Jangan Remehkan Hepatitis A

- Editor

Kamis, 17 Desember 2015

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Akhir-akhir ini, virus hepatitis A menyebar dan menjangkiti lebih dari 30 mahasiswa Institut Pertanian Bogor (IPB) yang kuliah di Kampus Dramaga, Kabupaten Bogor, Jawa Barat. Meski bisa disembuhkan, para ahli mewanti-wanti untuk tidak meremehkan virus tersebut.

Menurut ahli gastroenterologi dari Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia/Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM), Ari Fahrial Syam, hepatitis A adalah infeksi organ hati yang disebabkan oleh virus, ditularkan melalui makanan dan minuman, dan melalui kontak langsung. Virus hepatitis A terdapat pada feses pasien yang terinfeksi. Makanan dan minuman menjadi media utama penyebab penularan virus ini.

Gejala yang timbul bisa ringan sampai berat, bahkan jika terjadi hepatitis fulminan, bisa menyebabkan kematian. Pasien akan mengalami gejala seperti flu biasa, mulai dari pegal, mual, kadang disertai muntah, nafsu makan turun, hingga lemas. Pasien juga nyeri di perut kanan atas sebab di situlah letak lever berada. “Ketika kasus hepatitis A muncul dalam jumlah banyak, pasti ada sumber penularannya. Ini perlu dilacak,” tutur Ari, awal pekan ini di Jakarta.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Masa inkubasi hepatitis A berkisar 2-6 minggu. Penyakit itu bisa sembuh total dan yang penting pasien harus istirahat total. Obat yang diberikan hanya untuk mengobati gejala, bukan penyakitnya. Misalnya, jika diare diberikan obat anti diare, kalau mual diberikan anti mual, jika demam diberikan obat anti demam, dan kalau lemas diberi vitamin dan asupan makan diperbaiki.

Ambil sampel air
Direktur Jenderal Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan Kementerian Kesehatan (Kemenkes) M Subuh mengemukakan, selama penanganan kasus luar biasa (KLB) hepatitis A di IPB, pihaknya berkoordinasi dengan dinas kesehatan setempat, IPB, dan perangkat kecamatan, kelurahan, RW/RT setempat. Itu dilakukan dalam tata laksana pasien, pencarian aktif kasus tambahan dengan memeriksa semua mahasiswa IPB, dan penemuan kasus di puskesmas dan rumah sakit.

Selain itu, Kemenkes juga membantu mencari sumber penularan, cara penularan, dan area penularan. Edukasi komunikasi risiko hepatitis A kepada sivitas akademika IPB serta pengelola kantin di dalam dan di luar kampus juga dilakukan Kemenkes.

Menurut Subuh, sumber penularan diperkirakan berasal dari penyedia makanan yang dikonsumsi masyarakat kampus IPB, seperti kantin, penyedia makanan di salah satu unit asrama putra, dan suplai air minum dalam galon.

Empat sampel air minum (diambil dari asrama putri A5, kantin asrama putri A5, asrama putra Sylvapinus, dan air isi ulang) serta dua sampel air bersih dari asrama putri A5 dan asrama putra Sylvapinus telah diperiksa.

Masalah kompleks
Muhammad Firdaus, Guru Besar Fakultas Ekologi Manusia IPB, dalam artikel opininya yang berjudul Hepatitis yang Menampar Muka Kami, berpandangan, mahasiswa yang terkena hepatitis A mengalami masalah kompleks.

Yang dimaksud ialah mahasiswa IPB banyak yang berasal dari kalangan keluarga tidak mampu. Akibatnya, selepas tidak berada di asrama, mereka harus tinggal di luar kampus di pemondokan yang bertarif murah atau terjangkau tetapi kurang bersih dan tertata. Untuk makan sehari-hari, mereka lebih banyak jajan di warung luar karena harga lebih murah daripada kantin di dalam kampus yang lebih mahal.

Selain itu, mahasiswa biasanya juga padat kegiatan kuliah dan ekstra. Tinggal di lingkungan kurang baik dan sering makan di tempat yang kurang terjamin keamanannya, bagaimana mungkin mahasiswa akan selalu dalam kondisi prima.

Hal yang jelas, IPB menyadari, kasus seperti ini jangan sampai berulang. Untuk itu, perlu perubahan. IPB tidak bisa sendiri bertanggung jawab. Pemerintah juga harus bertanggung jawab. Jadikan kasus ini pelajaran berharga untuk mewujudkan lingkungan pendidikan yang sehat.

ADHITYA RAMADHAN DAN AMBROSIUS HARTO

Sumber: Kompas Siang | 16 Desember 2015

Informasi terkait

Saat Gambut Kehilangan Air, Bumi Kehilangan Karbon
Api yang Tak Pernah Benar-Benar Padam
Alga Kecil, Terobosan Besar: Rahasia Chlamydomonas di Balik Nobel Kedokteran 2026
Misteri Molekul Kiri dan Kanan Antar Dua Ilmuwan ke Nobel Kimia 2026
Francis Halzen, Pemburu Partikel Hantu dari Kutub Selatan, Raih Nobel Fisika 2026
Nobel Kedokteran 2026: Tiga Ilmuwan Menemukan Cara Mengendalikan Sel Saraf dengan Cahaya
Gunung yang Belum Selesai Dilahirkan
Tiga Huruf di Belakang Nama yang Bisa Membuka Dunia
Berita ini 12 kali dibaca

Informasi terkait

Sabtu, 17 Oktober 2026 - 14:15 WIB

Saat Gambut Kehilangan Air, Bumi Kehilangan Karbon

Kamis, 15 Oktober 2026 - 16:26 WIB

Api yang Tak Pernah Benar-Benar Padam

Selasa, 13 Oktober 2026 - 11:43 WIB

Alga Kecil, Terobosan Besar: Rahasia Chlamydomonas di Balik Nobel Kedokteran 2026

Senin, 12 Oktober 2026 - 18:42 WIB

Misteri Molekul Kiri dan Kanan Antar Dua Ilmuwan ke Nobel Kimia 2026

Senin, 12 Oktober 2026 - 17:56 WIB

Francis Halzen, Pemburu Partikel Hantu dari Kutub Selatan, Raih Nobel Fisika 2026

Berita Terbaru

Artikel

Saat Gambut Kehilangan Air, Bumi Kehilangan Karbon

Sabtu, 17 Okt 2026 - 14:15 WIB

Berita

Api yang Tak Pernah Benar-Benar Padam

Kamis, 15 Okt 2026 - 16:26 WIB