Home / Sosok / Pijar Ilmu di Hutan Jati

Pijar Ilmu di Hutan Jati

Atim Suryadi (35) tidak bisa tinggal diam melihat sebagian anak-anak penerus bangsa ini sulit bersekolah. Dia memilih tinggal di pelosok hutan jati di Kabupaten Karawang, Jawa Barat, untuk mewujudkannya.

Di atas sepeda motor bututnya, Atim kembali berjibaku menembus keterbatasan di Dusun Sukamulya, Desa Mulyajati, Kecamatan Ciampel, Kabupaten Karawang, Senin (17/7). Jalan berbatu dilibas, jalan tanah basah dilindas, rimbun hutan jati dilintasi. Bunyi mesin motor terdengar ribut membelah sunyi di jalan yang tak mulus.

Tujuannya satu, Kelas Jauh SDN 4 Mulyasejati, tempatnya mengajar. SDN itu adalah satu-satunya sekolah di Dusun Sukamulya. Dia seorang diri jadi guru di sekolah yang kini mengajar 16 siswa kelas I hingga kelas VI itu. “Hari ini adalah hari pertama anak-anak masuk sekolah setelah libur kenaikan kelas, jadi tidak boleh telat. Kita harus semangat menyambut anak-anak,” ujar Atim sambil mengumbar senyum tipis.

Setelah menempuh 15 menit perjalanan, Atim tiba di tempat tujuan. Beberapa siswanya sudah lebih dulu tiba. Wajah ceria anak-anak itu membuat hati Atim semringah. “Apa kabar? Sudah siap sekolah?” tanya Atim, ramah, sembari melangkah menuju bangunan sekolah yang reyot.

Bangunan sekolah berukuran 12 meter x 9 meter itu jauh dari layak. Berada di tengah hutan jati, tak ada konstruksi bangunan dibuat dari jati. Hanya kayu tipis melapisi dinding keropos. Lemari perpustakaan berisi buku kumal pun hampir roboh. Bunyi rayap menggerogoti kayu terdengar saat Atim mengajar.

Bukan sarjana pendidikan, Atim mengampu semua mata pelajaran. Rumus matematika diberikan. Materi pelajaran olahraga juga diampunya. Saat Atim tak masuk akibat sakit atau berhalangan hadir, kegiatan belajar- mengajar terpaksa berhenti. “Semua diselenggarakan di tengah keterbatasan. Semangat anak-anak membuat keterbatasan bukan jadi halangan,” katanya.

Perlahan, kiprah Atim sukses jadi pelita dusun itu. Warga sangat terbantu karena mereka tak ditarik biaya sepeser pun. Justru siswa kerap mendapatkan bantuan berupa buku tulis, buku pelajaran, alat tulis, dan seragam dari donatur. “Paling tidak, anak saya bisa baca, menulis, berhitung. Jadi modal untuk melanjutkan sekolah kelak,” ujar Rahim (49), orangtua siswa saat mengantarkan anak ketiganya, Arman (8).

Miskin
Ironi di Sukamulya dengan mudah mengingatkan Atim ke masa kecilnya yang dekat dengan kemiskinan. Pernah beberapa kali putus sekolah, pendidikan membuat hidupnya lebih bermakna. Atim mengatakan, selepas lulus dari SMP PGRI Sukabungah, Bekasi, tahun 1998, dirinya nyaris tak melanjutkan sekolah. Kedua orangtuanya tak punya biaya. Akan tetapi, dia tak menyerah. Atim nekat berjualan nasi goreng dengan harapan mampu mandiri kelak.

Setahun menabung, uang modal sekolah terkumpul. Dia diterima saat mendaftar di STM Ristik Kikin, Jakarta Timur. Sekolah di pagi hingga siang hari, Atim jualan nasi goreng malam hingga menjelang subuh. “Memang melelahkan, tapi saya ingin sekolah,” katanya.

Keinginan sekolah yang kuat itu berhasil menghadirkan simpati. Salah seorang guru di STM Ristik Kikin mengangkat Atim jadi anak asuhnya. Semua biaya sekolah Atim ditanggung gurunya itu. “Awalnya beliau marah karena di kelas saya sering tidur. Namun, setelah tahu bahwa saya jualan nasi goreng hingga subuh, dia mengerti. Saya malah dijadikan anak asuhnya,” katanya.

Selepas itu, hidup Atim terasa lebih ringan. Ia bahkan pernah tinggal di rumah orangtua asuhnya. Atim juga dibiayai kuliahnya. Namun, karena beberapa masalah keluarga orangtua asuhnya, ia berhenti kuliah tahun 2005. “Saya sempat mengajar di SMP PGRI Sukabungah jadi guru komputer selama setahun. Saya juga buka servis komputer sebelum pergi ke Sukamulya,” ujarnya.

Berjarak sekitar 60 kilometer dari Bekasi, awalnya ia hanya ingin mencari tempat baru memuaskan jiwa petualangannya di Sukamulya. Namun, nasib berkata lain. Ia tinggal dan berkarya di sana tahun 2006. Atim bahkan mempersunting gadis setempat menjadi istrinya.

Pendidikan di Sukamulya jadi keprihatinan utamanya. Sekolah terdekat berjarak sekitar 10 kilometer di bawah kaki bukit. Untuk menempuhnya, siswa harus menuruni bukit dan hutan jati.

“Saya memberanikan diri membuka teras rumah bagi siapa saja yang ingin belajar. Ternyata satu per satu anak datang dengan semangat belajar yang tinggi,” katanya.

Buah emas
Kerja keras Atim berbuah emas. Tahun 2008, kiprah Atim diketahui pemerintah daerah setempat. Sekolah di teras rumah dijadikan sekolah kelas jauh yang menginduk pada SD Negeri 4 Mulyasejati.

Meski sudah diakui, perjuangan memberikan pelajaran ideal belum selesai. Lokasi belajar-mengajar masih nomaden, dari rumah warga ke rumah warga lainnya. Baru pada 2012, pemda dan donatur membantu mendirikan bangunan permanen. Sampai saat ini, donatur juga masih kerap memberikan berbagai bantuan, seperti buku, seragam, dan alat tulis.

“Bantuan banyak pihak membuat harapan itu bisa disemai. Sudah ada 22 siswa lulus. Ada yang jadi buruh di Karawang, tapi juga ada yang melanjutkan sekolah,” kata Atim yang digaji Rp 700.000 per bulan. Tambahan Rp 400.000 per bulan didapat dari sekolah induk SD Negeri 4 Mulyasejati.

Selain pendidikan, perlahan masalah lain dibenahi. Salah satunya kesulitan masyarakat mendapatkan listrik. “Belajar di malam hari sebelumnya hampir mustahil bagi anak-anak. Saya khawatir, kalau tak ada listrik, masa depan sejahtera terasa jauh bagi mereka.”

Kondisi itu mengejutkan. Jarak dusun sebenarnya hanya 23 kilometer dari Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) Jatiluhur, pemasok listrik Jawa-Bali. Bahkan untuk bisa sampai di dusun ini, warga setiap hari melewati PLTA Curug-Klari, yang berada di bawah perbukitan. Namun, tak ada listrik negara bagi mereka meski Indonesia sudah lama merdeka.

Untuk mengatasi keterbatasan itu, Atim tidak serakah. Ia memaksimalkan genset miliknya untuk warga lain. Untuk sementara listrik dari genset itu dialirkan ke empat rumah tetangganya. Atim mengatakan, genset mulai dinyalakan sekitar pukul 18.00 hingga pukul 22.00. Ia mengisi gensetnya dengan solar sebanyak dua liter per hari. Meski hanya sesaat, terang itu hadir di Sukamulya.

Tetangga-tetangga yang tidak kebagian listrik pun kerap berkunjung ke rumah Atim, sebagian besar mengisi baterai ponsel. Televisi 14 inci milik Atim juga jadi kemewahan warga di antara malam.

“Pak Guru tidak cuma menerangi warga dengan listrik dari genset, tetapi juga menerangi pengetahuan anak-anak dengan pendidikan,” ujar Hasyim (49), warga Sukamulya, memuji apa yang sudah dilakukan Atim.

Guru kelas jauh SDN 4 Mulyasejati Kabupaten Karawang, Atim Suryadi (35) tengah mengendarai sepeda motor menuju sekolah tempatnya mengajar di Dusun Sukamulya, Desa Mulyasejati, Kecamatan Ciampel, Karawang, Senin (17/7).
Kompas/Benediktus Krisna Yogatama (BKY)
17-07-2017

KOMPAS/BENEDIKTUS KRISNA YOGATAMA

ATIM SURYADI

Lahir:
Bekasi, 5 Februari 1982

Pendidikan:
SMP PGRI Sukabungah, Bekasi (1995-1998)
STM Ristik Kikin, Jakarta Timur (1999-2002)
Jurusan Manajemen Informasi, Institut Teknologi Budi Utomo, Jakarta Timur (2003-2004) tidak selesai
Jurusan Manajemen Informasi, Bina Sarana Informatika Bekasi, (2004-2005) tidak selesai

BENEDIKTUS KRISNA YOGATAMA
————-
Versi cetak artikel ini terbit di harian Kompas edisi 25 Juli 2017, di halaman 16 dengan judul “Pijar Ilmu di Hutan Jati”.

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*

code

x

Check Also

Bambang Yuwono dan Hary Sudiyono Candra, Pembelajaran Digital untuk Siswa Sekolah

Bambang dan Hary, pendiri PesonaEdu, membuat buku digital interaktif untuk membantu siswa dan guru dalam ...

%d blogger menyukai ini: