Home / Tokoh / Moh Yasya Bahrul Ulum; Kehidupan Manusia dan Matematika

Moh Yasya Bahrul Ulum; Kehidupan Manusia dan Matematika

Lewat kecerdasannya dalam ilmu matematika, Moh Yasya Bahrul Ulum (20) mengharumkan nama Indonesia di kancah internasional. Mahasiswa semester II Jurusan Teknik Elektro Institut Teknologi Sepuluh Nopember, Surabaya, ini meraih medali emas pada Kompetisi Matematika Internasional 2014, di Blagoevgrad, Bulgaria.

Yasya masuk dalam jajaran 68 peserta dengan nilai tinggi sehingga dianugerahi medali emas Kompetisi Matematika Internasional (IMC) Ke-21 di Bulgaria ini. Kompetisi yang berlangsung pada 29 Juli-4 Agustus itu diikuti 324 peserta dari 193 universitas di 44 negara.

”Setelah hasilnya diumumkan, orang pertama yang saya beri tahu adalah orangtua di rumah. Mereka senang dan bangga. Orangtua tak menyangka bahwa saya mendapat medali emas,” ujar Yasya saat ditemui di Gedung Rektorat ITS, Surabaya, Jawa Timur, pekan lalu.

Prestasi yang diraih Yasya merupakan kali kedua bagi Indonesia dalam kompetisi serupa. Pada 2010, mahasiswa Jurusan Matematika Universitas Gadjah Mada (UGM), Albert Gunawan, menyabet medali emas di Bulgaria.

Dalam IMC Ke-21, Indonesia mengirimkan tujuh mahasiswa, termasuk Yasya. Keenam mahasiswa lainnya adalah Yoshua Yonathan Hamonangan (Matematika Universitas Indonesia, meraih medali perak), Pramudya A (Teknik Elektro UGM, medali perak), Taufiq A (Matematika UGM, medali perunggu), Sofihara Alhazmi (Pendidikan Matematika Universitas Pendidikan Indonesia, medali perunggu), Dian Sitorumi (Matematika Institut Teknologi Bandung), serta Muhammad Ardiansyah (Matematika UGM) yang meraih Honourable Mention.

Yasya menjadi satu-satunya wakil Indonesia yang menembus batas nilai untuk meraih medali emas. ”Saya mendapat nilai 65. Sementara batas terendah untuk meraih medali emas adalah peserta dengan nilai 60,” kata putra sulung pasangan Imam Chumaidi dan Sofiah ini.
Lebaran tanpa keluarga

Saat ditemui di kampus ITS, Yasya mengenakan kemeja kotak-kotak putih biru, celana coklat berbahan katun, dan sepatu kets putih. Dia kembali ke kampus setelah pulang ke kampung halamannya di Kecamatan Gurah, Kabupaten Kediri, selama beberapa hari. Dia sungkem kepada orangtua dan silaturahim dengan sanak saudara.

Hal itu dia lakukan karena saat Idul Fitri dia tidak dapat berkumpul dengan keluarga. Sebelum berangkat ke Bulgaria, Yasya dan keenam mahasiswa lain dikarantina 10 hari di sebuah hotel di Jakarta. Mereka berlatih soal-soal matematika dibimbing sejumlah dosen dan alumnus peserta IMC sebelumnya.

Pada hari kedua Lebaran, mereka dan pembimbing sudah bertolak dari Indonesia. ”Waktunya mepet, saya tidak bisa pulang dulu. Saya shalat Id di Jakarta,” katanya.

Setiba di Blagoevgrad, Yasya sempat gentar melihat penampilan peserta lain yang tampak santai. Peserta yang duduk di samping kiri dia pada hari pertama, misalnya, mengenakan celana pendek dan kaus berkerah serta memainkan pulpen saat mengerjakan soal.

Pelaksanaan kompetisi terbagi dalam dua hari. Setiap hari, peserta mengerjakan lima soal esai yang meliputi bidang studi aljabar linear, teori bilangan, analisis riil dan kompleks, geometri, serta kombinatorika.

Peserta diberi waktu lima jam untuk mengerjakan lima soal berbahasa Inggris. ”Dari 10 soal selama dua hari, ada tiga soal yang tidak bisa saya kerjakan dan dua di antaranya tidak saya jawab,” ujarnya.

Yasya mengungkapkan, soal yang diujikan dalam kompetisi matematika internasional bukan berisi angka atau rumus yang rumit, melainkan berupa pemecahan masalah yang membutuhkan analisis detail dan runut.

Sebagai gambaran, dari delapan soal yang dia kerjakan, Yasya membutuhkan 14 lembar kertas berukuran A4 untuk membubuhkan jawaban. ”Kebanyakan jawaban berisi analisis beserta langkah penyelesaian soal,” kata Yasya.

Persiapan
Apa yang dicapai Yasya bukan sesuatu yang instan. Selain mengikuti karantina selama 10 hari, dia juga menyiapkan diri selama setahun untuk mengikuti kompetisi ini. Sejak masuk kuliah, dia mulai berlatih mengerjakan soal-soal yang telah diujikan dalam beberapa kontes matematika internasional. Simulasi soal ini dia peroleh dari internet.

Moh Yasya Bahrul UlumSelain itu, dia juga rajin mengikuti seminar matematika nasional ataupun internasional. Dia juga kerap menemui Satria Stanza, mahasiswa Jurusan Matematika ITS yang pernah mengikuti kompetisi IMC.

”Saya sering mampir ke indekos dia untuk belajar,” ucap mahasiswa yang hobi bermain futsal dan game komputer ini.

Demi menunjang biaya yang dibutuhkan dalam persiapan tersebut, Yasya mengajar les privat matematika untuk siswa SMA. Aktivitas mengajar ini dia lakukan di sela-sela kuliah dan masa latihan.

Dari les privat matematika, dia memperoleh penghasilan Rp 1,5 juta–Rp 1,8 juta per bulan. Uang ini dia gunakan untuk mengikuti seminar matematika, membeli soal-soal latihan, juga biaya indekos dan kebutuhan sehari-hari.

Sebelum kuliah di ITS, Yasya belajar di SMAN Sragen Bilingual Boarding School, Sragen, Jawa Tengah, melalui jalur beasiswa. Sejak SMP, dia sudah menonjol dalam matematika.

Hal ini dia tunjukkan dengan meraih medali perunggu pada Olimpiade Sains Nasional (OSN) tingkat SMP tahun 2009. Prestasi ini berlanjut di bangku SMA dengan meraih medali emas OSN 2012.

Dia bertekad meningkatkan prestasi sampai tingkat internasional. Salah satunya membidik lolos seleksi sebagai perwakilan Indonesia pada IMC Ke-21.

Yasya menyukai matematika karena memiliki varian ilmu yang luas. Hampir semua yang terkait dengan kehidupan manusia bersinggungan dengan matematika. Ilmu matematika memiliki andil penting dalam kemajuan peradaban manusia. ”Matematika itu selalu bisa dieksplorasi,” ucapnya.

Prestasi pada IMC 2014 membawa Yasya memperoleh beasiswa Olimpiade Sains Internasional dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan untuk menempuh studi hingga tingkat doktoral di Indonesia ataupun luar negeri.

Lewat studi inilah dia merajut mimpi untuk menjadi peneliti bidang matematika. ”Saya ingin melanjutkan S-2 Matematika di ITB, setelah itu baru belajar ke luar negeri,” katanya.

Harapan terbesarnya sebagai peneliti adalah menciptakan teknologi yang bermanfaat bagi Indonesia. Dia menganggap riset di Tanah Air amat kurang karena perkembangan teknologi di Tanah Air cenderung stagnan dibandingkan dengan negara lain.
—————————————————————————
Moh Yasya Bahrul Ulum
? Lahir: Kediri, Jawa Timur, 12 Agustus 1994
? Pendidikan:
– SD Al Huda Kediri
– SMP Negeri 1 Kediri
– SMAN Sragen Bilingual Boarding School, Sragen, Jawa Tengah
– Mahasiswa S-1 Jurusan Teknik Elektro Institut Teknologi Sepuluh Nopember, Surabaya
? Prestasi:
– Medali perunggu Matematika Olimpiade Sains Nasional tingkat SMP,  2009
– Medali emas Matematika Olimpiade Sains Nasional tingkat SMA,  2012
– Juara I Matematika Olimpiade Sains Nasional Pertamina, 2013
– Medali emas Kompetisi Matematika Internasional (IMC) Ke-21 di Blagoevgrad, Bulgaria, 2014

Oleh: HARRY SUSILO

Sumber: Kompas, 21 Agustus 2014

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*

code

%d blogger menyukai ini: