Home / Berita / Iriana Berlayar dengan Beragam Inovasi

Iriana Berlayar dengan Beragam Inovasi

Keanggunan Iriana tetap terlihat di kala rintik hujan mendera Pelabuhan Macgobar, Batu Ampar, Batam, Selasa (16/10/2018) sore. Sesekali angin berembus pelan, menggoyangkan kapal-kapal kayu di dekatnya. Namun, ia tetap bergeming.

Diluncurkan pada 25 Maret 2017, MV Iriana sebagai kapal angkut semen curah (cement carrier) telah berlayar di laut Nusantara lebih dari setahun. Ny Iriana, istri Presiden Joko Widodo, menjadi inspirasi penamaan kapal itu.

Berkapasitas 9.300 deadweight tonnage (DWT), MV Iriana memiliki panjang 117 meter, lebar 25,5 meter, serta tinggi 9 meter dengan kedalaman ke air (draft) 6,5 meter. Ia dapat melaju secara maksimal hingga 10-12 knot.

KOMPAS/ELSA EMIRIA LEBA–Tampak bagian atas geladak dari MV Iriana di Pelabuhan Macgobar, Batu Ampar, Batam, Selasa (16/10/2018).

Secara keseluruhan, tampilan MV Iriana dicat menggunakan empat warna. Tampak luar anjungan kapal dan sekitarnya berwarna putih. Lantai geladak bernuansa hijau dengan garis kuning sebagai penunjuk jalan. Lambung kapal bagian luar terdiri dari kombinasi biru dan merah.

Di geladak kapal terlihat berbagai peralatan berupa sambungan pipa putih besar terpasang malang melintang. MV Iriana dapat memuat kargo dengan berat mencapai 10.000 ton memakai dua metode, yaitu sistem mechanical dan pneumatic.

Ada yang membuat kapal buatan PT Sumber Marine Shipyard itu menjadi sebuah terobosan bagi bangsa. MV Iriana adalah kapal bertenaga listrik atau kapal yang menerapkan sistem electric propulsion pertama di Indonesia.

Lima genset disertakan dalam kapal itu. Dengan diesel sebagai bahan bakar, kelima genset itu terhubung ke sistem yang disebut MSB Power Management.

Dari situ, tenaga listrik yang dihasilkan dibagi menjadi tiga, yakni untuk operasionalisasi kapal 250 kW, operasional kargo 2.000 kW, serta dua motor listrik untuk menggerakkan baling-baling atau control pitch propeller (CPP) masing-masing 1.200 kW.

Amin Budiono, Production Manager PT Sumber Marine Shipyard, di Batam, mengatakan, kelebihan sistem electric propulsion adalah efisiensi penggunaan bahan bakar sekitar 20 persen.

”Itu karena penggunaan bahan bakar dan kebutuhan listrik dapat disesuaikan dengan kecepatan kapal. Sistem ini juga minim perawatan,” ujar Amin. Kapal konvensional dengan kapasitas serupa membutuhkan bahan bakar sekitar 600 liter per jam, sedangkan MV Iriana hanya sekitar 450 liter per jam.

Efisiensi terjadi karena sistem penyesuaian itu tidak berlaku pada kapal konvensional. Pada kapal konvensional, motor listrik terus bekerja secara maksimal kendati kecepatan kapal diturunkan sehingga lebih banyak bahan bakar dibutuhkan.

Secara terpisah, Chairman PT Sumber Marine Shipyard Haneco W Lauwensi, di Jakarta, mengatakan, sistem electric propulsion yang diterapkan itu membuat Indonesia menjadi negara ketiga di Asia yang berhasil membuat kapal laut listrik setelah Jepang dan Taiwan.

Ia melanjutkan, inovasi baru terus didorong agar perkembangan industri perkapalan semakin baik. Ide lain yang muncul adalah membuat kapal bertenaga gas. Pembangunan kapal MV Iriana dapat diselesaikan dalam satu tahun dan menghabiskan dana sekitar 20 juta dollar AS.

Total sekitar 1.000 orang dilibatkan dalam pengerjaan di lapangan dan 100 orang untuk pekerjaan administrasi. Bahkan, 85 persen kapal terdiri dari konten lokal. Pengerjaan kapal juga memiliki catatan zero accident.

Kapten MV Iriana dari PT Pelayaran Andalas Bahtera Baruna Andi Ruskandi menambahkan, selama lebih dari 20 tahun bekerja sebagai kapten kapal, ia belum pernah menakhodai kapal bertenaga listrik. Namun, tidak ada tantangan berarti dalam mengoperasikan kapal seperti MV Iriana.

Saat ini, MV Iriana bertugas mengantarkan semen curah dari PT Holcim Indonesia berdasarkan kontrak selama 10 tahun. Wilayah yang biasa dilewati antara lain Tuban, Jakarta, Lampung, Dumai, dan Batam.

Sudah siap
Menurut Amin, industri galangan kapal di Tanah Air secara umum telah berdaya saing tinggi. Sayangnya, kesiapan itu masih belum disambut hangat oleh pasar. Industri galangan kapal global juga belum menunjukkan geliat yang menyegarkan.

Konferensi Perdagangan dan Pembangunan Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNCTAD) dalam Review of Maritime Transport 2018 melaporkan, tonase pesanan untuk semua jenis kapal turun pada 2017 dan 2018.

Dalam dua dekade terakhir, puncak pesanan terjadi pada 2008 dan 2009. Sejak masa puncak tersebut hingga sekarang, jumlah pesanan turun pada kapal kontainer (62 persen), kapal tanker minyak (66 persen), kapal curah kering (76 persen), dan kapal kargo umum (85 persen).

China, Korea Selatan, dan Jepang masih mendominasi pembangunan kapal (shipbuilding). Pada 2017, ketiga negara itu mendominasi 90,5 persen gros ton produksi kapal baru di dunia.

Data Direktorat Jenderal Perhubungan Laut Kementerian Perhubungan menyebutkan, sebanyak 77.871 kapal beroperasi di Indonesia per 19 Oktober 2018. Jumlah terbanyak berdasarkan fungsi kapal adalah boat (35.633 unit), kargo (12.776 unit), dan penarik (7.821 unit).

MV Iriana adalah kesaksian nyata bahwa anak bangsa sudah mampu memproduksi kapal berteknologi canggih sendiri di tengah kelesuan industri galangan kapal saat ini. (ELSA EMIRIA LEBA)

Sumber: Kompas, 7 November 2018

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*

code

x

Check Also

Elang Hitam Penjaga Kedaulatan Negara

Penggunaan pesawat udara nirawak jadi tren global. Selain lebih murah, risiko pun kecil. Kini, saatnya ...