Home / Berita / Perubahan Waktu Sarapan dan Makan Malam Dapat Kurangi Lemak Tubuh

Perubahan Waktu Sarapan dan Makan Malam Dapat Kurangi Lemak Tubuh

Perubahan sederhana waktu sarapan dan makan malam dapat mengurangi lemak tubuh. Sebuah penelitian di Inggris menunjukkan, pemunduran waktu sarapan selama 90 menit dan pemajuan waktu makan malam selama 90 menit dari jadwal biasanya terbukti mengurangi lemak tubuh. Kadar normal lemak tubuh adalah 10-20 persen.

BIRO PERS SETPRES/LAILY RACHEV–Presiden Joko Widodo dan Nyonya Iriana menikmati sarapan pagi di Rumah Makan Soto Khas Semarang Pak Man, Semarang, Jawa Tengah, beberapa waktu lalu. Turut mendampingi Presiden dan Nyonya Iriana adalah Menteri Sekretaris Negara Pratikno (paling kiri) dan Wakil Wali Kota Semarang Havearita Rahayu.

Penelitian berjudul ”Sebuah Studi Kelayakan Percontohan Mengeksplorasi Efek dari Intervensi Pemberian Makan Waktu Terbatas pada Asupan Energi, Adipositas dan Fisiologi Metabolik pada Subyek Manusia yang Hidup Bebas” itu dimuat dalam Journal of Nutritional Science edisi 30 Agustus 2018 yang juga dipublikasikan sciencedaily.com.

Penelitian dilakukan tim peneliti Fakultas Kesehatan dan Ilmu Kedokteran, Universitas Surrey, Inggris, seperti Rona Antoni, Tracey M Robertson, M Denise Robertson, dan Jonathan D Johnston.

KOMPAS/IWAN SETIYAWAN (SET)–Warga kampung adat Kasepuhan Ciptagelar Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat, menikmati sarapan pagi di tepi sungai saat digelar upacara adat di kampung mereka, beberapa waktu lalu.

Selama studi 10 minggu tentang pemberian makan terbatas waktu—suatu bentuk puasa intermiten—para peneliti menyelidiki dampak perubahan waktu makan terhadap asupan makanan, komposisi tubuh, dan penanda risiko darah untuk diabetes dan penyakit jantung.

Peserta dibagi menjadi dua kelompok. Satu kelompok diminta menunda sarapan mereka selama 90 menit dan memajukan jadwal makan malam mereka 90 menit. Kelompok kedua makan makanan seperti biasanya, yang menjadi kelompok kontrol. Peserta penelitian diminta untuk memberikan contoh darah dan buku harian diet lengkap sebelum dan selama 10 minggu intervensi dan mengisi kuesioner umpan balik segera setelah penelitian.

Peserta penelitian tidak diminta untuk mengikuti diet ketat dan bisa makan dengan bebas asalkan itu berada di dalam jendela waktu makan tertentu. Hal ini membantu para peneliti menilai apakah jenis diet ini mudah diikuti dalam kehidupan sehari-hari.

Peneliti menemukan bahwa mereka yang mengubah waktu makan mereka kehilangan rata-rata lebih dari dua kali lebih banyak lemak tubuh dibandingkan mereka yang berada di kelompok kontrol, yang makan makanan mereka seperti biasa. Jika data uji coba ini dapat diulang dalam penelitian yang lebih besar, ada potensi untuk pemberian makanan yang dibatasi waktu untuk memiliki manfaat kesehatan yang luas.

KOMPAS/PUTU FAJAR ARCANA (CAN)–Jamuan makan malam dalam ritual Orom Sasadu di Desa Toboso, Jailolo, Maluku Utara, beberapa waktu lalu.

”Meskipun penelitian ini kecil, hal itu telah memberi kita wawasan yang sangat berharga tentang bagaimana perubahan kecil pada waktu makan kita dapat memiliki manfaat bagi tubuh kita. Pengurangan lemak tubuh mengurangi peluang kita untuk mengembangkan obesitas dan penyakit terkait sehingga sangat penting dalam meningkatkan keseluruhan kesehatan,” kata Jonathan D Johnston.

Meskipun tidak ada batasan pada apa yang bisa dimakan oleh para peserta, para peneliti menemukan bahwa mereka yang mengubah waktu makan mereka makan lebih sedikit secara keseluruhan daripada kelompok kontrol.

Hasil ini didukung oleh tanggapan dalam kuesioner yang menemukan bahwa 57 persen dari peserta mencatat pengurangan asupan makanan baik karena nafsu makan berkurang, penurunan kesempatan makan, atau pengurangan camilan, terutama pada malam hari. Saat ini tidak pasti apakah periode puasa lebih lama yang dilakukan oleh kelompok ini juga merupakan faktor yang berkontribusi terhadap pengurangan lemak tubuh.

KOMPAS/NUR HIDAYATI (DAY)–Suasana jamuan makan malam di Pacific Restaurant & Lounge The Ritz Carlton Jakarta.

Sebagai bagian dari studi, peneliti juga memeriksa apakah diet puasa kompatibel dengan kehidupan sehari-hari dan komitmen jangka panjang. Ketika ditanya ke responden, 57 persen peserta penelitian merasa mereka tidak dapat mempertahankan waktu makan baru di luar 10 minggu yang ditentukan karena ketidakcocokan mereka dengan keluarga dan kehidupan sosial. Namun, 43 persen peserta akan mempertimbangkan melanjutkan jika waktu makan lebih fleksibel.

”Seperti yang telah kita lihat dengan para peserta ini, diet puasa sulit untuk diikuti dan mungkin tidak selalu kompatibel dengan keluarga dan kehidupan sosial. Oleh karena itu, kami perlu memastikan mereka fleksibel dan kondusif untuk kehidupan nyata karena manfaat potensial seperti diet jelas terlihat,” ujar Jonathan D Johnston.

Pengukuran lemak tubuh juga menjadi perhatian peneliti. Peneliti Cedars-Sinai Medical Center, Amerika Serikat, telah mengembangkan metode yang lebih sederhana dan lebih akurat dalam memperkirakan lemak tubuh daripada indeks massa tubuh (body mass index/BMI) yang banyak digunakan dengan tujuan untuk memahami obesitas dengan lebih baik.

KOMPAS/DWI AS SETIANINGSIH–Rombongan Bank Permata Jakarta tengah menikmati makan malam berupa menu ndeso ”setambir seorang” di Omah Kecebong, yang berlokasi di Sleman, Yogyakarta, beberapa waktu lalu.

Sementara BMI umumnya diterima, banyak ahli medis di bidang obesitas menganggapnya tidak akurat karena tidak dapat membedakan antara massa tulang, massa otot, dan kelebihan lemak. BMI juga tidak memperhitungkan pengaruh jenis kelamin. Perempuan umumnya memiliki lemak tubuh lebih banyak daripada pria.

Dalam penelitian yang dimuat di jurnal Nature edisi 20 Juli 2018, rumus baru yang dikembangkan di Cedars-Sinai disebut indeks massa lemak relatif atau relative fat mass (RFM), dan hanya menggunakan pengukuran lingkar pinggang dan tinggi.

”Hasil kami menegaskan nilai formula baru kami dalam sejumlah besar subyek: massa lemak relatif adalah ukuran yang lebih baik dari kegemukan tubuh daripada banyak indeks yang saat ini digunakan dalam kedokteran dan sains, termasuk BMI,” kata Orison Woolcott, peneliti Cedars-Sinai Medical Center, seperti dikutip sciencedaily.com.

KOMPAS/FERGANATA INDRA RIATMOKO–Petugas mengukur tinggi badan warga yang mengikuti kegiatan Pos Pembinaan Terpadu untuk Penyakit Tidak Menular (Posbindu PTM) di Kelurahan Dukuh, Kecamatan Sidomukti, Kota Salatiga, Jawa Tengah, Sabtu (25/8/2018).

Untuk menentukan RFM, tinggi badan dan lingkar pinggang perlu diukur. Untuk mengukur pinggang, letakkan pita pengukur tepat di bagian atas tulang pinggul dan capai di sekitar tubuh untuk hasil yang paling dapat diandalkan. Selanjutnya, masukkan angka-angka tersebut ke dalam rumus RFM.

Rumus disesuaikan untuk jenis kelamin berbeda. Rumus untuk pria adalah RFM = 64 – (20 x tinggi / lingkar pinggang). Rumus untuk perempuan adalah RFM = 76 – (20 x tinggi / lingkar pinggang).–SUBUR TJAHJONO

Sumber: Kompas, 31 Agustus 2018

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*

code

%d blogger menyukai ini: