Industri Pertelevisian Masih “Liar”

- Editor

Minggu, 10 Januari 2016

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Hingga saat ini, kondisi sistem penyiaran televisi di Indonesia belum juga sehat. Dari 300-an stasiun televisi swasta, 218 di antaranya dikuasai 10 stasiun televisi nasional yang berpusat di Jakarta. Adapun isi siarannya masih seragam, elitis, dan terlalu didominasi hiburan dengan mendasarkan diri pada rating Nielsen yang 50 persen populasi sampelnya berada di Jakarta.

Menurut pengamat media sekaligus Ketua Pemantau Regulasi dan Regulator Media (PR2MEDIA) Amir Effendi Siregar, situasi ini terjadi karena sistem penyiaran yang tidak sehat. “Diperlukan institusi rating yang disesuaikan dengan peranan dan fungsi tiap-tiap lembaga penyiaran berdasarkan sebuah sistem penyiaran yang demokratis serta menjamin keanekaragaman isi dan kepemilikan,” katanya, di Jakarta.

Potret media di Indonesia sekarang memang cukup memprihatinkan. Jika dulu negara menjadi satu-satunya penguasa lembaga penyiaran publik, kini penguasaan telah beralih ke swasta, tetapi hanya dikuasai segelintir pemain.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Dalam hal ini, bentuk otoritarianisme negara bergeser menjadi otoritarianisme kapital. Pemainnya berganti, tetapi peran monopoli tetap berjalan.

Karena hanya dikuasai segelintir pemilik stasiun televisi, keanekaragaman isi siaran dan kepemilikan diabaikan. Akibatnya, konsentrasi media pun terjadi dan sistem jaringan televisi yang semestinya dilakukan sesuai amanat Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2002 tentang Penyiaran tidak jalan.

Menurut Amir, itu semua terjadi karena lemahnya pemahaman terhadap konstitusi dan demokrasi, peraturan dan kebijakan yang tidak konsisten dengan undang-undang, serta regulasi yang disalahtafsirkan oleh pengusaha. “Pasar dibiarkan bergerak liar tanpa kontrol, kepentingan publik pun cenderung diabaikan,” ujarnya.

300a869506c74bb09355af586a73da19JITET
Karena itulah, sistem televisi berjaringan dan pembatasan kepemilikan stasiun televisi perlu dilakukan agar nantinya bisa lahir banyak institusi rating berdasarkan permintaan pasar ataupun masyarakat. Selain itu, fungsi lembaga penyiaran publik dan komunitas harus diberdayakan.

Upaya membuat survei pemeringkatan kualitas program siaran televisi telah dilakukan Komisi Penyiaran Indonesia sejak tahun lalu. KPI telah melakukan lima kali survei di sembilan kota di Indonesia dengan melibatkan 810 pemirsa ahli yang ditunjuk untuk menilai kualitas program siaran televisi. Meski demikian, margin of error survei ini masih mencapai 13,8 persen pada tingkat kepercayaan 95 persen.

Koordinator Bidang Kelembagaan KPI Bekti Nugroho mengatakan, secara bertahap, survei KPI akan diperluas ke 18 kota tahun ini, lalu tahun 2017 menjadi 27 kota, dan 2018 hingga ke seluruh provinsi. “Jika anggaran memungkinkan, maka selain perluasan tempat survei, kami juga akan menambah responden dan sampel program siaran sehingga nantinya hasil survei lebih reliable dan akuntabel,” ujarnya.

ALOYSIUS BUDI KURNIAWAN

Sumber: Kompas Siang | 9 Januari 2016

Informasi terkait

Saat Gambut Kehilangan Air, Bumi Kehilangan Karbon
Api yang Tak Pernah Benar-Benar Padam
Alga Kecil, Terobosan Besar: Rahasia Chlamydomonas di Balik Nobel Kedokteran 2026
Misteri Molekul Kiri dan Kanan Antar Dua Ilmuwan ke Nobel Kimia 2026
Francis Halzen, Pemburu Partikel Hantu dari Kutub Selatan, Raih Nobel Fisika 2026
Nobel Kedokteran 2026: Tiga Ilmuwan Menemukan Cara Mengendalikan Sel Saraf dengan Cahaya
Gunung yang Belum Selesai Dilahirkan
Tiga Huruf di Belakang Nama yang Bisa Membuka Dunia
Berita ini 32 kali dibaca

Informasi terkait

Sabtu, 17 Oktober 2026 - 14:15 WIB

Saat Gambut Kehilangan Air, Bumi Kehilangan Karbon

Kamis, 15 Oktober 2026 - 16:26 WIB

Api yang Tak Pernah Benar-Benar Padam

Selasa, 13 Oktober 2026 - 11:43 WIB

Alga Kecil, Terobosan Besar: Rahasia Chlamydomonas di Balik Nobel Kedokteran 2026

Senin, 12 Oktober 2026 - 18:42 WIB

Misteri Molekul Kiri dan Kanan Antar Dua Ilmuwan ke Nobel Kimia 2026

Senin, 12 Oktober 2026 - 17:56 WIB

Francis Halzen, Pemburu Partikel Hantu dari Kutub Selatan, Raih Nobel Fisika 2026

Berita Terbaru

Artikel

Saat Gambut Kehilangan Air, Bumi Kehilangan Karbon

Sabtu, 17 Okt 2026 - 14:15 WIB

Berita

Api yang Tak Pernah Benar-Benar Padam

Kamis, 15 Okt 2026 - 16:26 WIB