Home / Berita / Kolaborasi Perkuat Ekonomi Sirkular

Kolaborasi Perkuat Ekonomi Sirkular

Timbulan sampah yang tidak terkelola dengan baik menjadi masalah yang tak kunjung teratasi di berbagai negara, termasuk Indonesia. Selain mencemari lingkungan, berbagai jenis sampah yang ada berdampak buruk bagi kesehatan manusia. Pengembangan ekonomi sirkular dinilai bisa menjawab tantangan itu.

Deputi Sekretaris Jenderal PBB Amina J Mohammed, menyampaikan hal itu dalam sambutannya yang diutarakan Koordinator PBB di Thailand Deirdre Boyd, pada simposium pembangunan berkelanjutan ke-10 bertema “ Ekonomi Sirkular: Kolaborasi untuk Aksi”, Senin (26/8/2019), di Bangkok, Thailand. Ia menekankan pentingnya kolaborasi semua pihak terkait untuk mengembangkan ekonomi sirkular.

KOMPAS/EVY RACHMAWATI–Para pemangku kepentingan dan pembicara bergandengan tangan sebagai wujud komitmen mendukung ekonomi sirkular, dalam Simposium Pembangunan Berkelanjutan ke-10, Senin (26/8/2019), di Bangkok, Thailand.

DI sela-sela simposium itu, para mahasiswa perwakilan sejumlah negara di Asia Tenggara, termasuk Indonesia, yang jadi peserta Sharing The Dream ASEAN Camp, mendesak para pemangku kepentingan agar segera membenahi mutu lingkungan. Sejumlah isu yang diangkat ialah buruknya mutu udara di kota-kota besar, deforestasi, dan sampah.

KOMPAS/EVY RACHMAWATI–Para mahasiswa perwakilan sejumlah negara di Asia Tenggara yang menjadi peserta Sharing The Dream ASEAN Camp menyampaikan aspirasi mereka terkait masalah lingkungan, dalam Simposium Pembangunan Berkelanjutan ke-10, di Bangkok, Thailand, Senin (26/8/2019).

Kakuko Nagatani Yoshida, Koordinator Bidang Kualitas air, Limbah, dan Bahan Kimia Kawasan Asia pasifik Program Lingkungan PBB, menjelaskan, kolaborasi swasta dan pemerintah mesti ditingkatkan demi mengurangi timbulan sampah. Sejumlah korporasi menjalankan ekonomi sirkular lebih dari melaksanakan tanggung jawab sosial perusahaan (CSR) misalnya coca cola dan ikea.

Ekonomi sirkular merupakan model ekonomi yang bertujuan mendaur ulang limbah agar bisa dimanfaatkan kembali dan memiliki nilai ekonomi. Itu meliputi perencanaan, mendesain, memilah bahan, produksi, konsumsi, dan mengolah limbah. Penerapan model ekonomi itu juga perlu melibatkan antara lain, ilmuwan, pekerja informal, dan komunitas

Pada kesempatan itu, sejumlah pelaku industri memaparkan usaha mereka menjalankan aktivitas ekonomi sirkular. Tantangan utamanya adalah mengumpulkan serta memilah limbah dan memasarkan produk ekonomi sirkular agar memberi manfaat ekonomi di pasar global.

Roongrote Rangsiyopash, Presiden dan CEO SCG, perusahaan Thailand yang bergerak di bidang semen, kimia, dan pengemasan, menyatakan kunci sukses penerapan ekonomi sirkular ialah komunikasi dan dialog. “ Komitmen mengurangi sampah harus dimulai dari internal perusahaan,” ujarnya.

Indonesia
Deputi Bidang Sumber Daya Manusia, Ilmu Pengetahuan dan Teknologi, serta Budaya Maritim Kementerian Koordinator Kemaritiman Safri Burhanuddin memaparkan, pengembangan ekonomi sirkular menjadi kunci keberhasilan pengelolaan sampah agar tak mencemari lingkungan, termasuk ekosistem perairan. “ Ekonomi sirkular belum jadi isu utama,” ujarnya,

Sejauh ini sekitar 35 persen dari volume total sampah di Indonesia tak terkelola dengan baik. Bandingkan dengan Jepang yang seluruh sampah yang dihasilkan terkelola sehingga tak masuk ke laut. Sampah bisa digunakan kembali antara lain sebagai bahan bangunan, campuran aspal, dan energi.

“ Kendala utama ialah pengumpulan dan pemilahan sampah. Kalau sistem pengumpulan berjalan baik, kegiatan ekonomi sirkular bisa berkembang. Selama ini sebagian besar kabupaten atau kota belum bisa mengelola sampah karena dana terbatas,” ujarnya. Karena itu, pihaknya mendorong keterlibatan swasta dalam mengelola sampah.

Sementara Direktur Industri Olefin dan Aromatik Asosiasi Industri Plastik dan Aromatik Olefin (Inaplas) Edi Riva’I menyatakan, pengembangan ekonomi sirkular di Indonesia terkendala oleh pola pikir dan perilaku konsumen yang masih menganggap barang yang setelah dipakai harus dibuang. “ Perlu edukasi pada warga,” katanya.

Selain itu ketersediaan infrastruktur belum memadai karena sistem pengumpulan dan pemilahan sampah belum berjalan baik. Padahal, ekonomi sirkular mensyaratkan sampah dipilah agar menghasilkan produk bernilai ekonomi termasuk energi. “Ini butuh gerakan nasional pemilahan sampah disertai penegakan hukum bagi mereka yang membuang sampah sembarangan,” ungkapnya.

Adapun kalangan pelaku industri berperan menciptakan produk agar mudah didaur ulang menjadi berbagai produk yang memiliki nilai ekonomi. Selama ini sebagian produk yang dihasilkan industri susah didaur ulang karena memakai lebih dari dua material sebagai bahan baku misalnya sachet untuk kemasan deterjen dan produk lainnya.

Oleh EVY RACHMAWATI

Sumber: Kompas, 27 Agustus 2019

Share
x

Check Also

Penggunaan Aplikasi Permudah Monitoring Mangrove

LIPI menggunakan penginderaan jauh dan teknologi untuk menghasilkan buku panduan monitoring, spreadsheet template, dan aplikasi ...

%d blogger menyukai ini: