Home / Berita / Mahasiswa agar Lebih Aktif Menulis

Mahasiswa agar Lebih Aktif Menulis

Generasi milenial, seperti pelajar dan mahasiswa, diharapkan aktif menulis. Kegiatan menulis yang konsisten disertai paparan data yang mendalam berpotensi melahirkan seorang ahli. Namun, hal itu tidak bisa dicapai secara instan. Menulis perlu usaha, kerja keras, dan kesabaran agar penulis menjadi kredibel.

“Peluang menjadi seorang ahli dari latar belakang penulis sangat besar. Sering kali saya bertemu dengan penulis yang sudah menjadi ahli di bidangnya, karyanya dijadikan rujukan dan memiliki pengaruh kuat di masyarakat,” kata Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini saat membuka lokakarya Kelas Menulis Kompas, “Jurnalistik Milenial yang Kredibel dan Bertanggung Jawab”, Senin (13/11), di Surabaya, Jawa Timur.

Kelas Menulis Kompas diselenggarakan oleh harian Kompas bekerja sama dengan PT Toyota Astra Motor, Panasonic, dan Pupuk Indonesia. Kegiatan ini diikuti sekitar 50 mahasiswa dengan pembicara Wakil Pemimpin Redaksi Kompas Trias Kuncahyono dan Wakil Editor Desk Muda Kompas Susie Berindra. Hadir pula dalam acara tersebut Executive General Manager Toyota Astra Motor Fransiscus Soerjopranoto dan wartawan senior Kompas, Banu Astono.

Risma menuturkan, tulisan mempunyai potensi kuat untuk memengaruhi orang lain. Pembaca akan mudah terpengaruh dengan tulisan-tulisan mendalam dan disertai data kuat. Tulisan yang berpengaruh bahkan bisa menginspirasi pembaca untuk berbuat baik.

KOMPAS/IQBAL BASYARI–Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini (kedua dari kanan) memberikan paparan saat lokakarya Kelas Menulis Kompas, “Jurnalistik Milenial yang Kredibel dan Bertanggung Jawab”, Senin (13/11), di Surabaya, Jawa Timur. Hadir dalam acara itu Wakil Pemimpin Redaksi Kompas Trias Kuncahyono (kedua dari kiri), wartawan senior Kompas Banu Astono (kiri), dan Executive General Manager PT Toyota Astra Motor Fransiscus Soerjopranoto (kanan).

Dalam beberapa kesempatan, Risma sebagai pejabat publik mengaku sering mendapat permintaan wawancara dengan penulis dari dalam dan luar negeri. Penulis tersebut merupakan seseorang yang ahli dalam bidang yang digeluti. Tulisannya memiliki pengaruh kuat setelah diterbitkan.

“Meski seorang wartawan, kepakarannya tidak diragukan lagi karena penulis memiliki pengalaman lapangan dan teori yang kuat. Kredibilitasnya sebagai seorang ahli tidak diragukan lagi,” kata Risma yang penggemar JK Rowling tersebut.

Menjadi seorang penulis, lanjut Risma, bisa berasal dari berbagai kalangan, bukan hanya dari jurusan jurnalistik. Setiap orang mempunyai kemampuan menulis asal mau berusaha. Jangan sampai membatasi diri hanya karena bukan berlatar belakang jurnalis.

“Menulis bisa dilakukan sejak sekarang, jangan ditunda lagi selagi masih muda,” ujarnya.

Trias mengatakan, menulis butuh proses, tidak bisa instan. Menjadi penulis yang kredibel perlu usaha, kerja keras, dan kesabaran. Tulisan bisa dimulai dari hal yang disukai agar memunculkan gairah untuk menulis. Menambah referensi dengan membaca buku dan mengunjungi tempat baru perlu dilakukan secara rutin untuk meningkatkan kualitas tulisan.

“Menulis tidak sekadar menulis, tetapi pesannya harus bisa sampai kepada pembaca. Pada dasarnya, seorang penulis adalah seorang pembaca,” katanya.

Tulisan kreatif
Menurut Susie, tulisan kreatif mulai digemari penulis dari generasi milenial. Tulisan kreatif tidak hanya memuat informasi karena dimaksudkan untuk mengungkapkan pikiran dengan cara yang unik. Jika tulisan jurnalistik mengandalkan fakta sebagai bahan dasar utama, tulisan kreatif menonjolkan imajinasi. Produk tulisannya, antara lain, novel, cerita pendek, dan puisi.

Tidak ada bentuk baku dalam penulisan kreatif. Akan tetapi, ada hal yang harus dipegang, antara lain jujur, tidak menyinggung isu suku, agama, ras, dan antar-golongan, serta tidak mempermalukan orang lain.

Mahasiswa Jurusan Hubungan Masyarakat Lembaga Pendidikan dan Pengembangan Profesi Indonesia (LP3I), Fahmi Cliffani Sri Astin (18), mengatakan, generasi milenial perlu mendapatkan pelatihan untuk membuat berita yang mendalam. Selama ini, dia cenderung membaca tulisan yang tidak utuh dari media dalam jaringan (daring). Informasi yang didapatkan menjadi tidak lengkap dan kurang mendalam.

“Saya tertarik untuk menulis novel karena menjadi tren di kalangan generasi milenial,” ujarnya. (SYA)

Sumber: Kompas, 14 November 2017

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*

code

x

Check Also

Belajar dari Sejarah Indonesia

Pelajaran sejarah Indonesia memang sangat menentukan dalam proses pendidikan secara keseluruhan. Dari sejarah Indonesia, siswa ...

%d blogger menyukai ini: