Home / Artikel / Kamu dan Sampahmu

Kamu dan Sampahmu

Sampah tidak hanya identik dengan bau busuk. Bagi Alan J Weberman, sampah adalah cermin kehidupan. Dengan mengorek sampah atau disebut Weberman garbanalysis, kita bisa mengetahui sifat asli manusia dan wajah dari peradaban modern. ”Dasar premis garbology adalah you are what you throw away—kamu adalah apa yang kamu buang,” kata Weberman dalam buku My Life in Garbology (1980).

Weberman menerapkan garbology saat menulis sosok penyair dan penyanyi Bob Dylan dengan mengorek tong sampahnya. Weberman memeriksa sisa makanan Dylan untuk mengetahui kebiasaan makan dan interaksi dengan keluarganya. Untuk mengetahui proses kreatifnya, Weberman menganalisis coretan draf puisi yang dibuang.

Menurut Weberman, sampah yang dibuang tak bisa bohong. ”Dylan yang berulang kali mengaku tak suka majalah pop ternyata punya tumpukan artikel itu di tong sampahnya,” ungkap Weberman. Dengan metode sama, Weberman menulis petinju Muhammad Ali, beberapa selebritas, hingga politikus.

William L Rathje, arkeolog dari Universitas Arizona, membawa garbology ke dimensi lebih jauh. Rathje yang sebenarnya ahli arkeologi maya ini menerapkan metode ”penggalian dalam arkeologi” untuk meneliti perilaku membuang sampah. Penelitian ini disebutnya ”Proyek Sampah”.

Sejak 1973, Rathje mendata aneka jenis sampah. Ia bekerja sama dengan Dinas Kebersihan Kota Tucson, Amerika Serikat (AS), yang mengiriminya sampah dari responden. Dibantu ratusan mahasiswa, Rathje menggali banyak pembuangan sampah.

Proyek itu menemukan komposisi sampah yang dibuang warga. Dari tiap sampah yang dibuang ada 1 persen bahan kimia beracun. Jika dikalikan 88.000 keluarga di Arizona dan California yang diteliti, volume sampah beracun itu 32,5 ton per hari.

Rathje juga berhasil mendeskripsikan perilaku konsumsi dan membuang sampah dari berbagai strata sosial. Contohnya, masyarakat kelas bawah AS membuang sampah organik lebih sedikit karena variasi makanannya cenderung sama tiap hari.

Setelah bertahun-tahun bergelut dengan sampah, Rathje menyimpulkan, ”Kita harus memberikan perhatian lebih pada perilaku masyarakat daripada menghadapi sampah di pembuangan. Sampah harus diselesaikan sejak dari rumah.”

Rekomendasi Rathje menjadi rujukan pengelolaan sampah banyak negara. Jerman sukses mendaur ulang 65 persen sampahnya, disusul Korea Selatan dengan 59 persen (Organisasi untuk Kerja Sama Ekonomi dan Pembangunan/OECD, 2015). Adapun Swedia bergerak ke tahap ”nol sampah” dengan mengubah 2,3 juta ton atau 99 persen sampah rumah tangga menjadi energi. Swedia bahkan mengimpor 1,3 juta ton sampah dari negara lain untuk dibakar di 32 pembangkit listrik sampah.

Bagaimana dengan kondisi persampahan di Indonesia?

Hanya di Indonesia, 157 orang meninggal karena tertimbun sampah. Tragedi itu terjadi pada 21 Februari 2005, ketika dua kampung tergulung longsoran sampah dari Tempat Pembuangan Akhir Leuwigajah, Kota Cimahi, Jawa Barat.

Kini, Indonesia menjadi negara kedua setelah China sebagai penyumbang sampah plastik terbesar di laut (Jenna Jambeck, 2015). Sebelumnya, logam berat telah mencemari perairan kita dengan skala dan intensitas meningkat sehingga Ross Michael Pink (2016) menulis dalam bukunya, Indonesia: One of the Most Polluted Countries in the World.

Jika apa yang kita buang adalah cermin kepribadian sebagaimana disebut Weberman, dari sengkarut sampah itu kita bisa melihat kekacauan birokrasi, bahkan korupsi, hingga rendahnya kesadaran warga menjaga lingkungan.–AHMAD ARIF
————-
Versi cetak artikel ini terbit di harian Kompas edisi 13 September 2017, di halaman 14 dengan judul “Kamu dan Sampahmu”.

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*

code

%d blogger menyukai ini: