Home / Berita / Mungkinkah Teknologi “Membersihkan” Citra Minyak Sawit?

Mungkinkah Teknologi “Membersihkan” Citra Minyak Sawit?

Tidak seperti komoditas kakao atau kopi, minyak sawit sering tidak dilihat sebagai komoditas yang berkelanjutan atau bertanggung jawab terhadap lingkungan. Minyak sawit justru dicitrakan sebagai komiditas yang menyumbang deforestrasi dan memperburuk dampak perubahan iklim.

Kondisi itulah yang seringkali menghambat perdagangan minyak sawit dari negara-negara produsen utama seperti Malaysia dan Indonesia ke Eropa sebagai tujuan ekspor, misalnya.

REUTERS/LAI SENG SING–Seorang pekerja di perkebunan kelapa sawit di Bahau, Negeri Sembilan, Malaysia memanen kelapa sawit Rabu (30/1/2019).

Di saat yang sama bermunculan produk konsumen dan makanan olahan dengan klaim label yang lebih “bertanggung jawab”, “berkelanjutan”, atau “hijau” yang menjawab naiknya kesadaran konsumen akan produk yang “hijau” atau “ramah lingkungan”.

“Kesadaran masyarakat meningkat,” kata analis konsumen dari Liberium, Robert Waldschmit. “Orang-orang menginginkan produk yang sumbernya lebih menjamin keberlanjutan,” tambahnya.

Deforestrasi
Tak ingin pasokan minyak sawit justru menyumbang deforestrasi muncul komitmen dari para pembeli minyak sawit, yakni perusahaan barang-barang konsumsi multinasional, untuk berkomitmen terhadap nol persen deforestrasi dalam rantai pasok minyak sawit pada tahun 2020 di bawah badan payung global Consumer Goods Forum (CGF).

Harapannya, janji ini memiliki efek ke bawah sehingga semua rantai dalam pasokan minyak sawit mulai dari perkebunan, pabrik kelapa sawit, hingga pengolahan minyak kelapa sawit bebas dari masalah.

Untuk itulah selama bertahun-tahun, pembeli minyak sawit telah menggunakan citra satelit untuk memastikan bahwa minyak sawit yang mereka dapatkan tidak dihasilkan dari proses yang berkontribusi pada kerusakan hutan.

ANTARA FOTO/WAHDI SEPTIAWAN.–Perumahan Orang Rimba berada di tengah perkebunan kelapa sawit warga, Tabir, Merangin, Jambi, Selasa (20/11/2018). Perumahan senilai Rp25 juta per unit tersebut telah ditempati oleh puluhan kepala keluarga (KK) Orang Rimba setempat sejak awal 2018 dengan cara membeli secara tunai dan cicil kepada seorang warga pemilik kebun yang sekaligus menjadi penampung hewan buruan Orang Rimba tersebut. ANTARA FOTO/Wahdi Septiawan.

Bahkan, beberapa perusahaan pengguna minyak sawit utama dunia, termasuk Nestle, Unilever, dan Mondelez, sekarang sedang mencoba teknologi satelit baru untuk melacak deforestasi dalam rantai pasoknya.

Mulai bulan depan, Netle berencana untuk mempublikasikan data yang dikembangkan dari sistem satelit Airbus yang disebut Starling secara daring. Ini dilakukan sebagai bentuk “tanggung jawab atas pabrik” sawit.

Nestle mengatakan bahwa sistem itu akan memberikan peringatan ketika terjadi deforestrasi. Pemasok minyak sawit yang terkait deforestrasi itu akan dimintai pertanggungjawabannya dan untuk sementara pengiriman minyak sawitnya dihentikan.

“Tantangannya adalah bagaimana kita bertindak atas informasi yang ada, siapa pihak yang tepat untuk membereskan masalah deforestrasi ini,” kata Emily Kunen, Pemimpin Global Bahan Baku yang Bertanggung Jawab untuk produk minyak sawit dan makanan laut Nestle.

REUTERS/ LAI SENG SING–Tandan buah segar kelapa sawit siap dikirim ke pabrik Bahau, Negeri Sembilan, Malaysia, Rabu (30/1/2019).

Nestle menyatakan, baru seperempat minyak sawit yang dipakainya memiliki sertifikasi dari Roundtable on Sustainable Palm Oil (RSPO). Total minyak sawit akan bersertifikat RSPO pada tahun 2023. Namun, dengan bantuan satelit, pada tahun 2020, 100 persen minyak sawit yang dipakainya akan bisa “diambil secara bertanggung jawab”.

Ferrero Group dari Italia, yang hanya membeli minyak sawit bersertifikasi RSPO, telah mencoba Starling. Akan tetapi, pembuat Nutella itu masih ingin melihat bagaimana sistem itu bekerja dan menilai hasilnya sebelum memutuskan apakah akan tetap menggunakan sistem itu atau tidak.

“Salah satu pertanyaan yang ingin kita lihat adalah apakah ada sistem peringatan dini di situ,” kata Giulia Di Tommaso, Kepala Komunikasi dan Petugas Keberlanjutan Ferrero. “Apakah Anda bisa mengatasi sebelum deforestasi terjadi, atau apakah sistem itu hanya membuat Anda mengerti ketika kerusakan sudah terjadi?” ujarnya.

Unilever mengatakan pihaknya berada di jalur yang benar menuju pembelian minyak sawit yang sepenuhnya tersertifikasi pada akhir 2019. Unilever juga menggunakan teknologi satelit untuk memantau deforestrasi.

Bersama yang lain, termasuk pemasoknya Cargill dan Wilmar, perusahaan barang konsumsi sedang mengujicobakan alat pelacak satelit yang disebut Global Forest Watch (GFW) Pro, yang akan diluncurkan musim panas nanti.
Wilmar mengatakan mulai Januari lalu pihaknya segera menangguhkan pembelian dari pabrik yang terkait dengan deforestasi yang diidentifikasi oleh GFW.

Pemakaian GFW Pro akan gratis untuk mendorong semua orang agar menggunakannya. Akan tetapi, produsen minyak sawit mengatakan sulit menghitung biaya tindak lanjut deforestrasi jika harga patokan minyak sawit premium sulit ditetapkan.

REUTERS/LAI SENG SING–Seorang pekerja di perkebunan kelapa sawit di Bahau, Negeri Sembilan, Malaysia mengumpulkan tandan buah kelapa sawit, Rabu (30/1/2019).

Manajer Sustainable Commodity and Bussines World Resources Institute (WRI) Andika Putraditama, mengatakan, sebenarnya teknologi yang dipakai oleh para perusahaan pembeli minyak sawit itu tidak terlalu baru.

Platform yang digunakan untuk mengawasi deforestrasi adalah GFW yang dikembangkan juga oleh WRI dan datanya bersumber dari penginderaan jauh satelit Landsat milik Lembaga Aeronautika dan Antariksa (NASA) Amerika Serikat.

Satelit itu bisa memberikan data citra satelit deforestrasi sejak tahun 2011 hingga kini. Semua data itu tersedia untuk publik. Misalnya, data deforetrasi tahun 2011 bisa dibandingkan dengan data deforestrasi tahun 2012. Proses untuk membandingkan kondisi deforestrasi di satu lokasi dilakukan manual sehingga memakan waktu lama.

KOMPAS/SYAHNAN RANGKUTI (SAH)–Tessonilo – Kondisi Taman Nasional Tesso Nilo sekarang ini sudah semakin kritis. Diperkirakan 60.000 hektar kawasan hutan konservasi gajah Sumatera itu, telah dijadikan kebun kelapa sawit. Ribuan penduduk sudah bermukim di lokasi itu.–Kompas/Syahnan Rangkuti (SAH)–03-05-2015

Sejak Google meminjamkan kemampuan komputasi awannya untuk publik dan munculnya algoritma tertentu untuk mengotoatisasi proses akhirnya pembandingan kondisi deforestrasi bisa dilakukan dengan sangat cepat. “Algoritma itu sudah dikalibrasi dengan kondisi negara tropis sehingga akurasinya bisa 90 persen,” ujar Andika.

Masalahnya, data itu tidak bisa memberikan informasi penyebab atau latar belakang juga pelaku deforestrasi di lokasi tersebut.

Beberapa orang di industri mengatakan minyak sawit “kotor” yang dikeluarkan dari rantai pasokan pemain besar akan menemukan pembeli lain di pasar yang berkembang pesat di Asia dan Afrika di mana harga seringkali mengalahkan keberlanjutan.

“Jika minyak diproduksi, industri akan menemukan cara untuk memasarkannya,” kata Jonathan Horrell, Direktur Keberlanjutan Cadbury Mondelez International.

Hasil wawancara dengan para pemiliki merek barang konsumsi terkenal, pedagang komoditas, juga para pemilik kebun memperlihatkan bahwa sistem surveilans menggunakan satelit tetap memiliki keterbatasan. Beberapa mengatakan teknologi itu tidak cukup untuk menghentikan deforestasi, pemantauan yang dilakukan tidak mencegah deforestrasi. Yang lain khawatir boikot atas minyak sawit yang dihasilkan secara tidak bertanggung jawab hanya akan mendorong praktik buruk di tempat lain.

Hal itu menunjukkan bahwa solusi atas tudingan deforestrasi terhadap komoditas minyak sawit tidak mudah dicari.(REUTERS)–ADHITYA RAMADHAN

Sumber: Kompas, 14 Februari 2019

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*

code

x

Check Also

Peran dan Kontribusi Akademisi Lokal Perlu Ditingkatkan

Hasil riset akademisi memerlukan dukungan akses pasar. Kolaborasi perguruan tinggi dan industri perlu dibangun sedini ...

%d blogger menyukai ini: