Home / Berita / komunitas ”drone”; Merekam Indonesia dari Langit

komunitas ”drone”; Merekam Indonesia dari Langit

Minggu pagi, 11 Januari, Kebun Raya Bogor, Jawa Barat, dipilih menjadi tempat pertemuan komunitas DJI Phantom Indonesia awal tahun 2015. Komunitas pencinta pesawat tanpa awak, atau yang lebih dikenal dengan istilah ”drone”, tersebut untuk keempat kalinya berkegiatan terbang bareng.
Pagi itu, langit di Kebun Raya Bogor cerah dan tidak turun hujan. Namun, menjelang siang angin bertiup semakin kencang. Lebih dari 30 anggota komunitas DJI Phantom Indonesia hadir dengan membawa pesawat masing-masing. Langit Kebun Raya pun menjadi riuh dengan suara baling-baling drone yang bermanuver.

Komunitas ini umumnya menggunakan drone yang diproduksi Da-Jiang Innovations (DJI) Science and Technology Co, Ltd—perusahaan yang didirikan Frank Wang tahun 2006 di Shenzen, Tiongkok. Drone produksi DJI dalam kondisi siap terbang dengan kamera sehingga tidak perlu repot merakit perangkat tambahan lain. Dengan demikian, sangat membantu pengamatan udara sekaligus dapat merekam video atau foto dari ketinggian (aerial shot).

DJI Phantom Indonesia digagas pertama kali oleh Irwan Fasha Baidowi bersama empat kawannya, pada pertengahan Mei tahun lalu. ”Awalnya dari hobi travelling dan sering bikin video dengan kamera gopro. Lalu terpikir bagaimana membuat video dari ketinggian dengan kamera gopro,” ujar pria yang menggeluti profesi disc jockey sejak tahun 2006.

Irwan kemudian mencari perangkat pendukung yang diinginkannya itu di dunia maya. Gayung bersambut, DJI Phantom merilis drone generasi kedua yang didesain untuk kamera gopro. Ia pun tertarik untuk membeli dan belajar menerbangkannya secara otodidak. Hobinya ini kemudian ditularkan kepada keempat temannya dan kemudian membuat komunitas kecil melalui media Whatsapp Messenger.

Hasil foto dan video dengan drone diunggah ke media sosial Facebook. Responsnya luar biasa. Lalu muncul gagasan membuat komunitas di Facebook dengan membuat Fanpage DJI Phantom Indonesia. Komunitas ini terus berkembang dengan anggota lebih dari 2.600 orang.

Kecanduan Irwan membuat foto dan video dengan drone adalah cara lain yang ia lakukan untuk menikmati keindahan alam atau panorama kota dari setiap tempat yang dikunjunginya dari atas langit. Anggota komunitas DJI Phantom Indonesia berasal latar belakang profesi dan usia yang beragam. Tidak semuanya menerbangkan drone sebagai hobi semata.

Membantu pekerjaan
Ada di antara mereka yang menerbangkan drone untuk menunjang pekerjaan dan profesinya. Salah satunya Bobby Gunawan, jurnalis Indonesia yang bekerja untuk media televisi asing. Karena kebutuhan pengambilan gambar dari perspektif yang berbeda, ia kemudian tertarik mendalami teknologi satu ini. Salah satunya saat unjuk rasa mahasiswa di Hongkong tahun lalu. Ia ditugaskan menerbangkan drone untuk menggambarkan bagaimana situasi unjuk rasa di sana.

Demikian juga dengan Putro, yang sehari-hari bekerja sebagai pilot di sebuah maskapai Indonesia. Ia menerbangkan drone untuk menyalurkan hobinya di dunia aeromodeling. Ia baru saja membeli satu unit Phantom Vision 2+ dan mencobanya terbang pertama kali di Kebun Raya Bogor bersama anggota komunitas lain.

Serupa dengan Putro, Keenan Rashad Suparmono, bocah berusia 11 tahun asal Jakarta, juga baru bergabung dengan komunitas ini. Ia baru saja dibelikan ayahnya, Suparmono, satu drone dengan tipe yang sama. Ini pertama kali buat Keenan menerbangkan drone. Menurut Suparmono, drone memberikan efek positif bagi anaknya.

Drone populer di Indonesia awal tahun 2013 dengan masuknya Phantom seri 2. Bersamaan dengan perkembangan teknologi fotografi dan video, drone hadir menunjang kebutuhan kerja dokumentasi dengan sudut pengambilan gambar yang berbeda.

Indra Wirawan, pemilik situs daring hybrid-RC.com, yang turut hadir dalam temu komunitas, mengaku pertumbuhan drone di Indonesia pesat sekali. Teknologi drone memang semula dirancang untuk kalangan terbatas, seperti militer. Namun, kemunculan DJI Phantom mematahkan persepsi bahwa drone barang mahal. DJI Phantom merupakan contoh model drone yang relatif terjangkau dan mudah dipelajari bagi para pemula sekalipun.

Drone seri Phantom yang diproduksi DJI berukuran relatif kecil dengan diameter lebih kurang 35 sentimeter tanpa baling-baling. Beratnya hanya sekitar 1 kilogram, itu pun sudah termasuk berat baterai, sehingga mudah dibawa-bawa ke mana-mana. Drone dikendalikan secara nirkabel menggunakan frekuensi radio layaknya remote control. Gelombang yang dipergunakan ada pada frekuensi 2,4 gigahertz, mampu menjangkau jarak hingga 1.000 meter di area terbuka. Pada seri vision 2+ kamera dimonitor menggunakan perangkat telepon cerdas berbasis android atau ios.

Komunitas DJI Phantom IndonesiaTelepon cerdas itu terhubung dengan kamera melalui jangkauan frekuensi Wi-Fi. Smartphone ini juga berfungsi sebagai layar monitor sekaligus remote control untuk mengendalikan kamera. Cukup mengunduh aplikasinya terlebih dahulu secara gratis di play store android atau di apps store ios. Dengan aplikasi ini, pilot drone sudah bisa mengendalikan kamera dan menentukan kapan memotret atau berganti merekam video melalui layar smartphone-nya.

DJI melengkapi drone dengan fitur yang khusus didesain untuk terbang secara aman, bahkan bagi pemula sekalipun. Salah satunya fitur global positioning system (GPS) yang membaca posisi drone dengan sistem satelit. Dengan fitur ini, posisi drone bisa terkunci dan mampu terbang diam di udara (hover). Meski terseret angin, drone akan kembali pada posisi sebelumnya secara otomatis tanpa diperintah.

GPS juga membantu penerbang mengunci posisi awal drone saat terbang. Hal ini penting dilakukan sebelum menerbangkan drone. Jika gelombang frekuensi remote control terputus dengan unit drone karena gangguan gelombang frekuensi lain, atau karena faktor cuaca dan jarak yang melebihi batas maksimal kemampuan frekuensi, drone akan secara otomatis kembali ke posisi saat awal terbang (take off position). Tentunya terlebih dahulu perlu melakukan kalibrasi GPS sebelum menerbangkan drone.

Perkembangan drone belakangan ini mulai dirancang agar lebih aman. Hal itu tidak saja bagi pengendali drone, tetapi juga bagi lingkungan sekitar. Salah satu fitur yang dikembangkan adalah mengunci secara otomatis sehingga drone tidak bisa mendekat ke zona terbatas seperti bandara udara.

Fitur lain yang membantu pemula adalah fitur home lock. Jika penerbang drone mengalami kesulitan mengendalikan drone karena disorientasi, fitur ini membantu penerbang memanggil drone untuk kembali ke posisi saat awal terbang. Jika baterai drone mulai melemah saat terbang, secara otomatis drone akan kembali turun secara perlahan ke tempat semula sebelum baterai benar-benar habis. Satu unit drone tipe Phantom di Indonesia dijual berkisar antara 550 dollar AS dan 1.300 dollar AS.

Oleh: Lucky Pransiska

Sumber: Kompas, 13 Januari 2015

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*

code

%d blogger menyukai ini: