Home / Berita / Jumlah Pengidap Alzheimer di Indonesia Empat Juta Orang pada 2050

Jumlah Pengidap Alzheimer di Indonesia Empat Juta Orang pada 2050

Indonesia bakal mengalami bonus demografi akibat lonjakan jumlah penduduk menjadi 321,6 juta orang pada 2050 dari saat ini 264 juta orang. Pertambahan jumlah penduduk, disertai peningkatan angka harapan hidup, diperkirakan akan diiringi dengan peningkatan pengidap alzheimer.

Menteri Kesehatan Nila Moeloek menjelaskan, piramida penduduk Indonesia saat ini menunjukkan bentuk segitiga yang menunjukkan jumlah penduduk usia tua lebih sedikit daripada yang muda. Namun, pada 2050 nanti bentuk puncak piramida Indonesia akan lebih banyak dibandingkan saat ini. Artinya, jumlah penduduk usia tua juga akan semakin bertambah.

Hal ini ditegaskan data Kementerian Kesehatan yang menyebutkan angka harapan hidup Indonesia terus meningkat dari 2010 yang mencapai usia 69,8 tahun menjadi 70,78 tahun pada 2015. Berdasarkan data World Population Prospects 2017, angka harapan hidup Indonesia pada 2050 mencapai 73,5 tahun.

Mereka yang berisiko mengidap alzheimer di kemudian hari itu adalah para generasi muda saat ini. Maka, mulailah untuk menjalani gaya hidup sehat, seperti makan makanan bergizi dan rutinlah berolahraga.

Meski demikian, lonjakan jumlah penduduk itu juga memberikan persoalan. Makin meningkatnya jumlah penduduk usia lanjut akan diiringi pula oleh peningkatan risiko pengidap alzheimer. Sebab, kecenderungan pengidap alzheimer adalah orang berusia lanjut.

”Mereka yang berisiko mengidap alzheimer di kemudian hari itu adalah para generasi muda saat ini. Maka, mulailah untuk menjalani gaya hidup sehat, seperti makan makanan bergizi dan teratur serta rutin berolahraga,” ujar Nila saat memberikan sambutan pada acara 20th Asia Pacific Regional Conference Alzheimer Disease International dengan tema ”Dementia: A Life-Cycle Approach” di Jakarta, Sabtu (4/11).

Turut hadir menjadi pembicara dalam acara itu dokter dari Department of Mental Health & Substance Abuse World Health Organization (WHO) Tarun Dua, dokter dari Central for Healthy Brain Ageing (CHEBA) University of New South Wales (UNSW) Henry Brodaty, Chief Executive Officer Alzheimer’s Disease International (ADI) Paola Barbarino, Regional Director Asia Pacific Regional Office ADI DY Suharya, dan Direktur Eksekutif Alzheimer’s Indonesia (ALZI) Sakurayuki.

Berdasarkan data ALZI, jumlah pengidap alzheimer di Indonesia pada 2015 diperkirakan mencapai 1,2 juta orang. Jumlah tersebut setara dengan 0,46 persen dari jumlah penduduk Indonesia pada 2015 yang mencapai 258,2 juta.

Sementara itu, ADI memperkirakan, jumlah pengidap alzheimer di Indonesia pada 2050 mencapai empat juta orang. Jumlah tersebut setara dengan 1,24 persen jumlah penduduk Indonesia pada 2050 yang menurut World Population Prospects 2017 mencapai 321,6 juta orang.

Jumlah pengidap alzheimer di Indonesia pada 2050 mencapai empat juta orang. Jumlah tersebut setara dengan 1,24 persen jumlah penduduk Indonesia.

Kekhawatiran ini tidak hanya melanda Indonesia, tetapi juga di seluruh dunia. WHO menyebutkan, jumlah pengidap alzheimer di seluruh dunia pada 2015 mencapai 47 juta orang. Jumlah itu diperkirakan bakal melonjak tiga kali lipat pada 2050 yang mencapai 132 juta orang.

”Populasi bumi akan semakin banyak diisi oleh orang-orang berusia lanjut. Ini kabar bagus karena bisa dimaknai pelayanan kesehatan dan teknologi farmasi terus membaik. Di sisi lain, para lanjut usia ini juga rentan atau berisiko menjadi pengidap alzheimer. Ini harus yang diantisipasi,” ujar Tarun.

Tidak hanya itu, Paola mengatakan, pengidap alzheimer di masa mendatang diperkirakan akan lebih banyak disumbang dari negara-negara berkembang, termasuk Indonesia. Dia memperkirakan, dari 132 juta pengidap alzheimer pada 2050, sebanyak 68 persen berasal dari negara berkembang.

WHO menyebutkan, jumlah pengidap alzheimer di seluruh dunia pada 2015 mencapai 47 juta orang. Jumlah itu diperkirakan bakal melonjak tiga kali lipat pada 2050 yang mencapai 132 juta orang.

”Pelayanan kesehatan, teknologi farmasi, pengetahuan, serta kesadaran warga negara berkembang masih lebih rendah ketimbang warga di negara maju. Warga negara berkembang lebih rentan dan berisiko mengidap alzheimer,” ujar Paola.

Beban perawatan
Studi WHO menyebutkan, total beban biaya perawatan pengidap alzheimer dan demensia di seluruh dunia pada 2015 mencapai 818 miliar dollar AS atau sekitar Rp 11,04 kuadriliun (Rp 11.043 ribu triliun). Pada 2030, total beban biaya perawatan pengidap alzheimer di seluruh dunia meningkat dua kali lipat lebih daripada saat ini pada angka dua triliun dollar AS atau sekitar Rp 27 kuadriliun.

Henry Brodati menjelaskan, hingga saat ini belum ada obat di dunia yang mampu menyembuhkan alzheimer. Obat-obat yang ada hanya bertujuan meningkatkan fungsi otak dan membantu pengidap untuk bisa lebih tenang dan dibantu oleh perawat.

”Sekali seseorang itu menjadi pengidap alzheimer, fungsi otaknya akan terus menurun. Obat-obatan hanya untuk merangsang dan meningkatkan kembali fungsi otaknya,” ujar Henry.

Hingga saat ini belum ada obat di dunia yang mampu menyembuhkan alzheimer. Obat-obat yang ada hanya bertujuan meningkatkan fungsi otak dan membantu pengidap untuk bisa lebih tenang dan dibantu oleh perawat.

Sakurayuki menjelaskan, pembengkakan biaya perawatan yang dihitung WHO itu masuk akal. Sebab, sekali orang mengidap alzheimer, dia tidak bisa sembuh. Gejala itu akan terus mendera si pasien sampai meninggal dengan lama bertahan hingga 5-15 tahun sejak serangan gejala awal.

Tidak hanya dibutuhkan biaya yang besar, diperlukan juga perawat dan sosok yang betul-betul mau dan mendedikasikan hidup untuk menjaga pengidap alzheimer. Sebab, penyakit yang disebabkan karena munculnya plak dalam otak sehingga mengganggu kinerja otak ini menimbulkan gejala yang sering kali merepotkan perawat.

Gejala-gejala itu antara lain mudah lupa, bahkan pada hal yang baru saja dilakukan. Lupa lokasi parkir, lupa lokasi menaruh barang, lupa cara memasak, atau lupa cara mengoperasikan ponsel. Tidak hanya itu, pengidap alzheimer juga tidak bisa menuangkan air dalam gelas, tidak mengerti waktu, hari, tanggal, dan jam.

”Bahkan, bila sudah tingkat akut, mereka bahkan bisa lupa dengan suami dan anaknya sendiri,” ujar Sakurayuki.

Gejala-gejala itu antara lain mudah lupa, bahkan pada hal yang baru saja dilakukan. Lupa lokasi parkir, lupa lokasi menaruh barang, lupa cara memasak, atau lupa cara mengoperasikan ponsel. Tidak hanya itu, pengidap alzheimer juga tidak bisa menuangkan air dalam gelas, tidak mengerti waktu, hari, tanggal, dan jam.

Ia mengungkapkan, sudah banyak perawat dan asisten rumah tangga yang mengundurkan diri setelah diminta menjaga dan merawat majikannya yang mengidap alzheimer. Di Amerika Serikat, banyak ditemukan perawat yang ikut terganggu kesehatan jasmani dan rohaninya karena menjaga pengidap alzheimer. Beruntung Indonesia menganut budaya timur di mana anak-anak masih memiliki bakti dan kesadaran untuk merawat orangtuanya.

”Harus diakui, perawat pengidap alzheimer juga sebetulnya adalah pasien yang tersembunyi. Kondisi batin dan fisik mereka juga harus diperhatikan sebab tidak mudah mengurus pengidap alzheimer dengan tingkah mereka yang kembali seperti anak-anak,” ujar Sakurayuki.

Hidup sehat
Henry menjelaskan, alzheimer dipicu oleh sejumlah penyakit lain, seperti hipertensi, obesitas, kurang bergerak, dan diabetes. Dalam risetnya, kurangnya aktivitas otak menyumbang 19 persen kemungkinan alzheimer, diikuti kurangnya aktivitas fisik yang menyumbang 13 persen serta depresi yang menyumbang 10 persen kemungkinan alzheimer.

Bermacam faktor tersebut berkelindan sehingga memunculkan plak dalam otak. Fungsi otak dan kinerja tubuh pun dipastikan bakal terganggu.

Alzheimer dipicu oleh sejumlah penyakit lain, seperti hipertensi, obesitas, kurang bergerak, dan diabetes. Dalam risetnya, kurangnyaaktivitas otak menyumbang 19 persen kemungkinan alzheimer, diikuti kurangnya aktivitas fisik yang menyumbang 13 persen serta depresi yang menyumbang 10 persen kemungkinan alzheimer.

”Rata-rata otak manusia dewasa seberat 1,3 kilogram. Pengidap demensia dan alzheimer mengalami pengerutan otak sehingga hanya tersisa setengahnya,” ujar Henry.

Meski demikian, Henry mengatakan, gejala alzheimer ini bisa dihindari dengan pola hidup yang sehat. Ia menegaskan, pola makan teratur dengan gizi seimbang akan menjaga kondisi tubuh tetap sehat dan terhindar dari penyakit. Selain itu, olahraga rutin dan aktivitas fisik juga menjaga tubuh tetap bugar.

”Tidak merokok, tidur teratur dengan waktu yang cukup, serta selalu bersyukur dan memulai hari dengan pikiran positif,” ujar Henry sambil tersenyum, diiringi tawa hadirin seminar.

Gejala alzheimer ini bisa dihindari dengan pola hidup yang sehat. Pola makan teratur dengan gizi seimbang akan menjaga kondisi tubuh tetap sehat dan terhindar dari penyakit. Olahraga rutin dan aktivitas fisik juga menjaga tubuh tetap bugar. Tidak merokok, tidur teratur dengan waktu yang cukup, serta selalu bersyukur dan memulai hari dengan pikiran positif.

Sakurayuki mengatakan, gejala alzheimer atau dimensia sering kali disepelekan sebagai gejala pikun semata. Padahal, semakin awal pengidap itu terdeteksi gejala alzheimer, semakin cepat juga dia memperoleh pertolongan dan pendampingan sebelum kondisinya memburuk.

”Maka moto kami adalah ’Jangan maklum dengan pikun’. Itu bisa jadi gejala awal alzheimer,” ujar Henry.–BENEDIKTUS KRISNA YOGATAMA

Sumber: Kompas, 4 November 2017

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*

code

x

Check Also

Penggunaan Aplikasi Permudah Monitoring Mangrove

LIPI menggunakan penginderaan jauh dan teknologi untuk menghasilkan buku panduan monitoring, spreadsheet template, dan aplikasi ...

%d blogger menyukai ini: