Home / Berita / Mengabadikan Tenaga Kesehatan lewat Pusara Digital

Mengabadikan Tenaga Kesehatan lewat Pusara Digital

Lebih dari 100 tenaga kesehatan berguguran selama pandemi Covid-19. Kepergian mereka tidak hanya meninggalkan kesedihan, tetapi juga kesadaran bahwa pandemi ini adalah kenyataan yang mengerikan.

KOMPAS/ADITYA DIVERANTA—Ratusan nama tenaga kesehatan yang gugur karena pandemi Covid-19 tercatat dalam pusara digital yang, di Jakarta, Sabtu (5/9/2020). Hal ini diinisiasi oleh gerakan warga Lapor Covid-19.

Mereka bukan sekadar angka-angka. Mereka punya kisah hidup dengan keluarga terdekat dan para sahabat. Tenaga kesehatan yang gugur karena Covid-19 itu juga punya harapan dan cita-cita. Karena alasan itu, pusara digital nakes.laporcovid19.org lahir untuk warga yang mencintai mereka. Siapa pun dapat berziarah ke laman ini untuk mengenang jasa para tenaga kesehatan.

Sabtu (5/9/2020), Eva Sri Diana, salah satu dokter spesialis paru-paru di Jakarta terisak. Dia terpukul dengan kepergian lebih dari 100 tenaga kesehatan selama pandemi. Kepergian mereka seharusnya dapat menyadarkan semua pihak betapa berbahayanya virus korona jenis baru penyebab Covid-19.

”Mereka yang gugur ini membuktikan bahwa Covid-19 itu bukan cerita, bukan konspirasi kami para dokter. Ini fakta yang harus kita hadapi bersama,” kata Eva di hadapan lebih dari 100 peserta peluncuran platform digital nakes.laporcovid19.org.

Meski sebagai dokter, Eva dan rekan sejawat sebetulnya gentar menghadapi pandemi. Mereka takut menjadi pasien berikutnya. Namun, karena terikat oleh sumpah sebagai dokter, ia dan semua dokter akan melayani pasien yang datang.

KOMPAS/ADITYA DIVERANTA—Foto para tenaga kesehatan yang gugur karena pandemi Covid-19 tercatat dalam pusara digital, di Jakarta, Sabtu (5/9/2020). Pusara digital ini diinisiasi oleh gerakan warga Lapor Covid-19.

Laman nakes.laporcovid-19.org dibuat sebagai bentuk penghargaan kepada tenaga kesehatan yang gugur karena Covid.-19. Platform digital ini dipersembahkan oleh pihak-pihak dari lintas latar belakang. Pada tampilan awal laman ini tertulis frasa ”Gugur demi Kehidupan”. Bersisihan dengan itu, lebih dari 100 nama terpampang diikuti dengan foto dokter yang gugur.

Selain nama dan foto, di laman ini terdapat riwayat setiap dokter ke dalam sebuah situs daring. Siapa saja dapat ”menabur bunga” dengan memberikan testimoni dengan memencet foto yang terpampang. Harapannya, situs ini menjadi sebuah pusara digital untuk mengenang mereka yang kini tiada.

Sore itu, pihak keluarga dan kerabat dekat turut menyertai kemunculan pusara digital. Mereka turut berbagi kenangan dan momen keseharian saat masih bersama.

Retno Ayu Adhisti, yang ditinggalkan oleh sang ayah, Riyanto, masih ingat saat -saat dirinya berusaha terus mendampingi ketika ayahnya merawat pasien. Saat banyak dokter yang berhenti praktik di tengah pandemi, ayahnya yang dokter spesialis kandungan justru berusaha tetap hadir untuk para pasiennya.

Pada usia 70 tahun, Riyanto masih semangat melayani pasien meski dengan alat pelindung diri (APD). Retno dan keluarga pun selalu menyiapkan APD dan perlengkapan untuk ayahnya. Retno tak menyana, ayahnya juga akan terkena Covid-19 dengan tanpa gejala.

”Saya dan keluarga enggak menyangka kalau Papa bisa tertular dan tanpa gejala. Hal yang juga menyedihkan, kami sekeluarga tidak bisa mendampingi Papa saat isolasi mandiri. Saat dia berpulang, kami pun enggak bisa pamitan dengan Papa,” ujar Retno.

Retno baru menyadari, banyak orang yang turut berduka sepeninggal ayahnya. Di Tuban, Jawa Timur, tempat praktik ayahnya, banyak pasien yang turut mendoakan dan mengadakan tahlilan. ”Saya baru menyadari kalau dampak Papa untuk masyarakat besar sekali,” ucapnya.

Sonia Laras Putri juga mengenang bagaimana ayahnya, Sony Putrananda, yang meninggal karena Covid-19 beberapa bulan lalu. Suatu hari setelah praktik, ayahnya sakit, hingga kemudian dibawa ke rumah sakit di Malang, Jawa Timur. Perawatan tidak berlangsung lama karena saat sore hari masuk rumah sakit, kemudian pada malam hari, ayahnya dinyatakan meninggal.

”Kejadian itu sangat cepat dan kami sekeluarga tidak menyangka sama sekali. Ayah yang setiap hari menjalani rutinitas praktik, lalu pulang ke rumah, kini rutinitas itu sudah tidak ada lagi,” tutur Sonia.

Begitu pula Adi Utarini yang mengenang kepergian suaminya, Iwan Dwi Prahasto. Menurut Utarini, Iwan yang mengajar di Departemen Farmakologi dan Terapi Fakultas Kedokteran Kesehatan Masyarakat dan Keperawatan (FT-FKKMK) Universitas Gadjah Mada adalah orang baik yang selalu mengutamakan kepentingan orang lain. ”Dia selalu berpesan kepada saya. Bu, dosen itu selalu baik, mengutamakan para mahasiswa. Dan saya yakin, doa dari para mahasiswanya tidak akan pernah terputus,” ucap Utarini yang juga seorang pengajar perguruan tinggi.

Ahmad Arif, salah seorang inisiator Lapor Covid-19, menuturkan, pusara digital itu sebagai pengingat para tenaga kesehatan yang berjuang merawat manusia di tengah situasi pandemi. ”Pusara digital kami harap menjadi semacam museum pengetahuan, tempat kita mengingat dan merefleksi diri tentang mereka yang gugur,” katanya.

Masalah kemanusiaan
Menurut Sulfikar Amir, Associate Professor dan Sosiolog Bencana dari Nanyang Technological University, Singapura, ratusan tenaga kesehatan yang tercatat dalam pusara digital bukan sekadar angka statistik. Setiap tenaga kesehatan yang meninggal adalah orang yang memiliki kemampuan untuk merawat orang lain. Lebih dari itu, meninggalnya para tenaga kesehatan adalah persoalan kemanusiaan yang juga adalah tanggung jawab pemerintah.

KOMPAS/ADITYA DIVERANTA—Ratusan nama tenaga kesehatan tercatat dalam pusara digital yang diinisiasi oleh gerakan warga Lapor Covid-19, di Jakarta, Sabtu (5/9/2020).

”Pusara digital menjadi sangat penting untuk memberi makna, cerita, di balik angka-angka atau orang yang kita cuma lihat fotonya. Pusara ini juga penting sebagai monumen bagi kita dan generasi selanjutnya untuk melihat masalah pandemi yang berdampak sangat dalam,” ujar Sulfikar.

Dampak sangat dalam yang dia maksud tidak hanya persoalan ekonomi. Pandemi juga menyangkut persoalan yang sangat fundamental, yaitu nyawa manusia. ”Jadi, bagaimana selanjutnya kita bisa melindungi nyawa manusia dan menghindari gugurnya tenaga kesehatan karena kita bicara tentang manusia yang memiliki kemampuan untuk menolong orang lain,” ucap Sulfikar.

Ketua Satuan Tugas Covid-19 dari Persatuan Besar Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Zubairi Djoerban menegaskan, riwayat meninggal para tenaga kesehatan akan selalu diingat oleh rekan-rekan lain. Dia yang mewakili IDI berjanji tidak menyia-nyiakan perjuangan para tenaga kesehatan. Saya bisa bayangkan rekan sejawat kami ini, mereka pasti capek dan emosi, apalagi kita belum tahu kapan pandemi akan berakhir. Namun, saya pastikan, teman-teman IDI akan melanjutkan perjuangan para rekan sejawat,” kata Zubairi.

Pada akhirnya, pusara digital menjadi pengingat bahwa setiap nyawa yang kini pergi bukanlah sekadar angka. Setiap nyawa punya makna besar bagi hidup setiap orang. Semua harus belajar dari mereka yang mendahului karena Covid-19.

Oleh ADITYA DIVERANTA

Editor: ANDY RIZA HIDAYAT

Sumber: Kompas, 6 September 2020

Share
x

Check Also

Peran dan Kontribusi Akademisi Lokal Perlu Ditingkatkan

Hasil riset akademisi memerlukan dukungan akses pasar. Kolaborasi perguruan tinggi dan industri perlu dibangun sedini ...

%d blogger menyukai ini: