Home / Berita / Perusahaan Rintisan Makin Dilirik Generasi Milenial

Perusahaan Rintisan Makin Dilirik Generasi Milenial

Perkembangan perusahaan rintisan di Indonesia semakin menarik minat generasi milenial bekerja di perusahaan ini. Peluang jenjang karier yang menjanjikan, tawaran gaji yang menggiurkan, serta pekerjaan yang sesuai dengan passion menjadi alasan generasi milenial memilih perusahaan rintisan ini

Ekonom Institute for Development of Economics and Finance (Indef), Bhima Yudhistira, menjelaskan, untuk menyerap tenaga kerja, perusahaan rintisan di Indonesia semakin mengikuti pola generasi milenial. ”Arah model bisnis di masa depan yang berbasis digital ini semakin digemari. Perusahaan e-dagang dan finansial teknologi ini menawarkan model kerja yang disukai milenial,” ujarnya saat dihubungi, Sabtu (20/1).

Konsep kantor yang menerapkan sistem co-working space, jam kerja yang fleksibel, dan jenis pekerjaan yang variatif menjadi alasan generasi milenial memilih perusahaan rintisan ini sebagai wadah untuk meniti karier.

DHANANG DAVID UNTUK KOMPAS–Suasana kantor perusahaan rintisan Dusdusan.com di daerah Palmerah, Jakarta, Sabtu (20/1).

”Selain itu, peluang jenjang karier yang cepat dan gaji yang menggiurkan menjadi alasan generasi ini memilih perusahaan rintisan,” kaatanya.

Bhima menjelaskan, gaji rata-rata untuk perusahaan rintisan ini bisa mencapai UMP di Jakarta sekitar Rp 3,6 juta hingga Rp 10 juta. ”Khususnya di bidang IT development ini gajinya berkisar Rp 10 juta,” katanya.

Perusahaan rintisan ini sanggup memberikan gaji yang lumayan bagi generasi milenial karena telah mendapatkan suntikan dana dari investor. Meski demikian, Bhima menerangkan, ada juga para pemilik perusahaan rintisan ini yang harus tekor di awal untuk mencukupi modal usahanya.

”Sebenarnya para pelaku perusahaan rintisan tidak perlu cemas untuk modal atau investor jika model bisnis mereka bagus, apalagi jika founder-nya memiliki basis TI yang kuat,” katanya.

Dengan total pengguna internet di Indonesia sebanyak 132 juta orang, tentunya bisnis rintisan berbasis digital ini sangat menjanjikan.

Bima menerangkan, dengan total pengguna internet di Indonesia sebanyak 132 juta orang, tentunya bisnis rintisan berbasis digital ini sangat menjanjikan. ”Kita ambil contoh, berdasarkan data dari Bank Indonesia pada tahun 2016, nilai transaksinya mencapai Rp 75 triliun. Diperkirakan pada 2018 ini, nilai transaksinya bisa mencapai Rp 100 triliun,” katanya.

Selain itu, beberapa perusahaan rintisan ini memiliki program pelatihan bagi para pegawainya agar bisa mengembangkan kemampuannya, khususnya di bidang pengelolaan konten-konten digital. Meski demikian, Bhima mengatakan, upaya pemerintah agar bisa menciptakan generasi milenial yang memiliki kemampuan berbasis TI perlu ditingkatkan.

”Seperti pendidikan di jenjang sekolah menengah kejuruan (SMK) dan di perguruan tinggi harus didorong agar lulusannya memiliki kemampuan TI ini agar tenaga yang terserap di perusahaan rintisan ini bukan hanya yang low skill labour,” katanya.

Tyas Dwi Pamungkas (25), content marketing staff di Blibli.com, menjelaskan, dirinya sejak awal memang tertarik masuk ke perusahaan rintisan karena tawaran gaji yang lumayan besar. ”Saya sudah bekerja sekitar 2 tahun di perusahaan ini. Selain itu, saya suka bekerja di perusahaan rintisan karena perusahaan ini berkembang sangat progresif, bahkan bisa mengubah pola perilaku (behaviour) masyarakat,” katanya.

DHANANG DAVID UNTUK KOMPAS–Tyas Dwi Pamungkas (25), content marketing staff di Blibli.com.

Sehari-hari Tyas bekerja untuk mengelola konten pemasaran untuk meningkatkan penjualan perusahaan. Menurut dia, fasilitas perusahaan yang diberikan sangat menunjang perkembangan kariernya.

”Ada pelatihan khusus yang saya ikuti selama bekerja di sini, seperti pelatihan bagaimana cara mengelola media sosial perusahaan, pelatihan pembuatan konten pemasaran yang menarik, bahkan pelatihan videografi untuk pemasaran,” katanya.

