Merintis Satelit Komersial Indonesia Pertama Secara Mandiri

- Editor

Selasa, 2 April 2019

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Satelit bisa menjadi pemersatu wilayah Indonesia yang luas, berpulau dan jumlah penduduk yang besar. Namun sampai sekarang, Indonesia masih sebatas pasar bagi satelit-satelit asing.

Indonesia menggunakan satelit sejak 45 tahun lalu. Meski kebutuhan satelit terus membesar sebagai konsekuensi dari tumbuhnya ekonomi dan berkembangnya penduduk, hingga saat ini Indonesia masih bergantung pada satelit asing. Terbatasnya anggaran dan keberpihakan membuat impian membuat satelit komersial secara mandiri belum terwujud.

Upaya mewujudkan kemandirian dalam pembuatan satelit komersial itu kembali digagas Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (Lapan), PT Telkom Satelit Indonesia (Telkomsat) dan Universitas Telkom, Bandung. Ketiga lembaga itu menandatangani nota kesepahaman pengembangan dan komersialisasi produk misi satelit orbit rendah di kantor Pusat Teknologi Satelit (Pusteksat) Lapan, Rancabungur, Bogor, Kamis (25/3/2021).

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

” Ini menjadi batu loncatan dalam pengembangan teknologi keantariksaan di Indonesia,” kata Sekretaris Utama Lapan Erna Sri Adiningsih.

Indonesia memang sudah memiliki tiga satelit yang dibuat oleh perekaysa Lapan, yaitu Lapan A1/TubSat, Lapan A2/Orari, dan Lapan A3/IPB. Namun semua satelit itu masih sebatas satelit riset, belum digunakan untuk memenuhi kebutuhan komersial terus tumbuh membesar.

Meski demikian, keberadaan tiga satelit riset itu menunjukkan Indonesia sebenarnya memiliki kemampuan untuk membuat satelit nano atau mikro secara mandiri. Tak hanya potensi sumber daya manusianya saja, Lapan juga memiliki fasilitas untuk pembuatan dan uji satelit beserta komponennya.

“Lapan sudah memiiliki fasilitas pembuatan satelit dengan bobot maksimal 200 kilogram yang lengkap dan terstandar internasional,” kata Deputi Bidang Teknologi Penerbangan dan Antariksa Lapan Rika Andiarti. Kapasitas fasilitas itu tentu masih bisa ditingkatkan sesuai kebutuhan.

Potensi sumber daya manusia itu juga tersedia di Universitas Telkom. Selama ini, banyak studi untuk skripsi, tesis maupun disertasi tentang satelit dan komponennya yang berakhir hanya sebagai karya ilmiah. Padahal, hasil studi yang banyak mendukung penggunaan teknologi maju itu bisa dikomersialisasikan.

” Dengan kerja sama ini, produk riset bisa dimanfaatkan secara luas utnuk mendukung pengembangan teknologi yang akan datang,” tambah Rektor Universitas Telkom Adiwijaya.

Peluang itulah yang dilirik Telkomsat sebagai entitas bisnis. Selama ini, untuk memenuhi kebutuhan konsumen akan layanan jasa satelit dalam bentuk data siap pakai, Telkomsat masih mengandalkan kerja sama dengan satelit asing.

“Potensi pasarnya ada dan besar,” kata Assistant Vice President Pengembangan Produk Telkomsat Ricky Kusnandar.

Layanan data siap pakai itu antara lain digunakan untuk memantau pergerakan kapal di perairan Indonesia menggunakan Sistem Identifikasi Otomatis (Automatic Identification System/AIS), pendeteksi atau navigasi pesawat di wilayah tertentu menggunakan Sistem Pemantauan Penerbangan Nir-radar (Automatic Dependent Surveillance-Broadcast/ADS-B), serta komunikasi data melalui layanan Internet untuk Segala (internet of things/IoT).

Telkomsat memang memiliki tiga satelit konvensional di orbit geostasioner, yaitu Telkom 2, Telkom 3S, dan Satelit Merah Putih (Telkom 4). Namun fungsi dari ketiga satelit itu berbeda. Untuk layasan jasa satelit siap pakai biasanya menggunakan satelit mikro atau nano yang diletakkan di orbit rendah Bumi.

Optimis
Penandatanganan nota kesepahaman antara Lapan, Telkomsat dan Universitas Telkom pekan lalu itu belum membahas rencana kerja detail. Karena itu, misi, karakter, dimensi, maupun jumlah satelit yang akan dibuat belum ada pembahasan.

Meski demikian, masing-masing pihak optimis satelit komersial pertama Indonesia segera terwujud. Sinergi antara lembaga riset pemerintah, perguruan tinggi dan industri itu bisa mempercepat terbentuknya ekosistem industri satelit nasional. “Untuk misi-misi tertentu yang ahli-ahli Indonesia mampu mengerjakaannya, maka Indonesia harus bisa mandiri,” kata Rika.

Rencana pembuatan satelit komersial pertama itu, lanjut Kepala Pusteksat Lapan Mujtahid Zubaidi mengatakan bisa diselaraskan dengan program pembuatan satelit Lapan. Sejak 2019, Kementerian Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi (sekarang Kementerian Ristek/Badan Riset dan Inovasi Nasional) menjadikan pengembangan teknologi satelit komunikasi orbit rendah yang dipimpin Lapan sebagai prioritas riset nasional.

Program itu diharapkan mampu menghasilkan sistem pendeteksi dan penanganan berbagai bencana di Indonesia. Satelit ini akan mengintegrasikan berbagai sensor detektor bencana, mulai dari tsunami, pasang surut air laut, gempa, pergeseran tanah, hingga data cuaca dan iklim. Satelit ini juga bisa dimanfaatkan untuk komunikasi penanganan bencana tanpa terputus.

Pemerintah menjadikan pengembangan teknologi satelit komunikasi orbit rendah yang dipimpin Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional sebagai prioritas riset nasional 2020-2024. Program ini akan menghasilkan sembilan satelit konstelasi untuk pendeteksian dan penanganan berbagai bencana di Indonesia.

Namun keterbatasan anggaran dan pandemi Covid-19 membuat program ini menjadi tidak jelas. Padahal sesuai rencana, satelit pertama akan diluncurkan pada 2022, empat satelit selanjutnya pada 2023, dan empat satelit sisanya pada tahun 2024.

Untuk mewujudkan misi tersebut, Lapan memperkirakan dibutuhkan sembilan satelit dengan orbit ekuatorial untuk diletakkan di orbit rendah Bumi. Program ini direncanakan berjalan antara tahun 2020-2024 dengan satelit pertama dijadwalkan diluncurkan pada 2022, selanjutnya empat satelit lain pada 2023, dan empat satelit sisanya diluncurkan pada 2024.

“Total anggaran untuk membuat kesembilan satelit itu mencapai Rp 901 miliar, diluar biaya peluncurannya,” kata Mujtahid.

Namun pandemi Covid-19 mengubah segalanya. Hingga dua tahun program berjalan, kejelasan anggaran untuk pembuatan sembilan satelit konstelasi itu belum ada kejelasan. Padahal selain pembuatan satelit membutuhkan waktu, mencari lembaga peluncur untuk menumpangkan satelit tersebut ke orbit ekuatorial (mengelilingi khatulistiwa Bumi) tidaklah mudah.

Selama ini, lembaga peluncur satelit umumnya meluncurkan satelit ke orbit polar (mengelilingi kutub) yang disesuaikan dengan kebutuhan negara mereka. Pengalaman Lapan sebelumnya saat meluncurkan satelit Lapan A2/Orari yang memiliki orbit ekuatorial harus menunggu beberapa tahun hingga peluncur India yang akan membawa satelit tersebut siap.

Karena itu di sisa waktu yang ada, Lapan berharap setidaknya bisa mewujudkan satu dari sembilan satelit tersebut melalui satelit Lapan A5. Sisa satelit yang dibutuhkan, diharapkan bisa dipenuhi dari kerja sama dengan industri.

Meski demikian, walau belum ada pembicaraan detail, Ricky justru berharap program kerja sama pengembangan satelit komersial yang akan dilakukan Lapan, Telkomsat dan Universitas Telkom itu terpisah dan tidak mengganggu dari program pengembangan satelit yang sudah dibuat Lapan. Pemisahan ini diperlukan guna menjaga beban Lapan.

” Target dalam satu tahun ke depan pascapenandatanganan nota kesepahaman ini adalah adanya rencana bisnis yang layak,” katanya. Karena itu, Telkomsat ingin lebih realistis dalam pengembangan satelit tersebut, misal hanya membawa satu misi tunggal saja yang paling layak secara ekonomi dan potensi pasarnya besar, baik itu misi AIS, ADS-B atau IoT saja.

Sementara untuk peluncurannya, Ricky berharap bisa dilakukan dalam dua tahun ke depan. Namun, waktu peluncuran itu sangat bergantung pada kesiapan masing-masing pihak.

Realisasi satelit komersil pertama Indonesia itu menjadi penting karena beberapa bulan sejak ide ini digagas, perusahaan jasa satelit asing sudah berusaha menggandeng Telkomsat untuk mencarikan pasar bagi satelit mereka. Kebetulan, jasa yang ditawarkan satelit asing itu sama dengan misi satelit komersial yang diimpikan Lapan, Telkomsat dan Universitas Telkom.

Satelit komersial pertama Indonesia itu diharapkan memiliki tingkat kandungan dalam negeri (TKDN) lebih dari 50 persen. Kandungan komponen lokal sebesar itu bisa ditopang dari sumber daya manusia, penggunaan fasilitas produksi dan uji milik Lapan, maupun manufaktur komponen satelit yang dibuat Universitas Telkom.

” Sebagai bangsa, kita harus memulai meski dari skala yang kecil. Kita harus melepaskan sedikit demi sedikit ketergantungan pada asing,” kata Direktur Utama Telkomsat Endi Fitri Herlianto.

Jika satelit komersial Indonesia itu terwujud, dampaknya tidak hanya pada kemandirian bangsa dalam teknologi satelit, namun juga bisa mendorong pengembangan teknologi keantariksaan lain. Lapan saat ini sedang mengembangkan roket peluncur hingga Indonesia bisa meluncurkan satelit sendiri. Demikian pula pengembangan bandar antariksa Indonesia hingga Indonesia tidak perlu lagi tergantung pada bandar antariksa negara lain.

Di luar persoalan teknologi, keberhasilan mewujudkan satelit komersial itu juga akan mendorong berkembangnya industri dan usaha rintisan teknologi antariksa, baik yang dilakukan oleh perusahaan negara maupun swasta. Pada akhirnya, teknologi antariksa bisa dijadikan pendorong pertumbuhan ekonomi yang berbasis inovasi demi menyongsong Indonesia Emas 2045.

Oleh M Zaid Wahyudi, wartawan Kompas

Editor: EVY RACHMAWATI

Sumber: Kompas, 31 Maret 2021

Yuk kasih komentar pakai facebook mu yang keren

Informasi terkait

Tak Wajib Publikasi di Jurnal Scopus, Berapa Jurnal Ilmiah yang Harus Dicapai Dosen untuk Angka Kredit?
Empat Bidang Ilmu FEB UGM Masuk Peringkat 178-250 Dunia
Siap Diuji Coba, Begini Cara Kerja Internet Starlink di IKN
Riset Kulit Jeruk untuk Kanker & Tumor, Alumnus Sarjana Terapan Undip Dapat 3 Paten
Ramai soal Lulusan S2 Disebut Susah Dapat Kerja, Ini Kata Kemenaker
Lulus Predikat Cumlaude, Petrus Kasihiw Resmi Sandang Gelar Doktor Tercepat
Kemendikbudristek Kirim 17 Rektor PTN untuk Ikut Pelatihan di Korsel
Ini Beda Kereta Cepat Jakarta-Surabaya Versi Jepang dan Cina
Berita ini 6 kali dibaca

Informasi terkait

Rabu, 24 April 2024 - 16:17 WIB

Tak Wajib Publikasi di Jurnal Scopus, Berapa Jurnal Ilmiah yang Harus Dicapai Dosen untuk Angka Kredit?

Rabu, 24 April 2024 - 16:13 WIB

Empat Bidang Ilmu FEB UGM Masuk Peringkat 178-250 Dunia

Rabu, 24 April 2024 - 16:09 WIB

Siap Diuji Coba, Begini Cara Kerja Internet Starlink di IKN

Rabu, 24 April 2024 - 13:24 WIB

Riset Kulit Jeruk untuk Kanker & Tumor, Alumnus Sarjana Terapan Undip Dapat 3 Paten

Rabu, 24 April 2024 - 13:20 WIB

Ramai soal Lulusan S2 Disebut Susah Dapat Kerja, Ini Kata Kemenaker

Berita Terbaru

Tim Gamaforce Universitas Gadjah Mada menerbangkan karya mereka yang memenangi Kontes Robot Terbang Indonesia di Lapangan Pancasila UGM, Yogyakarta, Jumat (7/12/2018). Tim yang terdiri dari mahasiswa UGM dari berbagai jurusan itu dibentuk tahun 2013 dan menjadi wadah pengembangan kemampuan para anggotanya dalam pengembangan teknologi robot terbang.

KOMPAS/FERGANATA INDRA RIATMOKO (DRA)
07-12-2018

Berita

Empat Bidang Ilmu FEB UGM Masuk Peringkat 178-250 Dunia

Rabu, 24 Apr 2024 - 16:13 WIB