Home / Artikel / Normal Baru dan Amnesia Lingkungan

Normal Baru dan Amnesia Lingkungan

Langit biru nan cerah selalu membangkitkan kekaguman. Langit biru sekaligus mengobati kerinduan para penghuni kota yang sehari-hari disuguhi citra langit yang kusam nan muram.

Langit biru nan cerah selalu membangkitkan kekaguman. Langit biru sekaligus mengobati kerinduan para penghuni kota yang sehari-hari disuguhi citra langit yang kusam nan muram. Maka, tak heran, gambar langit biru dan jernih yang diambil di banyak kota besar dunia yang sedang di-lockdown akibat pandemi Covid-19 mengundang decak kagum kita semua.

Citra lingkungan yang murni, bersih tak tercemar, telah mengembuskan getaran kebahagiaan ekologis universal. Media pun berlomba menyampaikan aneka kabar baik tentang pemulihan kualitas lingkungan. Media Inggris, The Independent, menyebut virus korona tipe baru dapat memicu penurunan kadar karbondioksida global hingga 5 persen, terbesar sejak Perang Dunia II. Begitu pula kadar nitrogen dioksida dan particulate matter atmosfer enam mingguan (1/1/2020-10/2/2020) turun sepertiga hingga setengahnya pada 15/2/2020-25/3/2020.

Dengan penurunan ini udara jadi lebih sehat. Perubahan langit selama masa pembatasan Covid-19 ini sempat memunculkan harapan tentang hadirnya kota-kota dengan kualitas lingkungan yang lebih baik. Sayangnya, harapan itu hanya berlangsung sesaat. Seiring dengan dikumandangkannya aba-aba masa ”normal baru”, langit mulai suram oleh selimut kabut dan asap. Dengan mengusung pemulihan ekonomi sebagai mantra utama masa normal baru, bisa dipastikan dunia akan segera melupakan keindahan sesaat itu. Yang terjadi adalah sebuah amnesia.

Keutuhan lingkungan (environmental integrity) untuk kesekian kalinya harus terkalahkan oleh kemendesakan ekonomi. Amnesia lingkungan ini seolah menegaskan ungkapan Joan Didion, penulis Inggris, bahwa kita (manusia) cenderung cepat melupakan perkara-perkara baik yang kita pikir tak akan terlupakan. Kekaguman pada langit biru-cerah yang memberikan kebahagiaan ekologi itu dengan mudah menguap, meninggalkan ruang pergumulan di benak dan hati kita.

Jerat konsumsi
Muhamad Chatib Basri dalam tulisannya di Kompas (8/6) secara lugas dan gamblang menyebut peningkatan konsumsi sebagai jalan pemulihan ekonomi di masa normal baru. ”Jadi, jika ingin menggerakkan ekonomi dalam jangka pendek, tingkatkanlah konsumsi”, demikian diungkapkan. Sangat boleh jadi gagasan ini mewakili keyakinan kebanyakan ekonom.

Anjuran untuk peningkatan konsumsi ini mengingatkan saya pada tulisan lama aktivis cum pemikir lingkungan Kanada, David Suzuki, lebih dari dua dasawarsa lalu. Dalam bukunya Earth Time (1998), Suzuki menyatakan bahwa peningkatan konsumsi merupakan bagian integral dari perekonomian yang terus bertumbuh.

Suzuki juga mengingatkan bahwa sejak 1907 sudah ada ekonom yang kritis terhadap kecenderungan konsumsi ini. Salah satunya Simon Patten Nelson yang berujar, ”The new morality does not consist in saving but in expanding consumption.” Rupanya anjuran untuk menggenjot konsumsi pascakrisis memang sebuah skema generik. Selepas Perang Dunia II, misalnya, Ketua Dewan Penasihat Ekonomi Presiden Eisenhower mencanangkan bahwa tujuan paripurna ekonomi AS adalah menghasilkan lebih banyak barang konsumsi.

Konsumsi dianggap solusi bagi perekonomian AS yang melambat selepas Perang Dunia II. Analis Victor Lebow bahkan menyatakan bahwa kemampuan produksi AS yang hebat menuntut konsumsi menjadi cara hidup baru. Membeli dan menggunakan barang hasil industri harus diubah menjadi semacam ritual. Barang harus dibeli, dipakai, rusak, diganti, dan dibuang dalam laju yang terus meningkat (lihat A David Suzuki Collection, 2002).

Ketika cara hidup baru itu dijalankan, batas antara kebutuhan (need) dan keinginan (want) menjadi kabur. Paul Wachtel dalam bukunya The Poverty of Affluence secara tepat menggambarkan kekaburan antara kebutuhan dan keinginan itu dalam kalimat: ”Having more and newer things each year has become not just something we want but something we need”. Keinginan untuk memiliki kekayaan—dalam wujud berbagai macam barang—yang terus meningkat menjadi inti dari identitas dan rasa aman manusia.

Kita terjerat oleh candu konsumsi ini. Menurut Suzuki, membeli barang, terutama barang berharga atau mewah, bisa secara langsung membangkitkan kepuasan dan rasa pencapaian tertentu. Ketika suatu barang sudah tak baru lagi, yang muncul adalah rasa suwung (kosong). Kekosongan inilah yang kemudian diisi oleh iming-iming pembelian berikutnya. Begitulah daur jerat konsumsi terus berputar. Lockdown dan sejumlah pembatasan saat pandemi berlangsung sebenarnya telah mengajarkan kita bahwa konsumsi bisa dibatasi.

Tanpa konsumsi untuk kepuasan hedonik hidup tetap berjalan, dan justru memberi guratan cantik pada wajah bumi. Terhalangnya berbagai jamuan makan dan penjelajahan kuliner, baik di hotel maupun restoran selama masa pembatasan, secara langsung tentu menurunkan jumlah limbah pangan. Sering kali, atas nama keramahan dan gengsi, makanan yang disajikan di berbagai acara jamuan makan cenderung berlebih. Kecenderungan ini diperparah oleh kebiasaan para tamu untuk tak menyantap habis makanan yang mereka pesan atau ambil, atas nama sopan santun atau harga diri.

Amnesia
Sayangnya, Covid-19 hanya berhasil sesaat menghentikan kecenderungan dan kebiasaan konsumsi hedonik. Seiring dengan menguatnya wacana pemberlakuan fase ”normal baru”, dapat diprediksi bahwa restoran dan tempat wisata akan segera disibukkan oleh kehadiran pengunjung. Tanda-tanda pulihnya konsumsi amat kentara di kalangan menengah atas. Sebagai kelompok yang terkendala konsumsi hedoniknya oleh pembatasan, kalangan menengah ke atas pulalah yang akan melakukan ”balas dendam” konsumsi ketika ada pelonggaran.

CNN Business (11/6) melaporkan di China penjualan barang-barang mewah, seperti tas, sepatu, dan perhiasan, telah mengalami pemulihan. Fenomena ”belanja balas dendam” (revenge spending) sedang berlangsung di negeri tirai bambu itu, bak katup yang terbuka setelah terkunci beberapa saat. Pemulihan konsumsi hedonik ini tampaknya berkorelasi dengan kembalinya pencemaran udara di China ke arah sebelum pandemi.

Apa yang berlangsung di China bukan tak mungkin segera terjadi pula di sini. Optimisme pulihnya pasar oleh dua pabrikan mobil mewah BMW dan Mercedes-Benz (Kompas, 11/6), misalnya, bisa jadi petunjuk pulihnya gairah konsumsi hedonik di Indonesia. Rupanya manusia memang amat cepat mengalami amnesia. Cara hidup sak madya (secukupnya) yang dipaksakan oleh pandemi Covid-19—selama lebih dari 100 hari—ternyata tidak meninggalkan bekas yang terlalu dalam. Begitu palang pintu dibuka, manusia langsung memacu konsumsinya dan kembali menorehkan guratan-guratan luka pada wajah bumi.

Budi Widianarko Pengajar Program Doktor Ilmu Lingkungan, Unika Soegijapranata

Sumber: Kompas, 29 Juni 2020

Share
x

Check Also

Rasionalisasi Penerapan Kriteria ”Sembuh” dari Covid-19

Berkaca dari penerapan normal baru di sejumlah daerah di Indonesia, normal baru yang diterapkan dianggap ...

%d blogger menyukai ini: