Kemampuan Calistung Siswa SD Kurang

- Editor

Kamis, 14 Desember 2017

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Peningkatan mutu pendidikan secara nasional menghadapi tantangan karena rendahnya kemampuan dasar siswa. Kemampuan membaca dan menulis, menghitung, dan sains siswa di tingkat pendidikan dasar secara umum masih kurang.

Penguatan kemampuan membaca, menulis, dan menghitung siswa (calistung) siswa di tingkat SD harus jadi perhatian serius. Sebab, dari hasil Asesmen Kompetensi Siswa Indonesia (AKSI) tingkat SD yang dilakukan Kemdikbud beberapa tahun ini, sekitar 77 persen siswa memiliki kemampuan kurang dalam matematika dan kemampuan cukup dalam matematika sekitar 20,5 persen. Untuk kemampuan membaca, sebanyak 46,83 persen siswa kurang dan 47,11 persen siswa cukup. Untuk sains, kemampuan siswa kurang sekitar 73,6 persen dan kemampuan siswa cukup sekitar 25,3 persen.

Dukungan untuk membenahi mutu pendidikan dengan fokus pada peningkatan pembelajaran pada bidang literasi, numerasi, dan inklusif di jenjang pendidikan dasar dilakukan kemitraan Indonesia-Australia lewat program INOVASI atau Inovasi untuk Anak Sekolah. Implementasi INOVASI dijalankan di Nusa Tenggara Barat sejak 2016. Pada Selasa (12/12), digelar penandatanganan kesepakatan bersama untuk mengimplementasikan INOVASI di Kalimantan Utara, khususnya di Kabupaten Bulungan dan Malinau.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Hadir dalam acara ini Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan, Kemdikbud, Totok Suprayitno; Konselor Menteri Bidang Pemerintahan dan Pembangunan Manusia, Kedutaan Besar Australia di Jakarta, Fleur Davis; dan Gubernur Kalimantan Utara Irianto Lambrie.

Dukungan untuk Kalimantan Utara, karena dari hasil AKSI, kemampuan calistung siswa di bawah rata-rata nasional. Hal ini sejalan juga dengan hasil uji kompetensi guru yang rendah. Kemampuan membaca siswa di level kurang sekitar 60,6 persen, sedangkan matematika di level kurang sekitar 85 persen.

Irianto menyambut baik dukungan untuk meningkatkan keterampilan literasi siswa kelas awal tersebut.

Ditingkatkan
Proses belajar di kelas yang dilakukan guru, kata Totok, harus terus ditingkatkan dan diubah agar siswa termotivasi dan senang belajar. Saat ini, pembelajaran di kelas masih banyak dalam bentuk ceramah dan belum memperhatikan kemampuan tiap siswa.

Guru SDN Doridunggo, Kabupaten Bima, NTB, Yayuk Yuliati, yang mendapat manfaat dari program INOVASI, mengatakan, guru dilatih untuk mengembangkan metode pembelajaran dan membuat media belajar yang memudahkan siswa untuk memahami materi yang diajarkan. ”Kami membuat media belajar yang ada di sekitar untuk membuat siswa terbantu saat belajar. Guru mengajak siswa aktif dan memberi perhatian pada tiap individu secara berbeda. Dengan cara ini, hasil belajar siswa jadi lebih baik dalam membaca dan menghitung,” kata Yayuk.

Kemitraan Australia-Indonesia memperkuat sistem pendidikan Indonesia, kata Fleur, sudah berjalan 10 tahun. ”Kami percaya kualitas pendidikan sangat penting bagi Indonesia dan berkontribusi langsung terhadap pembangunan manusia dan masyarakat, serta angkatan kerja yang sehat dan produktif,” katanya. (ELN)

Sumber: Kompas, 14 Desember 2017

Informasi terkait

Saat Gambut Kehilangan Air, Bumi Kehilangan Karbon
Api yang Tak Pernah Benar-Benar Padam
Alga Kecil, Terobosan Besar: Rahasia Chlamydomonas di Balik Nobel Kedokteran 2026
Misteri Molekul Kiri dan Kanan Antar Dua Ilmuwan ke Nobel Kimia 2026
Francis Halzen, Pemburu Partikel Hantu dari Kutub Selatan, Raih Nobel Fisika 2026
Nobel Kedokteran 2026: Tiga Ilmuwan Menemukan Cara Mengendalikan Sel Saraf dengan Cahaya
Gunung yang Belum Selesai Dilahirkan
Tiga Huruf di Belakang Nama yang Bisa Membuka Dunia
Berita ini 33 kali dibaca

Informasi terkait

Sabtu, 17 Oktober 2026 - 14:15 WIB

Saat Gambut Kehilangan Air, Bumi Kehilangan Karbon

Kamis, 15 Oktober 2026 - 16:26 WIB

Api yang Tak Pernah Benar-Benar Padam

Selasa, 13 Oktober 2026 - 11:43 WIB

Alga Kecil, Terobosan Besar: Rahasia Chlamydomonas di Balik Nobel Kedokteran 2026

Senin, 12 Oktober 2026 - 18:42 WIB

Misteri Molekul Kiri dan Kanan Antar Dua Ilmuwan ke Nobel Kimia 2026

Senin, 12 Oktober 2026 - 17:56 WIB

Francis Halzen, Pemburu Partikel Hantu dari Kutub Selatan, Raih Nobel Fisika 2026

Berita Terbaru

Artikel

Saat Gambut Kehilangan Air, Bumi Kehilangan Karbon

Sabtu, 17 Okt 2026 - 14:15 WIB

Berita

Api yang Tak Pernah Benar-Benar Padam

Kamis, 15 Okt 2026 - 16:26 WIB