Home / Berita / Mengintip Isi Microsoft Experience Center Singapura

Mengintip Isi Microsoft Experience Center Singapura

Microsoft Experience Center merupakan tempat bertemunya ide dan inovasi Microsoft dan perusahaan mitra. Kehadirannya diharapkan dapat membantu industri di Asia Pasifik semakin lancar menjalankan transformasi digital.

IMG_20191126_071319.jpgKOMPAS/DIMAS WARADITYA NUGRAHA–Microsoft Experience Center Singapura

Disrupsi digital telah memicu pergeseran perilaku ekonomi global. Pengguna model bisnis lawas yang sudah berada di kondisi nyaman kini mulai gelisah.

Mereka dituntut bertransformasi bila tidak mau tertinggal. Mau tidak mau, perubahan ini merombak model dan sistem bisnis yang sudah mapan.

Persoalannya adalah tidak semua perusahaan memiliki kecukupan sumber daya untuk melakukan perubahan yang radikal. Hal ini terbukti dengan rentetan fakta atas peristiwa yang menimpa bisnis mapan, seperti tutupnya sejumlah gerai ritel raksasa hingga menurunnya volume pasar sektor properti.

Microsoft, sebagai perusahaan teknologi, melihat kendala itu sebagai sebuah peluang. Pada pertengahan November 2019, perusahaan ini meluncurkan Microsoft Experience Center atau Pusat Pengalaman Microsoft, yang pertama di kawasan Asia Tenggara.

IMG_20191126_071342.jpgKOMPAS/DIMAS WARADITYA NUGRAHA–Salah satu sudut di Microsoft Experience Center, Singapura

Microsoft Experience Center merupakan tempat bertemunya ide dan inovasi dari Microsoft dan perusahaan mitra. Kehadirannya diharapkan dapat membantu industri di Asia Pasifik semakin lancar menjalankan transformasi digital.

Pada Kamis (21/11/2019) lalu, Kompas bersama 15 awak media lain dari wilayah Asia Pasifik berkesempatan mengunjungi Microsoft Customer Experience Center di Frasers Tower, Singapura. Terdapat empat zona utama di lokasi ini.

Pertama adalah ”The Experience Zone”, yakni zona untuk mendemonstrasikan teknologi-teknologi baru. Zona kedua adalah ”Microsoft Technology Center” yang menjadi tempat bagi Microsoft untuk mengembangkan teknologi-teknologi terbaru.

KOMPAS/DIMAS WARADITYA NUGRAHA–Zona ”Innovation Factory”, yakni salah satu dari keempat zona yang terdapat di Microsoft Experience Center, Singapura. Lokasi ini menjadi tempat pertukaran ide antara Microsoft dan klien mereka.

Zona ketiga disebut ”Innovation Factory”, tempat bertemunya Microsoft dengan perusahaan-perusahaan mitra untuk saling bertukar ide tentang inovasi yang hendak dilakukan dalam menjalani transformasi digital. Kemudian zona terakhir disebut ”Cybersecurity Center” sebagai pusat analitik keamanan siber.

Usia Microsoft Experience Center di Singapura memang masih belia, belum lebih dari sebulan. Tak mengherankan jika tempat ini masih lebih banyak mendemonstrasikan teknologi-teknologi yang lahir di pusat inovasi kota lain.

IMG_20191126_071413.jpg

KOMPAS/DIMAS WARADITYA NUGRAHA–Pegawai Microsoft mendemonstrasikan teknologi FarmBeats yang populer digunakan petani di Amerika Serikat. Dengan pemanfaatan teknologi ini, perawatan lahan pertanian semakin efisien dengan hasil panen yang lebih optimal.

Teknologi bagi petani
Salah satunya adalah proyek FarmBeats yang telah banyak diaplikasikan petani-petani di Amerika Serikat (AS) sejak 2015. Dengan teknologi ini, petani cukup melihat layar komputer untuk memantau berhektar-hektar lahan perkebunan mereka.

Melalui layar komputer, petani dapat mengetahui titik lahan yang kekurangan nutrisi ataupun titik lahan yang berpotensi diserang hama sehingga hasil panen dapat lebih optimal. Layar komputer ini dapat mendeteksi hal tersebut karena terkoneksi dengan pesawat nirawak (drone) dan alat sensor kualitas tanah bertenaga surya.

IMG_20191126_071438.jpgMICROSOFT–Grafik cara kerja FarmBeats

Nilai investasi yang dibutuhkan petani untuk teknologi ini tidak lebih dari 300 dollar AS atau Rp 4,4 juta. Nilai ini masih bisa ditekan hingga 150 dollar AS bila mengganti fungsi drone dengan pantulan sinyal menara telekomunikasi. Namun, dengan catatan, penggunaan sinyal menara telekomunikasi telah mendapat izin dari pemerintah setempat.

Microsoft juga berkolaborasi dengan tim Formula Satu (F1) Renault dalam mengembangkan teknologi analisis data serta otomatisasi pengaturan komponen mesin untuk meningkatkan kecepatan mobil di lintasan balap. Kolaborasi ini sudah dilakukan sejak 2012.

Untuk memantau setiap aspek di lintasan balap, tim F1 Renault memasang 200 alat sensor pada setiap mobil balap. Sensor tersebut terhubung pada saluran virtual yang memudahkan teknisi untuk melakukan simulasi penggunaan komponen mesin dan suku cadang yang paling optimal untuk memenangi balapan.

Di Pusat Pengalaman Pelanggan Microsoft, pengunjung dapat melihat cara kerja perangkat lunak tersebut yang mampu mengirimkan data secara aktual kepada para teknisi dan mekanik ketika mobil sedang berkeliling trek balapan.

Tempat ini juga mendemonstrasikan aplikasi yang masih dalam tahap pengembangan bernama 51REAL ID dan Omnichannel Shopper.

Aplikasi yang disebutkan pertama mampu mendeteksi orisinialitas dari jutaan produk ritel karena terintegrasi dengan teknologi blockchain dan komunikasi antarbenda terdekat (NFC).

Sementara Omnichannel Shopper adalah aplikasi yang dikembangkan untuk memudahkan konsumen dalam berbelanja produk ritel. Selain untuk bertransaksi, melalui aplikasi ini pengguna juga dapat mencoba mengenakan produk-produk fesyen secara virtual sebelum memutuskan untuk membelinya.

Direktur Microsoft Experience Center Asia Rebecca Hick mengatakan, Singapura dipilih sebagai lokasi berdirinya Microsoft Customer Experience Center karena banyaknya kantor perusahaan multinasional di kota yang menjadi jantung Asia Pasifik.

”Sebagai markas regional bagi banyak perusahaan multinasional, Singapura memiliki ekosistem wirausaha dan merupakan tujuan bisnis internasional,” ujarnya.

Hick berharap Microsoft Customer Experience Center di Singapura dapat mendekatkan akses kurasi inovasi dan pengembangan teknologi bagi perusahaan-perusahaan di Asia Pasifik agar lebih siap dalam menjalankan transformasi digital.

”Kami ingin Experience Center Asia membangkitkan kesadaran industri di Asia Pasifik untuk bertransformasi dan meningkatkan portofolio digital,” ujarnya.

Di wilayah Asia Pasifik, Microsoft saat ini memiliki 100.000 mitra, 2 laboratorium penelitian, 67 pusat inovasi, 6 pusat teknologi, 5 pusat keamanan siber, dan 2 pusat transformasi yang digerakan oleh sedikitnya 20.000 karyawan.

Oleh DIMAS WARADITYA NUGRAHA

Editor HENDRIYO WIDI

Sumber: Kompas, 25 November 2019

Share
x

Check Also

Covid-19 Menurunkan Emisi Karbon Global

Pandemi Covid-19 telah memangkas lebih dari delapan persen emisi karbon global, Berkurangnya emisi ini terjadi ...

%d blogger menyukai ini: