Home / Berita / Jebakan Radikalisme Anak Muda nan Cerdas

Jebakan Radikalisme Anak Muda nan Cerdas

Penangkapan tiga alumnus Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Riau, Pekanbaru, di kampus mereka oleh Detasemen Khusus 88 Antiteror Polri, Sabtu (2/6/2018), menunjukkan ancaman radikalisme di sejumlah perguruan tinggi adalah nyata. Bahkan, penemuan sejumlah bom pipa, serbuk bahan peledak, dan sejumlah senjata menandakan kampus pun bisa menjadi tempat perancangan teror.

Sejak lama, kelompok radikal dan teror menyasar anak muda dan kaum terdidik guna membangun basis gerakan dan dukungan bagi mereka. Mereka menyasar anak muda dari beragam latar belakang, baik yang ada di dunia pendidikan, hiburan, birokrasi, hingga sektor ekonomi. Namun, dampak terbesar yang dirasakan sejauh ini, bahkan berbuah jadi tindakan teror, adalah anak-anak muda di sektor pendidikan.

Anak muda jadi sasaran empuk radikalisme karena mereka sedang berada dalam tahap pencarian jati diri. Dalam fase itu, secara alamiah, proses mengolah pengetahuan atau kognisi dalam pikiran mereka jadi sangat terbuka. Tanpa diprovokasi pun pikiran mereka akan sangat mudah diisi dengan berbagai hal, termasuk paham atau pemikiran radikal yang berasal dari berbagai sumber, baik internet, kawan, mentor, maupun guru.

Kondisi kognisi anak muda itulah yang sering dimanfaatkan penjaja ideologi, termasuk ideologi radikal, untuk mencuci otak anak muda.

”Penjaja ideologi akan membuka kognisi remaja dengan berbagai cara hingga membuat mereka merasa tak berharga. Saat kondisi itu tercapai, ideologi radikal akan mudah dimasukkan,” kata psikolog sosial dan peneliti terorisme Universitas Islam Negeri Sultan Syarif Kasim, Riau, Mirra Noor Milla seperti dikutip Kompas Siang, 13 April 2015. Kini, Mirra bertugas di Universitas Indonesia, Depok.

Penjaja ideologi akan membuka kognisi remaja dengan berbagai cara hingga membuat mereka merasa tak berharga. Saat kondisi itu tercapai, ideologi radikal akan mudah dimasukkan.

Meski demikian, tidak semua anak muda yang terpapar informasi radikal akan berubah jadi radikal. Terbuka atau tidaknya kognisi mereka terhadap radikalisme sangat ditentukan oleh pemaknaan remaja atas diri mereka.

”Remaja yang kehilangan pemaknaan diri, baik akibat merasa disia-siakan, tidak dipahami orangtua atau orang yang lebih dewasa, diabaikan lingkungannya, maupun dorongan untuk menjadi seseorang yang lebih bermakna, akan membuat mereka mudah menerima paham radikal,” ujarnya.

Mematikan nalar
Selain pemaknaan diri, anak muda yang lebih rentan terpapar radikalisme adalah mereka yang tak terbiasa berpikir kritis atau berpikir rasional secara komprehensif. Kemampuan dan kebiasaan berpikir kritis itu sangat ditentukan pola asuh keluarga, pola pendidikan di sekolah, hingga pengalaman hidup yang mereka jalani.

Pola asuh keluarga yang menuntut kepatuhan buta anak, mengabaikan dan meremehkan pendapat anak, bisa menumpulkan kemampuan mereka menalar. Pola pendidikan yang lebih banyak menghafal daripada menganalisis, penyamarataan perlakuan terhadap siswa yang beragam, hingga ketidaksiapan guru menghadapi jawaban murid yang berbeda dari norma umum juga bisa mematikan rasio mereka.

Sementara anak muda yang punya pengalaman hidup terbatas, memiliki sedikit relasi atau pertemanan, punya pengalaman diperlakukan tidak adil dan tidak dimanusiakan, mengalami kegagalan yang sulit dilupakan, hingga tinggal di lingkungan homogen lebih rentan terpapar radikalisme. Berbagai situasi keterbatasan itu membuat anak cenderung berpandangan tertutup sehingga sulit berpikir kritis.

Berbagai kondisi psikologis itu harusnya menjadi perhatian khusus jika pemerintah ingin mencegah makin banyak anak muda terjebak radikalisme, khususnya yang berada di sekolah menengah atas atau perguruan tinggi. Usaha itu jadi tantangan besar mengingat saat ini Indonesia memiliki 65 juta remaja dan pemuda berumur 10-24 tahun di Indonesia atau 28 persen dari total jumlah penduduk.

Pencegahan paparan radikalisme itu pun tidak bisa dilakukan oleh lembaga pendidikan semata, apalagi hanya melalui deklarasi menolak radikalisme dan terorisme yang ramai diselenggarakan sejumlah perguruan tinggi belakangan ini. Pembangunan keluarga dan rekayasa sosial pun harus dilakukan beriringan hingga anak muda merasa dihargai dan diperhatikan lingkungan sekitarnya.

Eksakta
Anak-anak muda yang terjerat radikalisme saat ini umumnya justru termasuk anak-anak cerdas dibandingkan lingkungan sekitarnya. Mereka umumnya memiliki kecerdasan intelektual cukup tinggi karena berstatus sebagai mahasiswa dan berasal dari perguruan tinggi-perguruan tinggi favorit di Indonesia.

Survei Badan Intelijen Negara (BIN) di 15 provinsi pada 2017 menemukan 39 persen mahasiswa di sejumlah perguruan tinggi terpapar radikalisme. Bahkan, 24 persen mahasiswa dan 23,3 persen pelajar SMA setuju menegakkan negara Islam melalui jihad. Sebanyak tiga perguruan tinggi jadi perhatian lembaga intelijen itu karena menjadi basis penyebaran paham radikal.

Sejalan dengan itu, salah satu petinggi Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) akhir Mei 2018 menyebut ada tujuh perguruan tinggi di Jawa terpapar radikalisme. Riset lain yang dilakukan Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) tahun 2006 menyebut 86 persen mahasiswa di lima perguruan tinggi Jawa menolak ideologi Pancasila dan ingin penegakan syariat Islam.

Mereka umumnya adalah mahasiswa program studi eksakta dan kedokteran. Kenyataan itu sejatinya agak ganjil karena mereka yang mempelajari sains, teknologi, ataupun ilmu-ilmu kesehatan dituntut mampu berpikir rasional. Nyatanya, yang terjadi justru sebaliknya.

Pola pemikiran keagamaan mahasiswa eksakta yang cenderung kaku, radikal, dan merasa paling benar dibandingkan mahasiswa noneksakta itu dinilai Kepala Pusat Studi Otak dan Perilaku Sosial Universitas Sam Ratulangi, Manado, Taufiq Pasiak dibentuk dan dipengaruhi oleh pemahaman mereka terhadap hukum alam yang bersifat pasti.

Interaksi mahasiswa eksakta juga lebih banyak dengan benda-benda bersifat statis dan kurang banyak berhubungan dengan hal-hal bersifat dinamis. Akibatnya, saat mereka berhadapan dengan paham keagamaan tertentu, mereka sulit membuat pandangan alternatif.

Ilmu tentang manusia
”Itulah bahayanya jika pendidikan tidak mengajarkan ilmu tentang manusia,” kata Taufiq seperi dikutip dari Kompas Siang, 13 April 2015. Karena itu, ilmu filsafat yang memperdalam pemikiran manusia penting diajarkan bagi seluruh mahasiswa di perguruan tinggi.

Itulah bahayanya jika pendidikan tidak mengajarkan ilmu tentang manusia.

Di sisi lain, kesulitan mahasiswa bidang eksakta untuk menalar, merasionalkan segala informasi yang diterimanya, diyakini sebagai buah dari pemahaman yang keliru terhadap sains. Kekeliruan itu muncul dari pengajaran dan pendidikan ilmu pengetahuan alam (IPA) yang salah sejak di pendidikan dasar hingga pendidikan tinggi.

Pendidikan sains di Indonesia diajarkan bukan dengan penalaran, melainkan menjadi hafalan. Pendidikan sains masih menekankan pada pengajaran konsep, teori, atau rumus yang harus dihafal siswa. Namun, sangat jarang guru atau dosen yang mengajarkan darimana dan bagaimana konsep, teori, dan rumus itu diperoleh.

Karena itu, wajar jika banyak siswa dan mahasiswa yang bingung apa manfaat dan kegunaan mempelajari sebuah teori dan menghafal rumus-rumus itu. Mereka belajar sains hanya untuk memenuhi tuntutan kurikulum semata tanpa paham untuk apa mempelajari semua hal itu.

Pola itu membuat sains diajarkan sebagai dogma yang tidak bisa diragukan dan dibantah. Padahal, dosen Program Studi Astronomi Institut Teknologi Bandung (ITB), Premana W Premadi, seperti dikutip Kompas Siang, 13 April 2015, yang kini menjabat Kepala Observatorium Bosscha, Lembang, Jawa Barat, mengatakan, di balik sifatnya yang pasti, sains juga mengandung ketidakpastian.

Teori semapan apa pun yang diusulkan ilmuwan ternama bisa saja berubah jika ditemukan teori baru yang didukung data dan bukti baru yang lebih sesuai. Sikap menggugat dan meragui itu dilakukan ilmuwan-ilmuwan di garis depan.

Guru Besar Matematika Institut Teknologi Bandung Iwan Pranoto dalam Meragui yang dipublikasikan di Kompas, 5 Maret 2016, menyebut banyaknya mahasiswa eksakta terpapar radikalisme diduga karena mereka mudah terbujuk dan memercayai sesuatu. Kebiasaan berakal, yang antara lain ditunjukkan dengan sikap skeptis atau meragui, semakin ditinggalkan.

Padahal, dalam era banjir informasi seperti saat ini, kebiasaan meragui justru kian dibutuhkan. Pikiran memang harus terbuka terhadap berbagai informasi yang ada, tetapi itu harus disertai dengan mansyaki atau meragui semua informasi tersebut. Siapa pun harus siap menerima jika informasi tersebut mengandung kebenaran dan harus siap meragui jika informasi itu didasarkan atas pendapat yang lemah.

”Dua kutub itu adalah komponen penting dalam keterampilan menanggapi secara kritis yang sejatinya bertumbuh subur dalam pembelajaran IPA,” tulisnya.

Dua kutub itu adalah komponen penting dalam keterampilan menanggapi secara kritis yang sejatinya bertumbuh subur dalam pembelajaran IPA.

Pendidikan agama
Di luar pelajaran eksakta, Taufiq, yang juga pendiri Center for Neuroscience Health and Spirituality Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga, Yogyakarta, menambahkan, pola pendidikan agama juga sangat berpengaruh dalam membentuk pola pikir eksklusif yang bisa memicu radikalisme beragama.

Sejak sekolah dasar hingga perguruan tinggi, pendidikan agama di Indonesia lebih banyak menekankan pada persoalan hukum syariat yang bersifat hitam-putih, mulai dari soal dosa-pahala, halal-haram, ataupun surga-neraka. Materi tentang moral, akhlak, atau budi pekerti justru amat kurang.

Model pendidikan seperti ini membuat cara pandang anak Indonesia dalam menilai segala sesuatu menjadi bernilai tunggal, tidak ada alternatif lain selain hitam dan putih. Akibatnya, mereka sulit memiliki pandangan terbuka yang didasarkan atas budi pekerti luhur.

Suprapto dalam Pemikiran Keagamaan Mahasiswa Islam Perguruan Tinggi Umum Negeri yang dimuat di jurnal Edukasi Volume 10 Nomor 1, Januari-April 2012 menulis kecenderungan sebagian mahasiswa di perguruan tinggi umum untuk memiliki pemikiran agama yang eksklusif muncul karena mereka kurang mendapat jawaban atas problematika keagamaan yang mereka hadapi.

Padahal, jawaban itu yang mereka cari, termasuk melalui pendidikan agama Islam. ”Kuliah pendidikan agama Islam perlu memberikan pengantar yang jelas tentang filosofis beragama,” katanya.

Kuliah pendidikan agama Islam perlu memberikan pengantar yang jelas tentang filosofis beragama.

Selain itu, sesuai studi yang dilakukan Wahid Khozin tentang Sikap Keagamaan dan Potensi Radikalisme Agama Mahasiswa Perguruan Tinggi Agama di jurnal Edukasi Volume 11 Nomor 3, September-Desember 2013, potensi radikalisme agama mahasiswa perguran tinggi agama masih rendah. Namun, mereka tetap punya peluang terjebak dalam ekstremitas kanan yang radikal.

Mahasiswa perguruan tinggi agama, apa pun agamanya, juga cenderung mendukung positivisasi norma agama dan memiliki orientasi politik keagamaan yang radikal. Mereka cenderung bisa menerima penggunaan kekerasan sebagai usaha untuk mengaktulisasikan, membela, dan menegakkan ajaran agamanya.

Radikalisme berbeda dengan terorisme, tetapi keduanya saling berkaitan. Radikalisme juga berpeluang berujung pada terorisme. Karena itu, pemerintah perlu berupaya secara maksimal di semua lini untuk mencegah makin banyak anak-anak muda dan cerdas di Indonesia terjebak dalam pemikiran dan paham radikalisme.

Pencegahan bukan hanya di lembaga pendidikan, melainkan juga di keluarga, masyarakat, hingga sistem politik bangsa. Jika upaya pencegahan itu tidak segera dilakukan secara serius sejak dini, bukan hanya kita akan memanen jutaan generasi muda yang berpikir radikal, melainkan juga bisa menghancurkan bangsa.–M ZAID WAHYUDI

Sumber: Kompas, 8 Juni 2018

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*

code

x

Check Also

”Big Data” untuk Mitigasi Pandemi di Masa Depan

Kebijakan kesehatan berbasis “big data” menjadi masa depan pencegahan pandemi berikutnya. Melalui ”big data” juga, ...

%d blogger menyukai ini: