Home / Profil Ilmuwan / Prof Dr Sangkot Marzuki; Menghidupkan Lagi Tradisi Lab Pemenang Nobel

Prof Dr Sangkot Marzuki; Menghidupkan Lagi Tradisi Lab Pemenang Nobel

Diam-diam bekas gudang di kompleks RSCM (Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo) Jakarta itu kini telah berubah wajah. Sejak 1 April lalu napas kegiatan ilmiah kembali berembus di sana.

Tanpa hura-hura, tanpa upacara, dan tanpa publikasi, Lembaga Eijkman atau lengkapnya Lembaga Biologi Molekuler Eijkman (LBME) mulai beroperasi melakukan sedikitnya empat riset utama di bidang bioteknologi kedokteran. Di bekas gudang yang disulap menjadi laboratorium ini satu abad yang lalu, dr Christiaan Eijkman melakukan riset tentang penyakit beri-beri yang ternyata disebabkan oleh defisiensi vitamin B1. Berkat jasanya itu, Eijkman tahun 1929 memperoleh hadiah Nobel untuk bidang fisiologi/ kedokteran. Sejauh ini, itulah hadiah Nobel satu-satunya yang pernah diberikan untuk hasil penelitian yang dilakukan di bumi Indonesia.

”Perabot-perabot semasa Eijkman masih kami pertahankan, seperti lemari, meja dan kursi. Meja kerja Eijkman masih ada, tapi belum kami pindahkan kemari. Kalau Singapura punya IMCB (Institute of Molecular and Cell Biology) yang seperti Hotel Hilton atau Hotel Hyatt, maka Lembaga Eijkman akan kami jadikan seperti Hotel Raffles yang direnovasi tapi tetap mempertahankan keantikannya,” tutur Prof Dr Sangkot Marzuki, Direktur LBME.

Memasuki laboratoriurn LBME di sayap barat RSCM, langsung memang terasa sisa-sisa keanggunan bangunan kolonial Belanda. Marmer Carrara Italia di tangga dan mosaik kaca warna-warni dengan simbol ular Dewa Eskulapius menghadang di bordes tangga masuk di sebelah kanan dan kiri.

Di tengah ruang tunggu LBME tertata meja bundar dan empat kursi rotan Betawi. Di dekatnya ada dua bangku panjang gaya Betawi juga. Semuanya menurut Prof Sangkot dipesan khusus dari pedagang barang antik yang menjamin bahwa mebel-mebel itu dari masa Eijkman seabad yang lalu.

”Siang hari kami makan bersama di sini bersama seluruh staf sambil berdiskusi. Acara makan siang hanyalah sarana untuk berkumpul dan ngobrol bersama mengenai topik-topik tertentu. Dengan begitu para staf yang muda bisa terus belajar dan merasakan iklim ilmiah di sini,” kata Prof Sangkot pula.

Di papan tulis dekat meja makan masih tertera tulisan spidol tentang teknik baru restriksi dan sequensing kromosom. Ketika Kompas diajak makan siang bersama, topik diskusi adalah tentang mitokondria dan ATP yang dihasilkannya.

SANGKOT Marzuki adalah salah satu ilmuwan pertama yang mengumumkan hipotesis dan hasil eksperimen bahwa proses ketuaan disebabkan oleh kerusakan DNA mitokondria dalam jurnal Lancet tahun 1989. Dr Douglas C. Wallace dari Universitas Emory AS yang awal Agustus 1991 mengumumkan temuannya tentang kerusakan mitokondria di jaringan otot menyebabkgn penyakit Parkinson, sempat menyebut sedikit teori dan temuan Sangkot dalam kepustakaan makalahnya.

Bukti-bukti makin banyak bahwa hipotesis saya benar. Kini di lab Lembaga Eijkman, kami terus melakukan riset tentang ketuaan dan mitokondria. Sampelnya cukup rambut manuasia, dahulu darah bahkan dengan biopsi jaringan otot. Teknik ini, sudah memperoleh pengakuan internasional. Salah satu usul saya untuk memperlambat proses ketuaan adalah mengonsumsi derivat Vitamin K, menadione, dan vitamin C, yang secara biokimiawi bisa membypass kerja enzim respirasi dalam mitokondria, sehingga laju mutasi DNA mitokondria dapat dihambat,” tutur Sangkot, ayah dua putra dari perkawinannya dengan Wilani Yogasurya, seorang putri, Sunda. Tahun ini makalahnya tentang mutasi mitokondria dimuat dalam American Journal of Human Genetics.

Tak bisa dipungkiri, Sangkot Marzuki kini adalah salah satu ilmuwan paling terkemuka di Indonesia yang telah berbicara di tingkat internasional, yang kiranya teramat pantas untuk digelari Scientist of the Year. Melihat kiprah lab Eijkman yang baru berlangsung beberapa bulan tahun ini, tak kurang dari dua media luar negeri telah menulis tentang Sangkot dan LBME, yaitu Harian Business Times Singapura (23/9/93) dan majalah Asiaweek edisi 1 Desember lalu.

Sangkot lahir sebagai anak kedua dari pasangan Amir Hasan Batubara dan Butir Chairani Siregar di Medan, 2 Maret 1944. Kakaknya, anak pertama, meninggal beberapa saat setelah Iahir. ”Itu sebabnya saya diberi nama Sangkot yang dalam bahasa Batak Angkola, berarti lekat, tersangkut paut. Orangtua saya mengharapkan agar saya tak meninggal pada usia dini seperti kakak saya,” tuturnya.

Keluarga ini hijrah ke Jakarta antara tahun 1949 dan 1950, dan Sangkot bersekolah di Jakarta sejak tingkat Sekolah Dasar hingga Fakultas Kedokteran UI. ”Tadinya saya mau masuk ke kimia teknik ITB, tapi nggak diterima karena saya nggak kuat di ilmu ukur sudut,” kisahnya.

Masuk di FK UI tahun 1962, kebetulan ia seangkatan dengan beberapa orang yang mempunyai minat besar pada penelitian ilmu dasar kedokteran seperti Kepala Bagian Biologi Kedokteran FK UI Prof Dr Arjatmo Tjokronegoro dan ahli patologi anatomi FK UI dr Santoso Cornain DSc, Sangkot pun berminat besar menggeluti riset dasar, dan ia memperoleh peluang itu ketika tahun 1969, setahun setelah lulus dokter, ia dikirim ke Universitas Mahidol Bangkok bersama Arjatmo. Arjatmo berhasil merampungkan doktor di universitas itu, sementara Sangkot hanya sampai master. Tahun 1971 ia melanjutkan studi di Universitas Monash Australia, dan meraih doktornya empat tahun kemudian.

Sebagai staf Bagian Biokimia FK UI, Sangkot balik ke Jakarta, tapi hanya satu tahun ia kembali lagi ke Australia. ”Tahun 1976 adik saya Darwis Alamsyah sakit terminal, semua pembuluh darahnya menyempit sehingga ia diramalkan hanya dapat bertahan hidup dua-tiga tahun. Ayah saya meninggal tahun 1975, sehingga saya menjadi harapan keluarga, terutama untuk membiayai pengobatan adik saya yang butuh biaya besar. Walaupun gaji di Bagian Biokimia kecil, kalau adik saya tak sakit, saya tak akan ke Australia,” katanya.

SANG ayah Amir yang guru biologi di sebuah SMP di Jakarta tepat sekali memberi nama Sangkot. Ia tidak menjadi penyambung dalam keluarga, tapi juga penyambung tradisi ilmiah yang dikonstruksi Dr Eijkman pada Lembaga Eijkman yang lahir tahun 1888, lenyap pada tahun 50-an setelah diporakperandakan pendudukan Jepang. Lembaga itu dibangun kembali atas inisiatif Menristek BJ Habibie tahun 1992, dan Sangkot dipercayai menjadi direktur yang pertama.

Sangkot yang sudah hidup mapan sebagai peneliti disegani di Australia, toh tak bisa menolak panggilan lewat surat oleh Habibie. Terus terang ia setuju dengan visi Habibie tentang peran bioteknologi bagi pemacu perkembangan iptek dan perekonomian Indonesia. ”Pak Habibie mengerti bahwa untuk bisa menguasai bioteknologi, maka perlu ilmu dasar yang kuat, yaitu biologi molekuler. Bangsa Indonesia memiliki peluang cukup besar untuk menguasai bioteknologi, karena ia didukung ilmu biologi molekuler yang masih muda dan bergerak cepat. Biologi molekuler adalah ilmu yang amat besar, dan harus dikaji dalam tim. Indonesia belum terlambat berbicara di forum dunia,” ujar Sangkot.

Karena itu kini LBME telah memiliki staf 10 orang doktor dan 20 asisten peneliti S1 dan S2,yang jumlahnya akan terus ditambah. ”Saya ingin staf Eijkman bisa mencapai PhD dalam usia 28 tahun, jika Indonesia ingin memperoleh hadiah Nobel kedokteran. Saya sendiri sudah terlambat, paling-paling saya hanya akan berusaha mendapat DSc,” tambahnya.

Tentang Sangkot, tak kurang pengakuan dari Direktur IMCB Singapura Prof Dr YH Tan. ”Dia punya enterpreunership dan scientific leadership yang sangat pintar dan sangat baik. Saya berharap dia mau bergabung dengan kami,” kata Tan kepada Kompas dalam sebuah pembicaraan di Singapura tahun lalu. IMCB saat ini tak diragukan lagi sebagai lembaga biologi molekuler terbaik di Asia, berdiri Oktober 1987 mempekerjakan 160 doktor dari seluruh negeri, 90 orang dari AS, Kanada, dan Eropa. Tak kurang 200.000 dollar AS –sekitar Rp 400 juta setahun– ditawarkan oleh IMCB kepada Sangkot untuk mau bergabung dengan lembaga itu.

Ketua Biro Ilmu Pengetahuan dan Teknologi Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) Dr Triono Sundoro yang sibuk memperbaiki atmosfer riset di Indonesia lewat Program Riset Unggulan Terpadu berkomentar, ”Ia tiga tingkat di atas saya, di atas ahli biologi molekuler Indonesia yang paling ahli sekalipun. Ukurannya publikasi di jurnal internasional dan pengakuan ilmuwan dari disiplin yang sama.” Triono sendiri menyelesaikan PhD dalam biologi molekuler khususnya dalam reproduksi dari Universitas Yale, AS.

Guru Sangkot di FKUI yang baru saja profesor biokimia Desember ini, Prof dr Oen Liang Hie, mengacungkan jempol terhadap Sangkot dan Lembaga Eijkman. Dalam pidato pengukuhannya 18 Desember lalu, Prof Oen menyayangkan betapa riset dan staf biologi molekuler di fakultas kedokteran di Indonesia telantar karena tiadanya perhatian pemerintah memberi anggaran khusus. ”Tapi, saya puji pemerintah untuk Lembaga Eijkman. Saya percaya, karena Sangkot yang memimpin,” katanya kepada Kompas dengan mata berbinar-binar.

Sangkot agaknya menghayati keilmuawanannya sebagai periset yang bergumul dengan material genetika manusia. Ia seorang yang sangat hangat. Pembicaraannya yang sangat ilmiah sekalipun selalu diucapkan tanpa pernah melepaskan pandangan matanya yang berbinar cerdas kepada teman bicaranya. Bahasa jurnal yang sering kering dia pilih dan jalin dengan bahasa tubuh dan pembicaraan berisi yang ramah.

Di dinding ruang kerja Sangkot, terpampang foto Albert Einstein dengan sebaris kalimat di bawahnya dari empu relativitas itu, ”Great spirits have always encountered violent Opposition from mediocre minds.” Memang tak cukup peneliti setengah-setengah untuk mengembangkan riset dasar kedokteran untuk menyongsong masyarakat Indonesia baru.

Sumber: Kompas, Selasa, 28 Desember 1993

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*

code

x

Check Also

Prof Soemantri, Ahli Darah Penjunjung Nilai Kemanusiaan Itu, Berpulang

Salah satu inisiasi Soemantri adalah memberi pelayanan transfusi darah bagi anak penderita talasemia dan hemofilia ...

%d blogger menyukai ini: