Home / Berita / Movimax Orion, Modem Lokal untuk Peluru Baru Bolt

Movimax Orion, Modem Lokal untuk Peluru Baru Bolt

Sejak mengawali layanan internet long term evolution (LTE) secara komersial pada tanggal 10 Januari 2014, nama produk Bolt! (biasa disebut Bolt saja) yang dikelola PT Internux memiliki keunggulan dibandingkan operator telekomunikasi yang baru bisa meresmikan layanan serupa di akhir tahun yang sama. Tentu ada perbedaan antara Bolt dengan operator yang sudah ada.
Perbedaan utama terletak pada lisensi untuk menggelar internet kecepatan tinggi melalui time division duplex (TDD) di frekuensi 2.300 Mhz, sementara para operator menggunakan metode frequency division duplex (FDD) pada frekuensi 900 Mhz dan diikuti oleh frekuensi-frekuensi lain, seperti 1.800 Mhz dan 2.100 Mhz.

Lisensi yang dimiliki Bolt membatasi mereka untuk memberi layanan data, tidak mencakup panggilan suara dan pesan singkat seperti dimiliki operator telekomunikasi. Selain itu, mereka terbatas dengan lisensi operasi di wilayah Jabodetabek dan sebagian wilayah Banten serta Kota Medan.

Dalam kurun satu tahun, penyedia layanan internet ini mencatatkan sejumlah keberhasilan, seperti mencapai satu juta pelanggan pada Februari 2015 dan memperluas pelayanan ke Kota Medan pada Maret. Hingga tulisan ini dibuat, pelanggan Bolt sudah mencapai angka 1,4 juta orang dan baru mencatatkan 20.000 pelanggan dari Kota Medan.

Ujung tombak dari layanan internet yang diberikan Bolt adalah jaringan yang tersedia di sebagian besar titik perumahan, perkantoran, dan pusat keramaian di Ibu Kota, sementara operator masih berjuang menggelar uji coba dengan memprioritaskan kawasan-kawasan niaga. Pendekatan kepada konsumen yang dipilih adalah menghadirkan perangkat mobile Wi-Fi atau Mi-Fi.

Perangkat ini bila dimasukkan kartu SIM Bolt akan berperan sebagai hotspot dan bisa dimanfaatkan oleh beberapa gawai sekaligus. Mi-Fi ternyata mampu menarik minat konsumen karena mereka bisa membawa modem itu selama berada di Jakarta, atau misalnya naik kereta komuter untuk berangkat kerja.

Disambungkan ke komputer, perangkat ini bisa menghadirkan kecepatan yang lebih optimal. Sebuah survei atas perilaku konsumen yang dilakukan oleh Bolt menunjukkan bahwa 70 persen penggunaan Mi-Fi terjadi pada siang hari dan 30 persen dilakukan di komputer, angka tersebut berbalik pada malam hari.

Keterbatasan lisensi untuk menghadirkan layanan internet saja tidak menghalangi PT Internux untuk mencari celah. Salah satunya dengan menghadirkan Powerphone, yakni ponsel pintar dengan dua tempat SIM, satu berisi kartu Bolt untuk koneksi internet dan satu tempat untuk kartu SIM GSM untuk telepon dan pesan singkat.

“Sayangnya jumlah penggunanya tidak banyak, hanya 50.000 orang. Penyebabnya adalah pengguna yang enggan untuk beralih dari perangkat yang sudah dimiliki,” kata Chief Commercial Officer Bolt Larry Ridwan.

144a0745c399447bbfc3dc21218ceed2Modem 4G Movimax Orion yang beroperasi di jaringan long term evolution milik Bolt (kiri) berdekatan dengan modem serupa buatan ZTE yang menjadi generasi pertama sejak layanan yang digelar PT Internux pertama kali dilakukan tahun 2014, Rabu (8/4).Kompas/Didit Putra Erlangga Rahardjo

Itulah mengapa Mi-Fi menjadi senjata utama Bolt untuk memantapkan pasar sebelum pemain besar berdatangan dengan layanan serupa. Larry mengatakan bahwa potensi pengguna internet di Jakarta setidaknya sebanyak 12 juta dan mereka belum merangkul 10 persen darinya.

Tiga Jenis
Bolt menggandeng beberapa vendor untuk menyuplai Mi-Fi yang bisa memancarkan koneksi 4G sejak memulai operasinya, seperti ZTE dan Huawei. ZTE MF90 adalah produk Mi-Fi pertama yang diperkenalkan Bolt dengan tiga lampu penunjuk didampingi satu tombol daya dan satu tombol Wi-Fi Protected Setup (WPS) untuk koneksi dengan perangkat secara mudah.

Huawei E5372S atau Bolt Slim yang diperkenalkan lima bulan setelah peluncuran memiliki layar untuk menampilkan informasi mengenai volume data yang dipancarkan berikut kode QR untuk memasangkan dengan perangkat tanpa harus memasukkan kode sandi. Dua tipe tersebut bekerja di kategori tiga yang mampu memfasilitasi lalu lintas data internet dengan kecepatan maksimal untuk pengunduhan hingga 100 megabit per detik dan pengunggahan sebesar 50 megabit per detik.

144a0745c399447bbfc3dc21218ceed2Bolt! merupakan layanan internet berkecepatan tinggi di jaringan 4G yang beroperasi pada frekuensi 2.300 Mhz dan sudah melayani 1,4 juta pelanggan di kawasan Jabodetabek dan Provinsi Banten serta Kota Medan, Rabu (15/4). Mereka tengah mengantisipasi persaingan yang kian ketat dengan operator telekomunikasi yang juga menggelar layanan internet 4G sejak akhir tahun 2014.Kompas/Didit Putra Erlangga Rahardjo

Setahun setelah beroperasi, Bolt memperkenalkan modem generasi ketiga dengan menggunakan merek Movimax dengan perangkat seri MV1 atau memiliki kode Orion. Perangkat ini juga memiliki layar di bagian muka meski lebih kecil dari Bolt Slim, tetapi tetap menampilkan informasi yang dibutuhkan, seperti kata sandi untuk memasangkan dengan gawai, atau volume data yang dipancarkan.

Keunggulan yang ditawarkan Mi-Fi adalah penggunaan chipset buatan Marvell yang memungkinkan perangkat bekerja di kategori 4 atau memfasilitasi lalu lintas data lebih tinggi dibandingkan kategori lebih rendah. Sama seperti modem Bolt lainnya, Movimax Orion mampu berpasangan dengan delapan gawai sekaligus meski konsekuensi yang harus ditanggung adalah kecepatan akses yang melorot tajam.

Terdapat lubang kartu memori SD dengan kapasitas maksimal 32 gigabit untuk membagi isi file di dalamnya bila Mi-Fi tersambung dengan komputer, tetapi fitur ini tidak banyak digunakan. Baterai berkapasitas 2.000 mAh membuat modem ini bisa digunakan secara terus-menerus hingga setidaknya enam jam.

Kompas berkesempatan menggunakan modem ini untuk berselancar internet di ponsel melalui koneksi Wi-Fi. Secara umum, tidak banyak perbedaan dalam pengalaman yang dihasilkan

Lokal
Yang menarik dari Movimax Orion justru kisah di baliknya. Perangkat ini dirakit oleh PT Panggung Electric Citrabuana di Sidoarjo, Jawa Timur, yang sudah menangani perakitan perangkat elektronik, salah satunya bermerek Akari. Mereka bekerja sama dengan PT Parastar Echorindo selaku distributor yang juga menghadirkan Powerphone dan kini ingin mengambil peran lebih banyak lagi.

“Ini adalah proyek untuk menghadirkan produk lokal bagi pasar dalam negeri. Salah satunya penggunaan chipset Marvell yang ikut didirikan oleh orang Indonesia,” ujar Vice President Parastar Group Dwi Lingga Jaya.

Dengan kombinasi seperti ini, lanjutnya, mereka ingin memperkenalkan produk dengan kadar komponen lokal untuk menumbuhkan kebanggaan konsumen Indonesia.

Hingga kini Mi-Fi tersebut diatur sedemikian rupa sehingga hanya bisa dipergunakan dengan kartu SIM 4G dari Bolt dan bukan layanan 4G dari operator telekomunikasi lainnya. Penggunaan Mi-Fi dengan kartu SIM 3G memang masih dimungkinkan. Hal ini terkait kerja sama dengan Bolt untuk menghindari pengguna yang memanfaatkan Mi-Fi dengan kartu dari penyedia layanan lain.

Menurut Larry, ini adalah ekosistem yang diinginkan oleh Bolt dengan pemain lokal yang makin banyak terlibat. Mereka tengah mencari para pembuat konten agar karya mereka bisa ditawarkan kepada para pengguna.

“Inilah keunggulan kami karena masuk ke pasar terlebih dahulu, operator telekomunikasi lain butuh waktu untuk menyiapkan pasar, modernisasi perangkat, dan optimasi jaringan yang ada,” ujar Larry.

Modem lokal inilah menjadi amunisi terbaru Bolt untuk tetap memimpin perlombaan dalam layanan 4G di Indonesia. Setidaknya Larry menjanjikan bahwa masih ada peluru-peluru lainnya yang disiapkan.

Didit Putra Erlangga Rahardjo
Sumber: Kompas Siang | 18 April 2015

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*

code

x

Check Also

Antisipasi Risiko Tsunami di Selatan Jawa

Kajian terbaru menunjukkan potensi tsunami setinggi 20 meter di selatan Jawa. Hal itu menjadi momentum ...

%d blogger menyukai ini: