Home / Sosok / Max Welly Lela Berjuang untuk Kebaikan Maleo

Max Welly Lela Berjuang untuk Kebaikan Maleo

Hari-hari Max Welly Lela (55) habis bersama burung maleo. Padahal, ia memulai ”cintanya” dengan cara iseng-iseng melamar kerja di Taman Nasional Bogani Nani Wartabone. Kini, Max menjadi rujukan untuk mengelola pusat-pusat peneluran maleo di Sulawesi.

Sebagai warga kelahiran Desa Kota Menara, Amurang Timur, Minahasa Selatan, pada 1964, burung maleo (Megacephalon maleo) nyaris seperti mitos bagi Max kecil. Dulu, orangtuanya sering bercerita, menemukan maleo sangat mudah di desa yang terletak di utara Gunung Soputan itu karena jumlahnya banyak.
Burung-burung itu juga tersebar luas hingga pesisir utara Amurang. ”Sekarang, maleo tinggal cerita di Minahasa Selatan,” kata Max saat ditemui di Suaka Maleo Tambun, Bolaang Mongondow, Rabu (22/5/2019).

KOMPAS/KRISTIAN OKA PRASETYADI–Kepala Resor Dumoga Timur-Lolayan Taman Nasional Bogani Nani Wartabone, Max Welly Lela di Suaka Maleo Tambun, Bolaang Mongondow, Sulawesi Utara, Kamis (23/5/2019).

Max yang kini menjabat Kepala Resor Dumoga Timur-Lolayan Taman Nasional Bogani Nani Wartabone (TNBNW) mulai bekerja di area Subseksi Perlindungan dan Pengawetan Alam Bolaang Mongondow pada 1983. Saat itu, TNBNW belum dibentuk.

Kedekatannya dengan maleo mulai tumbuh pada 1985. Selama dua tahun, ia ditugasi mendampingi peneliti Belanda, Rene Dekker, dari World Wildlife Fund untuk mengamati maleo di lokasi yang kini menjadi Suaka Maleo Tambun, yaitu di Resor Dumoga Timur-Lolayan.

Saat itu, populasi maleo masih tinggi di Lembah Dumoga yang masuk daerah TNBNW. ”Setiap sore, selalu ada maleo bertengger di pohon-pohon. Tugas saya mengamati tingkah laku burung, mengumpulkan telurnya pada siang hari, dan mengukur suhu di titik-titik peneluran maleo di dalam tanah,” tutur Max.

Setelah dipindahtugaskan beberapa tahun, ia kembali ke Suaka Maleo Tambun pada 1998 untuk mendampingi pembuatan film dokumenter maleo oleh stasiun televisi Jepang. Pada 2001, Wildlife Conservation Society (WCS) menjadi mitra TNBNW dalam konservasi maleo.

KOMPAS/KRISTIAN OKA PRASETYADI–Anak maleo (chick) dilepaskan setelah dirawat 2-3 bulan di Suaka Maleo Tambun, Bolaang Mongondow, Sulawesi Selatan. Tota; 16.170 anak maleo telah dilepasliarkan oleh pengelola suaka maleo di bawah Taman Nasional Bogani Nani Wartabone. Sebanyak 20 anak maleo lainnya dilepaskan di Suaka Maleo Tambun, Rabu (22/5/2019).

Penasaran
Pengetahuannya akan maleo semakin kaya, tetapi rasa penasaran terus menggelitik Max. Terlepas dari penelitian yang dilakukan, ia terus memerhatikan tingkah laku maleo, terutama saat akan bertelur. Max menyadari, telur maleo selalu ditemukan terkubur di area di bawah pohon yang tidak ditumbuhi rumput.

”Karena itu, saya bersihkan titik-titik peneluran dari rumput. Saya sengaja menggali lubang untuk memancing mereka bertelur di situ dan ternyata itu sangat efektif,” katanya.

Berdasarkan upaya itu, Max bisa tahu lubang mana yang menyimpan telur di dalamnya, yaitu lubang yang menyisakan debu bekas galian di batuan di sekitarnya. Ia juga mengerti kedalaman lubang yang akan digali maleo untuk memastikan telurnya berada di suhu 32-37 derajat celsius. Pengetahuan ini menjadi referensinya untuk menggali kedalaman lubang di kandang peneluran maleo.

KOMPAS/KRISTIAN OKA PRASETYADI–Kepala Resor Dumoga Timur-Lolayan Taman Nasional Bogani Nani Wartabone, Max Welly Lela, menjelaskan tentang lokasi peneluran maleo kepada pengunjung Suaka Maleo Tambun, Rabu (22/5/2019).

Pengamatan juga dijadikan dasar menentukan pakan maleo di area suaka. Max melihat maleo suka makan buah kemiri, melinjo, dan keluak yang tumbuh di hutan suaka. Ia pun mengumpulkannya untuk ditebar di area peneluran setiap hari. ”Jadi, suaka bukan hanya menjadi tempat bertelur buat maleo, melainkan juga bisa jadi tempat mendapatkan makanan,” katanya.

Bagi 24 maleo yang dirawat di dalam kandang habituasi, Max mengambil batang pohon yang sudah lapuk dan meletakkannya di dalam. Rayap dan ulat yang tinggal di dalam kayu lapuk menjadi pakan sumber protein untuk maleo.
”Pakan buah-buahan juga sengaja ditebar, kadang disembunyikan di bawah dedaunan. Itu untuk membantu mereka mempertahankan sifat liarnya meskipun berada dalam kandang,” ujar Max.

Semua dilakukan Max tanpa arahan khusus ataupun metode ilmiah tertentu, murni dari pengamatan semata. Rupanya, upayanya berhasil baik. Sejak 2001 hingga kini, sekitar 4.000 telur maleo telah menetas di Suaka Maleo Tambun. Anak-anak maleo dilepasliarkan setelah perawatan selama dua sampai tiga bulan.

Kandang isolasi maleo pun tidak pernah terpakai karena maleo di Suaka Maleo Tambun tidak pernah sakit. Apa saja yang dikonsumsi oleh burung-burung di suaka tak pernah luput dari perhatian Max. Di kandang habituasi dan kandang anak maleo, air minum selalu diganti dua hari sekali agar tidak menampung bibit penyakit.

Max tak pernah berpikir dua kali menyangkut kebaikan maleo. Selama bertugas di Suaka Maleo Tambun, mungkin puluhan juta dari gajinya telah disisihkan untuk membeli bibit tumbuhan pakan maleo dan membangun titik pengamatan burung.

Untungnya, Rp 750.000 yang dialirkan TNBNW dalam mekanisme pengelolaan berbasis resor (resort based management/RBM) bagi pegawai berstatus ASN cukup meringankan bebannya. ”Namun, selama kebutuhan dapur dan sekolah anak-anak tak terganggu, saya tidak keberatan untuk maleo,” katanya.

Para pengelola TNBNW pun mengakui Max telah menjadi ahli maleo meski tak menyandang gelar sarjana apa pun. Pada 2013, ia mempresentasikan hasil kinerja pembiakan maleo di TNBNW bersama Kepala Balai, Agustinus Rante Lembang, di depan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan saat itu, Zulkifli Hasan.

Sejak itu, berbagai pusat peneluran maleo, seperti di Lore Lindu dan Saluki (Sulawesi Tengah), Tompotika (Sulawesi Selatan), telah melaksanakan studi banding di Suaka Maleo Tambun. Balai Konservasi Sumber Daya Alam Palu, Sulteng, juga menyambangi Max untuk belajar tentang maleo. Total 16.170 maleo telah menetas dari telurnya dan dilepasliarkan di Sulawesi sejak 2001 hingga Maret 2019.

”Yang saya lakukan itu sebenarnya bagian dari pekerjaan sehari-hari. Biasa saja, bukan prestasi. Namun, saya pribadi mendapatkan kepuasan yang besar,” katanya.

KOMPAS/KRISTIAN OKA PRASETYADI–Kepala Resor Dumoga Timur-Lolayan Taman Nasional Bogani Nani Wartabone, Max Welly Lela saat ditemui di Suaka Maleo Tambun, Bolaang Mongondow, Sulawesi Utara, Kamis (23/5/2019).

Regenerasi
Kini Max telah berusia 55. Ia khawatir tiga tahun lagi tidak ada orang yang meneruskan kerja kerasnya setelah ia pensiun. TNBNW boleh memiliki banyak pegawai, tetapi belum tentu semua orang mau mencurahkan perhatiannya kepada maleo.

Pada awal 2000-an sebelum WCS bermitra dengan TNBNW, pencurian telur maleo sangat marak. Para petugas sebelum Max pun tidak begitu disiplin dalam pengumpulan telur.

”TNBNW menginginkan kelompok masyarakat bisa mengelola suaka maleo ini. Karena itu, harus ada orang yang bisa mengadopsi pengetahuan-pengetahuan saya agar tidak sia-sia. Saya buka kesempatan lebar-lebar untuk yang mau belajar tentang maleo dan satwa lainnya secara gratis, tetapi baru dua sampai tiga orang yang datang,” katanya.

Beberapa orang yang sering datang tidak percaya diri karena keterbatasan pengetahuan dan tidak bisa berbahasa Inggris. Ada pula yang skeptis dengan penghasilan yang bisa didapatkan dari menjadi pengelola suaka. Max terus berusaha menyemangati dari berbagai perspektif, termasuk finansial.

Waktu semakin sempit, tetapi Max tidak patah semangat. Ia tak ingin cerita maleo di Bolaang Mongondow berakhir seperti di Minahasa tanah kelahirannya, cuma mitos belaka.

”Saya tidak mau maleo hanya menjadi cerita ke cucu-cucu saya nanti,” kata Max. Ia benar-benar telah mengubah mitos tentang kebiasaan hidup burung-burung maleo di daratan Sulawesi menjadi kenyataan.

Max Welly Lela

Lahir: Desa Kota Menara, Amurang Timur, Minahasa Selatan, 9 Maret 1964.

Pendidikan:
– SD GMIM Pinabetengan, Tompaso, Minahasa Selatan (1970-1976)
– SMPN Tompaso, Minahasa Selatan (1976-1979)
– SMAN Kawangkoan, Minahasa Selatan (tidak tamat)
– Kejar Paket C Kelompok Belajar Ahmad Yani, Kotamobagu (2005)

Istri: Diane Kawengian (53)

Anak: Ramanda Lela (33), Rawinda Lela (32), Trintamida Lela (30).

Oleh KRISTIAN OKA PRASETYADI

Sumber: Kompas, 7 Juni 2019

Share
x

Check Also

Prof Soemantri, Ahli Darah Penjunjung Nilai Kemanusiaan Itu, Berpulang

Salah satu inisiasi Soemantri adalah memberi pelayanan transfusi darah bagi anak penderita talasemia dan hemofilia ...

%d blogger menyukai ini: