Kapsul Crew Dragon Merapat di Stasiun Luar Angkasa Internasional

- Editor

Selasa, 5 Maret 2019

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Wahana antariksa pembawa muatan atau kapsul Crew Dragon buatan SpaceX berhasil merapat ke Stasiun Luar Angkasa Internasional (ISS), Minggu (3/3/2019). Kesuksesan itu menandai untuk pertama kali kapsul berawak buatan swasta, bukan lembaga negara, merapat di ISS, sekaligus awal kembalinya Amerika Serikat dalam pengiriman misi berawak ke ISS.

Proses penggabungan Crew Dragon dengan ISS itu berlangsung pada Minggu (3/3/2019) pukul 05.51 pagi waktu timur Amerika Serikat atau pukul 17.51 WIB. Saat itu keduanya sedang terbang pada ketinggian 402 kilometer di atas Samudra Pasifik di utara Selandia Baru.

Penggabungan Crew Dragon ke salah satu modul ISS itu berlangsung otomatis, tanpa bantuan lengan robot, seperti yang terjadi saat wahana kapsul lain merapat ke ISS. Sebelumnya, SpaceX sudah 16 kali mengirimkan wahana kargo Dragon ke ISS.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

NASA TV–Wahana kapsul berawak Crew Dragon milik SpaceX saat merapat untuk pertama kali di Stasiun Luar Angkasa Internasional pada 3 Maret 2019 pukul 05.51 waktu timur Amerika Serikat atau pukul 17.51 WIB.

Kapsul Dragon dan Crew Dragon berbeda model. Crew Dragon berukuran lebih besar, dengan panjang 8 meter, bisa mengangkut tujuh orang, memiliki tiga jendela, dan dilengkapi sistem kedaruratan untuk penyelamatan awak.

Sistem kendali Crew Dragoon pun lebih efisien, hanya ada 30 tombol dengan layar sentuh. Bandingkan dengan 2.000-an sakelar dan pemutus sirkuit yang ada di kokpit pesawat ulang alik yang digunakan NASA untuk mengirimkan antariksawan ke ISS sebelumnya.

Tiga antariksawan yang sedang berada di ISS, Anne McClain dari AS, David Saint-Jacques (Kanada), dan Oleg Konenko (Rusia), memantau proses penggabungan tersebut secara cermat. Saat McClain menghubungi pusat pengendali misi di Bumi dan memberikan selamat atas keberhasilan penggabungan tersebut, tepuk tangan menggema di ruang kendali misi SpaceX di Hawthorne, California, AS.

Sekitar 1 jam berikutnya, ketiga antariksawan itu membuka pintu palka dan masuk melayang ke dalam kapsul Crew Dragon. Selanjutnya, mereka menyiarkan langsung interior bagian dalam kapsul serta menunjukkan manekin Ripley yang duduk di salah satu kursi penumpang kapsul dan boneka Earth, boneka perlambang Bumi dari Celestial Buddies.

”Semua terlihat hebat. Ripley dan Earth tampak menikmati perjalanannya,” kata McClain.

NASA TV–Tangan antariksawan Kanada yang sedang bertugas di Stasiun Luar Angkasa Internasional (ISS), David Saint-Jacques, membuka pintu palka kapsul Crew Dragon. Di dalam kapsul terdapat manekin Ripley yang duduk di salah satu dari empat kursi yang ada di dalam kapsul dan boneka seri Celestial Buddies, Earth, berwarna biru yang ada di bawah kursi.

Crew Dragon diluncurkan dengan roket dua tingkat Falcon 9 dari Bandar Antariksa Badan Penerbangan dan Antariksa Nasional AS (NASA) Kennedy di Tanjung Canaveral, Florida, AS, Sabtu (2/3/2019) pukul 02.49 waktu setempat atau pukul 14.49 WIB. Itu berarti, Crew Dragon butuh 27 jam sejak diluncurkan hingga merapat di titik parkir baru di ISS yang disebut International Docking Adapter.

Generasi baru
”Generasi baru penerbangan luar angkasa dimulai saat Crew Dragon milik SpaceX merapat ke ISS,” kata pejabat NASA, Jim Bridenstine, Senin (4/3/2019), seperti dikutip AP.

Selanjutnya, Crew Dragon akan terbang bersama ISS selama lima hari. Menurut rencana, uji yang disebut Demo-1 itu akan berakhir saat kapsul mendarat di atas Samudra Atlantik pada Jumat (8/3/2019).

Proses kembali ke Bumi itu, dinilai oleh pendiri dan pimpinan eksekutif tertinggi SpaceX, Elon Musk, sebagai tantangan tersendiri. ”Wahana akan masuk ke atmosfer Bumi dengan kecepatan hipersonik. Itu adalah kekhawatiran terbesar saya,” katanya, seperti dikutip space.com.

Kekhawatiran itu beralasan mengingat SpaceX melengkapi Crew Dragon dengan sistem parasut baru. Selain itu, ujung Crew Dragon yang dilengkapi dengan sistem penahan panas berbentuk asimetris, bukan kerucut mulus, seperti pada wahana Dragon. Meski sistem penahan panas itu sudah diuji melalui simulasi komputer, menghadapi kondisi nyata tetap penuh tantangan.

TONY GRAY/NASA–Roket peluncur Falcon 9 milik SpaceX meluncur dari landas luncur 39A di Bandar Antariksa Kennedy milik Badan Penerbangan dan Antariksa Nasional Amerika Serikat (NASA), Sabtu (2/3/2019). Roket membawa kapsul Crew Dragon yang akan menjalani uji pertama merapat di Stasiun Luar Angkasa Internasional (ISS).

SpaceX membuat Crew Dragon setelah memenangi proyek pembuatan kapsul berawak senilai 2,6 miliar dollar AS atau Rp 36,4 triliun dari NASA. Selain SpaceX, NASA juga mengembangkan kapsul CST-100 Starliner bersama Boeing dengan nilai Rp 4,2 miliar dollar AS atau Rp 58,8 triliun yang direncanakan menjalani uji pertama bulan depan.

Jika Demo-1 Crew Dragon berakhir baik, tantangan berikutnya bagi Space-X adalah melakukan Demo-2 dengan menerbangkan kembali Crew Dragon dengan awak sesungguhnya. Demo-2 itu direncanakan dilakukan awal Juli 2019 dengan menerbangkan antariksawan AS, Bob Behnken dan Doug Hurley, sekaligus menguji sistem penyelamatan diri antariksawan saat menghadapi kondisi darurat.

Jika Demo-2 tersebut berjalan lancar, itu akan menjadi tonggak kembalinya AS dalam pengiriman antariksawan ke ISS. Sejak NASA mengandangkan pesawat ulang-alik Atlantis pada 2011 atau delapan tahun lalu, pengiriman antariksawan AS ke ISS menggunakan wahana Soyuz milik Badan Antariksa Rusia (Roscosmos).

”Hanya satu tonggak lagi kami (AS) akan siap dengan penerbangan antariksawan (ke ISS),” kata Behnken.

Editor EVY RACHMAWATI

Yuk kasih komentar pakai facebook mu yang keren

Informasi terkait

Dari Persia untuk Dunia. Tiga Ilmuwan Iran yang Warisannya Masih Mengubah Peradaban Modern
Teknik Sipil Tradisional dalam Perspektif Global, Ketika Pengetahuan Leluhur Menjadi Teknologi Masa Depan
Dari Air EV hingga Ioniq 5, Inilah Peta Lengkap Mobil Listrik dan Pabrik EV di Indonesia 2026
Mengapa Desain Jembatan Mahasiswa ITB Ini Dianggap Unggul di Kompetisi Internasional?
Melawan Arus Waktu, Kisah Kiki, Pemuda 22 Tahun yang Meraih Gelar Master di UGM
Langkah Strategis BYD dan Visi Haryadi Kaimuddin untuk Menuju Kemandirian Energi Indonesia
Membaca “Buku Harian” Bumi. Rahasia Lingkaran Tahun dan Masa Depan Dendrokronologi
Zirah Berduri di Dasar Ciliwung. Mengapa Jakarta “Memerangi” Ikan Sapu-Sapu?
Berita ini 13 kali dibaca

Informasi terkait

Sabtu, 2 Mei 2026 - 07:11 WIB

Dari Persia untuk Dunia. Tiga Ilmuwan Iran yang Warisannya Masih Mengubah Peradaban Modern

Jumat, 1 Mei 2026 - 08:15 WIB

Teknik Sipil Tradisional dalam Perspektif Global, Ketika Pengetahuan Leluhur Menjadi Teknologi Masa Depan

Jumat, 1 Mei 2026 - 06:40 WIB

Dari Air EV hingga Ioniq 5, Inilah Peta Lengkap Mobil Listrik dan Pabrik EV di Indonesia 2026

Jumat, 1 Mei 2026 - 06:29 WIB

Mengapa Desain Jembatan Mahasiswa ITB Ini Dianggap Unggul di Kompetisi Internasional?

Kamis, 30 April 2026 - 08:24 WIB

Melawan Arus Waktu, Kisah Kiki, Pemuda 22 Tahun yang Meraih Gelar Master di UGM

Berita Terbaru