Home / Berita / Mengenang Prof Sambas, Rektor Pertama Unmul

Mengenang Prof Sambas, Rektor Pertama Unmul

Bawa Fahutan Unggulan di Asia Tenggara
Sejarah panjang Unmul dimulai dari sosok legendaris ini. Tokoh yang kontribusinya dalam dunia pendidikan, sudah begitu besar untuk negara ini.

Jika bukan karena jasanya, mungkin Universitas Mulawarman (Unmul) tak akan seperti sekarang. Delapan tahun pengabdian Prof Sambas Wirakusumah sebagai rektor pertama Unmul, melahirkan karya-karya besar yang membawa harum nama kampus hingga level internasional.

Prof Sambas memulai karier sebagai staf pengajar pada 1961 di Jurusan Kehutanan, Fakultas Pertanian, Universitas Indonesia, Bogor. Di tempat yang sama ia mengenyam pendidikan untuk menjadi sarjana kehutanan sejak 1954. Selesai sekitar 1961.

Adapun Fakultas Pertanian Universitas Indonesia sekarang dikenal sebagai Institut Pertanian Bogor (IPB). Jurusan kehutanan juga cikal bakal dari Fakultas kehutanan.

Beberapa tahun kemudian, sekitar 1960-an, Prof Sambas ditugaskan Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, sekarang Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi (Kemenristekdikti), di Universitas Pattimura (Unpatti) Ambon sebagai sekretaris universitas.

Sekembalinya dari Unpatti, yaitu sekitar 1967/1968, Prof Sambas bertugas sebagai Kepala Kesatuan Pemangkuan Hutan (KPH) Bandung Utara, Jawa Barat. Ia berkontribusi atas dibangunnya Taman Hutan Raya (Tahura) Juanda Bandung, seluas 590 hektare. Tahura tersebut mengoleksi aneka jenis tumbuhan di Jabar.

Pada saat yang sama, atas arahan Gubernur Jawa Barat, Jendral Mashudi, Prof Sambas mendirikan Akademi Ilmu Kehutanan (AIK) Jabar di Kabupaten Sumedang. Ia juga menjadi direktur pertama AIK. Saat itu berusia 32 tahun. Seiring perkembangannya, AIK menjadi Fakultas Kehutanan Universitas Winayamukti (Unwim). Sekarang masuk sistem Institut Teknologi Bandung.

Selama menjabat direktur AIK, dari hasil pertemuan dengan Mashudi, AIK memperoleh Hutan Pendidikan Selagombong. Sedangkan Fahutan IPB diberi Hutan Pendidikan Gunung Walat. Keduanya berada di Kabupaten Sukabumi.

Setelah berbagai torehan, Prof Sambas diberi tanggung jawab baru membangun dan membenahi Universitas Mulawarman (Unmul) di Samarinda, Kaltim. Saat itu Unmul sudah 10 tahun berdiri tapi tak juga memiliki rektor. Ketika dilantik, pada 1972, Prof Sambas masih 37 tahun. Bukannya hanya menjadikannya rektor pertama Unmul, tapi juga yang termuda di Indonesia.

Delapan tahun jabatan tersebut diemban. Prof Sambas menjadi tokoh pendiri yang namanya begitu dikenang. Ia juga yang mengubah nama dari Universitas Kalimantan Timur (Unkat) menjadi Universitas Mulawarman.

Sejumlah karya besar dibuatnya selama menjabat. Ia membangun Pusat Studi Reboisasi Hutan Tropika Humida (Pusrehut). Menjadikan Unmul pusat unggulan pendidikan Hutan Hujan Tropika se-Asia Tenggara. Fakultas Kehutanan pun menjadi ikon Unmul yang mendalami Tropical Rain Forest (TRF).

Untuk menunjang ikon tersebut, sosok kelahiran Jambi, 2 Februari 1935 itu merintis dan membangun dua hutan pendidikan. Memungkinkan mahasiswa Fakultas Kehutanan Unmul mempunyai hutan sebagai tempat penelitian dan pembelajaran.

Kedua hutan pendidikan tersebut adalah Hutan Lindung Bukit Soeharto dan Hutan Pendidikan Lempake. Setelah berjalan puluhan tahun, keduanya bertransformasi. Menjadi Taman Hutan Raya Bukit Soeharto, juga Kebun Raya Unmul Samarinda (KRUS). Saat ini KRUS salah satu tempat wisata favorit masyarakat Samarinda dan sekitarnya.

Di tangan dingin Prof Sambas, animo siswa SMA masuk ke Unmul sangat tinggi. Jumlah penerimaan mahasiswa dari 150 menjadi 6 ribu. Kampus sampai tak mampu menampung. Prof Sambas pun mengusulkan dan mengajukan lahan untuk perluasan. Permohonan itu disetujui Gubernur Kaltim kelima, Abdoel Wahab Sjachranie.

Unmul mendapat lahan 70 hektare. Berada di kawasan Gunung Kelua, Kecamatan Samarinda Ulu. Pemindahan kampus dari Jalan Flores di Samarinda Ilir dan Sidomulyo, Samarinda Kota, dilakukan 1985. Gunung Kelua menjadi Kampus utama Unmul hingga saat ini.

Prof Sambas juga sosok di balik indahnya Hymne Univesitas Mulawarman. Sampai saat ini masih menggema dengan hikmat dalam acara formal tingkat universitas ataupun fakultas. Hymne tersebut diciptakan seniman Jawa Barat, Abah Iwan Abduracman.

Prof Sambas memanggil Abah Iwan yang berdomisili di Bandung ke Samarinda. Meminta dibuatkan hymne untuk Unmul. Ide dan gagasan dari Prof Sambas. Abah Iwan yang mengekplorasi .

Di industri musik, karya Abah Iwan sudah begitu dikenal. Ia mantan personel grup musik Bimbo. Juga pencipta lagu Melati dari Jayagiri.

Pada acara Malam Keakraban Rimbawan (MKR) Alumni Fahutan Unmul pada 2013 di Cikole Lembang Bandung, Abah Iwan dihadirkan sebagai pembicara. Di situ ia bercerita proses pembuatan Hymne Mulawarman. Untuk mendapatkan roh lagu, ia pergi sendirian ke tengah hutan Kalimantan. Berhari-hari lamanya. Mendengarkan suara dedaunan yang tertiup angin, gemercik air, dan aneka bunyi serangga serta satwa.

Dosen Terbang
Setelah delapan tahun menjabat rektor Unmul, Prof Sambas ditugaskan lagi oleh Dikti ke Universitas Indonesia. Bertugas sebagai guru besar di Fakultas Biologi. Juga ditugasi membangun kawasan hijau kampus. Dari sinilah ia dikenal sebagai pencetus green campus. Salah satu yang digagas adalah Hutan Kota Universitas Indonesia.

Semasa bertugas di UI, alumni North Carolina State University, Amerika Serikat tersebut, sempat menjadi dosen terbang untuk mata kuliah Silvikultur di Fakultas Kehutanan Unmul. Setelahnya ia ditunjuk menjadi Atase Pendidikan dan Kebudayaan RI di Washington DC Amerika Serikat.

Pada periode 1989-1991, Prof Sambas kembali ke Indonesia. Kali ini menjabat rektor Universitas Sahid. Diajak oleh Sahid Gitosardjono membangun Universitas Sahid yang semula Akademi Parawisata. Kemudian dikembangkan menjadi universitas dengan menambahkan fakultas MIPA, fakultas teknik, serta fakultas sosial dan politik. Dari tangan dinginnya, terciptanya program komputerisasi seluruh perhotelan di Indonesia. Layanan hotel yang tadinya manual, dalam waktu dua bulan sejak penemuan itu, telah mengaplikasikan sistem komputer.

Selanjutnya kakek delapan cucu itu ditugaskan Dikti sebagai Ketua Kopertis Wilayah III: DKI Jakarta. Sekarang dikenal sebagai Lembaga Layanan Pendidikan Tinggi. Ia kemudian menjabat direktur Perguruan Tinggi Swasta (Dirgutiwa) Departemen Pendidikan dan Kebudayaan RI.

Setelah selesai melaksanakan tugas-tugas itu, anak kelima dari 14 bersaudara tersebut berencana istirahat. Berniat menghabiskan lebih banyak waktu bersama keluarga. Terutama dengan cucu-cucunya. Tapi jasanya masih sangat diperlukan. Ia diminta Manajemen Universitas Veteran menjadi rektor Universitas Pembangunan Nasional (UPN) Veteran Jakarta.

Dua misi diberikan. Yaitu mengembangkan bangunan fisik universitas, juga mengembangkan fakultas yang ada. Sedangkan target utama adalah menjadikan Universitas Veteran Nasional sebagai perguruan tinggi negeri.

Pembangunan fisik Kampus II telah dibangun. Fakultas Kedokteran pun telah berdiri. Kini statusnya menjadi Universitas Veteran Negeri.

Sosok Pekerja Keras
Pada 6 Agustus 2019, pukul 20.19 WIB, Prof Sambas meninggal di usia 84 tahun. Mengembuskan napas terakhir setelah menjalani perawatan di Rumah Sakit Mayapada Lebak Bulus, Jakarta Selatan. Dunia pendidikan Indonesia kehilangan tokoh visioner.

“Beliau adalah pekerja keras. Selalu bekerja dan bekerja hingga usia dimana dia seharusnya istirahat,” sebut Riza Suarga Wirakusumah, anak ketiga Prof Sambas, disadur dari tulisan alumni Unmul Fazrin Rahmadani dan Mery D Tambupolon bertajuk In Memoriam Prof. Dr. Ir. H. R. Sambas Wirakusumah, M.Sc, Sang Pemikir dan Pembangun.

Sepanjang hidupnya, Prof Sambas mendedikasikan diri untuk kemajuan pendidikan. Juga pengembangan wilayah, khususnya di Kaltim. Untuk selamanya, Prof Sambas akan dikenal sebagai pahlawan pendidikan dan kehutanan. (*)

Editor: Bobby Lolowang

Sumber: kaltimkece.id, 27 September 2019

Share
x

Check Also

Indonesia Dinilai Tidak Memerlukan Pertanian Monokultur

Pertanian monokultur skala besar dinilai ketinggalan zaman dan tidak berkelanjutan. Sistem pangan berbasis usaha tani ...

%d blogger menyukai ini: