Penghematan Energi Dimulai dari Riset

- Editor

Senin, 2 April 2018

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Dalam mendukung hilirisasi riset dan komersialisasi pada dunia industri, Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi mendorong riset yang berorientasi pada kebutuhan industri. Salah satunya adalah riset tentang penghematan energi bahan bakar kendaraan bermotor.

Menteri Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi Mohammad Nasir, di sela-sela puncak Dies Natalis Ke-53 Universitas Negeri Semarang (Unnes) di Semarang, Jawa Tengah, Kamis (29/3/2018), mengatakan, motor listrik merupakan salah satu contoh inovasi yang relevan dengan kebutuhan industri.

Menurut Nasir, Indonesia membutuhkan penghematan energi, khususnya yang digunakan untuk motor. ”Energi yang digunakan untuk motor adalah 35 persen dari total konsumsi energi karena hampir semua orang pakai motor dan mobil (dengan bahan bakar minyak),” ujarnya.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Nasir menambahkan, apabila BBM dapat digantikan listrik, akan ada penghematan energi secara besar-besaran. Pihaknya pun mendorong sejumlah perguruan tinggi melakukan riset terkait hal itu atau kebutuhan industri lainnya. Selama ini, riset cenderung disesuaikan dengan keinginan peneliti.

KOMPAS/AMBROSIUS HARTO–Mobil dan sepeda motor elektrik rancang bangun ITS dipamerkan saat simposium nasional kendaraan bermotor listrik, Minggu (25/3), di Gedung Robotika ITS, Surabaya. Indonesia masih berpotensi untuk secara mandiri dalam hal rancang bangun dan produksi kendaraan bermotor listrik.

Terkait sepeda motor listrik, riset sudah dilakukan Institut Teknologi Sepuluh Nopember Surabaya dan menghasilkan inovasi Gesits. ”Insya Allah akhir 2018 akan produksi masal, yang akan dilakukan PT Wijaya Karya Konstruksi dan Industri serta Garansindo,” ucapnya.

Nasir menambahkan, untuk mobil listrik nasional, pihaknya menugasi sejumlah perguruan tinggi merancang desain mobil listrik. Para peneliti ditantang agar proses recharge mobil listrik dengan waktu sesingkat mungkin. Kolaborasi dengan perguruan tinggi luar negeri juga didorong sehingga pemetaan mobil listrik diharapkan terlaksana pada 2020.

Menurut Nasir, penyesuaian riset dengan kebutuhan industri sangat penting agar nantinya ada keselarasan antara inovasi yang dihasilkan dan apa yang menjadi kebutuhan industri. ”Pada akhirnya, ke depan, riset berlanjut pada hilirisasi dan komersialisasi untuk dunia industri,” ucapnya.

KOMPAS/BAHANA PATRIA GUPTA–Mekanik menguji motor listrik Gesits di Teaching Industry Pusat Unggulan Iptek-Sistem dan Kontrol Otomotif Institut Teknologi Sepuluh Nopember yang baru diresmikan Menteri Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi Mohammad Nasir di Surabaya, Jumat (15/12/2017). Teaching industry dibuat salah satunya untuk mendukung pengembangan tenaga kerja untuk sepeda motor listrik.

Peran perguruan tinggi
Nasir pun mendorong perguruan tinggi untuk melakukan riset berdasarkan Rencana Induk Riset Nasional (RIRN). Sejumlah sektor yang perlu diperhatikan antara lain kemandirian pangan, penciptaan dan pemanfaatan energi baru dan terbarukan, serta teknologi informasi dan komunikasi.

Rektor Universitas Negeri Semarang Fathur Rokhman menyampaikan, saat ini, perguruan tinggi di Indonesia tengah menghadapi tantangan yang jauh lebih besar yang berupa turbulensi serta bersifat disruptif. Karena itu, Unnes pun mencoba menjawabnya dengan semangat internasionalisasi, termasuk terkait riset dan publikasi internasional.

”Kami juga mempersiapkan Unnes menjadi entrepreneur university. Sejalan dengan itu, ada tiga pusat unggulan iptek yang dirintis Unnes, yakni energi hijau berbasis material lokal, teknologi pengolahan pangan, dan mobil perdesaan,” ucap Fathur.

Selain itu, kata Fathur, Unnes juga mengembangkan karakter mahasiswa melalui berbagai kegiatan, di antaranya karakter nasionalisme yang dibangun lewat pendidikan bela negara. Juga didorong karakter antikorupsi, antiplagiarisme, antiradikalisme, dan antinarkoba. (DIT)

Sumber: Kompas, 31 Maret 2018

Informasi terkait

Saat Gambut Kehilangan Air, Bumi Kehilangan Karbon
Api yang Tak Pernah Benar-Benar Padam
Alga Kecil, Terobosan Besar: Rahasia Chlamydomonas di Balik Nobel Kedokteran 2026
Misteri Molekul Kiri dan Kanan Antar Dua Ilmuwan ke Nobel Kimia 2026
Francis Halzen, Pemburu Partikel Hantu dari Kutub Selatan, Raih Nobel Fisika 2026
Nobel Kedokteran 2026: Tiga Ilmuwan Menemukan Cara Mengendalikan Sel Saraf dengan Cahaya
Gunung yang Belum Selesai Dilahirkan
Tiga Huruf di Belakang Nama yang Bisa Membuka Dunia
Berita ini 22 kali dibaca

Informasi terkait

Sabtu, 17 Oktober 2026 - 14:15 WIB

Saat Gambut Kehilangan Air, Bumi Kehilangan Karbon

Kamis, 15 Oktober 2026 - 16:26 WIB

Api yang Tak Pernah Benar-Benar Padam

Selasa, 13 Oktober 2026 - 11:43 WIB

Alga Kecil, Terobosan Besar: Rahasia Chlamydomonas di Balik Nobel Kedokteran 2026

Senin, 12 Oktober 2026 - 18:42 WIB

Misteri Molekul Kiri dan Kanan Antar Dua Ilmuwan ke Nobel Kimia 2026

Senin, 12 Oktober 2026 - 17:56 WIB

Francis Halzen, Pemburu Partikel Hantu dari Kutub Selatan, Raih Nobel Fisika 2026

Berita Terbaru

Artikel

Saat Gambut Kehilangan Air, Bumi Kehilangan Karbon

Sabtu, 17 Okt 2026 - 14:15 WIB

Berita

Api yang Tak Pernah Benar-Benar Padam

Kamis, 15 Okt 2026 - 16:26 WIB