Home / Sosok / Muhammad Haris; Mengubah Musibah Menjadi Berkah

Muhammad Haris; Mengubah Musibah Menjadi Berkah

Ibarat jatuh tertimpa tangga. Itulah yang dialami Muhammad Haris (34) saat dia mengalami kecelakaan di jalan raya. Ia luka parah sekaligus kehilangan istri tercinta. Namun, ia segera bangkit dari kesedihan dengan memulai bisnis. Ia dengan cepat mengubah musibah menjadi berkah.

Musibah itu tidak mungkin dihindari. Sedih itu pasti, tetapi nelangsa itu pilihan,” ujarnya sembari tersenyum saat ditemui di rumahnya di Desa Kebonrejo, Kecamatan Candimulyo, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah, dua pekan lalu.

Haris menuturkan, kejadian tragis pada 2012 itu yang belakangan mengubah jalan hidupnya. Waktu itu, empat hari setelah Lebaran, Haris yang sedang mengendarai sepeda motor bersama istrinya ditabrak mobil sehingga terlempar dan masuk ke selokan di tepi jalan. Akibatnya, Haris mengalami luka parah di bagian kaki dan istri yang baru dinikahinya sekitar satu bulan meninggal.

Setelah musibah tersebut, Haris mesti menjalani perawatan intensif di rumah sakit selama 18 hari. Setelah itu, perawatan dilanjutkan di rumah selama dua tahun. Dua kali sehari, perawat datang ke rumahnya untuk membantu mengganti perban. Ia pun merasa jenuh.

Haris yang dulu berjualan batik ingin menyibukkan diri agar rasa jenuh dan sedih segera hilang. Karena setiap hari “berhubungan” dengan perban, ia terinspirasi jualan kain kasa untuk perban secara online.

Ia mulai mencari-cari produsen kain kasa yang tepat dan akhirnya menemukannya di Pekalongan, Jawa Tengah. Dalam kondisi belum bisa banyak bergerak, Haris memulai bisnisnya. Ia mengantar pesanan konsumen dibantu ayahnya.

Tidak disangka, dalam waktu sebulan saja, permintaan datang dari berbagai tempat, termasuk dari Universitas Tjut Nyak Dhien, Medan, Sumatera Utara. Ia tambah bersemangat membangun bisnis baru. Belakangan, bisnis ini mempertemukannya dengan banyak perawat dan dokter di sejumlah rumah sakit.

Suatu ketika, dalam pertemuan dengan seorang dokter di sebuah rumah sakit di Kota Magelang, Haris bercerita tentang kecelakaan dan luka yang dialami. Dokter yang kebetulan bekerja di unit perawatan untuk diabetes melihat luka di kaki Haris dan terkejut melihat kondisinya. Seketika, dokter tersebut menyarankan Haris berhenti mengonsumsi obat-obatan kimia dan menyarankan ia beralih menggunakan pengobatan lain. “Dokter menyarankan saya mengonsumsi madu dan yang paling tepat untuk mengobati luka di kaki saya adalah madu lebah lanceng,” ujarnya.

Lebah lanceng (Apis trigona) adalah sejenis lebah yang biasa membangun sarang dalam bilah-bilah bambu di rumah warga. Di beberapa daerah, lebah ini disebut klanceng.

Madu dan pemuda desa

Penasaran dengan saran dokter itu, Haris mencari tahu khasiat madu lanceng. Keingintahuannya itu menggiring Haris membaca lebih banyak tentang lebah lanceng dan mempelajari sentra peternakan lebah lanceng di sejumlah negara, antara lain di Brasil dan Malaysia. Terkesima dengan apa yang dibacanya, Haris tidak hanya memutuskan menggunakan lebah lanceng untuk pengobatan, tetapi juga tertarik membudidayakannya.

Pada 2014, ia memulai langkahnya dengan mengumpulkan 25 pemuda di desanya yang sebagian besar penganggur. Ia membentuk kelompok bernama Gubug Lanceng. Awalnya, kelompok ini mencari madu lebah lanceng dari rumah-rumah penduduk di Desa Kebonrejo. Madu yang mereka kumpulkan dibeli Haris Rp 100.000 per liter.

“Kepada para pemuda yang belum memiliki modal (untuk membeli sarang lebah lanceng dari warga), saya memberi bantuan modal antara Rp 50.000 dan Rp 100.000 per orang,” ujarnya.

Aktivitas tersebut terus berlangsung hingga sekarang. Harga pembelian madu dinaikkan menjadi Rp 125.000 per liter agar semakin banyak pemuda desa yang mau mencari madu lebah lanceng. Sembari mengumpulkan madu dari alam, Haris dan kelompoknya belajar tentang budidaya lebah lanceng. “Kami sama-sama belajar. Tidak ada yang lebih pintar di antara kami,” ujarnya.

Untuk mencari lebah-lebah yang akan diternakkan, para pemuda mencari sarang lebah yang ada di rumah-rumah warga. Setiap menemukan 10 kotak sarang, para pemuda memberikan satu kotak sarang untuk Haris sebagai ucapan terima kasih karena sudah dilibatkan dalam budidaya lebah lanceng. “Jumlah kotak sarang pemberian mereka pernah mencapai 400 kotak,” ujarnya.

Gubug Lanceng akhirnya mampu beternak lebah. Haris dan kawan-kawan bisa memanen 50-60 liter madu per bulan dan menjualnya ke sejumlah kota di Jawa dan Sumatera. Bahkan, sebagian ada yang dijual ke Malaysia, Singapura, dan Tiongkok. Omzet yang mereka cetak Rp 17 juta hingga Rp 20 juta per bulan.

Haris senang dengan kemajuan yang dicapai Gubug Lanceng. Lebih senang lagi karena kegiatan produktif itu sedikit demi sedikit bisa mengubah kebiasaan buruk para pemuda desa. Dulu mereka suka mabuk-mabukan, kini tidak lagi. Mereka sadar bahwa uang yang mereka peroleh dengan susah payah dari usaha budidaya lebah lanceng tidak boleh dihambur-hamburkan untuk membeli minuman keras. Budidaya lebah lanceng di Desa Kebonrejo juga berdampak positif pada lingkungan sekitar. Agar lebah lanceng betah bersarang di kampungnya, warga menanam dan merawat lebih banyak tanaman.

Haris kini tengah berpikir keras agar usaha bersama itu bisa berkembang. Dia menargetkan, suatu saat bisa mendirikan gerai khusus madu di kampungnya serta menarik banyak orang berkunjung ke desanya yang juga memiliki durian lezat dan usaha pengolahan gula semut. “Dengan semua potensi lokal yang dimiliki, saya berharap kampung saya bisa menjadi kawasan agrowisata,” ujarnya.

Tempat belajar
Karena kesuksesannya, Haris sering diundang menjadi pembicara di sejumlah kota setahun terakhir ini. Tahun lalu, Haris diundang dalam acara musyawarah nasional peternak lebah se-Indonesia di Cikole, Jawa Barat. Ia juga dengan senang hati membagi ilmu budidaya lebah lanceng kepada mereka yang menginginkannya. Belum lama ini, ada rombongan dari Bali yang datang ke rumahnya untuk studi banding tentang peternakan lebah.

Dari situ, ia bisa membuat jaringan di antara peternak lebah madu. Kini, ia telah bekerja sama dengan tiga peternak lebah lanceng di Sragen, Riau, dan Makassar. Tiga peternak itulah yang membantu menyuplai madu saat Haris dan kawan-kawan kekurangan stok madu lebah lanceng.

Keberhasilan yang dicapai saat ini adalah bagian dari upaya Haris untuk segera bangkit dari kesedihan karena kecelakaan dan kehilangan istri. “Ada orang yang sempat bertanya kepada saya, mengapa saya bisa menjalani hidup setenang itu? Saya cuma menjawab bahwa saya mempelajari semuanya dari Kungfu Panda,” ujarnya sembari terkekeh.

Dia menuturkan, dalam film Kungfu Panda ada ungkapan, “Kemarin adalah sejarah, masa depan adalah misteri, tetapi hari ini adalah anugerah.”

Madu lebah lanceng adalah anugerah manis untuk ketabahan dan kerja keras Haris dan warga Desa Kebonrejo.
dc37451c40d948808064ba620887807cKOMPAS/REGINA RUKMORINI

MUHAMMAD HARIS

Lahir:
8 Oktober 1982

Pendidikan:
SMK 45
Belajar 10 tahun di Pondok Pesantren Lirboyo, Jawa Timur

Pekerjaan:
Praktisi dan peternak lebah lanceng
Memberdayakan pemuda desa tahun 2014

REGINA RUKMORINI
————–
Versi cetak artikel ini terbit di harian Kompas edisi 5 April 2016, di halaman 16 dengan judul “Mengubah Musibah Menjadi Berkah”.

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*

code

%d blogger menyukai ini: