Home / Profil Ilmuwan / Mikrajuddin, Membumikan Hasil Riset Nanomaterial

Mikrajuddin, Membumikan Hasil Riset Nanomaterial

Bagi Mikrajuddin Abdullah (49), seorang akademisi tidak boleh duduk di ”menara gading”. Mereka harus menghasilkan penelitian yang membumi dan mampu memberi solusi atas masalah yang dihadapi masyarakat. Berbekal prinsip tersebut, Mikra yang ahli di bidang fisika nonmaterial mengembangkan sel surya dan pengolahan air untuk menjawab kebutuhan energi dan air bersih. Hebatnya, riset berbasis nanoteknologi itu ia lakukan dengan fasilitas dan peralatan apa adanya.

Nanosains adalah ilmu dan rekayasa dalam penciptaan material, struktur fungsional, ataupun peranti dalam sekala nanometer. Satu nanometer setara seperseribu mikrometer atau sepersatu juta milimeter atau sepersatu miliar meter. Ilmu tersebut di dunia telah dikembangkan untuk berbagai keperluan. Di Amerika Serikat, misalnya, nanoteknologi antara lain digunakan untuk membuat penampilan seseorang yang berumur 70 tahun menjadi tampak berumur 20 tahun.

Di Indonesia, riset nanoteknologi bisa digunakan untuk mengatasi tiga masalah besar yang dihadapi bangsa, yakni terkait sumber makanan, air minum, dan energi. ”Kalau mau riset nano, ya risetnya di situ,” ujar anggota Senat dan Guru Besar Institut Teknologi Bandung yang ditemui di Kota Mataram, Lombok, seusai menerima gelar Putra Utama NTB dari Pemerintah Provinsi NTB, pertengahan Desember lalu.

Menurut Mikra, pengembangan nanoteknologi bisa dilakukan dengan dana dan fasilitas sederhana. Ia menceritakan, Laboratorium Sintetis dan Fungsionalisasi Nanomaterial di Kelompok Keahlian Fisika Material Elektronik Fakultas MIPA ITB yang ia bangun pada 2005 awalnya adalah gudang penyimpanan alat praktikum yang rusak.

Ia menyisihkan dana hasil penelitiannya untuk mengubah gudang itu menjadi laboratorium. Hasilnya, kini laboratorium itu termasuk dalam 12 laboratorium paling aktif di lingkungan FMIPA. Laboratorium itu juga menghasilkan sejumlah publikasi internasional dan melahirkan puluhan sarjana dan magister.

Ia juga pernah kesulitan dana untuk membeli kondensor distilasi untuk pembuatan nanopartikel dengan metode Sol-Gel yang mesti dilengkapi heater (pemanas) dan stirrer (pengaduk) magnetik. Harga alat itu jutaan rupiah. Mikra mengakalinya dengan menyulap kipas angin bekas berukuran kecil dan dimmer listrik (alat pengatur terang-redup lampu) yang sudah rusak untuk menggantikan peralatan itu.

Ketika salah seorang mahasiswanya kesulitan membuat sel surya dari koloid nanopartikel dengan metode dip-coating, Mikra memutar otaknya. Ia kemudian memanfaatkan sebuah jam dinding bekas sebagai salah satu elemen untuk membuat alat tersebut.

Peralatan dip coating itu selanjutnya ia pakai untuk menyemprotkan nanopartikel pada dinding, atap rumah, dan bagian lainnya yang mudah diterpa sinar matahari. ”Contoh sel surya ini dipasang di rumah seorang mahasiswa saya,” kata peneliti asal Dompu yang kini tinggal di Arcamanik, Kota Bandung, ini.

Belasan paten
Mikra juga mengembangkan teknologi penjernihan air limbah dengan energi matahari. Riset penjernihan yang berbasis nanomaterial air dilakukan dengan mencari material fotokatalis yang dapat menyerap energi matahari secara efisien. Lewat penelitian berulang kali, ia menemukan titanium dioksida kualitas rendah mampu menyerap semua spektrum pada cahaya matahari.

Penyerapan tersebut menyebabkan material menjadi aktif dan melepaskan partikel-partikel yang dapat menghancurkan unsur-unsur polutan di air secara perlahan. Prosesnya cukup dilakukan dengan menjemur air di bawah sinar matahari. Dalam jangka waktu beberapa hari, air akan menjadi jernih. Biaya penjernihan dengan cara ini lebih murah dengan teknologi yang digunakan pada instalasi pengolahan air limbah (IPAL).

Ia mengklaim bahwa metode penjernihan air ini, khususnya dari segi material, belum pernah dikembangkan di belahan dunia lain. ”Riset ini dimulai sekitar delapan tahun lalu, dan kini kami terus menyempurnakan. Jika berhasil, kami bisa menjenihkan air sungai, danau, dan kolam (agar bebas) dari limbah organik dengan biaya murah dan sederhana,” ujar Dosen Berprestasi Tingkat Nasional pada 2010 itu.

Belum lama ini, Mikra juga menemukan teknik menanam tiang pancang beton pada tanah rawa. ”Biasanya pemasangan tiang pancang pada tanah rawa akan memantul. Kami siasati dengan teknologi nano sehingga tiang pancang itu menancap di kedalaman tanah yang lebih keras,” ujar Mikra.

Pertengahan 2017, Mikra membuat penelitian ”Analisis Forensik Berdasarkan Profil Tanda Tangan”. Sedikitnya 3.500 responden berusia 30 tahun-60 tahun diamati tanda tangannya. Ia menemukan, semakin bertambah usia seseorang, profil tanda tangannya berubah.

Bersama rekan-rekannya, Mikra pernah merintis penerbitan Jurnal Nanosains dan Nanoteknologi pada 2008. Tujuannya, untuk mendesiminasi hasil riset para peneliti Tanah Air dalam bidang nanosains dan nanoteknologi. Ia juga pernah merintis Jurnal Pengajaran Fisika Sekolah Menengah pada tahun 2009 sebagai media pertukaran ilmu kepada guru-guru SMA agar dapat diterapkan di pengajaran.

Sejauh ini, Mikra telah menghasilkan banyak karya yang penting untuk pengembangan ilmu pengetahuan, khususnya dalam bidang fisika nonmaterial. Di antara karya tersebut, sebanyak 13 karya telah dipatenkan. Selain itu, sebanyak 95 makalahnya masuk dalam jurnal ilmiah internasional, dan 44 makalahnya terindeks di Scopus. Karya-karya itu juga dirujuk hingga ke level internasional. Ia juga menulis 44 buku pelajaran Fisika untuk siswa SD, SMP, SMA, dan mahasiswa.

Lewat karya ilmiahnya yang kebanyakan dibiayai dari kocek pribadi, Mikra ingin menunjukkan, kalangan kampus tidak duduk di menara gading. Kalangan kampus semestinya terus mencari jawaban atas beberapa persoalan yang dihadapi bangsa ini.–KHAERUL ANWAR

Sumber: Kompas, 3 Januari 2018

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*

code

%d blogger menyukai ini: