Home / Sosok / KH Husein Muhammad, Petarung Ide Kesetaraan dari Cirebon

KH Husein Muhammad, Petarung Ide Kesetaraan dari Cirebon

KH Husein Muhammad (65) pernah dituding menghancurkan Islam dari dalam karena pandangannya yang berbeda dari arus utama, terutama soal kedudukan perempuan. Namun, ia bergeming. Baginya, sesuai prinsip tauhid, semua manusia setara di hadapan Sang Pencipta meski berbeda agama, etnis, suku, dan jenis kelamin.

KH Husein terisak haru setelah menerima penganugerahan doktor kehormatan (honoris causa) terkait dengan tafsir jender oleh Universitas Islam Negeri Walisongo di Semarang, Jawa Tengah, Selasa (26/3/2019). Sekitar 500 orang hadir menyimak orasi ilmiahnya berjudul ”Gender dalam Pendekatan Tafsir Maqshidi”.

Sosok KH Husein Muhammad (berpeci hitam) bersama para santrinya.

KOMPAS/ABDULLAH FIKRI ASHRI–KH Husein Muhammad di depan mural di Institut Sekolah Islam Fahmina, Kota Cirebon, Jawa Barat.

Bukan hanya santri dari Cirebon, Jawa Barat, aktivis perempuan asal Amerika Serikat, Amina Wadud, juga datang. ”Penghargaan ini menunjukkan bahwa orang membutuhkan pandangan saya. Selama ini, pemikiran saya dimarjinalkan karena dianggap menyimpang, bahkan merusak Islam dari dalam,” ujar Buya, sapaan KH Husein.

Kami berbincang lebih jauh tentang pandangannya, Rabu (27/3/2019), di Institut Sekolah Islam Fahmina (ISIF), Kota Cirebon, Jawa Barat, kampus yang ia dirikan satu dekade silam. Sesekali kami memandang mural di tembok parkiran kampus yang berisi ungkapan seperti ”kebencian membuat hidup menjadi gelap, cinta membuatnya bercahaya” dan ”orang beragama itu anti-kekerasan”.

Buya kerap menyuarakan kesetaraan antara perempuan dan laki-laki. Perempuan bukan subordinat laki-laki karena memiliki potensi yang sama dari aspek intelektual hingga spiritual. Toh, tidak jarang, perempuan lebih cerdas daripada laki-laki.

Oleh karena itu, urusan perempuan tidak melulu soal domestik, rumah tangga. Bukankah perempuan harus kerja ke luar negeri demi menghidupi keluarganya, seperti yang terjadi di daerah Buya, yakni Cirebon dan Indramayu?

Pandangannya pun dianggap nyeleneh bagi sejumlah orang yang memahami bahwa kodrat perempuan selalu kurang dibandingkan dengan laki-laki. ”Yang menarik, dua aliran besar ini sumbernya berasal dari Al Quran dan Hadis. Lalu, kenapa laki-laki selalu menjadi superior dan perempuan inferior?” ujar pengasuh Pondok Pesantren Dar al-Tauhid Arjawinangun, Cirebon, ini.

KOMPAS/ABDULLAH FIKRI ASHRI–KH Husein Muhammad

Menurut dia, Al Quran Surah Al Hujurat Ayat 13 menjelaskan, manusia terunggul dan terhormat adalah yang paling bertakwa kepada-Nya, bukan karena identitas apa pun, suku, bangsa, warna kulit, kelamin, dan perbedaan lainnya.

Prinsip tauhid, tidak ada tuhan kecuali Allah, sebenarnya telah menjelaskan kesetaraan antarmanusia. ”Tauhid itu meniscayakan kita memandang semua manusia sama. Hanya Allah pemilik otoritas absolut. Jadi, manusia sebagai ciptaan Tuhan harus bebas dari diskriminasi dan penindasan,” ujar Buya yang kerap mengkaji kitab kuning tradisional hingga kontemporer.

Oleh karena itu, Buya juga lantang bersuara tentang pluralisme dan hak asasi manusia. Di ISIF, misalnya, mahasiswa mendapatkan mata kuliah umum dan diuji terkait dengan isu HAM dan jender. Buya juga membangun Forum Sabtuan, jaringan antaragama di Cirebon.

Kantor disegel
Meski demikian, pemikirannya tidak serta-merta diterima. Masih ada kelompok yang merendahkan kelompok lain meskipun seiman. Mereka tidak segan meneror, bahkan membunuh. Kebenaran hanya milik mereka. Lainnya yang berbeda dianggap sesat. Buya pun sempat dituding demikian.

Massa kelompok garis keras di Cirebon bahkan pernah menyegel Institut Fahmina pada 2000-an, organisasi yang ia dirikan bersama sejumlah temannya. Buya yang sempat menempuh pendidikan di Mesir (1980-1983) ini juga pernah disidang oleh sejumlah kiai di Jawa Timur karena pandangannya.

Perjuangannya memang tidak mudah. Sebab, diskriminasi jender yang berlandaskan pandangan patriarki selama ini didukung oleh kekuatan struktural dan kultural selama berabad-abad. ”Ya itu negara dengan undang-undangnya dan agama dengan teks kitab,” ucapnya.

Sosok KH Husein Muhammad (berpeci hitam) bersama para santrinya.

KOMPAS/ABDULLAH FIKRI ASHRI–KH Husein Muhammad (berpeci hitam) bersama para santrinya.

Namun, bapak lima anak dan kakek dua cucu ini bijak menanggapinya. ”Semua ada prosesnya. Jangan sampai ketidaktahuan kita terhadap sesuatu membuat kita memusuhi orang lain. Di sinilah pentingnya dialog,” ujar Buya yang tidak ingin memojokkan salah satu kelompok.

Kebesaran hati Buya yang berbadan kurus membuatnya ”selesai” dengan dirinya sendiri. Ia mengaku dulu berpandangan konservatif sesuai bacaannya. Kala itu, ia hanya memikirkan teks, tanpa memandang konteks dan faktualnya.

Ia tumbuh di lingkungan pesantren yang didirikan kakeknya, KH Syatori, sebelum kemerdekaan RI. Hingga pendidikan menengah, Buya menghabiskan waktunya di Cirebon sebelum belajar di Pesantren Lirboyo, Kediri, dan kuliah di Perguruan Tinggi Ilmu Al Quran di Jakarta.

Awal 1990-an, Buya mulai mengakrabi isu jender melalui sebuah pertemuan para kiai dengan aktivis perempuan yang difasilitasi Masdar F Mas’udi. Selanjutnya, ia banyak berdiskusi bersama aktivis perempuan lainnya, seperti Lies Marcoes, Wardah Hafidz, dan Amina Wadud. Ia juga aktif berbicara di forum internasional terkait dengan HAM dan kesetaraan jender.

”Jauh sebelum itu sebenarnya saya sudah terusik dengan fakta bahwa mengapa perempuan selalu menjadi korban kekerasan? Mengapa sesama umat Islam ada peperangan? Saya lalu membaca kitab kuning bertema kesetaraan yang selama ini jarang disentuh di pesantren,” ujarnya.

Menurut dia, fitrah manusia adalah ingin diperlakukan adil. Dan, itu bisa terwujud jika ada kesetaraan, baik jender maupun sosial. Tidak ada yang ingin menerima diskriminasi. Basis pemikiran inilah yang membuat ia memperjuangkan kesetaraan. Bahkan, bukunya bersama Siti Aminah yang diterbitkan Fahmina Institute (2017) berjudul Menangkal Siaran Kebencian Perspektif Islam juga dalam rangka menegakkan keadilan sesama manusia, tanpa saling hujat.

KOMPAS/ABDULLAH FIKRI ASHRI–KH Husein Muhammad menerima kaos dari santrinya.

Secara kultural, Buya menanamkan hal itu kepada sekitar 400 santrinya di pesantren, juga ratusan orang lainnya di kampus. Secara struktural, Buya sempat menjadi komisioner Komnas Perempuan selama dua periode. Ia turut menginisiasi Rancangan Undang-Undang Penghapusan Kekerasan Seksual.

Ia menulis lebih dari 20 buku tentang pentingnya kesetaraan. Di Cirebon, ia mendirikan Women Crisis Center Mawar Balqis yang turut mendampingi korban kekerasan seksual. Buya juga turut menginisiasi terbentuknya Rahima, yayasan yang bergerak memperjuangkan hak-hak perempuan.

Mengapa harus melakukan semua itu? ”Kalau tidak bergerilya, bisa jadi pandangan tentang kesetaraan jender baru selesai tahun 2400-an. Padahal, diskriminasi sudah ada sebelum Masehi,” ujar Buya yang namanya tercatat dalam The 500 Most Influential Muslims yang diterbitkan The Royal Islamic Strategic Studies Center selama 7 tahun sejak 2010.

Ahmad Muttaqin (36), santri Buya yang kini mengajar di Ponpes Dar al-Tauhid dan ISIF, mengatakan, Buya mengajarkan kesetaraan melalui keteladanan. Tidak jarang Buya duduk melantai bersama santrinya sambil menyantap makanan yang ditata di atas daun pisang.

”Saat saya di pesantren, 1999, Buya kerap menemani santri berdiskusi, bahkan adu gagasan hingga tengah malam. Kadang beliau membaca sendiri di perpustakaan dengan lampu temaram,” ujarnya.

KOMPAS/ADITYA PUTRA PERDANA–Pengasuh Pondok Pesantren Dar Al Tauhid, Arjawinangun, Cirebon, Jawa Barat, KH Husein Muhammad (tengah), dianugerahi gelar doctor honoris causa bidang tafsir jender oleh Universitas Islam Negeri Walisongo di Kota Semarang, Jawa Tengah, Selasa (26/3/2019). Husein dinilai sebagai figur intelektual yang produktif dalam berkarya.

Winarno (29), santri lainnya, mengaku turut berbagi peran dalam urusan domestik rumah tangga bersama istrinya, seperti mencuci piring dan memasak. ”Buya selalu berpesan, urusan domestik bukan hanya milik istri. Dengan begitu, keduanya bisa saling membahagiakan,” ucapnya.

Berbagai pandangan santri dan sahabat Buya itu terangkum dalam buku Kiai Husein, Feminis dan Pemikir Islam Post-Tradisionalis di Mata Sahabat dan Santrinya. Pemikiran Buya juga kerap menjadi bahan kajian skripsi hingga disertasi.

Imam Besar Masjid Istiqlal Nasarudin Umar mengatakan, KH Husein memberikan inspirasi bagi tradisi daras dan talif, belajar dan menulis bagi dunia akademik Islam. ”Beliau tidak hanya berkutat pada teks, wacana, dan keilmuannya, tetapi juga menjadi aktivis sosial seputar isu jender dan HAM. Semoga ini menjadi teladan bagi kiai dan santri lainnya,” ujarnya.

KH Husein Muhammad

Lahir: Cirebon, 9 Mei 1953

Istri: Lilik Nihayah

Anak: Hilyah Aulia, Layali Hilwah, Fayaz Mumtaz, Najla Hammadah, Fazla Muhammad

Pendidikan:
SD-SMP di Pesantren Dar Al Tauhid, Arjawinangun, Cirebon
SMA Aliyah di Pesantren Lirboyo, Kediri
Perguruan Tinggi Ilmu Al Quran, Ciputat (1973-1980) – Kajian Khusus Arab di Al Azhar Kairo, Mesir (1980-1983)
Doktor kehormatan Universitas Islam Negeri Walisongo, Semarang (2019)

Penghargaan: Peraih Heroes to End Modern-Day Slavery dari Pemerintah AS (2006)

Pekerjaan: Pengasuh Ponpes Dar al-Tauhid Arjawinangun, Cirebon, dan Ketua Yayasan Fahmina Institute

Buku:
Fiqih Perempuan, Refleksi Kiai atas Wacana Agama dan Jender (2001)
Islam Agama Ramah Perempuan (2003)
Fiqh HIV/AIDS Pedulikah Kita? (2010)
Mengaji Pluralisme kepada Guru Pencerahan (2011)
Mencintai Tuhan Mencintai Kesetaraan (2014)
Pendar-Pendar Kebijaksanaan (2018)
Islam Tradisional yang Terus Bergerak (2019)
Email: husein553@yahoo.com

ABDULLAH FIKRI ASHRI DAN ADITYA PUTRA PERDANA

Sumber: Kompas, 30 Maret 2019

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*

code

%d blogger menyukai ini: