Kemenristek dan Dikti: 749 Usaha Rintisan Masuk Industri

- Editor

Sabtu, 6 April 2019

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Sejak tahun 2015, menurut Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi, ada 1.307 perusahaan pemula atau rintisan berbasis teknologi yang diayomi oleh pemerintah. Mayoritas di antaranya dinilai sudah siap bekerja sama dengan industri dan dikomersialisasi.

”Ada 749 perusahaan pemula berbasis teknologi (PPBT) atau yang lumrah dikenal sebagai start-up sudah masuk ke industri. Sisanya yang 558 masih terus dirintis agar bisa mencapai posisi PPBT mapan dan siap dikomersialisasi,” kata Menteri Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi Mohamad Nasir dalam jumpa pers di Jakarta, Jumat (5/4/2019).

KOMPAS/LARASWATI ARIADNE ANWAR–Menteri Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi Mohamad Nasir menunjukkan beberapa produk hasil inovasi oleh perusahaan pemula berbasis teknologi (start-up) di Jakarta, Jumat (5/4/2019).

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Direktur PPBT Kemristek dan Dikti Retno Sumekar mengatakan, PPBT itu berasal dari inkubator di perguruan tinggi beserta perusahaan-perusahaan yang ada di masyarakat. Mereka merupakan binaan Kemristek dan Dikti yang masing-masing mendapat dana hibah Rp 250 juta hingga Rp 500 juta.

Program pengawalan PPBT ini fokus kepada delapan bidang, yakni pertahanan dan keamanan, teknologi informasi dan komunikasi, pangan, energi, transportasi, kelautan, kesehatan dan obat-obatan, serta materi maju.

”Kami menerima proposal yang disertai dengan purwarupa produk serta skema bisnis yang akan diterapkan,” kata Retno.

Menurut dia, ide PPBT tidak harus sepenuhnya menggunakan teknologi canggih dan mutakhir. Ada PPBT yang sangat sederhana, tetapi efektif dan efisien dalam memecahkan persoalan nyata di akar rumput. Tugas Kemenristek dan Dikti adalah memberi masukan mengenai penyempurnaan teknologi, cara penerapan, memediasi pertemuan dengan industri, dan membangun kepercayaan antara PPBT dan industri.

Total ada 30 PPBT yang tergolong matang karena sudah komersial. Dari total anggaran Rp 13 miliar yang diberikan oleh Kemenristek dan Dikti, para PPBT matang ini telah berhasil mengumpulkan omzet Rp 61 miliar.

Seimbang
Retno menuturkan, banyak PPBT terperosok dalam ”lembah kematian”. Umumnya pembuat PPBT memiliki idealisme tinggi, namun produknya belum tentu relevan dengan permasalahan serta kebutuhan di masyarakat. Akibatnya, PPBT tidak bisa berkembang dan bermitra dengan industri sehingga mati.

”Dalam hal ini, Kemenristek dan Dikti menjadi mediator untuk mengajak pembuat PPBT agar bisa memastikan produknya memiliki nilai kebutuhan sehingga industri tertarik mengembangkan dan memperbanyak,” ujarnya.

Idealisme pendiri PPBT dan sikap pragmatis dunia industri harus dicari titik tengahnya agar seimbang. Selain itu, Kemenristek dan Dikti juga mengupayakan agar PPBT mendapat perlindungan hak cipta dan hak kekayaan intelektual agar konsepnya tidak dicuri.

Pendapat serupa juga dikatakan oleh Yovita Surianto, Manajer Skystar Ventures, lembaga inkubasi bisnis milik Universitas Multimedia Nusantara. Setiap tahun ada enam hingga delapan PPBT milik mahasiswa yang diterima. Bahkan, sejak tahun 2017, atas arahan Kemristek dan Dikti, Skystar Ventures juga menerima PPBT dari masyarakat sekitar. Akan tetapi, 30 persen dari mereka umumnya tidak mampu melanjutkan ke langkah lebih lanjut.

”Setelah ditelaah, ide pembuat PPBT ternyata tidak sesuai dengan kebutuhan masyarakat. Pilihannya ada tiga, menyesuaikan produk agar sesuai kebutuhan masyarakat, menciptakan produk baru, atau mengganti pangsa pasar maupun target pengguna produk. Tidak semua PPBT mampu melakukannya dan menyerah di tengah jalan,” ucap Yovita.

Temu akbar
Dalam acara tersebut, Nasir juga mengumumkan Indonesia Startup Summit, yaitu temu akbar 5.000 PPBT, yang diadakan di Jakarta Expo Kemayoran pada 10 April. Selain dunia industri, pemerintah juga akan mengundang para duta besar dari negara-negara sahabat agar bisa membangun relasi dengan PPBT Indonesia.

Beberapa produk unggulan yang ditawarkan adalah kapal pelat datar oleh PT Juragan Kapal Indonesia yang lebih murah, cepat dibuat, dan tahan lama dibandingkan kapal lain. Ada pula tempe buatan PT Djava Sukses Abadi yang memenuhi persyaratan ekspor ke luar negeri seperti Jepang dan Korea Selatan.–LARASWATI ARIADNE ANWAR

Sumber: Kompas, 6 April 2019

Yuk kasih komentar pakai facebook mu yang keren

Informasi terkait

Baru 24 Tahun, Maya Nabila Sudah Raih Gelar Doktor dari ITB
Metode Sainte Lague, Cara Hitung Kursi Pileg Pemilu 2024 dan Ilustrasinya
Jack Ma Ditendang dari Perusahaannya Sendiri
PT INKA Fokus pada Kereta Api Teknologi Smart Green, Mesin Bertenaga Air Hidrogen
7 Sesar Aktif di Jawa Barat: Nama, Lokasi, dan Sejarah Kegempaannya
Anak Non SMA Jangan Kecil Hati, Ini 7 Jalur Masuk UGM Khusus Lulusan SMK
Red Walet Majukan Aeromodelling dan Dunia Kedirgantaraan Indonesia
Penerima Nobel Fisika sepanjang waktu
Berita ini 4 kali dibaca

Informasi terkait

Senin, 1 April 2024 - 11:07 WIB

Baru 24 Tahun, Maya Nabila Sudah Raih Gelar Doktor dari ITB

Rabu, 21 Februari 2024 - 07:30 WIB

Metode Sainte Lague, Cara Hitung Kursi Pileg Pemilu 2024 dan Ilustrasinya

Rabu, 7 Februari 2024 - 14:23 WIB

Jack Ma Ditendang dari Perusahaannya Sendiri

Rabu, 7 Februari 2024 - 14:17 WIB

PT INKA Fokus pada Kereta Api Teknologi Smart Green, Mesin Bertenaga Air Hidrogen

Rabu, 7 Februari 2024 - 14:09 WIB

7 Sesar Aktif di Jawa Barat: Nama, Lokasi, dan Sejarah Kegempaannya

Rabu, 3 Januari 2024 - 17:34 WIB

Red Walet Majukan Aeromodelling dan Dunia Kedirgantaraan Indonesia

Minggu, 24 Desember 2023 - 15:27 WIB

Penerima Nobel Fisika sepanjang waktu

Selasa, 21 November 2023 - 07:52 WIB

Madura di Mata Guru Besar UTM Profesor Khoirul Rosyadi, Perubahan Sosial Lunturkan Kebudayaan Taretan Dibi’

Berita Terbaru

US-POLITICS-TRUMP

Berita

Jack Ma Ditendang dari Perusahaannya Sendiri

Rabu, 7 Feb 2024 - 14:23 WIB