Home / Tokoh / Maima Aulia Syakhroza; Menolak Mencipta Uang di Atas Uang

Maima Aulia Syakhroza; Menolak Mencipta Uang di Atas Uang

SETELAH lulus termuda program S-1 di Universitas Indiana, Amerika Serikat, tahun 2011, Maima Aulia Syakhroza (21) kini kembali menjadi mahasiswa termuda dan meraih beasiswa program doktor atau S-3 di Universitas Cambridge, Inggris. Untuk menunjang disertasinya, selama tiga tahun ke depan, ia memilih Indonesia untuk membuat riset kompleksitas organisasi campuran perbankan konvensional yang juga menjalankan bank syariah.

”Menariknya, kota London, Inggris, ingin sekali menjadi pusat bank syariah dunia. Ini karena pada saat krisis ekonomi global 2008-2009, bank syariah di dunia terbukti tak terlalu terkena imbasnya,” kata Aulia, Selasa (1/4), di Jakarta.

Di Universitas Indiana, Aulia mengambil dua jurusan, Bisnis Keuangan dan Konsultasi Ekonomi. Masa studinya tahun 2008-2011 dengan hasil nilai 3,83/4,00 magna cum laude (dengan pujian atau penghormatan tinggi), di bawah yang tertinggi (summa cum laude).

Dia melanjutkan program S-2 di London School of Economics and Political Science, London, pada 2011-2013. Ia meraih Master of Public Administration in Public and Economic Policy.

Aulia lalu melanjutkan ke Universitas Cambridge untuk studi program S-3. Sebelum memasuki program doktor ini, ia diwajibkan menempuh studi master of philosophy setahun, 2013-2014.

Dia memilih studi bidang inovasi, strategi, dan organisasi. Ia lalu mengajukan proposal riset untuk permohonan beasiswa meraih gelar PhD, doctor of philosophy, bidang strategi organisasi.

”Proposal riset, selain untuk Universitas Cambridge, juga saya kirimkan ke Universitas Oxford. Keduanya menerima. Saya memilih Universitas Cambridge,” katanya.

Departemen Judge Business School Universitas Cambridge pada Februari 2014 memberi beasiswa untuk penelitian Aulia sekitar 100.000 poundsterling selama tiga tahun. Jumlah ini setara dengan lebih kurang Rp 1,88 miliar.

Aulia memilih riset ”Managing Institutional Complexity in Hybrid Organization: The Case of Islamic Banks” (Kompleksitas Pengaturan Institusional dalam Organisasi Campuran: Studi Kasus Bank Syariah).

Semua lapisan masyarakat
Sebagian orang beranggapan, beda bank konvensional dan bank syariah hanya pada kebijakan yang tak menetapkan bunga. Padahal, menurut Aulia, pada dasarnya bank syariah bertujuan membangun ekonomi semua lapisan masyarakat dengan prinsip tak memperbolehkan kegiatan menciptakan uang di atas uang.

”Seperti orang yang menitipkan sejumlah uang di bank syariah sebagai simpanan deposito. Untuk memperoleh keuntungan, pemilik dana deposito itu juga harus menempuh risiko dengan menciptakan nilai yang baru,” ujarnya.

Nilai yang baru, menurut Aulia, bisa berupa kesempatan membuka lapangan kerja baru atau membina kerja sama dengan orang lain. Menjadi tidak dibenarkan ketika orang menyimpan sejumlah uang di bank syariah hanya untuk meraih bunga atau pendapatan keuntungan tanpa risiko atau usaha apa pun.

Tak dibenarkan pula keberadaan bank syariah jika hanya digunakan untuk pembangunan dan pengembangan satu golongan saja. Dalam hal ini, golongan itu biasanya para pemilik modal. Sementara masyarakat miskin tak memiliki akses cukup dan dipercaya perbankan konvensional.

Bank syariah memungkinkan pengembangan ekonomi lapisan masyarakat miskin yang tak punya modal cukup. Kepercayaan layanan modal bagi masyarakat miskin mengandalkan jaminan baitul maal atau komunitas usahanya. Artinya, bukan pada jaminan atau agunan harta yang diberikan kepada bank.

Aulia beralih tutur, krisis ekonomi global 2008-2009 dimulai di AS, lalu merembet ke Eropa. ”Perbankan konvensional di Amerika waktu itu gencar memberikan pinjaman untuk kredit kepemilikan perumahan. Pedomannya, nilai jaminan risiko kredit berupa properti itu seiring dengan waktu akan naik,” katanya.

Bank konvensional begitu mudah meminjamkan dana kredit kepemilikan rumah. Bank menciptakan berbagai produk layanan konsumen berupa paket yang sesungguhnya hanya mengincar pendapatan atau keuntungan dari akumulasi bunga. Menciptakan uang di atas uang yang dipinjamkan.

”Harga minyak dunia lalu naik. Ini menyebabkan suku bunga bank naik pula. Muncul kesulitan untuk menarik uang para peminjam bank konvensional,” ujarnya.

Krisis ekonomi pun terjadi. Nilai properti yang dianggap tak akan turun di AS sempat turun. Perbankan konvensional mengalami krisis dan merembet ke sektor ekonomi lain. Belajar dari sini, perbankan konvensional dengan metode mencipta uang di atas uang dinilai punya kelemahan. Bank syariah menjadi pilihan jalan keluarnya.

Pendidikan
Aulia belajar di kelas I SD Al Azhar Rawamangun, Jakarta Timur, lalu melanjutkan kelas II-IV SD di Lake Monger Primary School, Perth, Australia. Dia mengikuti orangtuanya yang menempuh studi di Perth.

Sang ayah, Akhmad Syakhroza, kini Guru Besar Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia. Ibunya, Dian A Syakhroza, adalah dokter yang aktif di salah satu partai politik dan menjadi anggota DPR 2009-2014.

Maima Aulia SyakhrozaKembali dari Perth, dia belajar di SD Muhammadiyah Rawamangun. ”Waktu itu, kursi kelas IV dan V dikatakan sudah penuh. Lalu, saya dites untuk masuk kelas VI dan diterima,” ceritanya.

Aulia kemudian melanjutkan pendidikan di SMP Negeri 216 Salemba, Jakarta Pusat. Ketika masuk SMA Negeri 8 Jakarta, dia mengikuti kelas internasional selama sekitar 1,5 tahun, kemudian berpindah ke Green River Community College di Auburn, Washington, AS, selama setahun.

”Studi di Green River Community College itu menjadi masa transisi saya untuk masuk ke Universitas Indiana,” kata anak pertama dari lima bersaudara ini.

Kini, Aulia tengah mengikuti program S-3 di Universitas Cambridge, Inggris. Setelah selesai menempuh studi, dia bertekad untuk membaktikan diri dan pengetahuannya bagi Tanah Air.

—————————————————————————
Maima Aulia Syakhroza

  • Lahir: Jakarta, 19 September 1992
  • Pendidikan:

– SD Al Azhar Rawamangun, Jakarta Timur, kelas I, 1998-1999
– SD Lake Monger, Perth, Australia, kelas II-IV, 1999-2001
– SD Muhammadiyah Rawamangun, kelas VI, 2001-2002
– SMP Negeri 216 Jakarta, 2002-2005
– SMA Negeri 8 Jakarta, 2005-2007
– Green River Community College, Auburn, Washington, AS, 2007-2008
– S-1 Universitas Indiana, AS, 2008-2011
– S-2 London School of Economics and Political Science, London, Inggris, 2011-2013
– S-3 Universitas Cambridge, Inggris, untuk ”master of philosophy”, 2013-2014, dilanjutkan PhD dengan beasiswa penelitian tiga tahun, 2014-2017

  • Pengalaman:

– Konsultan LSE Capstone Project, European Investment Bank, London, Inggris, Oktober 2012-Maret 2013
– Investment Banking Department M&A Intern,B arclay Capital, Singapura, Juli 2012-Agustus 2012
– Asistensi Riset pada Kementerian Keuangan RI, Juni 2011-Agustus 2011
– Asisten pengajar Departemen Akuntansi Kelley School of Business, Bloomington, AS, Januari 2009-Mei 2011
– Aktivitas: Presiden Perhimpunan Pelajar Indonesia Cambridge, Inggris, 2014-kini

Oleh: Nawa Tunggal

Sumber: Kompas, 8 April 2014

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*

code

x

Check Also

Sudirman; Membebaskan Dusun dari Kegelapan

Pada Maret 2003, Sudirman (41) sudah siap membangun rumah permanen. Sebanyak 50 zak semen sudah ...

%d blogger menyukai ini: