Home / Berita / Meredupnya Industri Gula

Meredupnya Industri Gula

Industri gula di Tanah Air sempat mengalami masa keemasan. Pada awal kemerdekaan, misalnya, Indonesia memiliki 86 pabrik gula dengan areal tanam sekitar 102.300 hektar dan mampu menghasilkan 1,6 juta ton gula per tahun. Produksinya rata-rata 163,9 kuintal per hektar.

Pabrik gula tersebut umumnya peninggalan Belanda dan mesinnya sudah tua. Meski demikian, berkat pemeliharaan yang baik, sejumlah pabrik gula produktivitasnya cukup tinggi. Pabrik gula (PG) Gondang Baru di Klaten, Jawa Tengah, misalnya, didirikan tahun 1860 dan saat giling Juni 1966 produksinya 104.961 kuintal gula kristal dari areal tanaman tebu seluas 1.132 hektar.

Produksi gula terbanyak selama bertahun-tahun dipegang PG Tasikmadu di Surakarta. Pabrik gula yang didirikan tahun 1926 ini produksinya tahun 1967 mencapai 244.793 kuintal dari areal tanam seluas 1.875 hektar dan rendemen 11,2 persen. Di Jawa Tengah, saat itu terdapat 17 pabrik gula dengan produksi 794.000 ton.

KOMPAS/P RADITYA MAHENDRA YASA–Buruh tani menebang tebu yang akan diangkut untuk memenuhi kebutuhan pabrik gula dari lahan yang berada di Kecamatan Singorojo, Kabupaten Kendal, Jawa Tengah, Jumat (25/8/2017). Petani menuntut komitmen pemerintah menjaga komoditas tebu dengan tidak mengimpor gula rafinasi.

Selama Orde Baru, produktivitas pabrik gula terus menurun karena minimnya revitalisasi mesin-mesin pabrik yang sudah tua. Mesin tua menyebabkan tidak efisiennya industri gula. Kondisi ini masih ditambah lagi dengan makin sulitnya mencari areal perkebunan tebu, semakin mahalnya biaya sewa lahan, dan mahalnya harga pupuk. Di sisi lain, kebutuhan gula masyarakat terus meningkat. Tidak heran jika kemudian pemerintah mengambil langkah praktis dengan melakukan impor dibandingkan dengan merevitalisasi pabrik gula.

Impor berdampak serius terhadap keberadaan pabrik gula yang kurang efisien karena berbagai persoalan di atas. Dari 53 pabrik gula di Tanah Air, direncanakan tiga pabrik gula di Jawa Tengah akan tutup tahun 2018 dan menyusul penutupan 10 pabrik gula di Jawa Timur.

Sementara itu, pemerintah terus menambah kuota impor gula mentah yang jumlahnya menjadi sekitar 3,5 juta ton tahun lalu. Konsumsi gula masyarakat Indonesia pun terlalu tinggi, yakni sekitar 60 gram per kapita per hari. Padahal, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mengingatkan, konsumsi gula yang sehat adalah 25 gram per kapita per hari.

Kini, masa keemasan gula Tanah Air sudah terlewat jauh dan peta jalan gula nasional hingga kini juga belum dimiliki. (THY)

Sumber: Kompas, 21 Februari 2018
———–
KOMPAS, 21 FEBRUARI 1966
Jateng Penghasil Gula Terbanyak

Tahun 1965, Jawa Tengah merupakan penghasil gula pasir terbanyak di seluruh Indonesia. Demikian keterangan Sarwo, Inspektur BPU-PN Gula Jateng. Hasil gula itu berasal dari pabrik yang terdapat di Solo, yaitu Pabrik Gula (PG) Mojo, Tasikmadu, Colomadu, Ceper, Gondangbaru, dan dari Madukismo di Yogyakarta. Pada musim giling dihasilkan 84.891,8 ton gula pasir. Angka itu merupakan kenaikan 25-30 persen dari tahun 1964.

Sumber: Kompas, 21 Februari 2018

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*

code

%d blogger menyukai ini: