Home / Berita / Paleoekologi, Jejak 10.000 Tahun Kebakaran Hutan

Paleoekologi, Jejak 10.000 Tahun Kebakaran Hutan

Kebakaran hutan di lahan gambut di Pulau Kalimantan terekam sejak sekitar 10.000 tahun lalu. Selama ribuan tahun, pola kebakaran itu bersifat sporadis dan terlokalisasi. Kebakaran yang meluas baru terjadi sejak 1997 yang dipicu pengeringan gambut. Sejak itu hutan gambut terus membara.

Jejak kebakaran lahan gambut di Kalimantan ini diungkap oleh Kepala Pusat Geoteknologi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) dalam disertasi dan sejumlah paper ilmiahnya. “Fokus kajian saya dulu paleoekologi, yakni meneliti perubahan ekologi hingga ribuan tahun, termasuk riwayat kebakaran lahan di Kalimantan,” kata Eko, yang belakangan banyak melakukan studi paleotsunami.

Sejak kebakaran hutan dan lahan yang meluas di Indonesia, khususnya lahan gambut di Kalimantan pada 1997, LIPI bekerja sama dengan Badan Iptek Jepang (JST) untuk meneliti hal itu. Dalam 10 tahun, hal itu meluluskan puluhan doktor bidang gambut dari Indonesia, termasuk Eko yang belajar di Jurusan Ilmu Alam dan Lingkungan, Universitas Hokkaido.

Eko mengkaji riwayat kebakaran hutan di Kalimantan dengan melihat lapisan arang dan perubahan jenis polen di dalam lapisan rawa-rawa gambut Kalimantan. Studinya di Kalampangan, Kalimantan Tengah, menemukan, gambut di kawasan itu terbentuk sejak sekitar 9.472 hingga 7.624 tahun lalu.

Ketika itu kondisi cuaca di Asia Tenggara cenderung lembap dan hangat. Periode ini dikenal dalam sejarah evolusi Bumi sebagai era holocene, di mana lapisan es di kutub mulai mencair dan menyebabkan permukaan laut meninggi. Dengan naiknya muka air laut, muka air tanah pun meningkat. Pada saat itu, sebagian dataran rendah di Kepulauan Indonesia, terutama Kalimantan, Sumatera, dan Papua, menjadi rawa-rawa.

Gambut terbentuk tatkala bagian tumbuhan yang luruh terhambat pembusukannya karena terjebak di rawa-rawa yang memiliki kadar keasaman tinggi atau kondisi anaerob (minim oksigen). Selain tanaman, lahan gambut menyimpan berbagai jasad renik binatang. Proses ribuan tahun menyebabkan lapisan gambut mencapai ketebalan hingga lebih dari 10 meter.

Kebakaran gambut
Penelitian Shimada (2001) mencatat, area rawa-rawa di Kalimantan Tengah tersebar di dataran rendah yang memiliki ketinggian 5-35 meter dari permukaan laut, dan ada sekitar 200 kilometer dari pantai. Menurut riset Eko, selama proses pembentukan gambut di Kalampangan (9.472-7.624 tahun lalu), sudah terjadi kebakaran.

Indikasi kebakaran itu ialah ditemukannya lapisan arang bekas kebakaran periode itu. Metode penentuan usia kebakaran dilakukan dengan radiokarbon. “Dari sebaran arangnya menunjukkan, sifat kebakarannya terisolasi, tak meluas,” ujarnya.

Eko menambahkan, lapisan gambut permukaan di Kalampangan rata-rata berusia sekitar 6.700 tahun lalu, sedangkan lapisan tua di bawahnya banyak yang hilang. Sementara di Sebangau, juga di Kalimantan Tengah, pembentukan gambutnya berlangsung hingga 2.000 tahun lalu.

“Jika diasumsikan dua tempat ini mengawali awal pembentukan gambut yang sama, kemungkinan besar lahan gambut di Kalampangan terbakar sehingga gambut yang terakumulasi selama 4.700 tahun (dari lapisan 2.000-6.700 tahun lalu) telah hilang dan menyingkap lapisan lebih tua,” kata Eko.

Sementara riset Eko di Sebangau, juga Kalimantan Tengah, merekam proses kebakaran lahan gambut sejak sekitar 10.000 tahun lalu hingga tahun 2000-an. “Hasilnya, kebakaran lahan gambut di Kalimantan secara masif baru terjadi tahun 1997 dan 1998. Selama ribuan tahun sebelumnya telah terjadi kebakaran, tetapi berskala kecil,” ungkapnya.

Tak hanya di Kalimantan, kebakaran hutan dan lahan pada tahun 1997/1998 itu terjadi meluas di Sumatera. Kajian dari Badan Perencanaan Pembangunan Nasional bersama Bank Pembangunan Asia (ADB) menyebut, luas lahan yang terdampak akibat kebakaran mencapai 9,75 juta hektar. Studi Bappenas dan ADB mencatat kerugian ekonominya Rp 711 triliun.

Menurut Eko, kekeringan yang dipicu fenomena cuaca El Nino pada 1996/1997 bukan faktor utama masifnya kebakaran hutan di Indonesia, khususnya Kalimantan. “Pada 1981 juga terjadi El Nino parah, tetapi tak terjadi kebakaran hutan masif saat itu,” ujarnya.

Temuan itu sejalan dengan kajian peneliti cuaca dan iklim Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Siswanto. “El Nino sudah terjadi sejak dulu. Dampaknya bagi Indonesia adalah penguatan tingkat kering musim kemarau dan memperlama durasi musim kurang hujan itu,” kata Siswanto.

Meski demikian, dalam 30 tahun terakhir, ternyata tak ditemukan tren signifikan dari peningkatan hari tanpa hujan berurutan di wilayah paling sering terdampak kebakaran hutan di Kalimantan dan Sumatera. Menurut kajian Siswanto dan Supari (2015), peningkatan risiko kekeringan karena bertambahnya hari tanpa hujan secara signifikan justru terjadi di Pulau Jawa bagian timur.

Eko menyimpulkan, kebakaran masif di lahan gambut Kalimantan pada tahun itu lebih disebabkan Proyek Pengembangan Lahan Gambut (PLG) sejuta hektar yang dijalankan di era Pemerintahan Soeharto sejak 1996. Proyek ini memimpikan mengubah lahan gambut menjadi lahan pertanian dengan jalan mengeringkan air di dalam gambut dengan membuat kanal-kanal ribuan kilometer.

Seiring dengan PLG di Kalimantan, pengeringan gambut di Sumatera terjadi masif demi pembukaan perkebunan sawit. Pengeringan itu jadi malapetaka besar bagi lahan gambut yang memiliki karakter, seperti spon. Begitu kering, gambut mudah terbakar dan sulit dipadamkan.

“Padahal, karakter gambut tropis itu rata-rata hanya tiga bulan tak terendam air. Bahkan, saat musim kemarau pun yang kering hanya 40 cm (sentimeter) dari permukaan, di dalamnya masih basah sehingga secara alami bisa mengendalikan kebakaran. Namun, sejak dibuat kanal dan dikeringkan, sistem airnya rusak,” ujarnya.

Sejak kebakaran masif pada 1997/1998, kebakaran hutan dan lahan di Indonesia terus terjadi pada musim kemarau. Faktor cuaca hanya memperparah luasan kebakaran, tetapi pemicunya jelas faktor manusia.

Kebakaran hebat kembali melanda hutan dan lahan Indonesia tahun 2015, seiring menguatnya El Nino. Luasan lahan yang terbakar menurut data Bank Dunia mencapai 2,6 juta ha, 30 persennya adalah lahan gambut. Selain menghancurkan kekayaan hayati, kebakaran ini mengganggu perekonomian, pendidikan, mengancam kesehatan puluhan ribu jiwa, bahkan menelan korban jiwa.

Kerugian ekonomi akibat kebakaran ini ditaksir Rp 221 triliun. Itu belum memperhitungkan dampak kerugian jangka panjang pada anak-anak yang menghirup kabut asap akibat kebakaran. Paparan jangka panjang polusi kabut asap terkait dengan kenaikan kasus penyakit jantung dan pernapasan kronis.

Belajar dari rekaman 10.000 tahun jejak kebakaran hutan di Kalimantan, menurut Eko, satu-satunya jalan untuk mencegahnya ialah membasahi kembali lahan gambut. Jika itu tak dilakukan, kebakaran hutan dan lahan akan terus terjadi hingga hutan dan gambut habis….–AHMAD ARIF
————————-
Versi cetak artikel ini terbit di harian Kompas edisi 28 Agustus 2017, di halaman 14 dengan judul “Jejak 10.000 Tahun Kebakaran Hutan”.

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*

code

%d blogger menyukai ini: