Home / Berita / Listeriosis, Penyakit Lama yang Mewabah Sporadis

Listeriosis, Penyakit Lama yang Mewabah Sporadis

Otoritas Kesehatan Australia mengumumkan wabah penyakit listeria atau listeriosis di negara tersebut yang menewaskan tiga orang dan menyerang 12 orang lainnya. Wabah itu diduga berasal dari buah rockmelon yang ditanam di negara bagian New South Wales. Kini, produsen buah yang di Indonesia disebut melon kuning itu sedang melakukan investigasi.

“Sebanyak 13 orang dari 15 orang yang menderita listeriosis mengonsumsi melon kuning (rockmelon) tersebut sebelum jatuh sakit,” kata Direktur Penyakit Menular Kementerian Kesehatan New South Wales (NSW Health) Vicky Sheppeard seperti dikutip Reuters, Sabtu (3/3).

HTTPS://WWW.ARS.USDA.GOV/OC/IMAGES/PHOTOS/K7388-11/–Melon kuning atau juga disebut rockmelon di Australia dan Selandia Baru. Buah ini juga disebut sebagai muskmelon atau cantaloupe di Amerika Serikat.

Mereka yang terserang listeriosis itu tersebar di sejumlah negara bagian, termasuk Victoria dan Tasmania. Kini, pemerintah meminta supermarket untuk mengeluarkan melon kuning dari rak buah-buah yang mereka jual serta masyarakat diminta membuang semua melon kuning yang dibeli sebelum 1 Maret.

Sementara itu, Pemerintah Afrika Selatan pada Minggu (4/3), mengumumkan berhasil menelusuri wabah listeriosis yang terjadi di negara itu dan menewaskan 180 orang serta menginfeksi lebih dari 1.000 orang pada tahun lalu. Wabah itu diduga berasal dari pabrik pengolah makanan di Polokwane, sekitar 300 kilometer di utara Johannesburg.

Menteri Kesehatan Afrika Selatan Aaron Motsoaledi seperti dikutip BBC mengingatkan masyarakat untuk menghindari semua produk olahan daging siap makan yang dijual. Mereka yang lebih rentan terserang penyakit ini adalah ibu hamil, bayi, dan orang lanjut usia.

Waspada
Menyikapi wabah listeriosis yang terjadi di Australia, Badan Karantina Pertanian Kementerian Pertanian Republik Indonesia meningkatkan kewaspadaannya, seperti ditulis Kompas, Senin (5/3). Meski tidak ada data tentang impor langsung melon Australia ke Indonesia, potensi buah tersebut masuk ke Indonesia tetap ada karena buah itu diekspor dari Australia ke sejumlah negara tetangga, seperti Singapura dan Malaysia.

Kementerian Pertanian merespon hal ini dengan menerbitkan Keputusan Menteri Pertanian nomor 207/Kpts/KR.040/3/2018 tentang penutupan pemasukan rockmelon (Cantaloupe) dari negara Australia ke dalam wilayah Republik Indonesia. Menurut Banun Harpini, Kepala Badan Karantina Pertanian, dalam siaran pers, hal itu sebagai bentuk perlindungan konsumen buah-buahan di Indonesia dan antisipasi terjadinya kejadian sama di Indonesia.

Ada beberapa hal yang menjadi poin utama dalam keputusan ini, antara lain penutupan pemasukan rockmelon (Cantaloupe) dari Australia ke wilayah Indonesia sejak tanggal 3 Maret 2018. Pengiriman buah itu secara langsung maupun transit di negara lain dibuktikan dengan Bill of Lading (B/L) atau Airway Bill (AWB) dan Cargo Manifest.

Penolakan ataupun pemusnahan melon kuning dari Australia dilakukan sesuai aturan perundang-undangan di bidang Karantina tumbuhan. “Buah melon yang beredar di pasaran saat ini murni buah lokal dari petani Indonesia, dan Kementan menjamin buah itu sehat dan aman untuk dikonsumsi masyarakat,” tegas Banun Harpini.

Kementan akan terus mewaspadai dan mengawasi masuknya buah impor secara intensif baik yang melalui bandara, pelabuhan dan perbatasan negara, dengan pengawasan di lapangan maupun laboratorium pengujian. “Laboratorium kita siap menguji bila diperlukan pengujian,” kata Banun.

Patogen fatal
Wabah listeriosis sebenarnya bukan hanya kali ini terjadi. Wabah serupa pernah melanda tujuh negara bagian Amerika Serikat pada September 2011 yang menyerang 22 orang dan dua penderita diantaranya dilaporkan meninggal dunia.

Bahkan, Badan Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (CDC) AS menyebut, setiap tahun, sekitar 1.600 orang terserang listeriosis dan 260 orang diantaranya meninggal dunia. Kondisi itu membuat listeriosis menjadi penyakit paling mematikan akibat makanan ketiga di AS.

Listeriosis atau listeria adalah penyakit infeksi serius yang dipicu oleh makanan yang terkontaminasi bakteri Listeria monocytogenes. Bakteri ini secara alami ada di tanah, air, dan hewan yang dapat membawa bakteri tersebut tanpa terlihat sakit.

Bakteri itu bisa berpindah atau mengontaminasi makanan karena perpindahan bakteri dari tanah ke tumbuhan atau terbawa dari pupuk kandang yang terkontaminasi L monocytogenes dan masuk ke tumbuhan.

Jenis makanan yang mudah terkontaminasi bakteri ini adalah susu yang tidak dipasteurisasi, keju lunak, sayur mayur dan buah-buahan mentah, serta aneka produk daging mentah maupun daging olahan.

Tidak seperti kebanyakan patogen pemicu penyakit melalui makanan, L monocytogenes tetap bisa berkembang cepat dalam makanan yang sudah terkontaminasi meski makanan tersebut didinginkan dalam lemari es. Pada titik beku, bakteri ini memang tidak tumbuh, namun itu tidak membuat bakteri mati. Bakteri itu bisa bertahan lama di titik beku meski tidak berkembang.

L monocytogenes bisa bertahan hidup selama bertahun-tahun di pabrik pengolahan makanan. “Ini adalah salah satu patogen paling fatal dan patogen yang sangat bermasalah di pabrik pengolahan makanan karena sangat menyukai lingkungan yang dingin, lembab dan gelap,” kata ahli keamanan pangan dari Universitas Negeri Carolina Utara, AS Benjamin Chapman seperti dikutip Livescience pada 29 Agustus 2016.

Penyakit ini tersebar di seluruh dunia secara sporadis. Meski penyakit ini umumnya menyebar melalui makanan yang terkontaminasi, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menilai risiko bagi wisatawan relatif rendah. Meski demikian, risiko itu akan meningkat jika para wisatawan itu mengonsumsi susu dan produk susu yang tidak dipasteurisasi dan daging olahan.

HTTPS://WWW.CDC.GOV/LISTERIA/INDEX.HTML–Bakteri Listeria monocytogenes yang memicu penyakit listeria atau listeriosis.

Listeriosis memicu meningoensefalitis atau peradangan pada selaput dan jaringan otak serta septikemia atau keracunan darah akibat bakteri yang masuk dalam darah.

Mereka yang rentan terhadap serangan penyakit ini adalah ibu hamil, bayi baru lahir, orang lanjut usia berumur lebih dari 65 tahun serta mereka dengan kekebalan tubuh yang rendah. Di luar kelompok rentan tersebut, listeriosis jarang ditemukan.

Pada sebagian orang, serangan bakteri ini memicu demam akut ringan. Namun pada ibu hamil, listeriosis tak hanya bisa menimbulkan demam, tetapi janin bisa mengalami keguguran. Selain itu, ibu hamil yang terkena listeriosis bisa menularkan penyakit ini ke janin. Penularan listeriosis ke janin itu bisa membuat bayi yang baru lahir mati, mengalami septikemia, bahkan menderita meningitis atau radang selaput otak.

Listeria juga bisa mempengaruhi bagian tubuh lain, seperti tulang, persendian atau dada dan perut.

CDC/ DR. BALASUBR SWAMINATHAN; PEGGY HAYES–Bakteri Listeria menyerang jaringan tubuh.

Sementara itu, gejala yang umum dialami orang yang terkena listeriosis bisa bervariasi, tergantung bagian tubuh yang kena. Demam, diare, dan mual adalah gejala yang umum, mirip dengan gejala penyakit akibat kuman yang terbawa pada makanan lainnya.

Apabila bakteri L monocytogenes sudah sampai usus atau listeriosis invasif, maka pada ibu hamil akan memicu demam dan gejala mirip flu lain, seperti kelelahan dan nyeri otot. Infeksi selama kehamilan itu bisa menyebabkan janin keguguran hingga 20 persen, bayi lahir mati sebanyak 3 persen, proses persalinan prematur dan infeksi lain yang mengancam hidup bayi.

Repotnya, gejala listeriosis pada bayi baru lahir tidak terlalu terlihat jelas seperti pada orang dewasa. Namun, tanda yang perlu diwaspadai adalah rendahnya minat bayi untuk makan atau minum air susu ibu, mudah marah, demam dan muntah.

Sementara jika listeriosis invasif itu terjadi bukan pada ibu hamil, maka selain demam dan nyeri otot, juga akan menyebabkan sakit kepala, leher kaku, bingung atau perubahan kewaspadaan, kehilangan keseimbangan hingga kejang. Gejala itu juga menunjukkan infeksi listeria sudah menyerang sistem saraf.

Penderita listeriosis invasif umumnya memerlukan perawatan di rumah sakit. Hal itu penting karena satu orang dari lima orang penderita listeriosis invasif berakhir dengan kematian.

Berbagai gejala itu umumnya akan muncul antara 1 minggu sampai 4 minggu setelah mengonsumsi makanan yang terkontaminasi L monocytogenes. Namun, dalam sejumlah kasus, gejala itu ada yang sudah muncul pada hari pertama sejak terpapar bakteri atau justru baru muncul 10 minggu setelah terkena bakteri.

Listeria monocytogenes
Untuk memastikan serangan listeriosis, maka harus dilakukan pemeriksaan laboratorium dengan mengkultur bakteri. Proses kultur itu dilakukan dengan mengambil jaringan atau cairan tubuh, seperti darah, cairan tulang belakang, urine, serta plasenta untuk menumbuhkan bakteri L monocytogenes.

Sementara, pengobatan listeriosis yang dilakukan dokter selama ini adalah dengan pemberian antibiotik.

Karena itu, meski penyakit ini sedang mewabah di Australia, masyarakat tidak perlu panik. Selain tidak ada data impor melon kuning dari Australia, penyakit ini bisa dicegah dengan membiasakan mengonsumsi makanan matang atau mencuci hingga bersih buah dan sayur yang dimakan mentah serta segera mengonsumsi makanan mentah tersebut.–M ZAID WAHYUDI

Sumber: Kompas, 8 Maret 2018

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*

code

%d blogger menyukai ini: