Home / Sosok / Michael John Yarisetouw, Mutiara Ilmu untuk Papua

Michael John Yarisetouw, Mutiara Ilmu untuk Papua

Michael John Yarisetouw (27) sadar benar, pendidikan merupakan kunci bagi masyarakat Papua untuk mengejar ketertinggalan. Karena itu, ia sekuat tenaga mendorong para pemuda Papua terus membaca dan menimba ilmu dari buku sejak enam tahun yang lalu.

Senin (29/10/2018) pagi, Michael bersama sepuluh anak muda lainnya sibuk menata kursi di teras sebuah rumah indekos di Kelurahan Yabangsai, Kota Jayapura. Mereka juga memasang tenda di halaman rumah tersebut. Di rumah indekos sederhana itulah, Michael dan kawan-kawan melakukan gerakan membaca bagi pemuda-pemudi Papua.

Hari itu, Michael menggelar dialog bertema “Besi Menajamkan Besi, Membaca Buku Menajamkan Akal” di ruangan berukuran 4 meter x 20 meter. Narasumber yang dihadirkan antara lain Rektor Universitas Cenderawasih (Uncen) Apolo Safanfo; peraih medali emas dalam ajang First Step to Nobel Prize in Physics Tahun 2004 George Saa; dan novelis Papua Alfrida Yamanop.

KOMPAS/FABIO M LOPES COSTA–Michael John Yarisetouw yang meraih penghargaan Anugerah Komunikasi Indonesia Tahun 2018.

Para narasumber bersama Michael tak henti memberikan motivasi dan kiat-kiat cara membaca buku secara efektif kepada puluhan mahasiswa Uncen yang hadir. Pengetahuan yang diberikan cukup sederhana, tetapi mengena.

Dialog yang digelar sekitar dua jam tersebut merupakan bagian dari acara ulang tahun pertama Cenderawasih Reading Center (CRC) yang didirikan Michael di Kota Jayapura pada 28 Oktober 2017. Ia berharap CRC bisa menjadi salah satu pusat gerakan literasi terkait tema pembangunan, kebudayaan, masalah sosial, serta nilai-nilai kepemimpinan. Sebelum CRC berdiri, Michael sudah lama mengampanyekan pentingnya membaca di kalangan anak muda Papua.

CRC yang bermarkas di rumah indekos ini memiliki 650 buku dari berbagai tema yang tersimpan rapi di lima rak. Di sana ada dua meja dan belasan kursi untuk para pengunjung membaca dan berdiskusi. Ia berharap, CRC bisa menarik minat pelajar dan mahasiswa berusia minimal 17 tahun hingga 25 tahun untuk datang. Ia membuka tempat ini mulai Senin hingga Jumat antara pukul 07.30 WIT hingga pukul 18.00 WIT.

Selain tempat membaca dan berdiskusi, CRC juga terlibat dalam sejumlah kegiatan lain, seperti seminar tentang peranan Pancasila, bedah buku, lomba menulis esai dan seminar peran pemuda dalam pilkada damai di Papua.
“CRC bukan hanya gerakan literasi semata, tapi gerakan untuk mengajak para pemuda Papua untuk cerdas secara holistik, yakni punya intelektual tinggi, cerdas secara mental dan spiritual,” katanya.

KOMPAS/FABIO M LOPES COSTA–Michael John Yarisetouw

Serba terbatas
Jauh sebelum CRC berdiri, Michael, lulusan Jurusan Matematika Uncen, telah mengkampanyekan gerakan membaca sejak duduk di bangku kuliah pada 2012. Saat itu, ia kuliah dengan sokongan dana yang amat terbatas. Maklum, ayahnya Izak Yarisetouw hanyalah pensiunan pegawai negeri sipil, sedangkan ibunya, Corlance Yarisetouw, ibu rumah tangga.

Karena tak punya uang untuk membayar biaya kos yang berkisar Rp 500.000 per bulan, Michael terpaksa tinggal di sebuah gudang di gedung Jurusan Matematika Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) Uncen. Tapi ia tidak hanya numpang tinggal. Ia ingin gudang berukuran 3 meter x 3 meter itu juga bisa bermanfaat buat mahasiswa lain. Maka, ia buat perpustakaan kecil di sana dengan koleksi buku pribadi sebanyak 40 buku.

Seiring waktu, ada saja teman-teman mahasiswanya yang datang untuk membaca buku maupun berdiskusi tentang apa saja. Dari situ, Michael tambah semangat untuk mendorong mahasiswa lainnya membaca dan berdiskusi.

Michael yang aktif dalam kegiatan organisasi di kampus lantas memanfaatkan posisinya sebagai Ketua Badan Eksekutif Mahasiswa FMIPA Uncen (kemudian naik menjadi Wakil Ketua BEM Uncen) untuk membuat gerakan literasi seperti membagikan buku tulis dan buku pelajaran ke daerah pedalaman Papua. Ia juga rajin memberikan pelatihan organisasi kepada mahasiswa semester awal.

KOMPAS/FABIO M LOPES COSTA–Michael John Yarisetouw

Inspirasi
Semua itu ia lakukan karena ia terinspirasi ibunya, Corlance yang gemar membaca dan rajin membimbing Michael dan lima kakaknya untuk membaca alkitab dan buku pelajaran sekolah. “Ibu hanya lulusan sekolah dasar. Namun, semangat dia untuk belajar sangat tinggi. Hal inilah yang mendorong saya agar tidak malas belajar. Beliau adalah tokoh idola saya,” ungkap bungsu dari enam bersaudara itu.

Corlance juga mengingatkan anak-anaknya untuk membantu sesama agar memiliki pendidikan yang baik. “Sebulan sebelum meninggal, ibu kembali menyampaikan pesan seperti itu,” tambah Michael tentang ibunya yang meninggal pada 28 Agustus 2017.

Dari situ, ia terlecut untuk mendirikan Cenderawasih Reading Center (CRC). Tekad itu semakin kuat ketika ia mengingat petikan pidato Presiden Amerika Serikat ke-35 John F Kennedy yang disampaikan pada 20 Januari 1961. Kennedy mengatakan, “Jangan tanyakan apa yang negara dapat perbuat untuk Anda, tetapi tanyakanlah apa yang dapat Anda perbuat untuk negara.”

Perjuangan Michael untuk mengkampanye gerakan membaca di Papua bukan perkara gampang. Pasalnya, meski provinsi ini mendapat kucuran dana otonomi khusus yang berlimpah, kualitas masyarakat Papua masih ketinggalan. Indeks Pembangunan Manusia Provinsi Papua pada 2017 masih berstatus rendah, yakni 59,9 atau hanya meningkat 1,04 poin dibandingkan tahun 2016. Sementara standar nasional untuk status sedang pada poin 60-70.

Angka buta aksara di Papua juga masih sangat tinggi, yakni mencapai 24 persen. Padahal, angka rata-rata nasional hanya 2,07 persen. Sekitar 600.000 warga Papua saat ini belum dapat membaca, menulis, dan berhitung.

“Saya merintis gerakan ini tanpa bantuan dari pemerintah daerah. Saya bersama sejumlah donatur dan 11 sukarelawan memulai CRC dengan uang sebesar Rp 5 juta,” kata Michael.

Bahkan, ia rela berhenti sebagai pegawai honorer di Dinas Perindustrian dan Perdagangan Provinsi Papua agar bisa fokus dalam mengurus gerakan literasi ini. Untuk membiaya sewa tempat CRC, Michael bersama para sukarelawan membuka usaha kuliner setiap hari pukul 18.00 WIT di pinggir jalan. Usaha ini biasanya dimulai setelah kegiatan di CRC selesai pada pukul 17.00 WIT.

“Kami tak mau menunggu dana otonomi khusus dari pemerintah. Jika mereka ingin membantu, silakan memberikan kami bantuan buku untuk menambah koleksi buku CRC,” tuturnya.

Usaha Michael mendapat apresiasi dari pemerintah pusat dan sejumlah lembaga. Kementerian Komunikasi dan Informatika yang bekerja sama dengan Ikatan Sarjana Komunikasi Indonesia memberinya penghargaan Anugerah Komunikasi Indonesia Tahun 2018 di Bandung, Jawa Barat. Penghargaan untuk kategori Penggiat Komunikasi Kepemudaan diberikan berkat konsistensi Michael mengampanyekan gerakan membaca di kalangan generasi muda Papua melalui media sosial.

“Mimpi saya agar CRC tak terhenti di Kota Jayapura saja. Saya akan merintis gerakan serupa di sejumlah kabupaten terdekat, seperti Kabupaten Jayapura, Keerom, dan Sarmi,” tutur Michael.

Michael John Yarisetouw

Lahir: Kabupaten Jayapura, 2 Juni 1991

Pendidikan:
– SD Inpres Depapre (1997-2003)
– SMP Negeri 1 Jayapura (2003-2006)
– SMA Negeri 3 Jayapura (2006-2009)
– Jurusan Matematika Fakultas MIPA Universitas Cenderawasih (2009-2014)

Penghargaan: Anugerah Komunikasi Indonesia 2018 kategori Penggiat Komunikasi Kepemudaan

FABIO MARIA LOPES COSTA

Sumber: Kompas, 10 November 2018

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*

code

x

Check Also

Anak Muda dari Keluarga Tidak Mampu Mengejar Gelar Doktor

Lewat beasiswa, anak-anak muda dari keluarga tidak mampu mengejar mimpinya meraih pendidikan tinggi. Inilah sebagian ...

%d blogger menyukai ini: