Home / Berita / Primata Dapat Hidup Damai di Kebun Kelapa Sawit

Primata Dapat Hidup Damai di Kebun Kelapa Sawit

Salah satu primata yaitu beruk dapat hidup damai di kebun kelapa sawit dengan mengurangi populasi tikus yang menjadi hama kelapa sawit.

Pengusaha kelapa sawit di Indonesia masih menganggap satwa liar primata seperti orangutan, monyet, atau beruk sebagai hama perkebunannya. Hasil penelitian di Malaysia menunjukkan, salah satu primata, yaitu beruk, dapat hidup damai di kebun kelapa sawit dengan mengurangi populasi tikus yang menjadi hama kelapa sawit.

KOMPAS/SYAHNAN RANGKUTI–Pekerja kebun kelapa sawit merapikan janjang kosong yang diletakkan di sela-sela tanaman kelapa sawit pada Rabu (2/10/2019). Primata seperti orangutan, beruk, dan monyet masih dianggap sebagai hama oleh pengusaha kelapa sawit, padahal pandangan itu keliru.

Penelitian itu berjudul ”Beruk Dapat Berkontribusi pada Praktik yang Lebih Hijau di Perkebunan Kelapa Sawit Ketika Digunakan sebagai Pengendalian Hama Biologis”. Laporan penelitian dimuat dalam jurnal Current Biology edisi 21 Oktober 2019 yang juga dipublikasikan Science Daily. Penelitian dilakukan tim ilmuwan Universitas Leipzig, Jerman, dan Universiti Sains Malaysia.

Dalam laporan itu dipaparkan, tikus (Rattus spp) menyebabkan kerugian hingga 10 persen dari hasil produksi kelapa sawit yang di Malaysia setara dengan tanaman yang ditanam hingga 580.000 hektar. Kerugiannya sekitar 930 juta dollar AS atau setara dengan Rp 13,1 triliun per tahun.

Namun, penggunaan rodentisida dalam pengendalian hama tikus tidak hanya mahal dan sebagian besar tidak efisien, tetapi juga terbukti berbahaya bagi satwa liar dan lingkungan yang bukan target. Fakta ini menggarisbawahi pentingnya pengendalian hama yang efisien dan ramah lingkungan.

Beruk (Macaca nemestrina) secara langsung dipengaruhi oleh penurunan dramatis habitat hutan di Malaysia karena pembukaan kebun kelapa sawit. Di hutan yang terfragmentasi, mereka semakin mengalihkan kegiatan mencari makan mereka ke perkebunan kelapa sawit, di mana mereka secara luas dianggap sebagai hama tanaman kelapa sawit karena memakan buah kelapa sawit.

KOMPAS/LASTI KURNIA–Seekor beruk (Macaca nemestrina) yang pulang bersama tuannya seusai memetik kelapa melintas di kawasan Painan, Sumatera Barat, Sabtu (8/6/2013). Di Malaysia, beruk dianggap hama di kebun kelapa sawit. Pandangan itu keliru.

Namun, tim peneliti mengamati beruk aktif mencari tikus untuk makanan. Hal itu menunjukkan bahwa beruk sebenarnya dapat mengurangi kerusakan tanaman oleh tikus. Oleh karena itu, tim ilmuwan menyelidiki peran beruk sebagai hama tanaman dan kegunaan potensial mereka sebagai pengendali hama biologis.

Data penelitian dikumpulkan dari Januari 2016 hingga September 2018 dari dua kelompok beruk yang mendiami Cagar Hutan Segari Melintang di Semenanjung Malaysia dan perkebunan kelapa sawit di sekitarnya.

Hasil penelitian menunjukkan, sekitar sepertiga dari wilayah jelajah beruk termasuk perkebunan kelapa sawit. Beruk menghabiskan rata-rata 2,9 jam per hari di perkebunan kelapa sawit, dengan waktu makan mereka di perkebunan selama 44 persen dari keseluruhan waktu makan.

Meskipun 74 persen dari pola makan beruk terdiri atas buah kelapa sawit, hasil penelitian mempertanyakan persepsi umum tentang beruk sebagai hama tanaman. Berdasarkan tingkat konsumsi individu dari buah segar, tim memperkirakan konsumsi buah kelapa sawit tahunan oleh kelompok dengan rata-rata 44 beruk sekitar 12,4 ton, yang sama dengan 0,56 persen dari keseluruhan produksi kelapa sawit di area jelajah beruk.

Oleh karena itu, kerusakan oleh beruk 17 kali lipat lebih rendah daripada kerusakan tanaman yang dilaporkan untuk tikus yang sebesar 10 persen. Selain itu, beruk juga berburu tikus saat tikus beristirahat di pangkal daun kelapa sawit.

”Dengan menemukan lubang di batang kelapa sawit tempat tikus mencari perlindungan pada siang hari, satu kelompok beruk dapat menangkap lebih dari 3.000 tikus per tahun,” kata Anna Holzner, peneliti dari Universitas Leipzig, seperti dikutip Science Daily.

Hal ini menunjukkan, dibandingkan dengan ketidakhadiran beruk di kebun kelapa sawit, kunjungan teratur beruk di perkebunan kelapa sawit dapat mengurangi kerusakan tanaman dari 10 persen menjadi kurang dari 3 persen (2,1 persen oleh tikus, ditambah 0,56 persen oleh beruk). Hal itu setara dengan tanaman yang ditanam di sekitar 406.000 hektar lahan atau keuntungan sekitar 650 juta dollar AS atau setara dengan Rp 9,1 triliun per tahun.

”Saya terkejut ketika saya pertama kali mengamati bahwa beruk memakan tikus di perkebunan kelapa sawit. Mereka secara luas dikenal sebagai primata pemakan buah yang hanya sesekali makan burung kecil atau kadal,” kata Nadine Ruppert, peneliti Universiti Sains Malaysia.

YAYASAN BOS-+Maryos Tandang (tengah), dokter hewan Yayasan BOS, memeriksa keadaan Sepat, seekor orangutan, di Kapuas, Minggu (22/9/2019). Terdapat 70 peluru di dalam tubuh Sepat.

Temuan ini menjadi kabar baik bagi produsen kelapa sawit dan beruk. ”Kami berharap, hasil kami akan mendorong pemilik perkebunan swasta dan publik untuk mempertimbangkan perlindungan primata dan habitat hutan alam mereka di dalam dan di sekitar perkebunan kelapa sawit yang ada dan yang baru didirikan,” tutur Anja Widdig, peneliti lain dari Universitas Leipzig.

Hasil penelitian di Malaysia ini juga dapat menjadi inspirasi bagi Indonesia, yang mempunyai masalah yang sama. Perkebunan kelapa sawit di Sumatera dan Kalimantan telah mengorbankan populasi orangutan yang dianggap sebagai hama.

Berita terakhir, misalnya, yang menimpa orangutan bernama Hope yang diberitakan Kompas.id edisi 11 Juli 2019 (https://kompas.id/baca/nusantara/2019/07/11/orangutan-hope-masih-trauma-kondisi-fisik-membaik/). Hope adalah satu dari 20 individu orangutan yang dirawat setelah dihujani peluru senapan angin oleh orang-orang suruhan pemilik kebun kelapa sawit.

Penelitian perlu dilakukan di perkebunan kelapa sawit di Indonesia untuk mengubah persepsi orangutan dan primata lainnya sebagai hama. Dengan demikian, upaya pelestarian satwa liar tidak harus berkonflik dengan perkebunan kelapa sawit.

Oleh SUBUR TJAHJONO

Sumber: Kompas, 22 Oktober 2019

Share
x

Check Also

Covid-19 Menurunkan Emisi Karbon Global

Pandemi Covid-19 telah memangkas lebih dari delapan persen emisi karbon global, Berkurangnya emisi ini terjadi ...

%d blogger menyukai ini: