Padang Purbakala di Bumi Indonesia

- Editor

Senin, 6 Agustus 2018

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Salah satu kekayaan Bumi Pertiwi yang menjadi ladang penelitian ilmuwan dan diburu penggemar barang antik adalah fosil hewan purba yang diperkirakan pernah hidup hingga jutaan tahun lalu. Penemuan dan kajian terhadap fosil hewan purba terus dilakukan sejak Indonesia masih dijajah Belanda hingga kini.

Fosil hewan purba itu tak hanya ditemukan di Pulau Jawa, tetapi juga didapati di Pulau Flores, Nusa Tenggara Timur, sampai Sulawesi. Kajian terhadap fosil hewan purba dan kaitannya dengan kehidupan manusia pada masa lalu tetap menjadi bahan perdebatan dan perubahan terkait sejarah manusia.

Keingintahuan manusia untuk melacak asal muasal leluhurnya seakan tak pernah padam. Keberhasilan mengungkapkan sejarah kehidupan leluhur itu dapat menjadi pengetahuan tentang kehidupan pada masa lalu dan cermin untuk melangkah ke depan. Namun, tak semua orang memiliki niat yang sama. Sebagian orang memilih menjadikan fosil hewan purba sebagai koleksi pribadi atau barang dagangan semata.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

KOMPAS/P RADITYA MAHENDRA YASA–Warga yang tergabung dalam Komunitas Peduli Fosil Banjarejo membantu tim Balai Pelestarian Situs Manusia Purba Sangiran membersihkan fosil gajah purba yang ditemukan di Desa Banjarejo, Kecamatan Gabus, Kabupaten Grobogan, Jawa Tengah, Senin (31/7/2017). Setelah penemuan fosil gajah dan fauna lain, tahap selanjutnya adalah pencetakan fosil dan lapisan tanah serta pengangkatan.

Meskipun sudah ada perlindungan dari Undang-Undang Benda Cagar Budaya Nomor 5 Tahun 1992, kondisi di lapangan mengakibatkan jual-beli fosil hewan purba ilegal terus terjadi. Harian Kompas, 23 Agustus 1993, memberitakan tentang temuan fosil tengkorak manusia yang bisa terjual Rp 2,5 juta kepada pembeli langganan. Nilai itu jauh lebih tinggi dibandingkan ganti rugi fosil dari pemerintah sebesar Rp 250.000.

Tono, warga Sangiran, Kabupaten Sragen, Jawa Tengah, bercerita, imbalan jasa yang diberikan pemerintah tak sepadan dan memakan waktu lama. Kondisi ini membuat warga yang menemukan fosil hewan purba diam-diam menjual temuan mereka kepada penadah (Kompas, 18 Januari 2010).

KOMPAS–Wirodihardjo, penjaga Museum Purbakala Trinil, bersama fosil gading gajah purba sepanjang 310 sentimeter yang ditemukan pada Desember 1986 di dekat Situs Trinil, Kabupaten Ngawi, Jawa Timur. Situs Trinil terkenal sebagai tempat penemuan fosil manusia purba Pithecanthropus erectus oleh Eugene Dubois, sarjana dari University of Amsterdam pada tahun 1894 dan 1900.

Sekadar contoh, untuk gading gajah purba 3 meter, pedagang berani memberi harga Rp 50 juta. Sementara Balai Pelestari Situs Manusia Purba Sangiran (BPSMPS) hanya memberi ”uang lelah” Rp 1 juta. Itu pun diberikan enam bulan kemudian. ”Perut kami menunggu diisi, tanah pertanian di sini tidak bagus. Hanya fosil yang ada di tanah kami,” katanya.

Di sisi lain, temuan demi temuan pun terus berlangsung. Kompas, 28 Agustus 2017, mencatat, ditemukan fosil hewan purba di Situs Trinil di Kabupaten Ngawi, Jawa Timur. Penggarap lahan bernama Samin menemukan lima fosil rahang bawah dan satu fosil pinggul gajah purba (Stegodon trigonocephalus) di Desa Kawu, Kecamatan Kedunggalar.

Sebelumnya, tahun 2016, di bantaran Sungai Bengawan Solo yang surut pada musim kemarau itu ditemukan beberapa fosil ukuran kecil yang diyakini sebagai bagian dari kerang dan gajah purba. Lokasi penemuan ini sekitar 60 meter arah selatan Museum Trinil. Situs Trinil merupakan situs besar paleoantropologi yang belum sepenuhnya digali.

Menarik peneliti
Sebagai padang purbakala, sejak lama Indonesia menarik perhatian kalangan peneliti. Tahun 1950-an, ahli paleontologi asal Belanda, Van Heekeren, menemukan fosil gajah kerdil yang disebut Archidiskodon celebensis dan fosil babi raksasa (Celebochoerus heekereni) di daerah Singkang, Sulawesi.

Penemuan itu menarik karena bertentangan dengan teori garis Wallace. Sulawesi terletak di sebelah timur garis Wallace, dan ditemukan fosil hewan purba yang bersifat Asia. Selain di Sulawesi, gajah kerdil (Stegodon trigonocephalus florensis dan Stegodon trigonochepalus timorensis) juga ditemukan di Pulau Flores dan Timor.

KOMPAS/P RADITYA MAHENDRA YASA–Tim dari Balai Pelestarian Situs Manusia Purba Sangiran yang bekerja sama dengan Balai Pelestarian Cagar Budaya Jawa Timur mencetak fosil gajah purba yang ditemukan di Desa Banjarejo, Kecamatan Gabus, Kabupaten Grobogan, Jawa Tengah, Selasa (15/8/2017). Hasil pencetakan fosil gajah purba untuk museum lapangan menggantikan aslinya yang akan direkonstruksi kembali.

Tahun 1970, ahli paleontologi dari Rijksmuseum van Natuurlijke Histore, Leiden, Belanda, DA Hooijer, meneruskan penelitian Van Heekeren. Hooijer menemukan adanya stegodon yang berukuran lima kali lebih besar dari stegodon kerdil.

Menurut dia, ada dua kemungkinan. Pertama, stegodon kerdil masa hidupnya berbeda dengan stegodon yang bertubuh lebih besar. Kedua, stegodon kerdil dan stegodon besar hidup berdampingan pada masa Plistosin, 1 juta-2 juta tahun silam, atau setidaknya 100.000-200.000 tahun silam.

Tahun 1991, bekerja sama dengan tim ahli geologi dan kepurbakalaan dari Jepang, Pusat Penelitian dan Pengembangan Geologi Bandung melakukan penelitian pada fosil hewan purba di Desa Widodaren, Kecamatan Geneng, Kabupaten Ngawi, yang diperkirakan berusia 600.000-800.000 tahun.

”Tambang” fosil
Selain Sulawesi dan Nusa Tenggara Timur, fosil hewan purba juga ditemukan di Sumatera Selatan dan Pulau Jawa, seperti di Sangiran, Kudus, Banyumas, Pati. Di Jawa Barat, fosil hewan purba ditemukan antara lain di beberapa desa di Garut Selatan, Bekasi, dan Bogor.

Adapun di Jawa Timur fosil ditemukan antara lain di Ngandong, Ngawi, di Kabupaten Bojonegoro, dan Kabupaten Tuban. Tahun 1971, seorang penggali pasir menemukan tiga fosil gigi berukuran besar di Sungai Pucanggading, Desa Gayamsari, Kecamatan Semarang Timur.

KOMPAS/HERU SRI KUMORO–Fosil sebagai benda purbakala yang banyak ditemukan di kawasan Situs Sangiran memiliki nilai ekonomi yang cukup tinggi. Hal ini membuat sebagian masyarakat mencoba berburu fosil ini. Selain mencari fosil di bekas longsoran, mereka juga mencari dengan mengepras bukit yang meninggalkan bekas keprasan, seperti di Dukuh Manyarejo, Desa Grogolan, Kecamatan Plupuh, Sragen, Jawa Tengah, Senin (2/6/2008).

Tahun 1974, Prof Dr Teuku Jacob, Kepala Penelitian Paleoantropologi Nasional, menegaskan, hewan purba mastodon tak pernah hidup di Sangiran, Jawa Tengah. Hewan purba yang hidup di Sangiran bukan mastodon, melainkan stegodon dan archidiskodon. Teuku Jacob merasa perlu menegaskan hal itu karena sebelumnya sebagian orang menyebut hewan purba itu adalah mastodon.

Sebagai salah satu ”tambang” fosil hewan purba, penduduk di sekitar Situs Sangiran kerap menemukan fosil. Tahun 1974, misalnya, Lurah Desa Krikilan, Kecamatan Kalijambe, Sragen, sampai kewalahan menampung hasil temuan fosil dari warganya. Ada kepala desa yang sampai menjual tanah demi membayar fosil dari warga sebelum dana dari pemerintah turun.

Tahun 1975, sebagian pengunjung di Sangiran mendapat tawaran yang ”menggiurkan”, seperti tawaran untuk membeli fosil taring buaya, cula badak, gigi gajah purba, sampai tanduk rusa purba. Sang penjual tak hanya orang dewasa, tetapi anak-anak pun dengan lincah menyambut pengunjung dengan tawaran dari tambang fosil!

Selain di Situs Sangiran, Sragen, fosil hewan purba juga ditemukan di Sungai Trenggulun, Kecamatan Patikraja, Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah, pada 1978. Penemuan itu berupa dua ruas tulang kaki belakang keluarga stegodon, satu ruas tulang kaki muka dan dua bagian dari tulang kaki.

Tahun 1981 di Bukit Patiayam, Kecamatan Margorejo, Kabupaten Pati, ditemukan dua gading gajah purba dengan panjang sekitar 2,5 meter dan diameter 15 sentimeter yang diperkirakan berusia 500.000 tahun. Selain fosil gajah purba, ditemukan pula fosil kepala dan tanduk kerbau, gigi babi, banteng, dan kambing. Semua benda itu ditemukan di permukaan tanah.

KOMPAS/FERGANATA INDRA RIATMOKO–Warga menanam bibit padi di Dusun Sangiran, Desa Krikilan, Kalijambe, Kabupaten Sragen, Jawa Tengah, Kamis (14/3/2013). Bercocok tanam merupakan salah satu mata pencarian utama bagi warga di kawasan Situs Sangiran yang pada zaman purba merupakan lautan.

Adapun di permukaan lapisan tanah ditemukan fosil gigi rusa, badak, buaya, dan kura-kura. Penemuan di Bukit Patiayam itu membuat para ahli memperkirakan, dulu kawasan ini merupakan dataran rendah dengan sungai besar selebar 50 meter-200 meter, dengan rawa dan padang rumput di sekitarnya. Sementara di Banyumas, penemuan fosil hewan antara lain di Pegunungan Gumelar, Kecamatan Ajibarang, yang kawasannya termasuk lokasi penambangan fosfat dan kalsit.

Stegodon
Salah satu kekhasan gajah purba dari keluarga stegodon adalah tulang paha yang lebih panjang dari hewan berkaki empat sekarang, seperti kerbau dan banteng. Tulang paha kanan stegodon yang ditemukan antara lain sepanjang 114 sentimeter. Diperkirakan gajah purba itu tingginya sekitar 2,5 meter (Kompas, 2 Desember 1978).

Stegodon mempunyai belalai dan gading yang panjang dan melengkung ke bawah. Seiring dengan berjalannya waktu, stegodon kemudian mengalami perubahan dan menjadi mammoth, yang kemudian berubah lagi menjadi elephant atau gajah seperti yang sekarang ini hidup berdampingan dengan manusia.

Sebagian orang menyebut salah satu penemuan fosil hewan purba di Banyumas adalah keluarga mastodon. Berbeda dengan stegodon, mastodon juga mempunyai belalai dan gading, tetapi gadingnya melengkung ke atas. Sementara pygmy stegodon (stegodon berukuran kecil atau kate) ditemukan antara lain di Dozu Dhalu, salah satu bukit di Lembah Soa, NTT.

Selain fosil hewan purba yang hidup di darat, ditemukan pula fosil hewan purba yang hidup di air, seperti Calicoblastus yang didapatkan di Fatukoa, Baum Kem, Amarasi, Kupang, NTT. Bentuk hewan purba yang diperkirakan hidup di laut ini seperti kuncup bunga mawar sepanjang sekitar 8 sentimeter dan bergaris tengah 4 sentimeter.

KOMPAS/KRIS RAZIANTO MADA–Penjaga Museum Arkeologi Trinil, Ngawi, Sujono, menunjukkan fosil gajah purba (Stegodon trigonocephalus), Selasa (11/5/2010). Fosil itu terpaksa diletakkan di lantai kantor karena tidak ada ruangan khusus untuk menyimpan fosil. Museum itu juga tidak punya tenaga konservasi dan perawat fosil sejak berdiri pada tahun 1991.

Tahun 1994 ditemukan fosil hewan purba yang diperkirakan adalah buaya dan harimau di kawasan Sangiran. Suaka Peninggalan Sejarah dan Purbakala (SPSP) Jateng menyebut dua fosil hewan itu belum pernah ditemukan. Selama ini fosil hewan purba yang banyak ditemukan adalah kerbau dan gajah (Kompas, 7 Februari 1994).

Tahun 2014 ditemukan fosil yang diduga kera raksasa di Desa Semedo, Kedungbanteng, Tegal, Jateng. Kera raksasa setinggi lebih dari 3 meter ini, diperkirakan hidup pada 700.000-1 juta tahun lalu. Di sini juga ditemukan fosil gajah purba kerdil atau Stegodon pygmy.

Tak dilaporkan
Meskipun sejak tahun 1960-an pemerintah telah berusaha memberi tahu masyarakat yang berada di sekitar lokasi situs-situs purbakala untuk melaporkan fosil yang mereka temukan, tetapi faktanya tak semua penemuan itu dillaporkan warga kepada instansi terkait.

Dalam berita Kompas, 2 Desember 1978 misalnya, Prof. Teuku Yakob sebagai Kepala Laboratorium Antropologi Ragawi Universitas Gadjah Mada mengatakan, relatif banyak penemuan fosil hewan purba yang tak dilaporkan masyarakat. Menurut dia hal itu terjadi karena berbagai kemungkinan.

Pertama, mereka menganggap penemuan itu tak penting. Kedua, mereka takut pada penemuan itu dan membiarkannya saja karena khawatir akan mendapat “bencana”. Ketiga, ada pihak lain yang menginginkan fosil tersebut dengan imbalan tertentu atau diberikan begitu saja.

KOMPAS/JULIUS POURWANTO–Situs Kepurbakalaan Sangiran adalah situs arkeologi di Jawa Tengah,merupakan lokasi penemuan beberapa fosil manusia purba. Museum Purbakala Sangiran adalah museum arkeologi yg terletak di Kecamatan Kalijambe, Kabupaten Sragen, propinsi Jawa Tengah.

Awal tahun 1980-an perdagangan fosil hewan purba sudah menjadi rahasia umum. Semakin banyak warga yang menemukan fosil, bahkan sengaja mencari fosil untuk diperjualbelikan. Di Sangiran misalnya, orang asing dari Amerika Serikat, beberapa negara di Eropa dan Jepang datang untuk membeli fosil dan membawanya ke negeri mereka.

Seperti hukum dagang, ada penawaran dan permintaan. Maka, semakin banyak calo dan orang asing yang mau membeli fosil, semakin meningkat pula harga fosil. Penemuan fosil yang seharusnya dilaporkan ke pemerintah, justru berpindah tangan kepada calo atau orang asing. Bahkan sebagian warga menetapkan harga tertentu, untuk fosil temuannya yang dilaporkan kepada pemerintah.

Sekadar contoh, tahun 1981 ditemukan fosil tengkorak manusia yang diperkirakan berusia sekitar dua juta tahun di Sangiran. Warga yang menemukan fosil itu menjual temuannya kepada calo seharga Rp 35.000, dan si calo meminta ganti rugi kepada pemerintah Rp 1 juta.

Di sisi lain, untuk memberi pemahaman sekaligus menyelamatkan fosil yang berharga bagi sejarah dan ilmu pengetahuan itu, sejak April 1975 pemerintah antara lain membangun museum mini di Sangiran. Pada 1981 mulai dibangun Museum Pusat Sangiran yang lebih luas dengan berbagai fasilitas pendukungnya, seperti laboratorium, ruang peraga dan ruang kuliah.

Hilang
Namun penyimpanan fosil hewan purba di museum pun tak menjamin keamanannya. Kompas, 17 Februari 1982 mencatat, Calicoblastus, fosil hewan purba yang hidup di laut, ditemukan tahun 1968 dan disimpan di Museum Universitas Nusa Cendana (Undana) Kupang. Namun fosil itu tak ada lagi di tempatnya sejak 1969. Di tempat penyimpanan dipajang duplikatnya yang tak sesuai bentuk aslinya.

Ketika itu, sang rektor bahkan berkomentar, “Bagi Undana fosil itu tak ada nilai apa-apa”. Direktur Sejarah dan Purbakala Drs Uka Tjandrasasmita menyayangkan sikap tak menghargai barang temuan arkain (kuno), padahal ini berkaitan erat dengan profesi ilmu pengetahuan.

KOMPAS/RUNIK SRI ASTUTI–Petugas Museum Trinil Agus Hadi sedang membersihkan zat-zat yang menempel pada fosil geraham gajah purba, di Museum Trinil, Kabupaten Ngawi, Jawa Timur, Rabu (20/4/2011). Kegiatan pembersihan yang disebut konservasi ini memerlukan waktu selama berbulan-bulan karena memerlukan ketelitian dan kehati-hatian supaya tidak merusak fosil. Selama 2010 ditemukan sedikitnya 200 fosil baru oleh masyarakat di Desa Kawu, Kecamatan Kedunggalar, Ngawi.

Fosil hewan purba juga diselundupkan ke luar Indonesia. Tahun 1982 petugas bea cukai di Pelabuhan Semarang, Jateng menyita puluhan kilogram peti berisi fosil hewan purba dan arca kuno yang dikirimkan dari toko kerajinan di jalan Slamet Riyadi, Solo, ke Hernu Peron di Paris, Perancis.

Peti yang hendak diselundupkan itu berisi 17 fosil hewan purba dan 20 arca kuno. Fosil hewan purba itu berupa fosil gajah, banteng (Bibos), badak dan kuda air yang diperkirakan berusia 500.000 tahun. Fosil diduga berasal dari Sangiran yang merupakan situs purbakala dan terletak sekitar 15 kilometer utara Solo.

Sementara Kompas, 23 Oktober 1993 menulis tentang tengkulak di Sangiran yang melakukan transaksi jutaan rupiah untuk fosil hewan purba. Transaksi yang diduga dilakukan jaringan sindikat itu berlangsung di Bali. Pembelinya antara lain berasal dari AS, Inggris, Jepang, dan Thailand. Selain fosil hewan purba seperti stegodon dan fosil badak (Rhinoceros), tengkorak manusia Pithecanthropus pun banyak peminatnya.

Tahun 1993 petugas bea cukai Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) menemukan sekitar 100 fosil yang diperkirakan dari Sangiran hendak dikirim ke Washington, AS. Fosil dari zaman Paleolitik, sekitar 500.000-1 juta tahun itu antara lain berupa gading gajah purba, kepala kerbau, kepala buaya purba, juga fosil kepala manusia.

Pencurian fosil kembali terjadi tahun 2007 di Gubug Penceng, tempat penyimpanan fosil di kawasan Situs Patiayam, Desa Terban, Kecamatan Jekulo, Kabupaten Kudus, Jateng. Fosil yang hilang antara lain gading gajah purba (Stegodon trigonocephalus) sepanjang sekitar satu meter.

Bengawan Solo
Sangiran sebagai salah satu situs purbakala seakan memiliki “tradisi”, setiap hujan deras turun merupakan rezeki bagi penduduk sekitar. Biasanya seusai hujan, sebagian tanah longsor dan fosil-fosil pun muncul ke permukaan secara alamiah. Warga tinggal memungut dan menjual fosil kepada siapa saja yang berminat. Hal ini sudah berlangsung sejak tahun 1930 ketika Von Koenigswald menemukan tempurung kepala manusia purba di Sangiran (Kompas, 18 Desember 1982).

Tahun 1984 di Desa Mulyorejo, Cepu ditemukan fosil hewan purba berupa tulang rahang bawah sepanjang 60 sentimeter. Sebagian ahli meyakini, Bengawan Solo yang panjangnya sekitar 600 kilometer, sungai terpanjang di Pulau Jawa itu, memiliki fungsi penting sejak dahulu.

KOMPAS/AMBROSIUS HARTO–Juru Pelihara Museum Trinil, Catur Gumono, Minggu (27/8/2017), memandang bentang alam Sungai Bengawan Solo, di Situs Trinil, Ngawi, Jawa Timur. Sejak temuan fosil manusia dan binatang pada 1891 oleh ilmuwan Belanda, Eugene FT Dubois, hingga kini, di Situs Trinil berbagai fosil binatang purba masih kerap ditemukan oleh kalangan warga.

Hal ini antara lain bisa dilihat dari penemuan fosil purba yang umumnya di lokasi yang terletak di tepi Bengawan Solo, seperti Sangiran, Surakarta, Desa Ngandong, Ngawi, Desa Mulyorejo, Cepu, Desa Lajukidul dan Desa Kedungmulyo, Kabupaten Tuban, serta Desa Jawik, Bojonegoro.

Tak hanya di Jateng dan Jatim, fosil hewan purba juga ditemukan di Desa Cisompet, Jatisari, Sukanagara dan Desa Cikondang, Garut, Jabar pada 1985. Benda-benda itu menjadi bahan penelitian di Museum Geologi, Bandung. Pada tahun yang sama fosil hewan purba kembali ditemukan di Desa Jawik, Kecamatan Tambakrejo, Bojonegoro, Jatim, di tepi Sungai Tinggang, salah satu anak sungai Bengawan Solo.

Tahun 1989 ditemukan fosil gajah purba, kerbau purba dan kura-kura purba di bawah lapisan cadas sedalam sekitar 7-9 meter dari permukaan tanah di Desa Sukamandi, Kabupaten Bekasi, Jabar.

Tahun 1992 ditemukan lagi fosil hewan purba di tepi Kali Kening, salah satu anak sungai Bengawan Solo di Kabupaten Tuban, Jatim. Tahun 1994 di tepi Sungai Kalitidu yang juga anak sungai Bengawan Solo di Kabupaten Bojonegoro, Jatim, kembali ditemukan fosil hewan purba yang antara lain berupa tanduk, gading, tulang rahang lengkap dengan deretan gigi dan tulang sendi.

Penemuan fosil tulang hewan purba di Kabupaten Bojonegoro kembali dilaporkan ke Suaka Peninggalan Sejarah dan Purbakala Jatim pada 1998. Bahkan siswa-siswa SMP Tambaksari, Kecamatan Rancah, Ciamis Timur, Jabar juga menemukan fosil hewan purba berupa potongan gigi, tulang kepala, tulang panggul, dan batu berbentuk kepala ular (Kompas, 26 Januari 1998).

Penemuan itu diprakarsai guru IPA, Darwa Hardiaruhjana yang ingin siswanya melakukan praktek di lapangan. Siswa yang menemukan fosil diberi nilai tambah dalam praktikum. Temuan itu kemudian disusul dengan temuan-temuan lain di Sumedang dan di Situs Rancah, Kabupaten Ciamis, Jabar. Temuan itu antara lain berupa fosil kerbau purba dan rusa purba. Sampai tahun 2001 temuan fosil hewan purba di Situs Rancah terus berlangsung.

Tahun 2008 ditemukan fosil hewan purba dari keluarga Elephantidae (gajah), Bovidae (bison, kerbau dll), Cervidae (rusa dll), Chamidae (tiram), Corbiculidae (kerang-kerangan), Felidae (kucing, harimau dll), Hominidae (kera, simpanse), Suidae (babi rusa), Testunidae (kura-kura), dan Tridacnidae (kerang raksasa) di Situs Patiayam, Desa Terban, Kecamatan Jekulo, Kabupaten Kudus, Jateng.

Migrasi hewan
Tahun 1988 fosil gajah purba dan babi purba ditemukan di lokasi penambangan timah di Pulau Bangka, Sumatera. Atas penemuan ini, guru besar geologi Institut Teknologi Bandung (ITB) Prof. S. Sartono menyatakan, hal ini memperkuat teori jalur migrasi hewan dari Asia melalui Semenanjung Malaya, lalu ke Pulau Jawa dan Nusa Tenggara.

Pada masa lalu diperkirakan Semenanjung Malaya, Sumatera, Kalimantan, Jawa dan sebagian Nusa Tenggara merupakan sebuah dataran yang luas (Kompas, 7 Maret 1988).

ANTARA/YUSUF NUGROHO–Pengunjung mengamati replika fosil gajah purba (Stegodon trigonochepalus) koleksi Museum Situs Purba Pati Ayam, di Desa Terban, Jekulo, Kudus, Jawa Tengah, Senin (5/3/2018). Museum yang memiliki persamaan dengan Situs Sangiran dan Trinil, dan memiliki koleksi seperti fosil manusia purba, fauna vertebrata dan invertebrata tersebut masih sepi pengunjung meski tidak dipungut biaya untuk pengunjung.

Fosil gading dan patahan tulang iga gajah purba ditemukan lagi di Desa Medalem, Kecamatan Kradenan, Kabupaten Blora, Jateng, sekitar 100 meter dari Bengawan Solo pada tahun 2009. Temuan ini kemudian didalami Tim Vertebrata Museum Geologi Bandung.

Hasilnya, fosil gajah purba itu diperkirakan berusia 200.000 tahun, panjangnya 5 meter dari kepala hingga ujung tulang ekor, tinggi sekitar 3,75-4 meter dan beratnya sekitar 10 ton. Dana untuk meneliti, mempreparasi dan rekonstruksi gajah purba itu sekitar Rp 2,5 miliar (Kompas, 30 September 2009).

Tahun 2010 ditemukan lagi fosil gajah purba di Kabupaten Sragen yang dilaporkan kepada Balai Pelestari Situs Manusia Purba Sangiran atau BPSMPS. Sementara Kompas, 1 September 2012 menulis tentang fosil hewan purba yang ditemukan di Sulawesi.

Fosil itu berupa gajah kerdil (Elephas celebensis) dengan dua pasang gading di rahang atas dan rahang bawah, Stegodon sompoensi (sejenis gajah kerdil), dan Celebochoerus heekereni (sejanis babi dengan ciri khas taring atas sangat besar). Fosil di Sulawesi menunjukkan tipe fauna yang hidup di lingkungan pulau terisolasi. Fosil gajah kerdil ini serupa dengan Stegodon sondarii yang ditemukan di Cekungan Soa, Flores, NTT.

Sampai 2017 fosil hewan purba masih ditemukan, antara lain di Situs Trinil, Kabupaten Ngawi, Jatim. Fosil itu berupa rahang bawah dan pinggul gajah purba. Situs Trinil menjadi salah satu situs besar paleoantropologi yang diyakini masih menyimpan banyak fosil purbakala.

Hingga kini penggalian di Situs Trinil relatif masih sedikit. Ini menjadi tantangan sekaligus pekerjaan rumah bagi anak bangsa Indonesia. Menyibak misteri fosil hewan purba, diharapkan bisa menghasilkan pengetahuan tentang makhluk hidup termasuk lingkungan asal muasal leluhur bangsa Indonesia. Pengetahuan itu akan menjadi pembelajaran bagi masa depan bangsa. (Arsip harian Kompas, 14 September 1965 – 28 Agustus 2017)–CHRIS PUDJIASTUTI

Sumber: Kompas, 3 Agustus 2018

Yuk kasih komentar pakai facebook mu yang keren

Informasi terkait

Tak Wajib Publikasi di Jurnal Scopus, Berapa Jurnal Ilmiah yang Harus Dicapai Dosen untuk Angka Kredit?
Empat Bidang Ilmu FEB UGM Masuk Peringkat 178-250 Dunia
Siap Diuji Coba, Begini Cara Kerja Internet Starlink di IKN
Riset Kulit Jeruk untuk Kanker & Tumor, Alumnus Sarjana Terapan Undip Dapat 3 Paten
Ramai soal Lulusan S2 Disebut Susah Dapat Kerja, Ini Kata Kemenaker
Lulus Predikat Cumlaude, Petrus Kasihiw Resmi Sandang Gelar Doktor Tercepat
Kemendikbudristek Kirim 17 Rektor PTN untuk Ikut Pelatihan di Korsel
Ini Beda Kereta Cepat Jakarta-Surabaya Versi Jepang dan Cina
Berita ini 4 kali dibaca

Informasi terkait

Rabu, 24 April 2024 - 16:17 WIB

Tak Wajib Publikasi di Jurnal Scopus, Berapa Jurnal Ilmiah yang Harus Dicapai Dosen untuk Angka Kredit?

Rabu, 24 April 2024 - 16:13 WIB

Empat Bidang Ilmu FEB UGM Masuk Peringkat 178-250 Dunia

Rabu, 24 April 2024 - 16:09 WIB

Siap Diuji Coba, Begini Cara Kerja Internet Starlink di IKN

Rabu, 24 April 2024 - 13:24 WIB

Riset Kulit Jeruk untuk Kanker & Tumor, Alumnus Sarjana Terapan Undip Dapat 3 Paten

Rabu, 24 April 2024 - 13:20 WIB

Ramai soal Lulusan S2 Disebut Susah Dapat Kerja, Ini Kata Kemenaker

Berita Terbaru

Tim Gamaforce Universitas Gadjah Mada menerbangkan karya mereka yang memenangi Kontes Robot Terbang Indonesia di Lapangan Pancasila UGM, Yogyakarta, Jumat (7/12/2018). Tim yang terdiri dari mahasiswa UGM dari berbagai jurusan itu dibentuk tahun 2013 dan menjadi wadah pengembangan kemampuan para anggotanya dalam pengembangan teknologi robot terbang.

KOMPAS/FERGANATA INDRA RIATMOKO (DRA)
07-12-2018

Berita

Empat Bidang Ilmu FEB UGM Masuk Peringkat 178-250 Dunia

Rabu, 24 Apr 2024 - 16:13 WIB