Jam kerja yang cenderung fleksibel menjadi salah satu alasannya memilih bekerja di perusahaan rintisan ini. ”Kami diberikan pilihan jam kerja, yaitu dari pukul 08.00-17.00, pukul 09.00-18.00, dan pukul 09.30-18.30,” katanya.
Untuk mengurus konten pemasaran perusahaan, ketika akhir pekan, ia juga harus memantau media sosial yang dikelolanya. Namun, hal itu tidak harus ia kerjakan di kantor.

”Dalam seminggu, saya 5 hari ke kantor. Untuk weekend, biasanya saya memantau pekerjaan di tempat lain. Karena untuk urusan konten, harus dipantau setiap hari trafiknya,” katanya.

Tyas menjelaskan, di perusahaannya terbagi dari berbagai macam divisi, yaitu divisi operasional, marketing, serta divisi TI yang menjadi ujung tombak perusahaan. Biasanya divisi ini mendapat bonus yang cukup besar dari perusahaan.

”Total pegawainya sekitar 1.300 orang, dengan sistem kerja yang sudah teratur. Sepertinya saya akan bertahan cukup lama di perusahaan ini karena masa depannya menjanjikan. Apalagi perusahaan cukup terbuka terhadap pegawai mengenai perkembangan perusahaan,” katanya.

Fildzah Amriely (22), divisi konten dan kreatif di Dusdusan.com, menyatakan, susana lingkungan kerja yang nyaman menjadi salah satu alasannya betah bekerja di perusahaan ini. ”Total pegawainya baru 37 orang, jadi kami sangat dekat seperti keluarga. Selain itu, suasana kantornya nyaman, serasa bekerja di rumah,” katanya.

DHANANG DAVID UNTUK KOMPAS–Fildzah Amriely (22), divisi konten dan kreatif di Dusdusan.com.

Fildzah menjelaskan, Dusdusan.com merupakan perusahaan rintisan yang bergerak di bidang penjualan peralatan rumah tangga berbasis digital. Perusahaan ini baru berumur tiga tahun.

”Saya masih lima bulan bekerja di perusahaan ini. Ketika awal masuk, sistem kerjanya masih cukup serabutan. Ada beberapa hal yang harus dilakukan pegawai selain job desk utamanya,” ujarnya.

Menurut Fildzah, hal ini malah menjadi tantangan tersendiri baginya untuk berkontribusi membangun perusahaan baru ini. ”Kemungkinan perusahaan ini akan merekrut pegawai lagi. Tentunya ini menjadi peluang bagi saya agar lebih cepat naik ke jenjang yang lebih tinggi di perusahaan baru ini agar bisa membina pegawai baru yang akan masuk nanti,” katanya.

Dalam sebulan, Fildzah bisa mendapatkan gaji hampir mencapai Rp 5 juta. Menurut dia, gaji tersebut cukup untuk kebutuhannya sehari-hari.
”Kemungkinan, saya akan lama bekerja di sini. Tapi saya juga punya cita-cita untuk melanjutkan kuliah S-2. Saya mungkin baru akan keluar dari perusahaan jika sudah ingin melanjutkan pendidikan ini,” katanya.

Rachmat Ramdhan (26), social media officer di perusahaan rintisan Ciayo Corps, mengatakan, kesukaannya terhadap komik menjadi alasan utama ia bekerja di perusahaan ini. ”Ciayo Corps merupakan salah satu perusahaan rintisan yang mem-publish komik karya komikus lokal,” katanya.

DHANANG DAVID UNTUK KOMPAS–Rachmat Ramdhan (26), social media officer di perusahaan rintisan Ciayo Corps.

Rachmat menyatakan, ia banyak belajar di perusahaan yang usianya baru setahun ini. Ia sendiri baru bekerja selama 6 bulan di perusahaan ini.
”Saya banyak belajar mengenai bagimana cara mengelola konten media sosial untuk meningkatkan minat keterbacaan komik lokal karya anak bangsa. Selain itu, interaksi dengan komikus lokal bisa memunculkan banyak ide segar untuk saya agar bisa mengelola konten supaya menarik,” katanya.

Dalam sebulan, penghasilannya mencapai sekitar Rp 3 juta hingga Rp 4 juta. Ia menjelaskan, saat ini ia masih ingin bekerja sesui dengan passion-nya.

”Saya memiliki cita-cita, komikus lokal bisa mendapatkan wadah untuk mem-publish karya-karyanya, bahkan supaya komik lokal bisa dikenal dunia internasional. Oleh sebab itu, saya masih betah bekerja di perusahaan ini,” katanya. (DD05)

Sumber: Kompas, 21 Januari 2018

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*

code

%d blogger menyukai ini: