Home / Artikel / Indonesia Internet Exchange; Mewujudkan Tulang Punggung Informasi Nasional

Indonesia Internet Exchange; Mewujudkan Tulang Punggung Informasi Nasional

SEJAK kehadiran Web, Internet tumbuh dengan sangat pesat, baik dari jumlah pengguna maupun situs Web, terutama situs komersial yang ber-domain com. Saat ini domain com memiliki 4,5 juta host. Sebagian besar pengguna Internet dan Situs Web berada di Amerika Serikat, sehingga pengembangan infrastruktur jaringan Internet yang terbesar juga terjadi di sana.

BEGITU pula dengan informasi, sebagian besar tersimpan di situs-situs Web yang berada di Amerika Serikat. Karena itu, banyak negara yang membangun jaringan Internetnya terhubung langsung ke Amerika Serikat agar dapat memberikan akses yang lebih baik bagi para pelanggannya, yang kemungkinan lebih banyak berkunjung ke situs-situs Web di Amerika Serikat.

Ini juga terjadi di Indonesia. Hampir semua perusahaan penyedia jasa Internet (PJI) atau Internet Service Provider (ISP) membangun hubungan ke jaringan Internet yang berada di Amerika Serikat melalui beberapa perusahaan telekomunikasi global seperti MCI, Glonal One, Sprint.

Tetapi belakangan ini terlihat bahwa akses ke belahan dunia lain juga meningkat. Di samping itu, negara-negara di luar Amerika Serikat mulai memperbaiki infrastruktur jaringan Internetnya dengan membangun pipa telekomunikasi dengan lebar pita yang lebih besar. Radnet sebagai salah satu PJI di Indonesia, misalnya, memiliki hubungan ke Abone yang merupakan tulang punggung jaringan Internet Asia.

Dilihat dari struktur jaringan Internet, Amerika Serikat seolah-olah menjadi pusat dari jaringan Internet dunia dengan PJI-PJI yang berada di negara-negara lain menjadi simpul-simpulnya. Di Indonesia terutama, masing-masing PJI memiliki hubungan sendiri-sendiri ke jaringan Internet di Amerika Serikat, sementara antarPJI di Indonesia sendiri tidak terdapat hubungan langsung. Akibatnya, akses dari satu PJI ke situs Web yang berada di PJI lain di Indonesia malah lebih jauh daripada akses ke situs Web di Amerika Serikat. Maklum, data harus melalui tulang punggung (backbone) Internet di AS serta menjalani proses routing (penemuan jalur) untuk kemudian dikirimkan kembali ke situs Web di Indonesia.

Ketika hampir semua akses mengarah ke situs Web di Amerika Serikat, struktur seperti ini memang memadai. Arus lalu lintas berjalan satu arah, yaitu dari Amerika Serikat masuk ke Indonesia, sedangkan dari Indonesia hanya berupa data akses yang berukuran kecil.

Akibatnya, akses ke situs Web di dalam negeri lebih lambat daripada ke situs Web di luar negeri. Selain lebar pita jaringan Internet dari PJI yang sempit, juga kita tidak tahu dengan pasti jalur yang dilewati oleh data tersebut. Bisa jadit data tersebut melalui jalur-jalur yang padat lalu Iintasnya. Kecepatan lalu lintas informasi antar-PJI di Indonesia akan sepenuhnya bergantung pada interkoneksi Internet di Iuar negeri, yang tidak sepenuhnya berada pada kontrol PJI diIndonesia.

Dan ironisnya, pengguna Internet di Indonesia harus membayar dua kali, yaitu jalur untuk ke Amerika dari PJI asal dan jalur dari Amerika ke PJI tujuan. Padahal sewa jalur internasional ini sangat mahal, dari puluhan juta rupiah hingga ratusan juta rupiah, bergantung pada lebar pita. Suatu biaya yang seharusnya tidak perlu dikeluarkan. Analoginya, untuk pergi ke rumah tetangga yang berada di seberang jalan tol, orang harus masuk dulu ke jalan tol. Di sana ia berputar di suatu tempat dan membayar untuk kedua kalinya sebelum menuju ke rumah tetangga. Ini semua disebabkan oleh tidak tersedianya jembatan penyeberangan.

Konsekuensinya, pengoperasian usaha PJI memerlukan biaya yang sangat tinggi. Dalam situasi di mana Internet masih merupakan hal baru bagi masyarakat Indonesia, masih diperlukan waktu untuk mendidik masyarakat akan pentingnya Internet, terutama dalam memasuki era informasi di abad mendatang. Sementara itu, para PJ I harus tetap bertahan melayani para pelanggan Internet.

Para PJI tetap optimis akan potensi bisnis Internet di Indonesia, mengingat besarnya jumlah penduduk Indonesia. Ini terlihat dari besarnya minat para pengusaha yang menanamkan modalnya dalam bisnis PJI. Hingga kini sudah ada 42 izin prinsip yang dikeluarkan oleh Departemen Pariwisata, Pos dan Telekomunikasi, sementara yang sudah beroperasi sebanyak 28 PJI.

Tidak hanya akses
Selain memberikan layanan akses umumnyaPJI juga membuka usaha jasa penyediaan tempat untuk situs Web secara komersial (web hosting). Karena biaya operasional yang tinggi, maka biaya untuk usaha penempatan situs Web menjadi mahal. Akibatnya, banyak perusahaan-perusahaan Indonesia yang lari keluar negeri. Mereka menempatkan situs Web di PJI di luar negeri, terutama di Amerika Serikat. Apalagi di Amerika, bisnis web hosting tumbuh dengan subur dan menawarkanpenempatan situs Web dengan biaya sangat murah. Bisnis ini juga banyak dilakukan oleh orang Indonesia dengan menyewa sebuah server, yang kemudian ruang harddisk-nya dijual secara eceran, termasuk menyediakan jasa rancangan situs Web, pengurusan nama, serta pengelolaan dan pemeliharaannya.

Akibat lanjutannya, untuk mendapatkan informasi tentang Indonesia yang diterbitkan oleh orang-orang Indonesia yang juga berada di Indonesia, terpaksa orang harus ke luar negeri. Bila masalah ini berlanjut terus, maka pengguna Internet di Indonesia seolah-olahakan terus menjadikonsumen informasi dari luar. Dan untuk itu, mereka harus membayar dengan mahal.

Hal yang sama juga terjadi pada komunikasi melalui e-mail. Surat yang dikirim dari ”kantor pos” di PJI yang satu ke ”kantor pos” di PJI lain di Indonesia, juga harus dikirimkan ke Amerika Serikat dan disortir di sana. Tentu saja hal ini juga memakan biaya mahal.

Dalam waktu yang tidak terlalu lama, perdagangan elektronik di Internet akan terwujud. Baik transaksi eceran antara pengguna Internet perseorangan dengan pedagang yang membuka toko di Internet, antarperusahaan internal yang membentuk virtual private network, maupun antara satu perusahaan dengan perusahaan lain. Bila antar-PJI di dalam negeri belum terhubung maka setiap transaksi yang terjadi akan melanglang buana terlebih dahulu. Dari sisi biaya tentu akan mahal. Dan yang ”mengerikan”, sisi keamanannya pun berada di luar kontrol para PJI di dalam negeri.

Internet Exchange
Untuk dapat mengembangkan potensi pasar yang besarini, salah satu prasyaratnya adalah biaya akses yang sangat terjangkau bagi sebagian besar masyarakat Indonesia. Masih ada banyak hal yang perlu dibenahi, terutama infrastruktur telekomunikasi dan biaya akses. Untuk itu, sebagai salah satu prasyarat adalah dibentuknya interkoneksi nasional antar-PJI di Indonesia. Interkoneksi antar-PJI ini bisa menjadi tulang punggung Internet nasional yang pengembangannya dapat dikelola oleh para PJI di Indonesia.

Untuk membentuk interkoneksi nasional ini, APJII (Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia) membangun IIX (Indonesia Internet Exchange) dengan bantuan peralatan router Cisco 7200 dari
Cisco Systems yang saat ini menguasai 80 persen dari seluruh peralatan router yang terpasang di Internet. Dalam peluncurannya bulan November yang lalu, Teddy A Purwadi, Sekjen APJII mengungkapkan bahwa tujuan dibangunnya IIX ini adalah untuk efisiensi biaya, yang pada akhirnya akan dapat menghemat devisa negara.

Secara umum, tersedianya IIX akan dapat memberikan berbagai manfaat. IIX merupakan jalur yang relatif lebih murah dibandingkan dengan menggunakan tulang punggung jaringan Internet di luar negeri. lalu lintas data di dalam negeri tidak perlu lagi keluar ke jaringan Internet di luar negeri. Selain itu, IIX dapat menjadi jalur alternatif (backup) bagi sebuah PJI apabila jalur koneksi ke Internetnya mengalami masalah.

Tersedianya interkoneksi nasionalini juga dapat dimanfaatkan untuk pengembangan layanan-layanan baru yang memerlukan lebar pita tinggi untuk kepentingan nasional, yang mungkin tidak dapat diwujudkan apabila mengandalkan interkoneksi negara lain yang biayanya tinggi.

Lebar pita yang tinggi antar-PJI akan memberikan daya tarik bagi penyedia isi (content provider) untuk menempatkan datanya di Indonesia, terutama informasi yang lebih banyak ditujukan bagi masyarakat Indonesia. Bahkan dimungkinkan untuk membangun situs Web yang menyediakan informasi yang hanya bisa diakses dari Indonesia. Dan karena tidak memerlukan hubungan internasional, biayanya bisa ditekan murah.

lmplementasi teknis
Di Indonesia, Indosat dan Satelindo merupakan dua operator yang memberikan jasa koneksi ke jaringan Internet di luar negeri. Kedua operator tersebut bekerja sama dengan operator luar negeri seperti MCI, Global One, SprintNet untuk sambungan ke negara yang dituju. Sebagian PJI menggunakan jasa Indosat, sebagian lagi Satelindo, dan sebagian kecil terhubung langsung ke PJI di luar negeri seperti ke SingNet di Singapura. Secara teknis, interkoneksi antar-PJI yang berada pada operator yang sama sudah terbentuk, sedangkan IIX membangun interkoneksi antara PJI-PJI dari operator telekomunikasi yang berbeda.

Dengan pertimbangan bahwaIIX akan menjadi tulang punggunglalu lintas informasi nasional, Telkom sebagai penyedia jasa telekomunikasi nasional juga ikut terlibat dalam pengembangan jaringan di seluruh Indonesia. Bentuk jaringan IIX di Jakarta akan berupa segi tiga yang menghubungkan pusat-pusat jaringan Telkom, Indosat, dan Satelindo. Di ketiga lokasi tersebut sudah tersedia infrastruktur telekomunikasi yang memadai dan banyak PJI yang menempatkan pusat jaringannya (NOC= Network Operation Center) di lokasi tersebut. PJI yang berada di gedung tersebut akan dapat terhubung secara langsung ke jaringan IIX. Apabila berada di luar gedung NOC, mereka akan dihubungkan ke titik terdekat.

Apabila IIX ini sudah benar-benar bisa terwujud sebagai tulang punggung nasional dan sudah banyak situs-situs web di Indonesia yang mampu berfungsi sebagai produsen informasi, penggunaan
hubungan telekomunikasi internasional akan lebih efisien. Arus informasi yang masuk dan keluar akan makin berimbang.

Dengan kondisi seperti ini, APJII berusaha untuk melakukan peer-to-peer connection melalui perjanjian bilateral dengan jaringan lain di luar negeri untuk mendapatkan biaya yang lebih seimbang. Di samping itu, dengan Indosat maupun Satelindo diusahakan mendapatkan sambungan telekomunikasi internasional dengan biaya yang lebih murah. Darisegi teknologi, tersedianya IIX memungkinkan untuk menempatkan fasilitas-fasilitas bersama seperti server ID-NIC (Indonesia Network Information Center), Directory Services, National Search Engine.

Diharapkan, IIX akan membawa dampak positif bagi perkembangan Internet di Indonesia. Penyedia informasi akan lebih suka menempatkan informasinya di dalam negeri dan mengembangkan situs-
situs Web baru yang kaya akan aneka informasi. Ini akan memberikan iklim bisnis yang baik dan menguntungkan bagi bisnis penyedia jasa internet untuk terus berkembang. Dan pengguna Internet akan mendapatkan kualitas akses yang lebih baik dengan biaya yang lebih terjangkau, sehingga Internet makin memasyarakat dan bisa menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari.

(Andrey Andoko, andrey@kompas.com, Teknologi Infomasi Kompas)

Sumber: Kompas, Rabu, 10 Desember 1997

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*

code

%d blogger menyukai ini: