Home / Berita / Pendidikan Sambut Revolusi Industri 4.0

Pendidikan Sambut Revolusi Industri 4.0

Tantangan dalam era revolusi industri 4.0 semakin tinggi. Salah satu upaya menghadapinya adalah dengan meningkatkan kualitas pendidikan.

Menurut Rektor Universitas Terbuka, Ojat Darojat, ciri dari “Revolusi Industri 4.0” adalah berkembangnya Internet of/for things. Hal ini mendorong kemunculan berbagai teknologi baru yaitu, robotik, kecerdasan buatan, teknologi nano, cloud, serta model bisnis baru.

Adanya revolusi ini memaksa rekonstruksi terhadap sistem produksi, konsumsi, transportasi, dan pelayanan. Hal ini disampaikan Ojat dalam sambutan Upacara Wisuda Periode IV Wilayah 2 tahun 2018 di Universitas Terbuka Convention Center, Tangerang Selatan.

“Faktor utama untuk mendukung revolusi industri 4.0 adalah dengan menyiapkan sumber daya manusia yang berkualitas dan berdaya saing. Sehingga ketika mereka kembali ke daerah asalnya, maka dapat mengembangkan potensi masyarakat di daerahnya,” kata Ojat, Selasa (3/7/2018).

-Upacara Wisuda Periode IV Wilayah 2 Tahun 2018, Universitas Terbuka Convention Center, Selasa (3/7/2018).

Universitas Terbuka (UT) hadir sebagai salah satu solusi untuk meningkatkan kualitas pendidikan masyarakat Indonesia. Pendidikan jarak jauh, efisiensi waktu, dan biaya yang terjangkau menjadi andalan UT.

Perbedaan sebagai Aset
Acara ini juga dihadiri oleh Kepala Kantor Staf Presiden Republik Indonesia, Jenderal TNI (Purnawirawan) Moeldoko. Dalam pidatonya, ia mengatakan bahwa tantangan yang dihadapi dalam era revolusi industri 4.0 bergantinya peran manusia oleh robot dalam dunia pekerjaan.

SHARON UNTUK KOMPAS–Kepala Kantor Staf Presiden Republik Indonesia, Jenderal TNI (Purnawirawan) Moeldoko menyampaikan bahwa dalam menghadapai tantangan global, maka kualitas dan daya saing masyarakat harus ditingkatkan.

“Meski tantangan ini berat, namun ini adalah kebutuhan untuk memajukan bangsa. Dalam menyikapi tantangan tersebut maka perlu mengeliminasi gangguan, manfaatkan peluang, dan hadapi tantangan,” kata Moeldoko.

Menurut Moeldoko, pembangunan infrastruktur di era pemerintahan Presiden Joko Widodo juga telah membuat adanya pembangunan manusia. Terbukanya daerah tertinggal membuat masyarakat lebih mudah dalam menerima kemajuan teknologi.

“Pembangunan infrastruktur telah membuat adanya hubungan dengan daerah yang tertinggal. Ini adalah bagaimana kita mengikatkan hati dan pikiran teman-teman yang ada di perbatasan agar tetap merasa menjadi bagian dari Indonesia,” kata Moeldoko.

Hingga saat ini, hanya tiga puluh persen masyarakat Indonesia yang mengenyam pendidikan hingga strata satu (S1). Oleh karena itu, UT hadir bagi masyarakat yang terhalang oleh biaya maupun waktu.

Selain itu, sebagai alumni dari UT, Moeldoko juga mengingatkan para wisudawan bahwa Indonesia adalah bangsa yang besar. Perbedaan yang ada merupakan aset bagi bangsa untuk menjadi kekuatan.

“Jangan kita sibuk sendiri, sibuk dengan urusan dan kepentingan kita saja. Seharusnya kita juga sibuk untuk memajukan bangsa. Jika kita sibuk sendiri maka itu artinya kita berkeringat tapi hanya jalan di tempat,” ucap Moeldoko dalam penutupan orasinya.

Mahasiswa dan Tutor
Sebanyak 1.243 mahasiswa telah diwisuda secara langsung oleh Rektor Universitas Terbuka. Ada empat fakultas dan program pascasarjana yang diwisuda. Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Fakultas Ekonomi, dan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik.

SHARON UNTUK KOMPAS–Penandatangan perjanjian kerja sama antara Wakil Rektor 4 bidang kerja sama UT, Moh. Muzammil dengan wakil rektor bidang kerja sama, perencanaan, dan sistem informasi Untirta, Profesor Kartina, sebagai komitmen untuk meningkatkan kualitas pendidikan.

Seorang wisudawati dari UT Manado, Fenny Tambalean (55) berhasil memperoleh gelar S1 Pendidikan Guru Sekolah Dasar. Sebagai Kepala Sekolah SD Gemim Sawangan, Sulawesi Utara, ia harus berpendidikan minimal S1 untuk syarat sertifikasi guru.

“Walau saya sudah berumur, tapi kalau di UT, usia itu bukan halangan. Jadi saya tetap bisa melanjutkan pendidikan hingga S1. Selain itu saya juga dapat tetap bekerja selama kuliah,” kata Fenny.

Meski sekolah yang ditempatinya adalah sekolah berhaluan Kristen, namun ia meyakinkan bahwa toleransi tetap ada. Ia mengatakan tidak ada pemaksaan bagi murid yang beragama Islam untuk mengikuti pelajaran agama di sekolah.

“Buat yang Muslim, nilai agama akan diberikan oleh ustad mereka masing-masing. Pergaulan murid-murid di sekolah pun baik, tidak pernah terjadi konflik karena perbedaan agama,” kata Fenny.

Dadat (25), wisudawan Ilmu Komunikasi juga mengatakan bahwa melalui UT, ia dapat tetap bekerja sambil kuliah. Saat ini ia telah bekerja di bagian informasi dan teknologi di Bogor.

“Masyarakat Indonesia harusnya dapat lebih bijak dalam menggunakan media sosialnya. Bukan hanya sebagai hiburan tapi untuk menambah wawasan,” kata Dadat.

Peningkatan kualitas pendidikan juga terus dilakukan oleh La Hasini, tutor tatap muka UT Manado. Dalam kesempatan ini, ia terpilih menjadi tutor terbaik.

“Saya melakukan sesuai dengan standar yang telah ditetapkan. Mahasiswa banyak yang senang diajar saya karena saya selalu memberikan support dan juga berbagi pengalaman hidup,” kata Hasini.

Sebagai guru sekolah menengah atas, ia juga terus mendukung muridnya untuk melanjutkan pendidikannya. Baginya, dengan gelar S1, maka peluang untuk sukses akan semakin besar.–E05

Sumber: Kompas, 5 Juli 2018

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*

code

%d blogger menyukai ini: