Home / Berita / Indonesia Dapat Tiru Pola Pendidikan Negara yang Lebih Maju

Indonesia Dapat Tiru Pola Pendidikan Negara yang Lebih Maju

Indonesia dapat meniru pola pendidikan dari negara yang lebih maju, tetapi harus sesuai dengan kemampuan dan kebudayaan lokal. Selain itu, pola kurikulum pendidikan di Indonesia diharapkan dapat linear mulai dari sekolah tingkat menengah hingga perguruan tinggi, sehingga pelajar memiliki kemampuan yang spesifik.

Berdasarkan laporan dan survei yang dikembangkan The Wharton School of University of Pennsylvania pada 2018, pendidikan Indonesia di tingkat Asia Tenggara berada pada peringkat keempat di bawah Singapura, Thailand, dan Malaysia. Di tingkat dunia, Indonesia berperingkat 41.

KOMPAS/PRAYOGI DWI SULISTYO–Seminar Pendidikan bertajuk Reposisi Pendidikan Indonesia di Asia Tenggara, Senin (18/2/2019) di Jakarta. Dalam seminar tersebut dibahas usaha untuk memperbaiki kualitas pendidikan di Indonesia

Staf Dinas Pendidikan DKI Jakarta Suharno mendorong agar kebijakan pendidikan di Indonesia perlu dirubah seperti di luar negeri. “Kurikulum di Indonesia belum linear dan mata pelajaran yang dipelajari pelajar tingkat sekolah menengah sangat banyak,” ujar Suharno dalam Seminar Pendidikan bertajuk Reposisi Pendidikan Indonesia di Asia Tenggara, Senin (18/2/2019) di Jakarta.

KOMPAS/PRAYOGI DWI SULISTYO–Suharno

Menurut Suharno, hal tersebut membuat pelajar hanya akan belajar untuk mengejar nilai pada saat ujian. Akibatnya, mereka tidak memiliki kemampuan spesifik yang dapat menjadi bekal ketika lulus sekolah.

Situasi itu berlanjut pada tingkat perguruan tinggi. Perguruan tinggi di Indonesia masih mengajarkan sesuatu yang umum sehingga kurang mendalam. “Hal itu terjadi karena tidak ada kesinambungan antara pendidikan menengah dan perguruan tinggi,” kata dia.

Suharno mencontohkan berdasarkan pengalamannya ketika berkunjung ke Moskwa, Rusia. Pendidikan di kota Moskwa fokus pada teknologi, sehingga pendidikan teknik terus dikembangkan dan pelajar yang meminatinya banyak diburu oleh perguruan tinggi.

Sementara itu, Anggota Komisi Pendidikan Perhimpunan Pelajar Indonesia se-Dunia Budy Sugandi menambahkan, pendidikan di China unggul karena pemerintah mampu membaca kebutuhan dunia dan mengaplikasikannya dalam pendidikan.

KOMPAS/PRAYOGI DWI SULISTYO–Budy Sugandi

Ia mengatakan, pola pendidikan di China linear mulai dari tingkat dasar hingga perguruan tinggi. Selain itu, beberapa lembaga kampus dijadikan tempat riset untuk menjalankan program pemerintah.

“Mereka mampu mengembangkan produk dalam negeri dan membatasi penggunaan produk luar negeri,” kata Budy.

Ia mencontohkan, pemerintah China melarang penggunaan media sosial seperti Instagram dan Whatsapp. Namun, mereka mampu menghasilkan aplikasi Wechat. Aplikasi tersebut tidah hanya dapat digunakan untuk media sosial, tetapi juga dapat untuk bertransaksi.

Selain kurikulum yang perlu dibenahi, Suharno berharap agar kualitas guru ditingkatkan. Sebab, masih banyak guru yang mengajarkan bahan ajar sekadarnya.

“Mereka mengajar hanya untuk menjalankan kewajiban dan belum ada kreativitas,” ujarnya.

Ia juga berharap agar fasilitas pendidikan di Indonesia diperbaiki. Suharno memberikan contoh situasi yang ada di DKI Jakarta. Anggaran pendidikan di DKI Jakarta sekitar Rp 25 triliun. Namun, masih ada sekolah yang roboh di beberapa daerah DKI Jakarta.

Menurut Suharno, Indonesia harus segera berubah dan memperbaiki kualitas pendidikan karena sudah jauh tertinggal dari negara yang jumlah sumber daya manusianya berada di bawah Indonesia. Dulu Malaysia belajar dari Indonesia, tetapi sekarang kualitas pendidikan mereka jauh di atas Indonesia.

“Indonesia dapat mengikuti pola pendidikan dari luar negeri asalkan sesuai dengan kemampuan dan budaya lokal,” kata dia.

Keunggulan lokal
Dosen Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri Sorong Ismail Suardi Wekke mengatakan, terlepas dari peringkat Indonesia yang masih kalah dari beberapa negara asia tenggara lainnya, Indonesia memiliki keunggulan pada pola pendidikan lokal yang diakui dunia.

KOMPAS/PRAYOGI DWI SULISTYO–Ismail Suardi Wekke

Ia mencontohkan, pendidikan di Pondok Modern Darussalam Gontor mampu diakui di tingkat Asia. Selain itu, Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta juga diakui sebagai salah satu perguruan tinggi seni terbaik di dunia.

Menurut Ismail, pola pendidikan di pesantren Gontor dapat diterapkan di sekolah lain untuk meningkatkan kualitas sekolah yang masih rendah. Dengan fasilitas yang sederhana, sekolah diharapkan mampu menghasilkan lulusan yang terbaik.

“Kita memiliki sumber daya yang Mumpuni. Masalahnya kita kurang percaya diri sebagai bangsa,” kata dia.–PRAYOGI DWI SULISTYO

Editor HENDRIYO WIDI

Sumber: Kompas, 18 Februari 2019

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*

code

%d blogger menyukai ini: