Rabu, 24 April 2024 - 16:09 WIB

Siap Diuji Coba, Begini Cara Kerja Internet Starlink di IKN

Rabu, 24 April 2024 - 13:24 WIB

Riset Kulit Jeruk untuk Kanker & Tumor, Alumnus Sarjana Terapan Undip Dapat 3 Paten

Rabu, 24 April 2024 - 13:20 WIB

Ramai soal Lulusan S2 Disebut Susah Dapat Kerja, Ini Kata Kemenaker

Berita Terbaru

Tim Gamaforce Universitas Gadjah Mada menerbangkan karya mereka yang memenangi Kontes Robot Terbang Indonesia di Lapangan Pancasila UGM, Yogyakarta, Jumat (7/12/2018). Tim yang terdiri dari mahasiswa UGM dari berbagai jurusan itu dibentuk tahun 2013 dan menjadi wadah pengembangan kemampuan para anggotanya dalam pengembangan teknologi robot terbang.

KOMPAS/FERGANATA INDRA RIATMOKO (DRA)
07-12-2018

Berita

Empat Bidang Ilmu FEB UGM Masuk Peringkat 178-250 Dunia

Rabu, 24 Apr 2024 - 16:13 WIB